
Selamat Membaca...
•••••
Hari telah menjelang pagi, Maya pun memilih pergi dari kuil itu dengan perlahan.
Tidak ada gangguan maupun hambatan barang sedikit. Maya berjalan dengan santai, tapi tidak menurunkan kewaspadaannya ke sekitar. Bukan binatang yang dia waspadai, akan tetapi orang-orang yang mengejarnya pada malam hari tadi.
Dia pun berhasil keluar dari dalam hutan tanpa gangguan sama sekali, baik itu dari para musuhnya, ataupun dari binatang mistis yang dipercayai ada di dalam hutan itu oleh orang-orang.
Flashback Off
"Aku tidak tahu dimanakah Liontin giok itu berada sekarang?" Batin Nadhira.
Dia juga penasaran apakah Liontin giok itu masih berada dalam berangkas nya dimana dia menyimpan barang-barang berharganya dulu atau sudah ada yang membongkarnya?
Nadhira dulu selalu menyimpan barang-barang berharganya di berangkas di rumahnya yang letaknya sangat tersembunyi. Hanya dia yang tahu letak dan password untuk membukanya.
Sayangnya untuk sekarang dia tidak bisa ke sana, karena dengan wajah nya sekarang orang-orang kepercayaannya yang menjaga rumah itu tidak akan mengenalinya.
Dia juga takut kalau di antara mereka juga ada pengkhianat lainnya, jadi dia berencana untuk membeli rumah itu kembali saat dia menjadi kaya.
Beralih kepada Aldo dan Jesica yang masih sibuk berbicara mengenai pencarian Liontin giok tiba-tiba seorang pria menghampiri mereka.
"Hai, Al. Sudah lama kita tidak bertemu!" Sapa seorang pria yang masih terlihat muda.
"Yo, Dimas! Apa kabar?" Sapa balik Aldo.
"Baik kok! Kau sendiri?" Dimas.
"Baik juga!" Jawab Aldo.
"Hei Jesica, sudah lama juga kita tidak bertemu! Apa kabar?" Tanya Dimas kepada Jesica.
"Baik!" Jawab Jesica acuh.
Dimas pun tidak mempermasalahkan sikap acuh Jesica dia beralih kepada Aldo lagi.
"Mau ikut ke ruangan ku, di sana anak-anak pada ngumpul," tanya Dimas.
"Boleh!" Jawab Aldo. "Jes, aku ikut Dimas dulu menemui anak-anak," ucap Dimas kepada Jesica.
"Hmm, jangan lama!" Setuju Jesica.
Aldo dan Dimas pun meninggalkan Jesica sendirian. Dia memesan minuman kepada pelayan. Melihat itu Nadhira memiliki rencana, yaitu memberikan obat halusinasi yang dia kembangkan sendiri.
Jangan salah, bukan saja ahli medis, Nadhira juga tidak buruk dalam hal obat-obatan.
Nadhira menghentikan pelayan yang membawakan minuman Jesica.
"Permisi, bisakah bawakan aku minuman lagi?" Ucap Nadhira.
"Sebentar, aku harus mengantarkan ini terlebih dulu!" Tak kehabisan akal Nadhira berkata lagi.
"Ayolah! Uhuk uhuk. Tenggorokanku sangat sakit. Kau tidak ingin kan kalau salah satu pelanggan disini mati gara-gara sakit tenggorokan. Sebentar saja, tolong. Uhuk uhuk Pelanggan yang kau bawakan minuman itu tidak akan keberatan," ucap Nadhira sambil batuk-batuk seraya memegangi lehernya.
Pelayan itu pun merasa bimbang, akan tetapi saat mendengar kata Nadhira. "Letakkan saja uhuk uhuk minuman itu di sini terlebih dahulu, dan kau ambilkan aku minum,"
Pelayan itu pun mengalah dan menaruh minuman itu di atas meja Nadhira, dan kemudian kebelakang untuk mengambilkan minuman Nadhira.
Tak membuang kesempatan, Nadhira langsung menaburkan bubuk obat halusinasi dan kemudian mengaduk nya.
Tak lama pelayan itu kembali membawa sebotol air mineral dengan gelasnya.
Gluk
Gluk
Gluk
Hampir satu botol Nadhira habiskan untuk minum. Saat itu Nadhira memang haus, jadi langsung saja agar pelayan itu lebih percaya dengan aktingnya.
"Hahhhh... Leganya! Terimakasih!" Ucap Nadhira seraya memberikan tip kepada pelayan itu. Pelayan itu pun menjadi senang.
"Terimakasih! Aku akan mengantar minuman pelanggan lain, permisi!" Pelayan itu pun pergi mengantarkan minuman Jesica.
