Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Kekaguman Para Guru


Selamat Membaca...


•••••


Pandangan para siswa terhadap Yunita semakin menjadi jelek. Itu semua membuat Yunita semakin kacau dengan pikirannya tanpa di duga dia....


Argghh......


Teriak histeris Yunita dan itu membuat Nadhira menyeringai. "Kena kau...," gumam Nadhira.


Ini lah tujuan Nadhira tidak mengekspos rekaman yang dia dapat saat Fendi mengaku. Dia ingin Yunita sendiri yang mengakuinya di depan umum.


Semua mata menatap Yunita bingung dan jijik.


Mengapa mereka bisa satu sekolah dengan gadis sejahat ini?


Sekelas lagi!


Yunita berdiri dengan tangan terkepal dan senyum aneh mengerikan di menatap nyalang Nadhira yang saat ini di kelilingi oleh teman-temannya.


"Ya, memang aku yang menyuruh mereka untuk menculik dan memperkosa mu. Lalu kau mau apa? Kau hanyalah gadis miskin yang beruntung bisa sekolah di sini. Kau harus nya sadar dengan posisimu," ucap Yunita tanpa pikir panjang.


Mendengar keributan semua siswa yang berada di luar bergegas menyaksikan drama yang terjadi. Keributan itu pula mengakibatkan gerombolan siswa dan itu menarik perhatian guru yang tak sengaja melewati lingkungan kelas siswa.


Dua guru yaitu bu Nazwa dan pak Kadir yang pada saat itu sehabis dari luar akan pergi ke kantor dan kebetulan jalan menuju kantor harus melewati kelas-kelas siswa.


Mereka bedua bergegas mendekati kelas sepuluh IPS C dan menerobos gerombolan siswa itu.


Saat berhasil menerobos dan mendengar apa yang di katakan Yunita mereka terkejut, pasalnya mereka juga baru tahu tentang video di forum sekolah dan berniat setelah masuk pelajaran kedua akan meminta verifikasi kepada keduanya yaitu kepada Yunita dan Nadhira. Akan tetapi tanpa di duga faktanya telah terbuka sendiri.


"Kenapa? Kenapa? Apakah kau ingin membalasku. Itu tidak akan bisa kau lakukan. Aku seorang puteri dari keluarga Wiguna yang berpengaruh, jadi jangan harap kau bisa menyakitiku," ucap Yunita percaya diri dan sombong.


Semua siswa mencomooh Yunita, tapi di sikapi Yunita dengan acuh karena dia bangga menjadi anggota keluarga Wiguna yang hebat.


Dia merasa tak akan ada yang mampu menghukumnya selagi dia adalah seorang yang memiliki latar belakang yang kuat, tapi kita tidak tahu kedepannya bagaimana.


Sedangkan Nadhira semakin tersenyum dalam hati dia semakin mendramalisir perannya sebagai siswi teraniaya setelah melihat keberadaan dua guru yang menonton.


"Memang apa salahku padamu. Aku siswi baru di sini dan kau langsung mencari masalah dengan ku. Benar saat itu aku menamparmu, akan tetapi itu telah berlalu dan kita sudah saling minta maaf bukan," ucap Nadhira pura-pura sedih.


Teman-temannya nampak terkejut dengan kepribadian Nadhira yang 180° berbeda dari yang mereka ketahui. Akan tetapi, meski begitu mereka tetap mendukung Nadhira tanpa tahu bahwa Nadhira hanya berakting.


Tidak ada yang tahu dan Nadhira juga tidak berniat menjelaskannya kepada teman-temannya. Biarlah ini menjadi rahasianya sendiri.


"Hah... Aku membencimu saat pertama melihat mu. Kau itu jalang tahu, dan....," perkataan Yunita terhenti saat suara berat terdengar sangat kecewa dan marah.


"Berhenti! Yunita pergi ke kantor dan Nadhira kau juga," perintahnya. Dia adalah kepala sekolah.


Kepala Sekolah? Kapan datangnya?


Semua siswa nampak kebingungan melihat ke hadiran kepala sekolah.


