Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Menjemput


Selamat Membaca...


•••


Satu hari telah berlalu, di saat sebelumnya berpamitan penuh haru, sekarang Nadhira dan Puspa akan berangkat ke kota D menjemput Paman Aryo serta keluarga nya.


Nadhira tidak ingin menunda-nunda keberangkatannya ke Kota A. Entah bagaimana? Kota A sealants menariknya untuk datang kesana. Apakah karena Kota A


adalah kota kehidupan pertamanya? Tak mau berlarut dengan praduga, Nadhira memilih cepat pergi daripada suatu saat nantilah dirinya kembali ragu untuk pergi.


"Ra, apakah barang yang perlu kau bawa sudah beres semuanya?" Tanya Puspa yang masuk ke kamar Nadhira.


Disana di depan cermin Nadhira berdiri melihat sekali lagi penampilannya. "Ya! Sudah bu!" Jawab Nadhira.


"Baguslah! Karena sudah jam 7 kita harus bergegas ke halte untuk menunggu bus yang sebentar lagi kemungkinan akan tiba," ucap Puspa sebelum pergi dari kamar Nadhira.


"Baik bu! Eh tapi bu, kita naik taxi saja, kan lebih cepat, tidak butuh berganti bus," ucapNadhira.


Untuk sampai ke Kota D tepatnya ke rumah bibi dan pamannya, Nadhira perlu setidaknya dua kali berganti bus dan untuk sampai ke rumah paman dan bibinya, dia perlu menaiki taxi juga agar langsung sampai di depan rumah.


"Oh naik taxi?" Puspa


"Ya bu! Lagian Ira sudah pesan taxi nya. Sebentar lagi kemungkinan sampai," Nadhira.


"Oh baiklah!" Puspa pun meninggalkan kamar Nadhira menuju depan rumah, kalau-kalau taxi pesanan Nadhira sudah datang.


Nadhira mengambil tas kecil nya yang disampirkan di bahu kanannya dan tas berukuran besar yang memuat kebutuhannya kemudian menyusul Puspa.


Saat Nadhira keluar, taxi pesanan nya sudah sampai dan mereka pun memasukinya dan mobil taxi pun berangkat.


Sekitar satu jam lebih menaiki taxi mereka sampai di Kota D. Tak mau terburu-buru, dan kebetulan perut Nadhira berbunyi, Nadhira pun mengajak Puspa untuk makan lebih dulu.


"Bu kita mampir makan dulu ya?" Nadhira.


"Baiklah!" Jawab Puspa. Tak ada alasan dia menolak ajakan Nadhira untuk makan, toh perutnya juga lapar, karena saat berangkat mereka hanya sempat makan roti.


"Pak, berhenti di rumah makan terdekat dulu ya pa," pinta Nadhira kepada sopir taxi.


"Baik nona!"


Taxi berhenti di depan sebuah rumah makan sederhana nan asri.


"Bapak boleh makan dulu juga di dalam, nanti saya yang akan bayarnya," ucap Nadhira.


"Ti...," Nadhira tak menerima penolakan langsung menaruh jari telunjuknya di bibirnya mengisyaratkan tak ada penolakan. Mau tak mau pak sopir mengiyakan. Sebenarnya pak sopir tak enak akan tetapi Nadhira memaksa dia pun setuju.


Mereka masuk kedalam rumah makan, akan tetapi pak sopir memilih duduk di meja lain. Katanya sih tak enak, jadi Nadhira membiarkannya.


Setelah membayar makanan mereka dan pak supir, mereka pun keluar dari rumah makan tersebut dan melanjutkan perjalanan mereka ke rumah bibi Mayang.


Dari depan rumah sudah terlihat bahwa salah satu dari penghuni rumah itu kemungkinan sudah pulang, entah dari bekerja maupun sekolah. Terlihat dari pintu rumah yang tak tertutup sepenuhnya.


Tok tok tok


Puspa mengetuk pintu, meski pintu tak di tutup dan mereka adalah keluarga, akan tetapi demi kesopanan dia tidak langsung masuk dan memilih mengetuk pintu.


Tap tap tap


Kreatttt


Pintu terbuka menampakkan Sinta yang masih memakai seragam sekolah.


"Bibi Puspa, kak Ira?" Dia adalah Sinta. Dia masih menggunakan seragam sekolah SMA lengkap. Dia menyalimi Puspa dan juga Nadhira.


"Masuk bi, kak," ajak Sinta kepada Puspa dan Nadhira.


