
Selamat Membaca...
•••••
Nadhira pun membungkus semua barang antik yang di belinya dan membayar untuk gerobak yang di sewanya.
Bungkusan yang di bawanya tidak terlalu banyak karena kebanyakan barang antik yang di belinya berukuran kecil hanya beberapa yang sedang seperti guci, piringan dan sebuah lukisan.
Setelah selesai membereskan semua barangnya dia tidak langsung datang ke pelelangan, akan tetapi dia menyewa tempat peristirahatan yang memang ada di sepanjang jalan pasar barang antik.
Tujuan adanya tempat peristirahatan adalah untuk memudahkan para pencinta barang antik saling menawarkan barang antik mereka, atau hanya sekedar untuk beristirahat, karena sayang untuk pulang.
Nadhira meletakkan semua barang yang di belinya di atas meja. Satu persatu dia susun dan mengambil dua barang yang akan dia lelang nantinya.
Nadhira menggunakan mata ajaibnya untuk mempercantik dan membuat barang yang akan di lelangnya itu terkesan lebih asli padahal memang asli sih. Akan tetapi agar orang lebih percaya bahwa itu memang barang antik asli, dia pun mempercantiknya.
Cukup dua barang antik yang dia percantik, untuk yang lain dia akan urus lain waktu. Dia juga ingat kalau ada orang-orang yang menunggu barang-barang antiknya di kota B. Nadhira tidak akan lupa mengenai itu, karena mereka orang-orang penting yang akan menjadi bantuan untuk masa depan Nadhira.
Dua barang antik yang akan Nadhira lelang yaitu berupa guci sedang dan cincin bermatakan batu giok berwarna warni.
Nadhira pun pergi ke tempat pelelangan. Sambil sesekali melihat-lihat dan berhenti ke toko barang antik lainnya. Tapi kali ini dia tidak membeli meskipun dia menemukan barang antik asli.
Sekarang bawaannya sudah banyak jadi mungkin lain hari lagi dia akan membeli mereka semua.
Berbeda dengan pelelangan di kota B yang setelah di nilai asli akan bisa langsung di lelang, akan tetapi di pelelangan pasar barang antik kota A ini setelah di dinilai asli maka akan di proses lagi untuk di lelang secara resmi di tempat lainnya.
Waktunya pun tidak di hari yang sama, karena setelah di nilai asli maka pelelangan akan di lakukan pada saat semua barang lelang telah tercukupi.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang perempuan kepada Nadhira. Dia salah satu pegawai di pelelangan itu yang bertugas menerima tamu yang akan melelang atau menilai barang kepunyaan mereka.
"Aku ingin menilai barang milikku dan melelangnya," Jawab Nadhira dengan tenang.
"Oh baiklah, kalau begitu nona bisa mengikuti saya ke ruang penilaian," ucap pegawai itu dengan ramah.
Pegawai perempuan itu pun menuntun Nadhira ke sebuah ruangan. Setelah dia membuka pintu dan berbicara singkat dengan seseorang di dalam kemudian dia menghadap Nadhira. "Silahkan masuk, beliau sudah menunggu anda," ucapnya mempersilahkan Nadhira untuk masuk.
Setelan Nadhira masuk pintu di tutup kembali meninggalkan Nadhira berdua dengan sang penilai.
Sosok yang duduk di balik meja berkisaran umur lima puluhan, terlihat rambut-rambut putih telah tumbuh di kepalanya.
"Apakah nona kecil ini yang memiliki barang antik untuk dinilai?" Tanyanya sopan.
"Iya," jawab Nadhira.
"Baiklah! silahkan duduk kalau begitu. Perkenalkan nama orang tua ini adalah Bambang, nona kecil bisa memanggil bapak ini, pak Bambang," ucap pak Bambang memperkenalkan dirinya.
"Nama saya Nadhira, pak Bambang bisa memanggil saya Nadhira," ucap Nadhira memperkenalkan diri juga.