Semua siswa bubar. Yunita menegang dan dengan kaku berjalan mengikuti kepala sekolah dan dua guru lainnya. Sedangkan Nadhira terlihat sangat santai, karena memang ini tujuannya, haha.


Teman-temannya menatapnya khawatir akan tetapi dia memberi isyarat bahwa dia akan baik-baik saja.


Yunita dan Nadhira telah berasa di kantor. Bukan kantor khusus Kepala Sekolah akan tetapi kantor untuk semua guru, jadi semua guru dapat melihat Yunita dan Nadhira di sana.


"Baiklah, sekarang jelas kan apa yang sebenarnya terjadi. Bapak tidak ingin ada kebohongan. Karena bapak sendiri telah melihat video yang pagi tadi dan yang barusan," ucap Kepala Sekolah.


Yunita diam dengan tegang, mulutnya terasa kaku hanya untuk mengeluarkan suara.


Nadhira pun yang kemudian menjelaskan semua kejadian sampai saat terkahir pengakuan Yunita.


Semua guru yang mendengar tidak menyangka dan menatap tak percaya kepada Yunita. Yunita benar-benar berani melakukan hal seperti itu hanya dengan dalih merasa kesal?


Yunita anak yang baik meski sombong di mata semua guru, tapi mereka paham akan hal itu, karena dia berasal dari keluarga yang berpengaruh. Akan tetapi perbuatannya kali ini benar-benar melewati batas wajah seorang siswi SMA.


"Benarkah semua yang di katakan Nadhira benar, Yunita?" Tanya kepala Sekolah. Bukan dia benar-benar bertanya, akan tetapi dia mencari kejujuran dari Yunita, tapi harapannya pupus saat Yunita mengelak.


"Tidak, aku tidak akan mengakuinya!" Sudah ada videonya masih saja dia mengelak. Sungguh para guru tak habis pikir dengan isi otak Yunita.


"Huhh...," Kepala Sekolah menarik nafas frustasi. Kemudian dia bertanya kepada Nadhira. "Bagaimana kau akan menyikapi ini Nadhira?"


Nadhira menjadi bingung. Kenapa dia di tanya seperti itu. Apakah Kepala Sekolah mengharapkan memaafkan perbuatan Yunita? Yah bagaimanapun keluarga Yunita adalah salah satu donatur besar di sekolah itu, akan sangat sulit berurusan dengan mereka. Jadi Nadhira memiliki ide, daripada mengeluarkan Yunita dari sekolah seperti peraturan yang ada di SMA JAYA ini, lebih baik menyiksanya secara perlahan.


"Aku tidak masalah! Akan tetapi video telah tersebar di seluruh sekolah bahkan keluar sekolah. Akan tidak baik di pandangan orang mengenai SMA ini. Jadi saya mohon turuti permintaan sederhana saya ini. Ini bukan untuk merendahkan Yunita akan tetapi menurut saya ini yang terbaik untuk nya,"


Mendengar perkataan Nadhira, Yunita menjadi marah. Dia tidak berharap mendapat belas kasihan dari Nadhira. Itu pemikirannya akan tetapi pemikiran Nadhira berbeda.


Dia akan perlahan membuat Yunita merasakan tekanan yang tak pernah dia rasakan sedari lahir.


Lain pandangan Yunita, lain lagi pandangan para guru yang salut dengan ketegaran Nadhira.


"Apa itu?" Tanya Kepala Sekolah penasaran.


"Begini pak, hukuman Yunita adalah skors selama satu bulan, tapi selama masa skors dia harus kerja sosial di rumah sakit atau di tempat-tempat sosial lainnya. Tapi dengan di awasi salah satu guru atau orang yang di percaya," saran Nadhira sangat bagus dan banyak guru yang menyetujuinya. Itu hukuman yang ringan daripada di keluarkan dari sekolah.


Menyampaikan itu kepada pihak keluarga Yunita juga akan lebih mudah.


"Baiklah, itu saran yang sangat bagus. Terimakasih sudah mengerti!" Ucap Kepala Sekolah yang sedikit demi sedikit merubah pandangan nya terhadap Nadhira yang meski dari kalangan bawah akan tetapi dia bersikap dewasa.


¤


¤


¤


Semoga Suka...