Mereka pun berbincang sebentar karena tak lama setelah mereka masuk bibi Mayang datang di susul paman Aryo kemudian.


Puspa langsung saja menyampaikan niat mereka datang ke rumah mereka.


Nadhira pun juga menceritakan tentang Andara yang sudah berada di Kota A untuk berkuliah. Wajah mereka tidak tahu karena Nadhira dan Puspa tak memberitahu satu pun keluarga mereka tentang keberhasilan mereka karena sudah dapat di tebak mereka akan menjilat Nadhira dan Puspa kecuali bibi Mayang, paman Aryo dan Sinta yang mereka dapat pastikan tidak serakah seperti keluarga mereka yang lainnya.


Menyusul Andara yang telah lebih dulu pergi ke Kota A untuk kuliah di universitas elit dimana adiknya Jenifer bersekolah.


Mulanya dia hanya ingin berkuliah di Universitas di Kota B, akan tetapi Nadhira berhasil menang. Pasalnya Andara telah gagal masuk ke Universitas terbaik di Kota B dan juga Kota A melalui jalur beasiswa. Ada orang yang lebih pintar dari dirinya yang mendapatkan itu dan terpaksa dia menerima bantuan Nadhira.


Karena faktanya perekonomian mereka sudah membaik dan dapat menyekolahkan Andara di universitas elit di Kota A yang sangat mahal itu.


Sempat ragu untuk pergi, Nadhira pun membujuknya dengan keras di bantu ibunya yang sudah tahu tentang keberhasilan Nadhira dan kakaknya mengelola sebuah cafe tapi tidak untuk perusahaan.


"Aku dan ibu akan menyusul kakak ke sana. Paman Aryo, bibi Mayang dan Sinta juga akan ku ajak untuk tinggal di sana, iya kan bu?!" Nadhira meminta dukungan pada ibunya.


"Benar, kau bersekolah lah di sana jika memang kita memiliki jalan untuk kehidupan yang leboh baik, tentunya jika kau memang menginginkannya, ibu tidak memaksa," ujar bu Puspa.


Andara merenung sejenak, memang dia menginginkannya, amat sangat ingin, akan tetapi kembali lagi dia lagi-lagi menyusahkan adiknya, tapi melihat adiknya begitu berharap dia untuk berhasil, akhirnya dia pun mengiyakan nya.


Andara di minta untuk tinggal di apartemen milik Nadhira yang mana telah dia beli saat dia berkunjung di sana. Alasannya karena dia sering ke kota A jadi akan lebih nyaman jika memiliki apartemen sendiri. Letaknya juga dekat dengan Universitas yang dimaksud.


"Begitu paman, bibi. Jadi kalian mau kan ikut kami? Kita bisa tinggal bersama disana dan meskipun aku kemungkinan tidak tinggal di apartemen itu, karena rencana ku universitas yang akan ku masuki lumayan jauh jadi aku akan membeli apartemen yang lebih kecil untuk sendiri," jelas Nadhira. Yah meskipun untuk berkuliah dia masih ragu, tapi untuk tinggal sendiri dia sudah memiliki niat dari dulu.


"Apakah tidak bisa di universitas yang sama dengan kakakmu Ira?" Tanya Puspa. Dia khawatir jika anak gadis nya tinggal sendiri, meskipun dia yakin Nadhira sanggup tinggal sendirian.


Nadhira menggeleng. "Bukan aku tak bisa masuk di universitas yang sama dengan kak Andara, tapi aku ingin mandiri bu. Boleh kan bu," harap Nadhira.


Puspa menghela nafas, bukan dia melarang akan tetapi dia seorang ibu yang sudah merawa Nadhira sedari kecil dan tidak pernah terpisah, jadi dia sangat khawatir.


Tapi dia tidak ingin egois, jadi. "Baiklah! Tapi kau harus selalu mengabari kami, agar kami tidak khawatir," pinta Puspa.


"Terimakasih bu!" Ucap Nadhira seraya memeluk puspa. "Jadi, paman, bi, Sinta. Kalian mau ikut kan?"


"Baiklah kami ikut, tapi bagaimaba dengan usaha kita di sini?" Tanya paman Aryo.


"Tidak perlu khawatir. Paman bisa bekerja dari sana dan disini kan di handle oleh orang kepercayaan ku," Nadhira.


Setelah banyaknya pertimbangan akhirnya mereka semua pun pergi ke Kota A satu minggu lagi.


¤


¤


¤


Semoga Suka...