Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Arena Tembak


Selamat. Membaca...


•••••


Tepat jam 5 sore Nadhira bangun dan mandi setelah itu dia duduk santai di balkon hotel menikmati pemandangan sore yang di kelilingi jalanan yang mana banyak mobil berlalu lalang di bawah sana.


Memang pada dasarnya letak hotel ANDALAS berada di tengah-tengah kota yang di kelilingi jalan-jalan.


Nadhira membuka ponselnya membuka group WeChat Nya.


1000 Chat an dari teman-temannya tak sempat di lihat oleh Nadhira.


Dengan cepat Nadhira membacanya sampai pada penghujung yang mana Rangga mengajak semuanya untuk liburan. Maklum dia yang sibuk akhir-akhir ini tak sempat menenangkan diri ingin berlibur, bertepatan mereka juga tidak masuk sekolah.


'Bagaimana kalau kita liburan?' Rangga.


'Ide bagus! Mau kemana?' Bagas.


'Pantai,' Clara.


'Gunung,' Rima.


'Pantai sepertinya seru!' Kaila.


'Bos mau kemana?' Bagas.


'Sepertinya aku tidak bisa ikut,'


Pernyataan Nadhira membuat mereka semua bertanya mengapa Nadhira tidak bisa ikut.


'Aku tidak sedang di rumah saat ini, jadi tidak bisa ikut liburan. Mungkin lain kali. Untuk sekarang kalian saja yang liburan,' Nadhira tidak memberitahukan keberadaan nya kepada teman-temannya, karena dia tidak ingin menjelaskan panjang lebar, karena pastinya mereka akan banyak bertanya.


'Yahhh, tidak seru kalau bos gak ikut!' Bagas.


'Ya, tidak seru. Bagaimana kalau kapan-kapan saja. Saat bos bisa!' Rima.


'Okelah!' Rangga.


Yang lain pun menyetujui bahwa liburan mereka di tunda, akan tetapi Nadhira merasa bersalah dan membalas mereka.


'Jangan pikirkan aku, kalian liburan lah. Nanti kita bisa liburan bersama lain kali. Aku jadi merasa bersalah kalau membuat kalian tidak jadi liburan,' Nadhira.


'Tidak masalah bos, kami juga tidak terlalu ingin liburan kok,' Bagas.


'Iya,' Clara.


'Tak masalah bos, aku juga tidak terlalu bebas, jadi untuk liburan bisa kapan-kapan,' Rangga.


'Maaf ya!' Nadhira.


'Santai bos,' Rima.


Ting...


Pesan lain masuk ke ponsel Nadhira. Nadhira pun mengakhiri obrolan nya dengan teman-temannya dan membuka pesan baru yang masuk.


'Ku tunggu di lobi,' itu adalah pesan dari White Snake.


Nadhira pun bersiap-siap, sebelum itu dia sudah menyiapkan pakaian dan topeng nya untuk pertarungan, dan untuk sekarang dia hanya menggunakan masker dan pakaian santai biasa saja.


Nadhira sudah keluar dari lift dan berjalan ke lobi di sana, tepatnya di sofa di bagian tunggu White Snake terlihat duduk bersama seorang perempuan.


Nadhira mendekatinya dan berdehem memberitahukan bahwa dirinya telah sampai.


White Snake mendongak menatap Nadhira kemudian beralih menatap perempuan yang duduk di depannya.


"Perkenalkan dia Redback Spider yang akan kau layani," perkataan White Snake membuat tanda tanya besar di kepala Nadhira.


"Apa maksudnya?" Tanya Nadhira yang tak bisa menahan kebingungannya.


"Perkenalkan dia Bafo, dia yang akan melayani kebutuhanmu saat berada wilayah arena tarung nanti," jelas White Snake. Tapi penjelasan itu tidak menghapus rasa kebingungan Nadhira dan dia pun bertanya lagi.


"Lalu kau kemana?"


"Tentu aku di sana juga! Akan tetapi aku tidak bisa selalu di sisi mu. Dia bisa menjadi peta bagimu kalau ingin jalan-jalan di sana. Dia salah satu orang kepercayaan ku yang sudah hafal seluk beluk di sana," jelas White Snake.


Nadhira pun mengangguk paham dan tak bertanya lagi. "Semoga kita dapat bekerja sama dengan baik," ucap Nadhira seraya mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Bafo.


"Senang mendengarnya!" Ucap Bafo.


"Baiklah kalau begitu! Kalau sudah paham mari kita berangkat sekarang. Kita perlu satu jam lebih untuk sampai ke sana," ucap White Snake kemudian berdiri dan melangkah pergi di ikuti Bafo dan Nadhira.


