Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Pembukaan Cafe


Selamat Membaca...


•••••


Baru menyadari kesalahannya pak Hadi buru-buru memperkenalkan Nadhira.


"Oh oh maafkan saya karena baru saja sadar kalau belum memperkenalkan gadis muda di depan kita ini," ucap pak Hadi sambil terkekeh.


"Tak masalah, tapi bisakah sekarang anda memperkenalkannya? Dan saya juga akan memperkenal kan diri saya dan kedua pemuda ini," ucap pria yang lebih tua dari pak Hadi.


"Tentu! Tapi dari pada saya yang memperkenalkannya, akan lebih baik kalau orang nya sendiri yang memperkenalkan diri bukan? Silahkan kalau begitu untuk nona Nadhira untuk memperkenalkan diri," Lanjut pak Hadi.


Nadhira mengangguk kemudian berdiri. "Perkenalkan nama saya Nadhira Maharani, anda-anda sekalian bisa memanggil saya Nadhira, saya yang akan mengambil alih perusahaan Beauty Jewelry," setelah itu Nadhira membungkukkan badan sejenak kemudian kembali duduk.


"Nama saya Bagus dan pemuda di sebelah kiri saya Bimo dan yang di kiri Deni," pak Bagus memperkenalkan dirinya serta kedua pemuda di samping kanan dan kirinya.


Setelah perkenalan singkat dari kedua belah pihak, proses pengesahan dengan beberapa berkas yang harus di tanda tangani oleh Nadhira pengesahan pun selesai dengan lancar, tinggal mengadakan rapat pemegang saham saja lagi.


"Terima kasih atas semuanya!" Ucap pak Hadi kepada pak Bagus, Deni dan Bimo.


Mereka berada di ambang pintu keluar perusahaan Beauty Jewelry. Pak Hadi dan Nadhira mengantarkan kepergian mereka bertiga.


"Sama-sama, itu memang sudah menjadi tugas saya sebagai pengacara!" Ucap pak Bagus.


Setelah perbincangan singkat, mereka bertiga pun pergi meninggalkan pak Hadi dan Nadhira.


Sekarang mereka berdua kembali ke ruangan pak Hadi. Dan sekarang mereka telah duduk berhadapan.


"Terima kasih sudah membiarkan saya mempertahankan jabatan saya," ucap pak Hadi. Dia sungguh berterima kasih, karena dia sungguh beruntung dapat dipertemukan dengan Nadhira yang menurutnya sangat lah baik.


"Terima kasih kembali! Saya juga tidak gratis membiarkan pak Hadi berada di jabatan itu bukan? Jadi jangan terlalu terbebani akan hal itu. Kita di sini saling menguntungkan, jadi tidak masalah jika sedikit rugi atau untung pada salah satu pihak," ucap Nadhira.


Pak Hadi hampir saja meneteskan air mata, tapi dengan cepat di sapunya dengan ibu jarinya.


Setelah beberapa puluh menit kemudian mereka berdua mengakhiri diskusi.


"Baiklah, saya percayakan perusahaan ini kepada bapak," ucap Nadhira.


"Saya akan menjaga kepercayaan itu nona Nadhira. Saya tidak akan mengecewakan nona yang telah percaya pada saya," ucap pak Hadi dengan pasti penuh keyakinan.


Nadhira tersenyum simpul kemudian mengangguk puas dengan tekad yang dimiliki pak Hadi. Tidak salah dia menilai dan memilih orang yang dapat di andalkan.


"Kalau begitu saya akan pergi," Nadhira pun keluar dari perusahaan dengan sendirinya. Awalnya pak Hadi akan mengantarkannya akan tetapi Nadhira tolak. Meski menggunakan lift tetap saja pak Hadi pria yang telah berumur jadi pastilah kaki nya sakit karena terlalu sering berjalan, belum sebelumnya sudah mengantar pengacara yaitu pak Bagus, Bimo dan Deni.


Nadhira langsung pulang, dia tidak lagi pergi kemana-mana. Pasalnya dia sudah merasa tidak nyaman dengan tubuhnya yang lengket.


Seperti biasa tidak ada yang menyambut kedangannya di rumah.


Dia langsung pergi ke kamarnya dan mandi.


¤¤¤¤¤


Tring...


Tring...


Tring...


"Astaga!" Nadhira langsung terduduk saat mendengar suara deringan ponselnya karena kaget.


Saat melihat ke meja samping yang di sana ada jam, matanya terbelalak. "Astaga, sudah jam 7!?" Nadhira langsung bergegas bersiap-siap. Pasalnya hari minggu ya hari ini adalah pembukaan cafenya.


Saat sudah mandi dan bersiap sederhana ponselnya kembali berdering setelah sebelumnya dia lupa mengecek siapa yang menelpon.


"Hallo kak, maaf aku bangun kesiangan!"


".....,"


"Aku akan cepat sampai,"


"Baik!"


