Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Ulangan Bulanan


~Jangan meremehkan orang lain dan jangan terlalu bangga dengan diri sendiri~


Selamat Membaca...


•••••


Senin, yaitu hari ini adalah ulangan bulanan sekolah. Dia akan membuat kota D gempar dengan kejeniusannya. Itu juga bertujuan untuk memudahkannya pindah sekolah ke Kota B. Dia berencana akan bersekolah di sekolah dimana kakak laki-lakinya sekolah.


Dia bergegas berangkat sekolah dengan menaiki bus, karena waktu yang tak cukup untuk berlari, dia pun memilih menaiki bus agar tak terlambat masuk kelas dan mengikuti ujian.


Menjelang ujian bulanan, banyak siswa memasang wajah muram. Jika mereka gagal untuk mengerjakan soal ulangan dengan baik, orang tua mereka akan tidak senang kepada mereka ketika hasil diumumkan. Oleh karena itu, semuanya menarik kaus kaki mereka dan mulai membaca cepat di setiap sudut sekolah.


Berbeda dengan Nadhira yang terlihat sangat santai menghadapi ujian yang akan berlangsung hari itu. Dia bisa melakukannya tanpa persiapan juga.


Lagipula, level ulangan ini sangat mudah baginya. Terlepas dari itu, semua orang tahu bahwa hasil nilai Nadhira selalu berada di peringkat paling bawah di kelas. Setiap kali ada pemeriksaan, dia biasanya yang paling bersedih, tapi sekarang dia terlihat sangat santai tanpa beban pikiran. Karena sebab itu banyak yang memperhatikannya.


Secara kebetulan Nisa melihatnya terlihat sangat santai menghadapi ulangan ini, gadis itu meremehkan Nadhira. Gadis itu masih tak menyukai Nadhira karena dia kalah cantik darinya dan juga dia merupakan juara satu di kelas dan masuk 10 besar di seluruh kelas.


Begitu dia melihat bahwa Nadhira terlihat santai dan tidak terlihat memegang buku, dia tidak bisa menahan diri untuk mengejeknya.


"Hei, Nadhira, berapa skor yang kau rencanakan untuk raih dalam ulangan kali ini? Kamu harus belajar dengan keras. Jangan menjadi peringkat terakhir lagi dan menurunkan derajat kelas kita lagi!"


Peringatan Nisa tidak di hiraukan oleh Nadhira, Sebaliknya, gadis itu menyeringai. "Terima kasih atas saran mu,"


Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan. "Aku juga menginginkan hal yang sama untukmu,"


"Kau!" Nisa men gertak kan gigi karena marah, tidak menyangka Nadhira akan membalas perkataannya.


Setelah itu, seperti memikirkan sesuatu dia terkekeh dan memandang Nadhira dengan jijik. "Hah, apa gunanya memiliki lidah yang tajam? Jika kamu begitu percaya diri, dapatkan skor setinggi!"


Nadhira sudah tahu bahwa pemilik tubuh asli memiliki nilai akademi yang buruk. Menempati peringkat terakhir di kelas, dan bahkan menjadi yang terburuk di seluruh sekolah.


Nilai Nisa bukanlah yang terbaik, namun, dia termasuk sepuluh besar di satu sekolahan. Dia mengejeknya karena dia sangat percaya diri dan yakin bahwa Nadhira tidak akan bisa mengejar nilainya.


"Kalau begitu kau bisa mengharumkan nama kelas kita. Sekarang, tolong menjauh lah karena kau merusak pemandangan ku," kata Nadhira sambil menatap datar Nisa.


Nisa melangkah dengan marah kembali ke tempat duduknya yang terletak terdepan. Berpikir bahwa Nadhira akan menangis ketika hasil tes bulanan dirilis dia terlihat senyum mengejek.


Akhirnya Nadhira tenang selepas kepergian Nisa.


Waktu ulangan pun di mulai, Nadhira tidak terburu-buru untuk menulis begitu dia mendapatkan lembar ulangan. Dia memilih menelungkup kan kepalanya di atas meja. Guru-guru sudah terbiasa akan hal itu dan membiarkan saja.


Nisa yang melihat Nadhira menulis hanya sesaat tersenyum lebar. Lihat, bukankah dia bertingkah seperti dia yang terhebat? Dia pasti bingung setelah melihat soal tes dan menjawab tes hanya asal.


