
Selamat Membaca...
•••••
Nadhira tersenyum manis yang di tunjukkannya, sebelum merasa penasaran. "Hei, cantik kecil, kau berasal dari mana? Tsk, tsk, kau boleh menyukai Andara," seorang anak laki-laki tiba-tiba merangkul pundak Andara. "Dia itu banyak penggemar, hati-hati nanti kau jadi target bully an para fans nya.
"Jangan bicara sembarangan! Dia adik perempuanku! Nadhira," Andara menepuk tangan anak laki-laki itu agar melepas rangkulannya. "Dia Glen, teman baikku, jangan menganggapnya terlalu serius!" lanjut Andara. "Oh mereka siapa?" Tanya Andara yang baru sadar kalau ada empat siswa lain di belakang Nadhira.
"Oh mereka teman-temanku," Nadhira pun memperkenalkan satu persatu temannya kepada kakaknya begitu juga memperkenalkan kakakknya kepada teman-temannya.
Glen terkekeh dan menyapa Rima. "Hei yo, adikku yang manis," semua orang terkejut, begitu juga nadira dan teman-temannya.
Siapa yang di maksud oleh Glen.
Melihat dirinya di tatap dengan bingung, Glen pun berkata. "Rima, dia adik perempuanku," semua orang terkejut, tapi di lihay dari reaksi Rima memang benar Glen kakak laki-lakinya.
"Jadi kau punya kakak di SMA ini juga Rima?" Tanya tak percaya Rangga.
"Hmm," Rima mengangguk mengiyakan.
"Nah kalau begitu bagaimana kalau aku mentraktir kalian semua, untuk salam perkenalan kita," ucap Glen yang di setujui oleh semua orang.
Keluarga Rima, Nadhira dan lainnya tahu bahwa dia berasal dari keluarga kalangan atas dan berpengaruh di Kota B ini, dan kemungkinan besar Glen merupakan ahli warisnya.
Glen mengajak mereka semua ke sebuah restoran mewah yang kebanyak hanya dari kalangam atas yang mampu makan di sana. Sangat beruntung dapat makan di sana secara gratis.
Glen sungguh teman yang baik, Nadhira merasa tenang membiarkan kakaknya berteman dengan nya. Dan lagi Rima adik perempuannya, dapat di pastikan mereka berdua adalah kawan yang baik.
Restoran mewah itu bernama Restoran Matahari, restoran berbintang lima. Salah satu restoran ter populer di Kota B.
Tidak diragukan lagi bahwa keluarga Glen dan Rima kaya, meskipun Nadhira tidak tahu faktanya.
Memasuki restoran, Glen dan Rima segera meminta ruangan khusus. Pelayan membawa mereka ke lantai pertama.
Saat semuanya mengikuti pelayan melalui ruangan lain, mereka melewati ruangan yang nampak ditempati oleh orang yang Nadhira dan Andara kenal. Mereka adalah Fahmi dan Fatma, paman dan bibi mereka berdua. Mereka terlihat mengobrol sambil memegang gelas di tangan masing-masing.
Tiba-tiba, Fatma memandang ke arah Nadhira dan Andara melalui pintu yang tetap terbuka saat pelayan masuk untuk menyajikan hidangan.
"Nadhira! Andara! Kenapa kalian berdua ada di sini?" Tanya Fatma seraya berjalan ke arah mereka berdua.
Setelah sampai dia hadapan merrka berdua bibi Fatma bertanya lagi. "Bagaimana kalian bisa berada di sini? Tidak ada yang mengundangkalian ke sini. Jika kalian makan di sini bisakah kalian membayarnya?" Tuduh bibi Fatma kepad Andara dan Nadhira. Pertanyaan-pertanyaan yang dimaksudkan untuk mengejek itu terlontar debgan keras, bertujuam untuk memberitahu semua orang ada orang yang ingin makan gratis di restoran itu.
Nadhira tahu kalau bibi Fatma adalah istri dari pamannya, Fahmi atau kakak pertama dari Puspa, ibunya. Melihat perilaku bibi Fatma, dia tidak mencerminkan dia adalah kerabat yang baik, tapi dia sadar akan hal itu.
