Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Kenyataan Pahit


Selamat Membaca...


•••


Satu minggu telah berlalu, hari ini hari minggu, hari keberangkatan Nadhira sekeluarga ke Kota A. Untuk Paman Aryo, bibi Mayang dan Sinta sudah berada di rumah Nadhira saat setelah dua hari Nadhira menginap di rumah mereka.


Proses kepindahan sekolah Sinta pun sudah beres, tinggal mendaftar di sekolahan yang di tuju di Kota A.


Dua buah mobil sewaan sudah terparkir di depan rumah Nadhira. Satu untuk mereka sendiri dan satunya lagi mobil pengangkut barang bawaan mereka.


Disana juga semua teman Nadhira mengantar kepergian nya.


"Hiks hiks, kak Ira mau pergi?" Tanya Gio sambil sesegukan, tak ayal kedua tangan kecilnya menggenggam ujung baju Nadhira.


Nadhira berjongkok menyamakan tingginya dengan Gio, mengusap lebut pucuk kepala Gio dia berkata.


"Kakak akan sering mengunjungi Gio kok. Atau kalau tidak Gio yang main ke rumah kakak di sana bagaimana?" Dengan senyum yang jarang di tunjukkan Nadhira, sekarang dia tunjukkan khusus setiap kali bertemu anak kecil yang namanya Gio.


Gio menatap Gilang yang berdiri di belangkanya. Gilang mengangguk mengiyakan, toh abangnya juga ada di Kota A, meskipun mereka tidak akrab.


Gilang mengangguk mengiyakan. "Tuh kan! Jadi nanti Gio saat ke rumah kakak, Gio bisa langsung jalan-jalan di sana," ucap Nadhira memberi pengertian ke Gio yang tidak ingin melepas Nadhira pergi.


Selesai memasukkan semua barang bawaan, Nadhira sekeluarga pun memasuki mobil khusus mereka.


"Sampai jumpa lagi. Kami harap kau tidak lupa berkunjung ke Kota ini lagi," Rima. Dia berusaha mati-matian agar air mata nya tak jatuh, tapi pertahanan itu runtuh setelah dia selesai berkata.


"Akan ku usahakan. Kalian baik-baik disini. Jikalau ada waktu aku akan berkunjung, atau bisa kalian ke Kota A menyusulku," ucap Nadhira.


Mereka mengangguk dan mobil pun berjalan meninggalkan pekarangan rumah.


...•••...


Di tempat Andara, tepat nya di bandara, Andara sudah menunggu sedari satu jam yang lalu, dimana satu jam setengah sudah keberangkatan Nadhira sekeluarga menuju bandara.


Kemungkinan setengah jam lagi pesawat yang di naiki Nadhira sekeluarga mendarat.


Beberapa saat kemudian pesawat mendarat dan para penumpang turun.


Di depan pintu keluar Andara sudah menunggu sambil mengangkat kertas karton yang bertuliskan 'ANDARA DI SINI'


Dia melambaikan tangannya saat melihat rombongan Nadhira.


"Selamat datang!" Ucap Andara tepat saat Nadhira dan yang lainnya berada di hadapannya.


Puspa langsung saja memeluk putera nya yang sudah lama tidak di temuinya.


Ya! Andara selama berkuliah di Kota A tidak pernah pulang. Pasalnya dia sangat sibuk, karena dia mengurusi banyak organisasi yang dia ikuti di kampus, baik dia sebagai ketua maupun lainnya. Hampir tidak ada waktu untuk beristirahat. Jadi dia tidak pulang, karena pada masa liburan pun dia sibuk mengurusi itu, jadi kalau rindu keluarga dia hanya melakukan panggilan video.


"Kau kurusan," ucap Puspa sambil sesekali menyeka air matanya.


"Hehehehe, iya bu. Andara sibuk, jadi terkadang tidak sempat makan," ucap Andara.


Puk


Pukulan lembut mendarat di pundak Andara, yang pelaku nya Puspa sendiri. "Kau ini, pasti mengurusi organisasi terus. Coba ambil satu atau dua saja, jangan semuanya. Nanti bisa-bisa kau mati kelelahan," tegur Puspa.


"Hehehehe, iya iya bu. Nanti Andara juga berhenti di naik semester ini, nanggung," ucap Andara.


Sering Andara mengundurkan diri di organisasi yang dia masuki, akan tetapi sepertinya dia sangat di sayang oleh anggota nya, jadi dia bertahan.


Tapi saat kenaikan semester nanti dia akan benar-benar keluar atau hanya menjadi anggota biasa yang tidak terlalu sibuk, dan memerlukan dirinya.


"Ayo kita ke apartemen. Kemungkinan mobil pengangkut barang sudah sampai," benar saja mobil serta orang sewaan untuk mengangkat barang bawaan sudah sampai di depan.


