
Selamat Membaca...
•••
Setelah satu bulan kelulusan, nanti Nadhira beserta keluarganya akan pergi ke Kota A dan akan tinggal di sana. Iti rencana Nadhira, tapi apakah ibunya mau?
Dan sekarang baru satu minggu ketulusan dan Nadhira berniat memberitahukan kepada ibunya.
"Bu!" Panggil Nadhira dengan lirih.
Saat ini mereka sedang di dapur. Nadhira duduk di salah satu kursi meja makan, sedangkan Puspa sendang memasak.
"Hmm, ya ada apa Ra?" Sahut Puspa.
"Apakah ibu mau pergi menyusul kak Andara bersama ku? Tidak bukan hanya bersama ku, kita juga akan mengajak paman Aryo, bibi Mayang dan Sinta untuk pergi ke Kota A dan tinggal di sana!" Nadhira begitu menggebu-gebu saat mengatakannya, tapi Puspa melihatnya seperti halnya keinginan seorang anak yang sangat ingin untuk bertamasya.
"Kekeke, boleh saja. Tapi kita tidak akan sanggup jika pergi ke sana juga. Untuk usaha cafe milik kalian berdua itu, ibu rasa tidak akan bisa mencukupi kebutuhan kita semua saat tinggal di Kota A yang mana untuk hidup sehari satu orang di sana saja sama dengan pengeluaran satu minggu tinggal di sini. Bayangkan saja kalau kita semua tinggal di sana. Dan lagi pula kalau kita ke sana kita harus mencari rumah lagi dan lagi rumah di sana harganya sangat mahal," bukan nya tidak mau, akan tetapi Puspa masih tahu diri kalau mereka masihlah orang tak punya. Hanya mengandalkan cafe? Puspa rasa masihlah tak cukup.
"Tidak masalah bu, dengan hasil cafe saja sudah cukup, lagian di sana ada apartemen yang sudah Nadhira siapkan dan juga kak Andara sudah tinggal di sana, jadi ibu tidak perlu memikirkan tempat tinggal. Semua sudah siap di sana, kita hanya perlu siap untuk pergi," kali ini Nadhira keceplosan telah menyiapkan sebuah apartemen dan lagi Andara sudah tinggal di sana. Kapan Nadhira membelinya?
Setelah sadar dengan apa yang di katakannya Nadhira langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Puspa menatap selidik Nadhira dan Nadhira paham akan tatapan itu.
"Hehehe, maafkan Nadhira bu, baru bilang ini," Nadhira tertunduk merasa bersalah karena tidak memberitahukan nya kepada ibunya.
Puspa mematikan kompor dan berjalan ke arah Nadhira.
Tap tap tap
Nadhira memejamkan matanya, khawatir kalau dia akan melihat wajah kekecewaan dari ibunya.
Tapi apa ini? Sebuah elusan lembut mendarat di kepala nya.
Nadhira mengankat kepalanya dan matanya langsung bersitatap dengan mata hangat Puspa.
Dengan senyum hangat Puspa berkata. "Tidak apa! Ibu tidak masalah. Kau pasti memiliki alasan sampai kau dan kakakmu tidak membertahu ibu,"
"Makasih!" Ucap Nadhira terharu.
"Hm, jadi kapan mau pergi?" Tanya Puspa membuat mata Nadhira bahagia.
"Kapanpun ibu siap! Dan sebelum itu kita harus menjemput paman Aryo, bibi Mayang dan Sinta," Nadhira.
"Baiklah!"
...•••...
Nadhira masuk ke kamarnya dan merebahkan dirinya sambil menatap layar ponselnya.
Chat Room dari GroupChat yang sedang Nadhira tatap. Disana dia memikirkan sesuatu yang ingin dia ketik dan beritahu kepada semua teman-temannya.
Nadhira: 'Hi semua!'
Bagas: 'Eh bos, tumben nongol duluan?'
Rima: 'Ya nih bos tumben banget? Pasti ada sesuatu yang penting nih!'
Clara: 'Ira ada apa?'
Gilang: 'Ada apa Ra?'
Rangga: 'Suuutttt, kita lihat dulu apa yang bakal bos ketik!'
Menatap berbagai respon teman-temannya seketika dia ragu jika keputusannya. Pastinya semua teman-temannya menentang keputusannya ini, kecuali mereka mampu mengikutinya.
Nadhira: 'Aku beserta keluarga ku akan pindah ke Kota A. Aku ingin pamit ke kalian. Apakah kalian ada waktu untuk ngumpul minggu ini?'
