
Selamat Membaca...
•••
Setelah meyakini orang-orang itu tak terlihat lagi segera Nadhira memanggil Zidan, dan Toni tak lupa Kai yang mereka papah.
"Ku kira kau akan melawan mereka barusan," ucap Marcel sukses membuat yang lain menatap Nadhira.
"Hm, malas! Kau tahu tanganku sedikit sakit saat memukul dada pria kekar di dalam barusan, gila dadanya keras banget," saat ini Nadhira dalam mode sifat asli dari gadis remaja yang masih belasan usianya.
Tingkah laku Nadhira sontak membuat mereka semua ternganga. Pasalnya saat di dalam maupun saat dia berakting barusan, dia sangatlah berbeda. Apakah gadis di hadapan mereka ini memiliki ke pribadian ganda? Itulah pikir mereka.
"Sudah jangan pikirkan perkataanku barusan. Kita tidak bisa berlama-lama di sini, karena kemungkinan mereka akan menyadari dan kembali ke sini," ucap Nadhira membuat semuanya bergegas menuju mobil Kai.
Sempat lama masuk, pasalnya kunci mobil tidak di temukan dan beberapa saat kemudian kunci nya di temukan di salah satu kantung dari sekian banyak kantung di celana Kai.
Ya kai menggunakan celana yang banyak kantungnya, seperti celana TNI.
Saat hendak masul ke dalam mobil mereka di teriaki...
"Hei kalian jangan coba-coba kabur!" Itu adalah orang yang kena tipu akting Nadhira.
"Cepat juga mereka sadarnya!" Ucap Nadhira dengan senyum mengejek. Segera dia masuk setelah semua nya masuk dan mobil pun di kemudikan oleh Marcel dan melewati orang-orang yang mengejar mereka. Akhirnya mereka terbebas dari kejaran dan sekarang keadaan dalam mobil menjadi hening.
Setelah hening beberapa saat, suara lenguhan Kai membuat mereka semua menatap ke arah Kai, kecuali Marcel yang sedang mengemudi, tapi dia sempat melirik lewat kaca spion.
Saat ini Kai sedang tertidur sedang bersandar di bahu Zidan yang duduk di samping kanannya, sedangkan Nadhira duduk di samping kiri Kai.
Zidan mengerutkan alisnya saat melihat Nadhira mengeluarkan botol air dari tas kecilnya. Di berpikir dia hanya akan minum, akan tetapi kejadian selanjutnya...
Byurrr
Nadhira mengguyur kepala hingga wajah Kai dengan air di dalam botol tersebut membuat Kai mengumpat.
"Sial! Banjir!" Umpat Kai membuat semua yang berada di dalam mobil terkekeh geli, sedangkan Nadhira dengan cepat duduk menghadap Kai dan menepuk-nepuk pipi Kai.
Tapi sebelum itu dia sempat mengamati wajah Kai. Dan dia akui jika pemuda ini tampan, tapi agak kurang bagus karena dia berkelakuan nakal dan selalu membuat kekacauan.
Sudut bibir Nadhira terangkat tatkala Kai mulai sadar dan dia menepuk pipi Kai beberapa kali.
"Bangunlah! Kita sudah akan sampai," ya memang mereka akan sampai, karena mereka sudah memasuki gerbang yang besar.
"Siapa?" Kai pun bertanya. Pusing akibat kebanyakan minum minuman berakohol sedikit berkurang. Dan dia melihat kalau ada orang baru di dekatnya dan juga sekarang mereka telah berada di kawasan mension kakek nya.
Dia kembali mengumpat saat tak mendapat jawaban dari Nadhira.
"Sialan! Di cuekin,"
Zidan membelalak sebentar dan dengan cepat dia menetralkan wajahnya dan menatap Kai horor.
"Habis kau Kai! Jangan sampai dia tersinggung! Kalau ku perhatikan dia sangat hebat berkelahi dan lagi sifat nya itu berubah-ubah, tidak dapat di tebak! Aku saja yakin kalau aku akan kalah darinya, sedangkan kau akan habis karena kau tidak bisa sama sekali berkelahi," ingin sekali Zidan meneriakkan itu di hadapan Kai, akan tetapi hanya mampu dia keluhkan di dalam hatinya sendiri.
