Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Trik licik


~Meski hidup penuh kesulitan, tapi dengan adanya kebersamaan antar orang terkasih, maka kesulitan itu dapat di patahkan~


Selamat Membaca...


•••••


Setelah masih tak ada sahutan maupun respon, bibi Mawar kembali berkata karena dia baru teringat akan hal itu. "Oh ya, kalau kalian pindah dari sini. Biarkan Andara tinggal di rumah ibu," lanjutnya.


"Mengapa harus di rumah ibumu? Dia bisa tinggal dengan ku, benarkan Fatma?" Nenek Zainab mengatakan dengan tidak suka.


"Bukan begitu ibu. Ibu bisa berkunjung kapan saja ke rumah ibuku, itu yang di katakan ibuku. Kalau Andara tinggal di rumah Fatma dan Fahmi itu tidak enak bukan. Jadi biarkan dia tinggal bersama ibuku," siapa yang tidak mau menampung seseorang yang di yakini akan sukses di masa depan? Ya itulah pikir mereka, bahwa kalau mereka menampung Andara dan baik kepadanya makan saat Andara sukses itu akan sangat menguntungkan bagi mereka.


"Tidak! Kalau kami pindah, aku juga akan membawa serta kedua anakku. Aku akan pergi tapi tidak meninggalkan kedua anakku. Aku tidak akan membawa apa pun dari rumah ini," bukan yang lain yang merespon, tapi sekarang Puspa. Dia terlihat sangat marah. Meski dia berwatak lembut, tapi jika menyangkut anak-anaknya dia tak akan tinggal diam.


Puspa menggertak kan giginya, apakah mereka pikir anaknya sebuah barang yang bisa di berikan? Dia berteriak marah. "Ibu, adik ipar! Ini terakhir kalinya aku akan memanggil kalian seperti itu, karena walau bagaimanapun kita adalah keluarga. Kamu tahu bagaimana perasaan seorang ibu! Jangan harap memisahkan aku dari anak-anakku!"


Puspa menarik nafas dan menyeka air matanya untuk melanjutkan berkata. "Aku baik-baik saja kalau ibu mertua akan mengambil kembali rumahnya, tetapi Andara harus pergi bersamaku!"


"Tidak mungkin!" Nenek Zainab dan Mawar menggeram tepat setelah Puspa selesai. Itu cucunya! Dia tidak ingin merelakan cucunya yang berguna itu. Bagaimana dia bisa membiarkan cucunya pergi dengan Puspa?


Begitu dia berpikir tentang ibu kandung dan ibu mertuanya yang ingin membawa anaknya, dalam pikirannya pasti mereka tidak akan membiarkan dirinya bertemu lagi dengan puteranya, itu membutnya marah. Bagaimana mereka berpikir memisahkan dirinya dengan anaknya?


"Aku akan pergi dari rumah ini secepatnya, tapi Andara dan Nadhira adalah anak-anakku. Aku akan pergi bersama mereka!" Entah dari sejak kapan Nadhira telah memegang tangan Puspa. Memberinya keberanian meskipun dia merasa takut kalau ibunya lemah akan mereka semua. Untuk pertama kalinya, dia menentang dan menjawab ibu kandungnya dengan kemarahan yang meluap-luap.


Tidak peduli betapa lembutnya dia, dia masih memiliki batas kesabaran seorang manusia, apalagi dia seorang ibu. Puspa benar-benar tidak tahan lagi, dia telah di asing kan semenjak kecil hanya karena dia seorang perempuan di keluarganya sendiri maupun keluarga suaminya yang sebagai seorang istri.


Suaminya meninggalkan dirinya bersama anak-anaknya saat anak-anaknya masih sangat kecil, bahkan usia Nadhira saat itu masih dua bulan.


Suami nya meninggal akibat kecelakaan beruntun yang terjadi enam belas tahun yang lalu. Itu membuatnya terpukul di tambah tidak ada yang mendukungnya lagi setelah ayahnya meninggal sela pi n bibi Mayang sebagai kakak perempuan satu-satunya.


"Bagus...bagus, sekarang kau berani yang membentak ibumu ini, apakah anak sialan ini yang mempengaruhi mu?" Ini adalah pertama kalinya Puspa melawan nenek Zainab. Dia tercengang selama beberapa detik sebelum dia bisa bereaksi.