"Baik! Kalau begitu bisa nona Nadhira memperlihatkan barangnya?" Tanya pak Bambang yang di angguki oleh Nadhira seraya mengeluarkan barang yang akan di nilainya. Untuk barang yang lain dia sisihkan.
Dua barang berbentuk guci sedang dan sebuah kotak yang di dalamnya terdapat cincin pun di letakkan Nadhira di atas meja.
Pak Bambang pun mulai menilai dari guci berukuran sedang.
Dengan alat untuk pengecekan keaslian sebuah barang antik, pak Bambang dengan serius menelitinya sampai pada saat matanya berbinar.
Buk, bunyi saat meletakkan buku tebal itu terdengar nyaring, karena pada dasarnya buku itu terlihat sangat berat.
Diletakkannya di atas meja dan membukanya. Lembar demi lembar di bukannya sampai dia menunjukkan dan berkata. "Coba lihat! Gambar ini persis dengan guci di hadapan kita sekarang! Sepengetahuan saya, guci ini telah lama hilang dan ternyata ada pada nona Nadhira!" Ucapnya masih tak percaya.
Nadhira yang tidak terlalu mengerti akan barang antik mengangguk-anggukan kepalanya saja pertanda mengerti, meski dia tidak terlalu paham.
"Baiklah karena guci ini barang antik asli, apakah nona Nadhira ingin melelangnya atau tidak?" Tanya pak Bambang seraya menggeser buku besarnya.
"Ya! Aku akan tetap melelangnya dan kalau barang kedua juga asli aku juga akan melelangnya!" Jawab yakin Nadhira.
"Bagus! Harga di awal yaitu satu milyar! Itu bisa berkembang seiring orang-orang yang menawar. Setuju?" Jelas pak Bambang.
"Setuju!" Jawab Nadhira. Dia sih setuju-setuju saja, toh itu hanya harga di awal kemungkinan akan berkembang lebih banyak karena setahu Nadhira pelelangan ini akan di datangi para pencinta barang antik yang pastinya para orang kaya.
Pak Bambang melanjutkan penilaiannya terhadap barang kedua, yaitu berupa cincin.
Dan lagi pak Bambang terkejut barang kedua milik Nadhira asli. Meski dia juga yakin pasti barang yang di bawa Nadhira asli, tapi Nadhira hanyalah seorang gadis muda. Sangat berani dia membawa barang antik asli ke pelelangan ini sendirian?
Apakah tidak ada orang tua yang mendampinginya?
Tapi itu bukan urusannya, yang terpenting gedung pelelangannya memiliki barang untuk di lelang dan mencukupi dan akan segera di lakukan pelelangan.
Harga awal cincin itu sebesar lima ratus juta, itu hanya awal akan lebih banyak lagi nantinya.
Setelah menandatangani perjanjian di atas kertas dan mendapat kartu anggota pelelang Nadhira pun tidak memilih langsung kembali ke hotel.
Dia terlebih dulu mengisi perutnya yang terus berdemo minta di isi. Dia pun mengatakan kepada pak supir untuk berhenti di rumah makan terdekat.
Setelah mendapat rumah makan yang nampak sederhana pak supir menghentikan mobilnya. Agak ragu, karena rumah makan ini sangat sederhana sedangkan ini juga yang paling dekat.
Tapi pikiran negatif pak supir sirna ketika melihat Nadhira tanpa keberatan masuk ke dalam rumah makan itu.
"Mbak!" Panggil Nadhira pada salah satu pelayan rumah makan itu.
"Ya! Mau pesan apa nona?" Tanya pelayan itu dengan ramah.
"Nasi goreng spesial, minumnya kopi susu!" Ucap Nadhira.
"Baik! Di tunggu ya nona," ucap pelayan itu kemudian pergi menyerahkan pesanan Nadhira kepada koki.
Setelah sepuluh menit pesanan Nadhira telah datang, Nadhira pun memakannya dengan lahap.
Setelah cukup kenyang, dia pun memilih kembali ke hotel dan beristirahat sejenak sebelum White Snake menjemputnya.
¤
¤
¤
Semoga Suka...