
Selamat Membaca...
•••
Tak terasa hari ini adalah hari kelulusan Nadhira dari universitas GALAKSI dan yang paling membahagiakan dia lulus bersamaan dengan Calvin yang notabennya kakak tingkat.
"Ahhhh terasa menjadi orang bodoh aku," keluh Calvin.
Dan yang paling membuatnya semakin mengeluh adalah, Nadhira yang notabennya adik tingkatnya menjadi lulusan terbaik.
"Sabar bro. Lihat kami...," ucap teman seangkatannya memperlihatkan diri mereka yang belum lulus yang seharusnya sudah lulus di tahun itu.
"Kami biasa saja tuh! Jangan minder," lanjutnya.
"Hei Vin, cepat! Kita harus ke apartmen ku. Kau tidak ingin melihat calon masa depanmu?" Ucap Nadhira yang baru saja selesai berfoto. Kalau tidak di paksa mana mau dia.
"Dia datang?" Tanya Calvin tak percaya.
"Hmm, ya dia datang! Kemarin malah!" Ucap Nadhira membuat Calvin kesal.
"Kenapa tidak bilang-bilang? Kan aku bisa datang ke apartmenmu lebih cepat," ucap Calvin dengan kesal.
"Hahahaha maaf, itu permintaan Clara sendiri. Katanya ingin membuat kejutan untukmu. Kan sudah ku beri petunjuk sedikit. Jadi ayo cepat! Urusan kita juga sudah selesai disini,"
Keluarga Nadhira sudah pulang terlebih dahulu. Katanya sih ingin mempersiapkan pesta kecil-kecilan sebagai hadiah kelulusan Nadhira.
Tak menunggu lama Calvin langsung menarik Nadhira menuju mobilnya dan melaju membelah jalan menuju apartmen Nadhira.
Satu jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai dan langsung saja turun dan naik ke atas.
Nadhira membunyikan bell tak lama seseorang membukakan pintu.
"Iraaaaa," teriak Clara langsung berhamburan memeluk Nadhira.
"Siapa Cla?" Tanya orang dari dalam.
"Bossss," dia Bagas dan ternyata yang lainnya juga pada datang.
Mereka pun berpelukan melepas rindu karena lama tidak bertemu, dengan alasan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang kuliah, Dan ada juga yang mengurusi urusan perusahaan keluarga dan sebagainya.
"Aku harus memanggilmu apa ya?" Terlihat berpikir, tapi kenyataannya Gilang seakan-akan meledek Nadhira.
"Kakak ipar?" Lanjut Gilang.
"Wah boleh boleh tuh," setuju yang lain.
Mereka semua pun tertawa melihat reaksi Nadhira bisa dibilang berusaha bisa saja tapi terlihat juga bahwa dia malu.
Di lain posisi Calvin yang curi-curi pandang ke arah Clara. "Samperin saja! Apa susah nya sih!" Sindir Rima membuat yang tadi masih menggoda Nadhira beralih menggoda Clara dan Calvin.
...•••...
Hari yang di nantikan oleh semua orang telah tiba. Apalagi dua insan yang nantinya akan menjalani hidup berdua sampai maut memisahkan.
Hari ini adalah hari dimana perayaan acara pernikahan Nadhira dengan Ganendra setelah sebelumnya acara nikahan telah diadakan dengan lancar.
Semua orang bersuka cita menyambut datangnya hari ini tak terkecuali mantan-mantan bucin nya Nadhira.
Tenang saja, mereka semua tidak menjadi sadboy kok, karena memang mereka telah dipertemukan dengan jodoh mereka masing-masing, baik itu bertemu sendiri atau pun karena di jodohkan.
...•••...
Dentingan sendok yang beradu dengan piring terdengar di ruang makan yang di huni sepasang manusia. Mereka adalah Ganendra dan Nadhira. Keduanya sama- sama fokus pada kegiatan dan pikiran mereka masing-masing. Ganendra menyudahi makannya terlebih dahulu, sedangkan Nadhira masih menyisakan beberapa sendok dipiringnya.
"Ada apa?" Tanya Nadhira. Dia jadi kesal sendiri dengan tingkah Ganendra yang sedari tadi tak berhenti menatapnya.
Ganendra menggeleng sebagai jawaban, meski begitu dia tetap menatap Nadhira, tapi Nadhira tak ambil pusing, dia mengabaikannya dan melanjutkan acara makannya.
Suapan terakhir masuk ke dalam mulut Nadhira dan di saat itu pula Ganendra berdiri dan mengumpulkan piring kotor mereka.