Mengulurkan tangannya saat dia ingin menampar Puspa. Tapi sebelum telapak tangannya mendarat di pipi Puspa, sebuah tangan mungil menangkap tangan nenek Zainab.


Plak!


Suara tamparan terdengar keras.


Nadhira malah menampar terlebih dahulu. Lingkungan sekitar yang sepi membuat suara tamparan itu bergema. Itu mengejutkan semua orang. Nenek Zainab tetaplah orang tua, tidak peduli betapa kasarnya dia, dia tetaplah seorang nenek. Tidak ada yang pernah berpikir bahwa Nadhira akan menamparnya seperti itu. Seorang cucu menampar neneknya?


Saat semua orang terkejut dan menyaksikan dengan heran, Nadhira malah tertawa kecil. "Coba pukul ibuku! Aku berjanji kamu akan keluar dari sini dengan di bopong!" Jangan katakan bahwa Nadhira kurang ajar dan melewati batas. Nadhira bukanlah orang yang baik dan memiliki kesabaran.


Nenek Zainab yang baru saja menerima tamparan keras memegangi pipinya dan menatap Nadhira dengan tidak percaya.


Nadhira terlalu penakut untuk melakukan itu semua. Bahkan ketika di bentak saja, dia akan gemetar. Orang-orang berpikir perilaku Nadhira sekarang hanya spontan dilakukannya. Namun mereka masih saja tidak percaya yang di lakukan Nadhira barusan.


Cucu pengecut baru saja menamparnya?


Nenek Zainab bukanlah orang yang kasar. Tapi dia terkenal dengan kelicikan dan keserakahannya.


"Hebat! Berani-beraninya kamu memukul nenekmu ini? Apakah kamu benar-benar menganggap ku sebagai wanita tua dan mengira aku tidak bisa melakukannya padamu? Tunggu, aku akan memberimu pelajaran atas nama ibumu! " Nenek Zainab menggulung lengan bajunya saat dia berjalan menuju Nadhira dengan terengah-engah karena marah.


"Bu, tenanglah. Jangan marah. Kita bisa membicarakan ini.l," bibi Mayang dengan cepat menarik lengan nenek Zainab untuk menghentikannya.


"Heh!" Dia berhenti dan menatap bibi Mayang kemudian beralih menatap Puspa. "Keluarlah dari rumah ini secepat mungkin karena aku tidak ingin mendapatkan malu dari ibu mertuamu!" Dia kemudian memelototi Nadhira sebelum pergi.


Fatma juga mengikuti ibu mertuanya dan menatap tajam Puspa, Mayang dan Nadhira. Dan tertinggal lah bibi Mawar sendiri. Entah mengapa dia belum juga pergi. Jadi mendapatkan kesempatan lagi Nadhira berkata. "Bi, bibi mengatakan tidak perlu membayar hutang kami bukan? Jadi terimakasih dan selamat jalan," ucap Nadhira dengan licik.


"Hump! Aku akan bermurah hati kali ini untuk orang miskin seperti kalian! Aku tidak akan menagih uang tak seberapa itu dari kalian!" Setelah mengatakan itu dengan sombongnya bibi Mawar meninggalkan mereka.


"Terimakasih bi," teriak Nadhira ceria, tapi kalau orang teliti bahwa rasa terimakasih Nadhira itu adalah kegembiraan karena keberhasilan bersilat lidahnya. Ada arti tersembunyi dari rasa terimakasihnya itu.


Bibi Mayang memeluk Puspa yang terisak makin menjadi.


"Bu," setelah nenek serta bibinya pergi, Nadhira dengan lembut menepuk bahu Puspa dan mengusapnya dengan lembut.


"Bu, kita sudah melewati hari-hari yang sulit. Selama Ibu, kakak, dan aku, masih tetap bersama, tidak ada yang tidak bisa kita lalui," Nadhira memeluk Puspa dan menghiburnya dengan lembut.


Wanita rapuh itu tidak bersuara tetapi Nadhira bisa merasakan air matanya membasahi bahunya.


Selama mereka bersama, tidak ada yang tidak bisa mereka atasi. Itu fakta dari ingatan Nadhira dulu.


Nadhira berencana untuk pindah dari Kota D ke Kota B. Pastinya, itu akan segera dilakukannya setelah ulangan bulanan yang akan dilaksanakan di sekolahnya.


¤


¤


¤


Semoga Suka...