Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Pertemuan


Selamat Membaca...


•••••


Jam istirahat berakhir di lanjutkan ke pelajaran dan seperti biasa Nadhira dengan tekun mengikuti semua pelajaran dan sekarang di tambah tatapan tak suka dari siswi di kelasnya karena dia berbagi buku dengan Damian yang belum mendapatkan buku pendamping untuknya.


¤¤¤¤¤


Nadhira memandangi jam tangannya menunjukkan jam 7:30. Hari ini dia terlambat bangun dan akhirnya dia juga terlambat ke sekolah. Dia memilih menaiki bus untuk sampai ke sekolah, akan tetapi gerbang sekolah sudah tutup, meski pelajaran belum di mulai. Memang seperti itulah peraturannya.


Nadhira mencari jalan lain untuk masuk dan menemukan sebuah tembok setinggi tiga dua meter. Dia mengambil ancang-ancang untuk memanjatnya.


Hap!


Dia mencapainya dengan sempurna dan berhasil menaikinya.


Tapi saat dia telah berhasil tiba-tiba...


DUK!


"AAAAAA!" Seseorang tiba-tiba dengan sengaja menendang kakinya hingga membuat Nadhira yang tidak siap ini hampir terjatuh, dan tentu refleks berteriak.


Untungnya sebuah tangan menahan bahunya agar tidak terjatuh menghantam tanah.


"Kau lengah!" Suara yang cukup familiar di telinga Nadhira.


Sontak Nadhira menoleh pada sang pelaku, di tatapnya tajam sambil menepis tangannya dari bahunya. "Damian!? Kau sengaja ingin menjatuhkanku?" Ucap marah dengan wajah datar Nadhira.


Dia sungguh kesal, dia sekarang terburu-buru dan bocah satu ini bermain-main dengannya.


"Iya, memang sengaja," jawabannya membuat Nadhira naik pitam. Dia ingin menghajar bocah di depannya ini, tapi ia urungkan, karena sekarang dia sudah terlambat dan kelas pertama akan segera di mulai.


Nadhira berbalik pergi mengabaikan Damian yang terus memanggilnya dan mengikutinya.


¤¤¤¤¤


Jam kosong... Karena para guru sedang rapat membahas tentang ujian yang akan di laksanakan tidak lama lagi. Jadi untuk semua siswa di bebaskan.


Sekarang Nadhira Rangga, Bagas, dan Clara sedang duduk istirahat di taman belakang sekolah setelah sebelumnya berlatih bela diri.


Mereka rebahan menatap langit dengan tenang. Di temani angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah mereka yang berkeringat.


Tiba-tiba duduk seperti lupa akan sesuatu. "Oh ya teman-teman. Malam minggu ini akan di adakan acara ulang tahun kakakku dan pengangkatannya sebagai penerus dari Organisasi Harimau Putih. Apakah kalian bisa datang? Please... Aku akan bosan disana jika sendirian. Di sana hanya ada para orang tua. Kalian tahu sendiri, pesta ini tidak mengundang sembarang orang, tapi kalian pengecualian. Karena kalian sudah tahu identitasku," ucap Rangga panjang lebar.


"Ok!" Jawab semua berbarengan.


Rangga begitu senang mendapat persetujuan dari teman-temannya.


¤¤¤¤¤


Persiapan untuk pesta sangat ribet menurut Nadhira, dia orang nya jarang bepergian ke pesta, baik itu sekarang atau pun pada kehidupannya terdahulu.


Dia lebih memilih menyendiri atau bergabung dengan teman-teman gengnya daripada menghadiri pesta.


Tapi apa boleh buat, karena dia sudah menyetujui untuk datang ke pesta ulang tahun kakak Rangga, dia pun mencari gaun untuk pergi.


Seperti pada saat ini, dirinya, Rima dan Clara sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan.


Rima memaksa bahwa dia akan membayarkan semua pengeluaran Nadhira dan Clara.


Nadhira tidak menolak, pasalnya siapa yang tidak tahu kalau Nadhira itu miskin, padahal aslinya ada kok uang untuk berbelanja, tapi dia sembunyikan. Tunggu dia benar-benar sukses baru dia akan memberitahukan kepada seluruh dunia bahwa dia bukanlah orang yang dapat di remehkan lagi.


"Apakah kau sudah menemukan gaun yang kau suka?" Tanya Clara.