"Mengapa kami tidak bisa berada di sini? Apakah karena tak memiliki kualifikasi berada di tempat ini?" Dengus Nadhira.
Dia sungguh tidak menyukai bibinya, bahkan bukan bibinya saja, bisa dikatakan hampir semu kerabat dati pihak ayah dan ibunya, dia tak menyukainya kecuali bibi Mayang, paman Aryo dan Sinta.
"Oh, lihat, betapa kasarny anak ini? Menjawab dengan sangat kasar terhadap bibinya? Bagaimana ibumu mendidikmu sehingga menjadi tidak sopan seperti ini? Apakah kau tak memikirkan ibumu yang bekerja sangat keras sedangkan kalian bersenang-senang di sini? Ck ck," secara tidak langsung bibi Fatma mengatakan mereka itu miskin pastinya tidak akan sanggup makan di tempat mewah seperti ini dan juga tidak pantas.
Nadhira memahami maksud bibinya itu kemudian dia berkata. "Oh benarkah? Tapi bagaimana bisa sikap seorang bibi kepada keponakan nya seperti ini? Bukannya menasehati baik-baik, malah mengatakan aib keluarga!" Sindiran yang sangat menohok untuk bibi Fatma.
"Kau...," tak terima di sindir begitu bibi Fatma semakin kesal tapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia kalah, tidak dapat membalas perkataan Nadhira.
Saat keadaan semakin memanas paman Fahmi datang menghampiri bibi Fatma dan menyenggol lengannya. "Ada apa ini? Oh kaliam, apa yang kalian lakulan di sini?" Tabya paman Fahmi.
"Tidak ada, kami hanya akan makan di sini!" Jawab Nadhira seadanya.
"Makan? Mampukan kalian membayar makanan di restoran ini? Ini restoran berbintang lima, makanan di sini sangat mahal," ucap paman Fahmi.
Melihat keadaan tak ada ujungnya yang mau mengalah Glen berkata. "Maaf, aku teman Andara dan Nadhira, aku yang mengajak mereka untuk makan di sini," ucapnya tenang.
Seketika itu bibi Fatma dan paman Fahmi menatap Glen dari atas hingga bawah seperti menilai.
"Maaf sebelumnya, tapi bibi dan paman tidak boleh menuduh sebelum mengetahui kebenarannya terhadap Nadhira dan Andara bukan," lanjut Glen.
Glen membela Andara dan Nadhira yang notaben nya teman adik nya. Orang bisa mendengar dari kata-kata mereka berdua, betapa bibi Fatma dan paman Fahmi membenci Nadhira dan Andara. Glen terusik dengan nada bicara mereka berdua jadi dia tidak ragu untuk membela temannya itu.
Semua teman Andara dan Nadhira berseragam, tapi dapat terlihat perbedaannya. Seragam yang mereka pakai bersih rapi terlihat masih baru, berbeda dengan pakaian Andara dan Nadhira yang terihat kusam.
Bibi Fatma yang akan marah-marah, menurunkan nada bicarabya seketika, dia berpikir semua teman Andara dan Nadhira adalah anak orang kaya, jadi sikapnya berubah drastis.
"Ayolah kalian berdua, bibi hanya menasehati kalian. Lagi pula kalian tahu sendiri ibumu sangat bekerja keras, tidak baik jika kalian bersenang-senang di sini, sedangkan ibu kalian tengaj bekerja membanting tulang untuk kalian," ucap bibi Fatma dengan perubahan yang nampak sangat jelas dari yang awalnya kasar dan kerasa sekarang menjadi lembut.
Perubahan itu sudah dapat di artikan oleh Nadhira. Bibi Fatma ingin memberi kesan baik terhadap teman-temannya yang dia yakini anak dari kalangan atas.
"Kami tidak perlu mendapat nasehat dari pihak luar, karena kami sudah menjalani kehidupan yang lebih baik setelah menjauh dari kalian," ucap Nadhira santai.
¤
¤
¤
Semoga Suka...