"Tidak perlu Nendra! Aku bisa melakukannya, kamu kan harus pergi ke markas!" Ucap Nadhira mencegah Ganendra mengambil piring nya, yang pastinya tak di tanggapi Ganendra yang tetap mengambil piring Nadhira.
Nadhira berdiri dari duduknya, menghampiri Ganendra dimana nampak sibuk berkutat dengan sabun serta spons.
"Nendra itu sabun pembersih lantai. Apakah kamu akan menggunakan itu untuk mencuci piring?" Perkataan Nadhira menghentikan gerak tangan Ganendra yang hendak menuangkan isi botol tersebut ke dalam wadah tempat biasanya menuangkan sabun cuci piring.
"Ck, kenapa mereka menaruhnya disini? Membuatku kesal saja!" Gerutunya meraih botol lain yang berisi kan cairan berwarna hijau tua Dan sekarang benar kalau itu sabun cuci piring.
Di mansion memang banyak pembantu, tapi mereka akan datang pada jam 9 pagi dan pulang pada pukul 5 sore, karena memang itu keinginan keduanya.
Kali ini Ganendra membacanya terlebih dahulu sebelum benar-benar menuangkannya.
"Sudah ku bilang, biar aku saja yang melakukannya. Kamu pergi saja! Nanti telat!" Desak Nadhira ingin menggantikan posisi Ganendra, namun pria itu dengan keras kepala menahannya.
"Jangan Nadhira, biar aku yang melakukannya. Kamu tidak boleh banyak gerak! Lihat kau bergerak saja susah dengan kandunganmu yang sebesar itu!" Ucap Ganendra menatap Nadhira lalu beralih menatapperut Nadhira yang begitu besar, Nadhira mengikuti pandangan Ganendra.
Di tempatnya Nadhira berdecak, apa-apa semuanya di larang, dia tidak terbiasa dengan ini. Dia suka bergerak, olahraga dan lainnya, tapi Ganendra terus melarangnya melakukan apa pun baik hal kecil apalagi besar.
"Nadhira, duduk!" Titah mutlak Ganendra yang artinya tidak bisa dibantah.
Nadhira mendesah panjang, mengikuti perintah Ganendra, wanita itu kembali duduk ke kursi.
"Nendra, kau tahu badanku rasanya sangat kaku karena kurang bergerak. Apakah aku tidak bisa menemukan sesuatu? Seperti olahraga gitu?" Keluh Nadhira dengan tangan terulur mencomot buah apel yang sebelumnya sudah di potong oleh Ganendra.
"Tidak! Olahraga yang kau maksud pasti bukan olahraga Untuk Ibu hamil bukan? Aku tidak akan mengijinkannya!" Ganendra berbalik seraya melepas celemek yang melekat pada tubuhnya, ternyata pria itu telah selesai mencuci peralatan makan yang kotor.
Kakinya berjalan ke arah sofa meraih jas sekaligus jam tangan yang langsung dipakainya, setelahnya baru Ganendra mendekati Nadhira dimana perempuan itu berdiri sebab tau Ganendra akan berangkat.
Ganendra berjongkok memposisikan wajahnya kembali perut buncit Nadhira.
"Ra, aku tidak ingin pergi bekerja. Aku di mansion saja bersama kalian ya," pintanya menduselkan hidungnya pada perut buncit Nadhira.
"Tidak Nendra. Aku mendengar dari Kevin bahwa kamu sudah tidak masuk kantor selama 3 bulan, setidaknya hari ini kamu harus datang. Jadilah cerminan baik bagi karyawan kamu dong," ocehnya membuat Gamedra mendengus di bawah sana.
"Sialan Kevin! Tukang ngadu!" Batin Ganendra kesal.
Akhirnya dengan paksaan Nadhira, Ganendra pun memilih mengalah dan pergi.
Sepeninggalnya Ganendra, Nadhira mendesah lega. Matanya menelisik sekitar apartemen, semuanya rapi dan yang membuat Nadhira semakin jengah adalah pintu ruang olahraga pun terkunci, meski dia bisa membukanya dengan mudah, tapi dia tidak mau menjadi istri durhaka yang menentang perintah suami selagi itu baik.
"Nendra benar-benar tidak memberiku celah untuk melakukan sesuatu," gerutunya berjalan ke kamar, sepertinya memeriksa perkembangan usaha-usahanya serta usaha keluarganya akan menghilangkan sedikit kebosanannya.
¤
¤
¤
Semoga Suka...