"Ada apa?" Tanya Rima.


"Ini, Ira ingin rekomendasi dari kita mengenai gaunnya. Dia tidak terlalu mengerti katanya," jelas Clara.


"Oh! Kalau begitu kesini, aku akan memberikan saran yang luar biasa," ucap Rima seraya menarik Clara dan Nadhira.


Mereka sampai di sebuh toko yang khusus menjual gaun pesta. Banyak berjejer gaun-gaun di patung.


Menakjubkan, akan tetapi Nadhira tidak terlalu tertarik akan itu. Dia menikmati saran-saran yang di berikan Rima dan Clara mengenai gaunnya.


Setelah memutuskan gaun yang di pilih mereka membayaranya ke kasir dan mencari keperluan lainnya. Seperti sepatu, dan aksesoris lainnya.


Tak terasa sudah jam 8 malam, Nadhira bergegas pulang.


¤¤¤¤¤


Nadhira dan teman-temannya menaiki mobil Rima yang di kemudikan oleh supir Rima.


Saat sampai di depan gedung mereka bertiga di sambut oleh Bagas dan Rangga yang sebagai salah satu tuan rumah.


"Aku lupa membawa hadiah untuk kakakmu, Rangga," ucap Bagas baru tersadar.


"Oh iya, aku juga lupa," ucap Rima.


Clara juga berkata demikian. Mereka sampai lupa menyiapkan hadiah, karena sibuk dengan persiapan mereka.


"Tidak masalah, aku telah membawa hadiah, itu bisa menjadi hadiah kita semua," ucap Nadhira.


Semua menatap Nadhira. "Tidak bisa begitu, bagaimana kalau aku membelinya terlebih dulu," tawar Bagas tapi tawaran itu di hentikan oleh Rangga.


"Kalian tidak perlu repot-repot memberi hadiah, kalian datang saja sudah bagus kok. Ini kan juga permintaan ku untuk kalian datang," ucap Rangga.


"Tidak lah, bagaimana bisa datang ke acara ulang tahun tidak membawa hadiah?" Rima berkata dengan merasa bersalah.


"Tidak masalah...tidak masalah! Kalian hanya perlu menunjukkan diri kalian sebagai teman-temanku di dalam. Dan oh ya bos jangan memberikan hadiahmu!" Ucap Rangga.


"Kenapa? Toh ini barang yang biasa saja juga, aku akan tetap memberikannya. Kalian bisa tenang, hitung-hitung ini hadiah dari kita semua," ucap Nadhira tak bisa di bantah lagi.


Mereka pun pasrah dan merasa malu, akan tetapi Nadhira meyakinkan bahwa mereka tak perlu tak enak hati dan mereka mulai tenang.


Di pesta sangat terlihat hanya orang-orang tertentu yang di undang, pasalnya pesta ini sangat beresiko terjadinya penyerangan oleh pihak musuh Organisasi Harimau Putih.


Dan yang paling di jaga adalah peneruanya yaitu kakaknya Rangga. Tak menutup kemungkinan Rangga pun juga menjadi target pembunuhan, karena dia anak kedua dari Baskoro.


Baskoro adalah nama ayah dari Rangga dan Reno. Mereka hanya dua bersaudara dari satu ibu yang bernama Widiyarti. Ibu mereka telah meninggal sejak Reno dan Rangga masih kecil. Kehidupan kejam tidak sanggup di pikul oleh ibunya yang hanyalah orang biasa. Oleh sebab itu dia meninggalkan merekan mereka terlebih dulu.


Saat Nadhira bertemu dengan ayahnya rangga yang ternyata adalah pria paruh baya yang di temui dengan White Snake, dia sedikit terkejut. Dan yang membuatnya lebih terkejut adalah pria misterius yang pernah ditolongnya adalah kakak Rangga.


Terlihat juga bahwa Baskoro dan Reno sedikit tersentak dengan kehadiran Nadhuar yang pernah mereka temui, tapi mereka tidak menunjukkan niat untuk bertanya. Mereka baru tahu kalau Nadhira adalah teman Rangga.


Reno teringat dengan video yang di tontonya di internet dan dia ingat bahwa sosok siswi yang mengalahkan anak buah yang tidak di kenalnya itu dikalahkan dengan sangat mudah oleh sosok gadis di depannya ini.


¤


¤


¤


Semoga Suka...