
Selamat Membaca...
•••••
Cerry kembali berdiri setelah duduk sejenak untuk beristirahat sehabis bertarung dengan Rima. Tidak banyak mengeluarkan energi, tapi dia juga lelah lama berdiri dan selalu menghindari serangan Rima.
"Baiklah, selanjutnya kita yang bertarung. Eits jangan salah paham ya, aku bukan sombong atau pun menantang. Anggaplah ini hanya sekedar latihan untuk kita berdua dan lainnya," ucap Cerry.
Dia juga tidak ingin membuat kesan tidak baik di pandangan teman-temannya Nadhira. Karena akan sulit jika bermasalah dengan mereka untuk mendekati Nadhira.
Untuk Nadhira, dia yakin kalau Nadhira akan paham maksudnya yang mengajaknya bertarung hanya untuk sekedar latihan dan menjadi contoh untuk teman-temannya.
"Maaf, saat bertarung dengan mu aku terbawa emosi," ucap Rima.
Nadhira suka dengan sikap seperti ini. Meski dia tak meminta Rima meminta maaf, tapi Rima sendiri telah sadar akan kesalahannya setelah mendengar penjelasan Nadhira.
"Tak masalah! Aku mengerti," wajar anak yang baru akan beranjak dewasa memiliki emosi yang labil.
Nadhira berdiri dan bersiap untuk latihan tarung.
Terlihat santai di permukaan tetapi tidak di dalam yang terus waspada dan memasang mata ajaibnya untuk melihat seberapa kuat kemampuan Cerry.
Cerry juga memasang sikap tegas kali ini, berbeda saat bertarung dengan Rima yang terlihat santai. Dia tahu kalau kemampuan Nadhira tak dapat di remehkan.
Menurut Cerry kemampuan bela diri Rima saja lumayan bagus. Apalagi gurunya bukan.
Sekarang Cerry lebih dulu menyerang.
Kepalan tinju tangan kanan Cerry menuju ke arah Nadhira yang berdiri tegak di depannya.
Tak ada ekspresi, jadi Cerry tak dapat membaca pergerakan yang akan Nadhira lakukan.
Pak...
Tangkisan dengan pukulan keatas membuat tangan Cerry melayang ke atas dan fokusnya teralih melihat tangannya keatas pula.
Membuat kesempatan bagus untuk Nadhira menyerang kakinya.
Baghh
Kaki Nadhira menendang kaki kanan Cerry membuat keseimbangan Cerry oleng dan...
Bugh
"Auwww," jeritnya, saat bokongnya mendarat di atas tanah.
Dia sadar kalau fokusnya teralihkan, dia tak menyangka akan hal itu. Baru kali ini dia tak fokus.
Sebuah tangan mengambang di depannya. "Mari ku bantu," ucap Nadhira sambil mengulurkan tangannya.
Cerry mendongak kemudian menyambut uluran tangan Nadhira dengan tersenyum.
"Terima kasih!" Ucap Cerry setelah berhasil berdiri.
"Sama-sama," sahut Nadhira kemudian meninggalkan Cerry kemudian kembali duduk ke tempatnya semula.
Teman-temannya tak bisa tao bersorak gembira dengan kemenangan Nadhira.
"Wah bos kau menang!" Bagas.
"Itu sudah seharusnya!" Rangga.
"Kau sungguh hebat Nadhira," Clara.
"Itulah bos kami!" Rima.
Nadhira yang banyak mendapat banyak pujian tak besar kepala, dia hanya tersenyum simpul menanggapi semua itu.
"Kau hebat!" Ucap Cerry yang juga ikut bergabung.
"Biasa saja, karena di atas langit masih ada langit. Kau juga hebat, aku hanya mencari celah untuk mengalahkan mu, kalau pun pertarungan berlangsung lama, aku pun kemungkinan akan kelelahan dan lebih jauh kalah!" Ucap Nadhira.
Mereka semua mengangguk, mereka paham akan hal itu.
¤¤¤¤¤
Mereka berpisah di halte bus, karena Nadhira menolak di antar kan oleh salah satu dari mereka. Masih ada tempat yang akan di kunjungi nya. Tapi sebelum ke tempat tersebut dia mencari toko baju terlebih dahulu.
Setelah membeli baju yang di cari kemudian dia mencari kamar mandi umum untuk berganti baju dan juga mencuci muka.
Drrrttt....
Ponsel Nadhira bergetar.
"Hallo!" Nadhira.
".........," si penelepon.
Nadhira menutup panggilan teleponnya kemudian melanjutkan mencuci mukanya. Setelah selesai dia pun keluar dari kamar mandi dan berjalan ke pinggir jalan untuk mencari taxi.
Nadhira melambaikan tangannya, saat satu taxi akan melewatinya.
Saat taxi telah berhenti segera Nadhira masuk dan mobil pun melaju ke tempat yang telah di katakan Nadhira kepada supir.