Mereka pun pergi menuju mobil yang telah di parkir kan di depan hotel. White Snake yang mengemudikannya. Dapat Nadhira pastikan kalau mobil ini adalah milik White Snake.


Setelah satu jam lebih akhirnya mobil mereka memasuki sebuah gerbang tinggi. Gerbang itu tanpa penjaga, gerbang akan terbuka otomatis jika seseorang memasukkan kartu anggota ke tempat yang telah di tentukan, sama halnya yang di lakukan oleh White Snake sebelum melajukan mobilnya meninggalkan gerbang tertutup kembali.


Di depan sana terlihat seseorang telah menunggu mobil White Snake berhenti. Saat White Snake keluar orang itu berkata. "Selamat datang nona White Snake, senang bisa melihat anda lagi," ucap orang itu.


"Senang juga bisa bertemu denganmu lagi Ketto," sahut White Snake sambil menyerahkan kunci mobilnya. "Seperti biasa," lanjut nya.


"Baik! Dengan senang hati," ucap Ketto seraya masuk ke dalam mobil White Snake dan membawanya pergi.


"Pertarungan akan di lakukan pada jam 9 malam, dan sekarang masih jam 7, jadi kalau ingin berkeliling, silahkan saja! Tapi hati-hati jangan pergi ke sembarangan tempat," ucap White Snake di akhiri dengan nasihat.


"Aku akan berkeliling sebentar sebelum menuju ruangan ku!" Ucap Nadhira.


"Baiklah! Bafo, kau arahkan dia," perintah White Snake.


"Baik!" Sahut Bafo.


Mereka bertiga pun berpisah di pintu masuk. Nadhira bersama Bafo yang menunjukkan arah kepada Nadhira pun berjalan mendahului nya.


Sesekali dia menjelaskan tentang lapangan yang mereka lewati.


Sangat luas, dia arena ini terdapat berbagai macam lapangan yang di sewa oleh kebanyakan orang kaya di Kota A.


Seperti halnya lapangan tembak, memanah, bertarung dan sebagainya.


Lapangan tembak terbagi menjadi beberapa batas, karena luas dan hanya terdapat batasan untuk arena tembak makanya di namakan lapangan tembak.


Yang membuat Nadhira tertarik yaitu lapangan tembak. Kebetulan saat itu tidak ada penyewanya dan Nadhira pun bertanya. "Dimana aku bisa bertanya untuk memakai salah satu arena tembak?" Tanya Nadhira kepada Bafo.


"Tidak perlu bertanya, kau hanya perlu membayar. Masukkan uang kertas ke mesinnya dan pintu akan terbuka. Satu juta untuk satu jam!" Jelas Bafo.


Nadhira sedikit kagum dengan sistem pembayarannya. Nadhira langsung mencobanya. Dia memasukkan satu juta rupiah sekaligus ke dalam mesin dan benar saja pintu langsung terbuka.


Dengan senang Nadhira masuk dan mengambil peralatan tembak yang pastinya hanya pistol yang di minati Nadhira, tidak untuk senapan dan lainnya.


Nadhira memasang headphone dan kacamata khusus untuk latihan menembak.


Posisi berdiri hingga memegang pistol layaknya profesional...


Dor


Dor


Dor


Dor


Tepat sasaran di tengah titik merah pada target.


Nadhira beralih ke benda tiga dimensi seperti botol yang telah di susun di sana.


Dor


Dor


Dor


Target pecah karena tembakan Nadhira tepat pada sasaran dan pecahan kaca itu di bersihkan secara otomatis dan di gantikan dengan botol kaca yang baru.


Selanjutnya targert bergerak yang mana sebuah kayu yang berbentuk kelinci, rusa, kijang terlihat di gerakan oleh mesin.


Nadhira membidiknya...dan... Dor...Dor...Dor...


Kembali tembakan Nadhira tepat sasaran.


Tak terasa hampir satu jam Nadhira menembak. Dia pun mengakhirinya karena memang waktu untuk dia menembak juga akan habis.


"Tembakan yang luar biasa!" Ucap Bafo kagum kepada Nadhira yang telah berada di depannya.


"Terimakasih pujiannya! Ayo kita kembali," ucap Nadhira kemudian berjalan mendahului Bafo.


"Baik!" Mereka pun kembali sambil berbincang. Sudah tak terlalu canggung lagi saat mereka berbicara berdua. Tidak seperti sebelumnya yang masih menebak-nebak sifat satu sama lain.


¤


¤


¤


Semoga Suka...