Saat ini pasti dia tidak tahu bagaimana menjawabnya! Tidak pernah dalam pikiran Nisa bahwa Nadhira hanya menghabiskan dua puluh menit untuk menjawab semua pertanyaan.


Ketika semua kertas ulangan dikumpulkan guru tidak langsung memeriksanya, karena ulangan bulanan kali ini merupakan ulangan bersama antar seluruh sekolah di Kota D.


Semua jawaban siswa akan diserahkan untuk penilaian oleh para petinggi. Oleh sebab itu hasil skor akan di ketahui setelah semua ulangan berakhir.


Senin selanjutnya, matahari terasa hangat dengan angin sepoi-sepoi bertiup. Sinar matahari menyinari sosok Nadhira yang berkeringat.


Dia mengenakan kuncir kuda tinggi hari ini dan tampak penuh semangat. Dengan tas di punggungnya, Nadhira memasuki ruang kelas dengan santai.


Bersamaan dengan itu di kantor guru sekolah, seorang guru yang sedang memilah-milah kertas ulangan yang telah di periksa oleh para petinggi tokoh pendidikan di Kota D, berseru dengan sangat tidak percaya, "Nilai sempurna! Ini nilai sempurna lainnya! Siswa dari ruang 4 di kelas sepuluh mendapat nilai sempurna di semua ulangan! Ya Tuhan! Dia juga siswa yang mendapatkan nilai sempurna untuk menjadi siswa yang mendapatkan nilai tertinggi dari seluruh sekolah di Kota D!" Apa yang diserukan guru menarik perhatian guru lainnya.


Gosip-gosip mulai menyebar...


"Hei, hasil ulangan bulanan gabungan seluruh Kota D sudah keluar! Kudengar siswa dengan nilai tertinggi adalah dari sekolah kita!" Seorang siswa di kelas berseru senang. Dia mengangkat dagu karena bangga, seolah-olah dialah yang mendapatkan nilai tertinggi itu. Tidak mengherankan ketika perhatian seluruh kelas berasumsi bahwa itu adalah dia saat dia menyerukan nya.


"Ah, benarkah? Itu tes yang diikuti oleh siswa dari seluruh sekolah dan yang terbaik adalah dari sekolah kita? Ini belum pernah terjadi sebelumnya!"


"Semua orang tahu bahwa SMA berbasis internasional di pusat Kota D juga salah satu dari seluruh sekolah yang berpartisipasi. Itu adalah SMA terbaik di Kota D dengan banyak siswa lulusan terbaik setiap tahunnya!"


"Kudengar murid-murid terbaik di SMA berbasis Internasional hampir mendapatkan nilai sempurna. Apakah benar-benar ada seseorang di sekolah kita yang menduduki peringkat pertama di antara seluruh sekolah? Kamu pasti bergurau, kecuali kita pernah memiliki siswa yang masuk dalam sepuluh besar saja itu sudah sangat bagus! Ini? Bahkan SMA kita hanyalah sekolah pinggiran yang jauh dari pusat Kota!" Ada siswa yang tidak percaya dan membalas siswa yang baru saja mengatakan informasi itu.


"Hehe, kau tak percaya? Aku mendengarnya sendiri dari ruang guru. Saat itu lewat dan tak sengaja mendengarnya. Saat itu suasana kantor sangat heboh. Jadi kemungkinan informasi ini benar!" Siswa itu menjawab dengan membanggakan dirinya lagi.


Nadhira yang mendengar itu sedikit tersenyum, itu tak luput dari pandangan Nisa. Dia tersenyum mengejek dan berkata dengan suara lantang agar terdengar satu kelas.


"Oh ya, Nadhira, aku melihatmu hanya menjawab makalah selama dua puluh menit selama ulangan bulanan. Apa yang kau lakukan? Apakah soal-soal tes itu terlalu sulit? Bagaimana kamu bisa mendapat nilai bagus dengan cara seperti itu? Lebih baik kamu tidak mempermalukan kelas kita lagi kali ini!" Nisa menoleh untuk melihat Nadhira dengan pandangan jijik.


Nadhira tidak terganggu, dia hanya mengerucutkan bibirnya menjadi senyuman yang terlihat imut di mata orang lain.


¤


¤


¤


Semoga Suka...