Dapat Nadhira lihat Jesica langsung meminum minuman yang di bawakan pelayan itu membuat Nadhira menyeringai. "Langkah pertama berhasil, lanjut ke langkah berikutnya!" Gumam Nadhira.
Lima menit kemudian sudah terlihat Jesica rada oleng ke kanan dan ke kiri. Untuk pertemuan tak sengaja Nadhira berjalan mendekati Jesica.
"Eh eh eh! Nona kenapa?" Tanya Nadhira pura-pura panik.
Tidak ada jawaban dari Jesica, dia sudah setengah sadar. "Ada apa?" Tanya seorang pria.
"Tidak ada apa-apa! Teman saya terlalu mabuk jadi sampai seperti ini!" Jelas Nadhira para pria yang bertanya itu. Hampir saja rencananya gagal karena pria itu menawarkan bantuan, tapi dengan alasan-alasan logis Nadhira pun berhasil mengambil alih Jesica.
Nadhira membawanya ke sebuah kamar yang bisa di sewa di bar itu.
Setelah berada di kamar, Nadhira memulai aksinya.
Dia sedikit memercikkan air dingin ke wajah Jesica membuat Jesica sedikit sadar.
"Ah ah, ada apa?... Ada apa?" Ucap Jesica tak jelas dia masih setengah sadar.
Nadhira memasang maskernya kembali dan mendekati dimana saat ini Jesica setengah duduk di ranjang.
"Kau kenal Maya?" Tanya Nadhira.
Mata Jesica sedikit terbuka dan sedikit menegang. Benar! Tubuhnya terasa lemah dan tak berdaya akan tetapi telinganya masih mendengar dan pikirannya masih bisa mencerna kata-kata.
"Ku rasa kau mengenalnya!" Lanjut Nadhira.
Nadhira mendekatkan mulutnya ke telinga Jesica dan melanjutkan perkataannya. "Aku adalah teman Maya! Aku akan membalas semua perbuatan kalian kepada Maya. Kalian tidak mengenaliku tetapi aku mengenali kalian semua. Maya selalu menceritakan kebersamaan kalian kepadaku membuatku cemburu, akan tetapi melihat kebahagiaan Maya aku tetap diam. Tapi apa yang kalian lakukan kepadanya? Dia telah menganggap kalian semua adalah keluarganya, tapi apa? Kalian malah mengkhianatinya? Sungguh kalian manusia tak tahu malu! Ingat suatu hari nanti aku akan datang kepada kalian untuk membalas dendam," ancaman Nadhira.
Tubuh Jesica gemetar, entah itu karena takut atau emosi, tapi dia tak sanggup mengeluarkan satu katapun karena dia masih mengingat ancaman dari Nadhira.
Tapi setelah beberapa saat Jesica tiba-tiba berteriak histeris. "Tidak! Aku tidak menyesal telah membunuhnya. Dia saja yang bego, percaya kepadaku yang sama sekali tak menganggapnya teman. Aku berteman dengannya hanya karena dia hebat dalam bertarung dan ingin memanfaatkan itu untuk keamanan ku," ucap Jesica.
Campur aduk! Perasaan sakit hati karena di khianati telah menyatu dalam diri Nadhira saat ini. Hanya rasa benci yang ada sekarang. Tekad untuk balas dendam begitu besar sampai mendarah daging.
"Ya ya ya, memang dia itu bodoh karena percaya kepada kalian! Tapi aku tidak! Aku tahu kelemahan kalian semua! Jadi bersiaplah untuk permainan balas dendam ku," ucap Nadhira.
"Akrhhh, jangan harap kau bisa membalaskan dendamnya. Kau tahu bukan aku anak dari seorang pejabat pemerintahan? Jadi jangan sok!" Teriak Jesica marah.
"Hahaha, kau pikir aku takut? Hahahaha lucu sekali! Kau sendiri yang bilang kalau Maya adalah penjaga keamanan ku bukan? Sekarang dia telah mati dan siapa yang akan menjagamu sekarang? Saat ini saja aku dengan mudahnya membawamu ke sini, tapi sekarang bukan waktunya aku membalaskan dendam. Tidak mengasikkan jika langsung membunuhmu. Aku akan perlahan membalaskan dendamnya. Karena perlahan itu lebih terasa menyakitkannya daripada langsung mati!" Ucap Nadhira panjang lebar membuat Jesica semakin gemetar.
Baginya suara itu adalah suara pencabut nyawa yang kapan-kapan akan mencabut nyawanya.
¤
¤
¤
Semoga Suka...