
Selamat Membaca...
•••••
Di seberangnya satu pria tampan lagi, yang mana dia menggunakan setelan jaz dengan kemeja putih. Dua kancing teratas kemejanya di lepas membuatnya sangat keren.
Kulitnya bersih sehat terawat, fitur wajah tiga dimensi sama tampannya seperti patung kristal, alisnya yang tebal terangkat sedikit sombong, bulu matanya yang panjang dan sedikit melengkung memperlihatkan nuansa tatapan tajam yang tidak dapat diganggu.
Seluruh sosoknya yang bermartabat seakan memberitahu Dunia bahwa dia adalah seorang ketua, bos, raja dan lainnya. Dia adalah Stiven, sang ketua King Mafia.
Dia menatap sosok perempuan terlihat dewasa yang di maksud Leo tanpa minat, akan tetapi saat melihat sorot mata yang tak dapat di bacanya membuatnya mengernyit. "Mengapa tatapan itu membuatku penasaran?" Stiven mengabaikan kata hatinya dan menatap ke arah lain.
"Dia sangat menarik, aku akan coba mendekatinya!" Ucap Leo seraya berdiri dan akan turun, akan tetapi setelah mendengar perkataan Stiven langkahnya berhenti.
"Jangan berbuat sesuatu yang akan kau sesali nantinya!" Ucap Stiven tanpa memandang Leo. Tidak tahu mengapa dia mengatakan itu, tapi itulah yang terlintas di pikirannya dan harus di keluarkan.
Leo mengernyit mendengar perkataan Stiven. "Mengapa? Apakah kau juga tertarik? Kalau iya, aku akan mundur. Jarang-jarang sahabatku ini tertarik dengan seorang wanita jadi aku akan mendukungnya!" Ucap Leo dengan semangat seraya duduk kembali.
Tapi senyumnya hilang saat mendapat tatapan tajam dari Stiven "Jangan bicara sembarangan!"
"Baiklah aku akan diam!" Ucap Leo seraya memperagakan gerakan mengunci bibirnya.
Tapi dia begitu semangatnya, karena ini pertama kalinya saat dia ingin mendekati seorang perempuan sahabatnya ini menasehatinya. "Namun aku sungguh penasaran. Apakah kau mengenalnya? Jika tidak kenal, mengapa kau menasihati ku seperti itu?" Tanya Leo yang tidak berani berkata macam-macam lagi.
"Tidak! Aku tidak mengenalnya! Akan tetapi firasat ku dia bukan perempuan yang bisa kau dekati, dia tidak sesederhana seperti terlihat nya. Coba saja kau dekati!" Ucap Stiven yang di ujung kalimatnya menantang Leo tapi dalam hatinya berharap Leo menolak tantangannya.
"Begitu kah? Kalau begitu aku akan mencobanya!" Ucap Leo percaya diri kemudian dia pun turun.
Akan tetapi setelah turun ternyata perempuan yang dia cari yaitu Nadhira telah pergi.
Dia kembali ke atas. "Kau sih ngajak bicaranya lama, dia pergi kah!" Ucap Leo cemberut.
Saat melihat ke dalam mata perempuan tadi hatinya terasa mengganjal, apalagi saat Leo berniat merayunya dan setelah perempuan itu pergi dan Leo tidak sempat merayunya membuat hati lega.
"Mengapa hatiku terasa aneh seperti itu?" Batin Stiven kemudian dia pun mengabaikannya dan menikmati minumannya.
Di sisi lain, yaitu di jalanan pasar barang antik, Nadhira terlihat berjalan santai. Karena memerlukan dua puluh menitan untuk sampai di depan gang dan mendapat taxi.
Tetapi sedari keluar dari gedung kasino dia sudah merasa kalau dia sedang di ikuti. Karena bagaimanapun dia saat ini membawa banyak uang di tas nya.
Dia tahu kalau semua ini akan terjadi, jadi dia telah bersiap.
Nadhira menampakkan senyum jahat nya dan ingin memberi mereka kesempatan untuk bersenang hati terlebih dahulu. Namun bisakah merebut tas berisi uangnya atau tidak, itu masih tergantung pada kemampuan mereka.
Lagipula sekarang ia merasa tangannya sangat gatal dan tidak sabar ingin menyalurkan rasa gatal itu dalam pertarungan kecil.
Hanya saja tidak mudah memulainya pada siang bolong apalagi di tempat keramaian seperti sekarang.