Semua yang ada di group pastinya syok. Mereka tidak berpikir bahwa Nadhira yang sudah merubah hidup mereka yang awalnya tak memiliki keinginan kuat untuk percaya kepada diri sendiri akan pergi meninggalkan mereka?!
Siapa yang tidak tahu kehidupan elit nan mahal di Kota A. Mereka ingin mengikuti nya pergi ke Kota A, tapi mereka sadar diri, mereka tal secerdas Nadhira yang mampu bersikap dewasa dan pastinya dia akan mampu hidup di tengah-tengah kehidupan glamor para orang Kota A.
Setelah mendapat jawaban setuju dari penghuni GroupChat yang pastinya di huni oleh seluruh penghuni mantan kelas XII IPS 1, akhirnya mereka sepakat bertemu di cafe Nadhira yang pada hari itu akan di tutup sementara.
...•••...
Hari kesepakatan tiba. Nadhira sudah berada di cafe itu sebelum jam yang sudah di tentukan.
Dia mempersiapkan segala sesuatu, seperti makanan, minuman dan lainnya untuk menyambut teman-temannya di bantu para karyawan.
"Apakah ada yang kurang?" Tanya Glen.
"Tidak ada kak! Terimakasih sudah membantuku!" Ucap Nadhira dengan tulus.
"Ah kau ini seperti dengan siapa saja! Kau kan adik dari sahabatku, jadi kau juga sudah ku anggap adikku juga!" Ucap Glen.
"Sekali lagi terimakasih!" Nadhira.
"Ya ya ya, sudah terimakasihnya, lebih baik kau cepat kedepan, sepertinya semua temanmu sudah sampai," ucap Glen sambil menatap luar yang di sana sudah banyak yang datang, yang pastinya teman-teman Nadhira. Tak mungkin orang lain, karena cafe itu sedang di tutup untuk pengunjung lain.
Nadhira ke depan dan benar saja, semua teman-teman Nadhira sudah berada di depan Cafe.
"Silahkan masuk!" Persilah Nadhira kepada teman-temannya yang masih asik mengobrol satu sama lain belum ada yang niat untuk masuk.
"Hei bos," sapa Bagas. "Yok masuk!" Lanjutnya mengajak yang lain masuk.
Mereka pun masuk ke dalam Cafe dan duduk di tempat yang telah di sediakan.
"Gilang mana?" Tanya Nadhira. Hanya Gilang yang belum terlihat sedari di depan Cafe.
"Katanya jalanan macet, jadi agak terlambat," sahut Clara.
"Hm kak ..," belum sempat Nadhira melanjutkan ucapannya suara bell terdengar setiap kali ada yang masuk ke dalam Cafe.
Semua mata tertuju ke arah pintu masuk. Disana berdiri seorang pemuda tampan dengan seorang anak laki-laki berada di gendongannya.
"Itu Gilang! Gio juga ikut," ucap Rima.
Dia Gilang bersama Gio, adiknya.
"Kakak," teriak Gio yang langsung minta turunkan. Dia berlari ke arah Nadhira.
Dengan senang hati Nadhira menggendongnya. "Karena sudah datang semua, kita langsung saja makan nya!" Ucap Nadhira. Para karyawan yang sudah siap di tempat masuk ke dapur bergantian untuk mengambil makanan dan minuman dan sebagian menata di atas meja.
Mereka pun makan dengan hikmat, para karyawan pun tak tertinggal, karena itu juga permintaan Nadhira.
Setelah beberapa saat selesai makan dan meja telah bersih dari makanan dan minuman sekarang mereka fokus ke arah Nadhira yang berdiri di tengah-tengah mereka.
"Terimakasih untuk selama ini! Terimakasih sudah mau berteman denganku! Terimakasih untuk semuanya! Kalian tahu sendir aku tak pandai berkata-kata, jadi aku hanya bisa berterimakasih sebanyak-banyaknya kepada kalian semua!"
Nadhira tertunduk, matanya berkaca-kaca. Ini pertama kalinya dia berat meninggalkan seseorang. Menangispun dia hampir dapat dihitung jari, bahkan dia lupa kapan terakhir dia menangis.
Seseorang mengelus punggung kanan Nadhira dan berkata. "Bukan kau yang perlu berterimakasih, akan tetapi kamilah yang seharusnya. Karena kau tahu sendiri kalau bukan berkat kau kami tidak akan seperti ini. Kehidupan kami lebih berwarna dan lebih bermanfaat. Jadi jangan bersedih. Kalau kau seperti ini, akan sangat berat kami untuk melepasmu, bahkan mungkin tak mengijinkanmu pergi!" Dia Rima dan di sebelah kiri Nadhira ada Clara yang tak mampu berucap karena sudah terisak.
¤
¤
¤
Semoga Suka...