Satu jam berlalu akhirnya mereka sampai di depan gedung tinggi dengan 50 lantai dengan jumlah sebanyak 631 ruangan. Gedung apartment ini termasuk gedung apartemen elit di Kota A. Hanya orang-orang berpengarauh dan kaya yang menghuninya.


Di lantai 1-20 terdapat 20 ruangan yang mana masing-masing ruangan terdapat 2 kamar, 2 kamar mandi di setiap kamar, 1 dapur dan ruang tamu di setiap ruangan dan lantainya.


Di lantai 21-41 terdapat 10 ruangan yang mana terdapat 3 kamar, 3 kamar mandi di setiap kamar, 1 dapur dan ruang tamu di setiap ruangan dan lantainya.


Di lantai 43-47 terdapat 5 ruangan yang mana terdapat 5 kamar, 5 kamar mandi di setiap kamar, 1 dapur dan ruang tamu di setiap ruangan dan lantainya


Dan terakhir di lantai 48-50 hanya terdapat 2 ruangan yang mana terdapat 2 kamar luas, 2 kamar mandi serta walk-in closet Di setiap kamar, 1 dapur yang luas, ruang tamu luas, kolam renang dan taman mini untuk bersantai pada setiap ruangan.


Dapat di pastikan hanya orang yang benar-benar kaya yang menghuni di lantai 48-50.


Dan sekarang Nadhira sekeluarga telah berada di dalam ruangan nomor 613 di lantai 45.


"Kalian beristirahatlah, pasti capek sehabis perjalanan," ucap Andara.


Mereka pun diarahkan oleh Andara ke kamar masing-masing.


...•••...


Sudah satu minggu Nadhira sekeluarga berada di Kota A. Semua urusan pun sudah beres. Seperti memasukkan Sinta ke salah satu SMA bergengsi di Kota A.


Dan saat ini Nadhira sedang berjalan santai tak tentu arah menenangkan diri dari amarah yang akan meledak jika dia tidak pergi dari tempat yang dia datangi beberapa saat yang lalu. Pasalnya dia mendengar kenyataan pahit lagi alasan terbunuhnya dirinya oleh mantan teman yang dia percayai pada saat menjadi Maya. Mereka adalah Jesica dan Aldo.


Sudah di katakan kalau Nadhira sudah melupakan dan tidak ingin balas dendam lagi. Karena jika dia balas dendam maka dirinya sama dengan mereka yang sudah menghianatinya.


...Flashback On...


Nadhira mendatangi rumah sederhana miliknya dulu di kota A yang sampai saat ini masih kosong, tentu saja karena dia tidak menjualnya. Dia berniat akan tinggal di sana dengan identitasnya sekarang.


Dan tanpa di duga dia bertemu dengan Jesica dan Aldo, temannya yang tega menghianatinya dan membunuhnya.


Nadhira mengikuti mereka dan berakhir di sebuah bar dan duduk tak jauh dari mereka berdua duduk.


"Apa yang kau dapat saat itu?" Tanya Aldo.


"Tidak ada! Hanya beberapa barang yang dapat di jual," jawab malas Jesica.


'Pantas saja beberapa barang milikku hilang, ternyata ada yang mencurinya,' batin Nadhira. Saat dia berada di Kota A, Nadhira sempat mencek rumah nya dulu saat dia masih menjadi Maya dan beberapa barang nya hilang, tapi karena tidak terlalu penting, jadi dia tak mempermasalahkannya.


"Kau ini, memangnya kau miskin hingga perlu menjual barang-barang seperti itu?" Sarkas Aldo.


"Bukannya miskin, tapi keluarga ku membatasi dana belanjaku. Kau tahu sendiri betapa ketatnya didikan di keluargaku. Kalau bukan karena bantuan Maya, aku tidak bakal sebebas ini. Haha dasar memang dia bodoh, mau saja di bodohi hanya karena di ajak berteman," jelas Jesica.


"Benar! Kalau bukan dia dapat di manfaatkan, tidak akan sudi aku berteman dengannya," ucap Aldo.


"Memang kenapa?" Tanya Jesica.


"Lihat lah latar belakang apa yang dia punya! Kalau saja keluarga ku tahu dia itu sebatang kara dan tak memiliki pengaruh apa pun, dapat di pastikan aku akan di larang berteman dengannya," jelas Aldo.


Semakin lama mendengar semakin panas, hati, jiwa Nadhira. Dia memilih pergi dari pada membunuh mereka dan akhirnya menjadi buronan. Dia sadar sekarang dia tidak sendiri lagi, ada banyak yang harus dia lindungi dan jaga.


...Flashback Off...


¤


¤


¤


Semoga Suka...