Tetapi ketika pandangannya teralih pada sebuah gang kecil yang jarang di masuki orang-orang, Nadhira dengan senyuman samar nya tiba-tiba mengubah arah langkah kakinya menuju gang kecil tersebut.
Tetapi sungguh disayangkan, mereka tidak tau perempuan yang terlihat lemah yang mereka ikuti adalah salah satu petarung yang bertarung bebas di dunia bawah, meski hanya dua kali, tapi dia telah mengalahkan petarung bebas terkuat di kota B dan A.
Dengan mengikuti Nadhira, orang-orang ini sama halnya mengantar diri sendiri menuju ke kematian.
Setibanya di pertengahan gang kecil, ketika waktunya sudah pas, orang-orang yang mengikuti di belakang Nadhira segera maju dan mengelilinginya.
Tiga pria bertubuh tambun dan terlihat tidak seperti orang jahat. Nadhira berpikir untuk berlari saja mereka mungkin akan kehabisan nafas, apalagi untuk melawannya.
"Apa yang ingin kalian lakukan?" Untuk mencocokkan suasananya, Nadhira berpura-pura panik. Saat ini suasana hatinya sedang bahagia dan ingin sedikit bermain-main.
"Nona, kami bertiga hanya menginginkan uangmu. Selama kau menyerahkan semua uangmu pada kami, kami berjanji tidak akan melakukan apapun padamu!" Seorang Pria berbaju biru tua berkata.
Dai nada bicaranya sungguh seperti perampok tidak tahu malu, dan abal-abalan.
Ketika mendengarnya pun Nadhira terkekeh "Hehehehe. Oh! Bagaimana jika aku tidak mau menyerahkannya pada kalian?" Nada bicara Nadhira berubah seolah yang berbicara panik barusan bukanlah dirinya.
Perubahan nada bicaranya pun membuat ketiga Pria tambun itu pun terkejut, tetapi mereka tidak terlalu memikirkannya.
Salah satu dari mereka mengancam Nadhira dengan sebilah pisau. "Jika kau tidak mau memberikannya pada kami, maka kami akan mengambilnya dengan cara kami!"
"Benar! Nona, jangan hanya tau berbelanja dan menghabiskan uangmu secara cuma-cuma. Kau harus berpikir jernih. Jika kau kenapa-napa dan masuk rumah sakit maka akan lebih banyak biaya yang kau keluarkan. Apa gunanya uang yang ada di tas mu itu?" timpal Pria berbaju merah.
"Mmm... Lalu apa yang harus ku lakukan? Aku memang sangat suka belanja. Namun kalian tidak perlu khawatir karena aku akan menggunakan uangku untuk apa saja karena ini uang ku. Jadi sekarang aku memberi kalian kesempatan untuk membuktikan apakah kalian memiliki kemampuan mengambil uang ini dariku atau tidak!" Nadhira mencibir dengan nada bicaranya penuh penghinaan dan provokasi.
Penghinaan dan provokasi itu sukses membuat marah ketiga pria tambun itu, dan wajah mereka telah menggelap karena marah.
"Jika itu yang kau mau, maka jangan salahkan kami karena tanpa ampun akan mengajari mulutmu yang pedas itu," ucap pria berbaju hijau.
"Mulai!" Saat kata-kata ini jatuh dari mulut pria berbaju biru tua, ketiga pria tambun tersebut segera menyerang Nadhira.
Terlihat seringaian tipis dari bibir mungil Nadhira. Dia tetap tenang di tempat tanpa rasa takut.
Menurutnya, ketiga orang ini hanyalah karung tinjunya yang tidak layak diperhatikan.
Ketika serangan ketiga pria mendekat padanya, Nadhira tiba-tiba berjongkok, dan ketika berdiri lagi, kaki kanannya menyapu dan menendang kaki pria berbaju merah hingga terpental.
Kemudian dia meninju dan memukul perut bagian bawah pria berbaju hijau. Pria itupun menjerit seraya menutupi perut bagian bawahnya.
Tidak lengah, selanjutnya Nadhira dengan gerakan kakinya yang cepat, menendang area terlarang milik pria berbaju biru tua. Sama hal nya pria berbaju hijau, pria berbaju yang di tendang arena bawahnya oleh Nadhira menjerit keras dan kedua tangannya memegang erat area terlarang yang di tendang.
¤
¤
¤
Semoga Suka...