Nadhira telah sampai di tempat yang di tuju dia menuju resepsionis pada sebuah gedung perkantoran yang bergerak dalam bidang perhiasan, yang mana terdapat tulisan yang berhiaskan lampu-lampu 'Beauty Jewelry'
"Katakan pada manajer Hadi, kalau Nadhira ingin menemuinya," ucap Nadhira datar.
"Emm, maaf sebelumnya, apakah nona sudah membuat janji?" Tanya resepsionis dan di angguki oleh Nadhira.
Resepsionis itu pun mengangguk dan menelepon. Langsung saja dia mempersilahkan Nadhira untuk naik.
"Silahkan naik ke lantai 20 untuk menemui beliau. Beliau telah menunggu anda," ucapnya sopan.
Nadhira tersenyum, dia salut bahwa....dapat merekrut kariyawan yang kompeten dan sopan.
Nadhira pun meninggalkan meja resepsionis dan menuju lantai 20 dengan menaiki lift.
Ting
Lift terbuka, kemudian masuk lah Nadhira.
"Eh eh eh tunggu!" Ucap seseorang yang berlari tergesa-gesa menuju lift yang di naikin Nadhira.
Nadhira menghentikan pintu lift tertutup dan sampailah orang itu di dalam lift dengan nafas tak beraturan.
"Terima kasih!" Ucapnya dan hanya di angguki oleh Nadhira dengan wajah datarnya.
Seorang pria dengan setelan jas yang berantakan akibat berlari kencang barusan, mungkin?
Tapi itu bukan urusan Nadhira. Tujuannya ke sini bukan untuk menilai penampilan orang akan tetapi bertemu dengan seseorang yaitu pak Hadi, manajer perusahaan "Beauty Jewelry"
Ting
Pintu lift terbuka kembali menandakan lantai yang di tuju telah di capai, yaitu lantai dua puluh dan ternyata pria itu juga naik ke lantai dua puluh, tapi bukan urusan Nadhira.
Nadhira keluar dan berbelok ke arah kiri menuju ruangan khusus manajer perusahaan "Beauty Jewelry"
Tok tok tok
Setelah sampai di depan pintu yang telah di beritahu, Nadhira tidak langsung masuk, dia masih memiliki sopan santun, meski dia sekarang akan menjadi pemilik sahnya, dia juga harus menghormati privasi orang lain.
"Masuk," suara dari dalam menginterupsi untuk masuk.
Nadhira pun memutar gagang pintu dan masuk.
Orang yang di dalam yang tak lain adalah pak Hadi langsung berdiri dan menghampiri Nadhira.
"Nak Nadhira!" Sapa pak Hadi yang di balas anggukan oleh Nadhira.
Di dalam ruangan itu juga ada dua orang lainnya, satu terlihat lebih tua dari pak Hadi dan satunya lebih muda.
"Silahkan duduk," persilah pak Hadi kepada Nadhira.
Nadhira pun menuju sofa dimana yang lain juga duduk. Dan belum sempat Nadhira duduk pintu kembali ada yang mengetuk. Langsung saja pak Hadi menyuruhnya masuk karena sepertinya orang yang mengetuk memang sudah di tunggu juga.
Masuklah seorang pria yang sedikit berantakan yang ternyata adalah pria yang di temui Nadhira di lift barusan.
Nadhira sampai lebih dulu karena langsung pergi ke ruangan pak Hadi. Dan kemungkinan dia ke kamar mandi dulu untuk merapikan pakaiannya.
"Maaf saya terlambat," ucap nya sambil setengah membungkuk.
"Tak masalah, kami juga belum memulainya dan kebetulan yang di tunggu juga baru datang," ucap pak Hadi membuat ke tiga orang di dalam ruangan itu keheranan.
Apakah maksud pak Hadi, gadis muda di hadapan mereka itu?
Mereka telah mendengar bahwa yang membeli dan yang akan menjadi pemilik baru perusahaan Beauty Jewelry adalah seorang perempuan, tapi mereka tak menyangka kalau itu seorang gadis yang sangat muda. Tapi mereka tidak mempertanyakannya, karena tugas mereka hanyalah sebagai saksi serta pengacara pemindahan hak.
"Terima kasih!" Ucap pria itu kemudian duduk di sebelah kanan dari pria yang lebih tua dari pak Hadi.
"Baiklah! Karena semua orang telah berkumpul mari kita mulai saja pemindahan hak atas perusahaan Beauty Jewelry," ucap pak Hadi.
Lagi mereka masih tak beranjak dari tempat mereka maupun mengeluarkan suara, karena mereka masih ragu dan pak Hadi belum menjelaskan semuanya kepada mereka apalagi belum memperkenalkan gadis yang disebut yang akan menjadi pemilik baru perusahaan Beauty Jewelry.
¤
¤
¤
Semoga Suka...