Andara yang menelepon. Menanyakan keberadaan Nadhira. Dapat dipastikan reaksi nya saat mengetahui kalau adiknya bangun kesiangan padahal acara penting akan dimulai dan acara tidak akan di mulai kalau sang pemeran utamanya belum datang.


"Ini pasti gara-gara malam tadi tidur terlalu malam. Mereka terlalu banyak tanya sih, aihhh jadi lupa waktu kan," gumam Nadhira sambil memasang sepatu.


Saat ini Nadhira tidak menyadari kalau dirinya sedikit demi sedikit telah berubah dan jiwanya telah menyatu pada tubuh remaja dan bersikap layaknya remaja akan beranjak dewasa.


"Ira! Mau kemana?" Tanya Puspa. Kebetulan hari ini dia meminta libur.


"Aku mau ke tempat teman bu, dia mengundangku ke acara pembukaan cafenya," Nadhira tidak sepenuhnya berbohong bukan, hanya saja dia mengganti kakaknya sebagai temannya.


"Oh, hati-hati di jalan! Oh ya, apa kamu ada uang untuk naik taxi?" Puspa baru menyadari kalau selama ini Nadhira tidak pernah meminta uang padanya selain yang dia beri perminggunya.


"Ada kok bu. Aku berangkat ya," Nadhira pun melambaikan tangannya sebelum pergi.


Setengah jam akhirnya Nadhira sampai di cafe. Dari luar terlihat banyak orang yang telah datang, dia pun memilih masuk lewat pintu belakang.


"Maaf! Apakah semua orang sudah datang?"


Semua orang yang wajahnya tampak risau menatap ke arah sumber suara.


"Nadhira/Ira/bos!"


Nadhira tersentak saat semuanya menatap dan memanggilnya dengan nada kesal.


Ada apa? Dia kebingungan, dia tahu dia terlambat, rapi mengapa mereka tak memulai acaranya. Dia sudah mengatakan untuk memulai acaranya tanpanya.


"Akhirnya kau datang juga! Semua orang sudah datang. Kami belum memulai acaranya karena kau belum datang. Kami tidak bisa memulainya tanpamu. Kau tahu hampir semua tamu di luar orang-orang terkenal. Apakah mereka mengenalmu?" Andara sangat terkejut saat menyambut para tamu yang sering dia lihat di layar televisi di atas gedung tertinggi di Kota B.


Selain orang terkenal pun dia juga tahu kalau tamu-tamu yang tidak dia kenal itu bukanlah dari kalangam bawah maupum standar, hampir semuanya kalangam atas.


Nadhira tersenyum dan menjawab. "Mereka adalah para pendukung ku. Meski tak memiliki latar belakang yang kuat, kita memiliki mereka yang akan membantu kita di keadaan susah," penjelasan Nadhira ini semakin membuat Andara bingung dan penasaran, tapi sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk meminta penjelasan yang lebih.


"Aku akan bertanya lagi, tapi bukan sekarang. Sekarang kita harus memulai acaranya,"


Andara mengatur Nadhira untuk berbicara setelah dirinya membuka acara.


Pembukaan oleh Andara dan sambutan lain oleh Nadhira pun di sambut tepuk tangan oleh semua tamu undangan.


Dan acara selanjutnya para tamu menikmati hidangan yang telah di siapkan.


"Wow bos, kau luar biasa. Bisa membuka cafe sendiri!" Bagas begitu semangat berkata sambil memasukkan kue ke mulutnya.


Saat ini mereka selain Andara dan Glen, duduk di salah satu meja sambil menikmati hidangan.


"Iya! Kau hebat Ira! Tapi kenapa baru mengatakannya pada kami malam tadi. Kan kalau sebelumnya, kami dapat membantu," Clara terlihat sedih yang dibuat saat mengatakan kalimat terakhirnya.


Mereka semua mengangguk menyetujui perkataan Clara.


"Maaf! Aku tidak tahu kalau kalian mau membantu. Kalau tahu aku akan meminta kalian untuk membersihkan semua cafe ini waktu itu," Nadhira nampak sedih yang di buat-buat sambil tertunduk, tapi dari perkataannya dia sedang bercanda.


"Itu tidak masalah, kami dapat membantu!" Rangga dengan bangga berdiri dan berkata dengan lantang, membuat meja mereka menjadi sorotan.


Rangga jadi malu sendiri saat Bagas menariknya duduk dan meminta maaf kepada semuanya.


"Haha, aku hanya bercanda! Aku tidak ingin merepotkan kalian, jadi memberitahu kalian saat cafe akan di buka saja," ucap Nadhira.


Mereka sangat kagum dan merasa Nadhira ini terlalu perhatian dan baik. Jika pun dia tidak meminta bantuan, asalkan mereka tahu, maka mereka akan membantu.


¤


¤


¤


Semoga Suka...