
Selamat Membaca...
•••••
Semua menatap Bagas minta penjelasan dan sebelum menjawab Bagas sempat-sempatnya terkekeh. "Hehehe, kau kan tahu kalau orang tuaku salah satu donatur di sekolah ini dan tak sengaja aku mendengar kan nya saat ayahku berbicara di telepon dengan kepala sekolah. Dan kalian tahu kalau Kaila adalah anak kepala sekolah loh," mereka semua terkejut saat mendengar itu.
"Benarkah?"
Mereka tak yakin, tapi Nadhira teringat dengan namanya 'Kaila Putri Adijaya' JAYA, nama sekolah ini.
"Mungkin saja! Namanya kan Kaila Putri Adijaya, JAYA," tekan Nadhira pada kata 'JAYA.
Mereka pun mengangguk baru menyadari dan seketika mereka baru sadar, darimana Nadhira mengetahui nama panjang Kaila?
Paham dengan tatapan teman-temannya dia pun berucap. "Kemarin dia mengantarkan ku pulang, kami berkenalan," jawab jujur Nadhira.
"Ohhh," semua temannya ber oh ria.
Mereka makan dengan tenang setelah makanan telah di tata rapi di atas meja mereka.
¤¤¤¤¤
Keesokan harinya, seperti yang di katakan oleh Bagas, akan ada murid baru yang masuk ke kelas mereka.
"Selamat pagi anak-anak," sapa ibu Nazwa.
"Selamat pagi juga bu," sahut semua siswa di kelas.
Ibu Nazwa nampak melambaikan tangan ke arah pintu masuk dan seketika itu juga masuklah seorang anak laki-laki memakai seragam yang sama dengan mereka.
Omong-omong mengenai seragam Nadhira, dia telah memakai seragam yang baru, karena saat pertama masuk, seragam belum di berikan pihak sekolah dan terpaksa Nadhira saat itu menggunakan seragam sekolah lamanya.
"Nah anak-anak, kita mendapat teman baru di kelas ini," ucap bu Nazwa.
Semua siswi perempuan menjerit tertahan, karena ketampanan sosok murid baru dan lagi siapa yang tak kenal dengannya yang adalah seorang top idol di Kota A.
Mengapa di sekolah di sini?
Itulah pikiran semua orang, akan tetapi mereka mengabaikan itu karena terlalu senang.
"Baiklah tenang, mari kita dengar dia memperkenalkan dirinya," ucap bu Nazwa menenangkan semua siswa.
"Namaku Damian Gionaldo, kalian pastinya telah mengenalku, untuk itu salam kenal," ucapnya ramah, akan tetapi dengan wajah datar.
Damian Gionaldo, umur 16 tahun. Memiliki rambut hitam kecokelatan, mata berwarna coklat muda, kulit putih pucat, tinggi 175 cm.
Keluarganya memiliki satu perusahaan yang bekerja di bidang perhiasan, tapi Damian sejak kecil lebih tertarik dengan dunia musik dibanding meneruskan perusahaan keluarganya.
Dan saat ini dia menjadi salah satu penyanyi solo terkenal yang sedang naik daun sekaligus model majalah Pria di Kota A.
Yang menjadi pertanyaan sampai sampai saat ini. Mengapa dia pindah sekolah bahkan pindah kota?
Tidak ada yang tahu jawabannya, yang pasti ini sedikit mencurigakan bagi Nadhira pribadi.
"Silahkan duduk di kursi kosong paling belakang terlebih dulu sebelum ibu memindah acak tempat duduk kalian kemudian," ucap bu Nazwa.
Damian pun menuju tempat duduk yang kosong.
Dan waktu pengacakan tempat duduk pun di mulai. Para siswa di minta untuk menuliskan nama mereka pada secarik kertas dan mengumpulkannya di depan. Di bagian kanan nama siswa laki-laki dan yang kiri nama siswi perempuan.
Setelah semua terkumpul, bu Nazwa secara acak mengambil kertas di bagian kanan dan kiri.
Satu persatu beliau buka dan menyebutkan nama pasangan meja mereka.
Semua siswi perempuan berharap bisa duduk dengan Damian, akan tetapi orang yang di harapkan hanya acuh.
"Clara dan Bagas, satu meja," ucap bu Nazwa. Membuat Clara menggerutu kepada Bagas yang pemalas menurutnya.
"Oke, selanjutnya. Nadhira satu meja dengan Damian," Nadhira dengan santai berpindah kursi bersama Damian yang terletak di belakang kursi Clara dan Bagas.