"Kai tak perlu seperti itu lah, kenalan aja dulu, kan tak kenal maka tak sayang,"
Kai menatap Zidan dengan malas dan memutar bola matanya lalu duduk bersandar pada kursi mobil setelah sebelumnya dia menghadap Nadhira yang kembali duduk dengan memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil.
Mobil berhenti secara mendadak membuat Kai yang belum duduk sempurna terlempar ke depan dan tangannya tak sengaja memegang paha Nadhira yang langsung ke pelintir oleh Nadhira.
"Du du duh lepas, sakit tahu! Aku kan tidak sengaja,"
Setelah Nadhira melepaskan Kai. "Cewek gila, kaya preman!"
"Woi bisa nyetir gak, aku jadi mabuk lagi nih!" Teriak marah Kai kepada Marcel yang menjadi pelaku.
"Hehehe, ya sorry, ini kita sudah sampai masa mau di lanjutin, kelewatan dong!"
Marcel dengan sabar menyahut dengan sedikit tertawa garing dan terpaksa.
Kalau bukan Kai bakalan jadi majikannya sudah di hajar nya tuh anak.
Mereka di sambut oleh seorang pria masih muda?
"Selamat datang tuan Muda Kai, Zidan, dan Toni dan...," Dia tidak melanjutkan ucapannya karena tidak mengenal Nadhira dan Marcel.
"Nadhira dan Marcel," bukan Nadhira maupun Marcel yang menjawab akan tetapi tuan Ling.
Semua menatap tuan Ling yang baru datang dari dalam mension nya. "Mereka berdua adalah orang yang akan menjadi penjaga mu," lanjut tuan Ling.
Tatapan bertanya dari mata Kai terlihat jelas di mata tuan Ling, begitu juga dengan kedua teman Kai, Zidan dan Toni.
"Menjaga? Tunggu! Apakah maksudnya semacam bodyguard?" Zidan bertanya kepada tuan Ling yang telah dia anggap juga sebagai kakeknya begitu juga sebaliknya.
Pertanyaan Zidan membuat Kai melotot, mana mungkin dua orang yang mungkin saja lebih muda dari nya menjadi bodyguard? Kai tertawa tak percaya.
"Hahaha, mana mungkin! Benar kan kek? Tidak mungkin tebakan Zidan itu benar kan kek? Dan lagi, kalau yang pria sih mungkin ya, tapi yang cewek? Kakek tidak berpikir kalau aku anak TK kan?"
"Ada apa emangnya kalau cewek jadi bodyguard? Emangnya salah?" Tanya Nadhira. Dia sedikit tersinggung karena di remehkan.
"Bukan begitu, akan tetapi kau terlalu muda dan juga terlalu cantik, tidak bakal ada yang takut jika kau jadi bodyguard, yang ada di kira kau pacar ku, kekeke,"
Nadhira maju mendekati Kai, kedua tangannya ia letakkan di kedua saku celananya, kemudian berkata dengan acuh.
"Tenang saja TUAN MUDA KAI, meski aku seorang perempuan jangan remehkan seseorang hanya dari cover nya saja. Aku akan buktikan kemampuan ku dalam bertarung. Aku akan buktikan seorang perempuan pun dapat lebih hebat dari seorang laki-laki,"
Kai mendecih tak suka, dia menatap kakek nya dan kakeknya langsung membuang muka, membuatnya mendesah lelah kemudian masuk ke dalam mension.
Nadhira kembali ke rumahnya untuk mengambil barang-barang nya dan berpamitan dengan ibunya. Dan Marcel juga melakukan hal yang sama. Mereka akan bertemu lagi di depan gerbang mension keluarga Ling.
Saat ini jam 8 pagi Nadhira sudah berada di depan pintu gerbang menunggu Marcel serta jemputan dari dalam. Pasalnya gerbang menuju mension lumayan jauh, memerlukan sepuluh hingga lima belas menit untuk sampai jika berjalan kaki. Sedangkan jika menggunakan mobil hanya butuh lima menit lebih.
¤
¤
¤
Semoga Suka...