Nadhira santai dan tenang, tapi tidak dengan siswi yang merasa iri.
Clara begitu senang, bukan karena duduk berdekatan dengan Damian, akan tetapi berdekatan dengan Nadhira.
Ibu Nazwa melanjutkan menyebutkan pasangan duduk para siswa dan sampai berakhir.
Nadhira, Bagas, dan Clara pergi ke kantin tanpa memperdulikan siswa baru, siapa lagi kalau bukan Damian.
Sosok Damian sangat tertutup bagi Nadhira. Mungkin dia sosok penyendiri, pikir Nadhira, jadi dia tidak mengajaknya ke kantin, tapi tiba-tiba rencana berubah saat Bagas mengajaknya.
"Hei, Damian, mau ikut kami ke kantin?" Tanya Bagas.
"Bolehkan?" Tanyanya balik. Ni orang polos atau pura-pura polos?
"Boleh dong! Ya kan bos?" Tatapan Bagas meminta persetujuan dari Nadhira.
"Hmm, terserah!" Jawab Nadhira.
"Terimakasih," jawab cool Damian.
Mereka berempat menuju kantin biasanya. Di jalan mereka bertemu dengan Rima dan Rangga seperti biasa.
Tapi yang tak di sangka lagi, sosok Kaila mendekati kelompok mereka.
"Boleh aku ikut gabung kalian?" Tidak seperti sosok datar pertama kali melihat, sekarang Kaila nampak seperti seorang gadis pemalu.
"B-boleh!" Jawab gagap Bagas yang terpesona dengan Kaila.
Puk
Pukulan keras mendarat di bahu Bagas. Bagas mengaduh dan menatap si pelaku, tapi nyalinya menciut saat melihat nya. Bukan Nadhira akan tetapi Rima.
Rima menatap tajam kepada Bagas. "Kau seenaknya saja menyetujui! Kau tak lihat kursinya saja tidak cukup untuk kita semua, malah ingin nambah orang? Ck ck,"
"A-ah, aku tak menyadarinya," Bagas menatap meminta maaf kepada Kaila, tapi saat Nadhira membuka suara.
"Bisa ambil kursi lain dan duduklah. Mejanya masih muat hanya kursi yang tidak ada. Tidak perlu di permasalahkan!" Ucap Nadhira menengahi mereka.
Mata Kaila berbinar dan langsung mencari kursi yang dekat dengannya.
Tak yang lain sadari sosok Damian sedari awal terus menatap Nadhira penasaran. Tapi bukan Nadhira jika tidak menyadarinya. Dia sadar kalau Damian sedari di kelas selalu meliriknya, entah itu di sengaja atau tidak.
Tapi saat ini yang membuatnya risih adalah tatapan semua siswa dan siswi yang iri dengan kelompok mereka. Yang hampir semua anak dari kalangan atas hanya Nadhira yang memiliki katar belakang yang miskin.
Nadhira berusaha mengabaikan mereka dan melanjutkan makannya.
"Hei bagaimana kalau kita membuat group WeChat khusus untuk kita!" Usul Clara.
"Ide bagus tuh!" Setuju yang lain.
Nadhira juga setuju dan sekarang mereka memiliki group WeChat mereka dengan nama 'Pejuang Bela Diri'
"Mengapa namanya seperti itu?" Tanya Nadhira bingung.
"Ealah bos, kita kan memang pejuang melatih kemampuan bela diri kita dari bos," sahut Rangga. "Eh, maaf kalian kalau tidak mau gabung gak masalah kok," Rangga baru teringat kalau Kaila dan Damian tidak tahu apa-apa mengenai mereka.
"Tidak masalah! Bolehkan aku ikut bergabung kalau begitu?" Tanya Damian.
"Ya aku juga," ucap Kaila.
Yang lain tak menyadari kalau Kaila ini saling melirik dengan Damian. Akan tetapi Nadhira menyadari nya, tapi dia diam saja.
Dia ingin melihat apa yang ingin di lakukan oleh keduanya dengan sengaja masuk ke kelompok mereka. Padahal mereka baru kenal dan notabennya mereka juga siswa baru di sekolah ini, meskipun Kaila sendiri adalah anak dari kepala sekolah.
"Terserah kalian, jika kalian mau!" Jawab Nadhira tenang. Tapi dia menangkap ketidaksukaan Rima.
Nadhira menenangkan Roma dan berhasil dengan iming-iming akan mengajarinya dengan lebih keras.
Ini makin keras latihan yang dia terima semakin senang dia. Sungguh manusia yang berbeda.
¤
¤
¤
Semoga Suka...