
Selamat Membaca...
•••••
Ada pameran besar bulanan dari pasar barang antik dengan banyak pengunjung. Pada hari normal, banyak pengunjung yang akan datang dan melakukan transaksi, tetapi harganya tidak akan terlalu mahal. Tetapi hari ini bertepatan dengan pelelangan yang di laksanakan setiap bulannya di pasar barang antik ini.
Ketika Nadhira tiba di pusat penilaian, sudah ada seseorang di sana untuk mengidentifikasi barang antik.
Orang-orang disini hanya untuk mencari barang antik asli, sementara yang lainnya hanya sekedar untuk menonton.
Para penilai itu semua berpengalaman dan pusat penilaian memiliki aturan nya sendiri. Jika itu palsu, mereka tidak akan mengenakan biaya untuk itu, dan jika itu adalah barang asli, maka kalian hanya perlu membayar untuk pelayanan ini, jika barang antik langsung di lelang di tempat, harga layanan akan lebih tinggi. Aturan itu cukup bisa di terima.
Nadhira berjalan ke meja penilaian. Dia melihat sebuah guci porselen yang lembut, dan terlihat seperti guci porselen yang asli.
Nadhira menggunakan mata ajaib nya untuk mengidentifikasi, tetapi setelah diidentifikasi oleh Nadhira ternyata guci porselen itu palsu. Akan tetapi Nadhira tidak menyuarakan pendapatnya.
"Itu palsu," ucap si penilai. Hanya butuh beberapa menit untuk mendapatkan hasilnya. "Apa? Itu palsu?" Suara laki-laki yang terdengar kaget di antara kerumunan. Pria itu memasang wajah heran, sekaligus bingung. "Tidak mungkin! Bagaimana mungkin itu palsu!"
"Apakah kau menanyaiku sekarang?" Si penilai terlihat kesal karena di ragukan.
Laki-laki itu cepat-cepat mengelak dan menjelaskan. "Tidak...tidak, akan tetapi itu adalah barang pusaka milik kakek ku untuk ayah ku dan aku sendiri. Jadi saya tidak bisa percaya begitu saja kalau itu adalah barang palsu," orang-orang di pusat kerumunan berasimpati kepada laki-laki itu.
"Bro walau pun itu adalah barang pusaka, bisa jadi itu juga barang palsu,"
"Benar,"
"Mungkin saja kakek mu dulu melakukan kesalahan jadi itu sangatlah wajar terjadi,"
Suara simpati lainnya juga terdengar dari yang lain.
Pria itu memasang wajah tidak senang, dia pergi dengan cepat sambil membawa pusaka itu, dia masih percaya kalau itu adalah barang asli, dan dia ingin menjualnya tetapi yang membuat nya terkejut adalah ternyata barang itu adalah barang palsu.
Setelah kepergian laki-laki tadi sekarang giliran Nadhira untuk menilai barang yang dia bawa. "Hai bisakah kau mengidentifikasi gelang ini untuk ku?" dia menyerahkan gelang yang baru saja di belinya.
Penampilan sosok gadis remaja membuat banyak orang berbicara di antara kerumunan.
"Wah dari mana dia mendapat kan barang ini? Ini sangat jelek,"
Ya, meakipun telah di bersihkan oleh Nadhira, tidak dipungkiri bahwa gelang itu tidak terlalu beraih karena dia hanya memberaihkan menggunakan air saja.
Sang penilai sebenarnya juga meragukan gelang itu akan tetapi itu memang tugasnya dan dia tidak boleh menyepelekan orang barang milik orang lain.
Namun, saat dia lebih membersihkan noda dengan suatu cairan, warna asli dari gelang itu muncul, putih murni, dan itu adalah mutiara murni dari beberapa ratus tahun yang lalu.
Penilaian itu masih ragu dan kemudian terus membersihkan gelang itu. Setelah beberapa saat, dia merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Yang lain juga segera penasaran.
"Apa yang terjadi?"
"Apakah itu asli?"
.
Penilai tetap diam, fokus pada pekerjaan nya, tidak lama kemudian gelang itu sudah bersih dan berkilau.
Mereka semua menyakini kalau barang itu masihlah palsu, karena tidak ada yang pernah mendengar gelang dapat di buat pada zaman kuno. Itu pasti hanyalah karya seni modern.
Sementara si penilai berpikir sebaliknya. Dia sekarang heran dan sangat bersemangat.
Semua orang sangat terkejut dengan apa yang di katakan oleh si penilai.
Gelang mutia karang yang langka?
Apakah gelang itu asli?
Tiba-tiba semua orang memandang Nadhira dengan sangat cemburu, sedangkan Nadhira hanya tenang seperti biasanya, yang membuat orang bertanya-tanya apakah dia sudah tau mengenai itu?
Sebenarnya Nadhira hanya tahu kalau itu adalah barang antik yang asli, tapi dia tidak tau gelang apa itu sebenarnya.
Semua orang sekarang tahu bahwa gelang itu sebenarnya nya terbuat dari mutiara karang yang sangat langka.
"Hei gadis muda, dari mana kau mendapatkan gelang ini?" seseorang bertanya.
"Aku baru saja membeli nya di salah satu toko barang antik di depan sana," Nadhira mengatakan dengan apa adanya.
"Apa? Kau mengambil nya secara tidak sengaja? Sungguh gadis yang sangat beruntung,"
Semua orang setuju dengan itu.
"Gadis muda, apakah kau ingin menjualnya? Aku akan membayar kau tiga puluh juta untuk gelang itu," seorang pria paruh baya yang mengenakan jas mengajukan penawaran di awal.
"Tiga puluh juta? Apa kau sedang bercanda? Aku akan membayar kau lima puluh juta rupiah, gadis muda,"
"Enam puluh juta," pria lain ikut menawarkan juga.
"Tujuh puluh juta,"
"Delapan puluh juta,"
"Seratus dua puluh juta," semua orang seketika terkejut mendengar harga yang di tawarkan oleh seorang pria paruh baya berjas abu-abu dengan di temani beberapa orang di belakangnya.
Nadhira juga terkejut, ini adalah pertama kalinya dia menjual barang antik, dia tahu barang antik itu mahal, tapi harga yang di tawarkan orang itu sungguh mengejutkan baginya.
Dia berpikir empat puluh juta sudah cukup tinggi. Tapi seratus dua puluh juta tidak berarti apa-apa bagi Nadhira pada kehidupan yang sebelumnya, akan tetapi pada saat ini, bagi dirinya itu jumlah uang yang sangat besar. Pada akhirnya Nadhira menjual gelang itu seharga seratus dua puluh juta rupiah.
Meskipun semua orang merasa terkejut dengan harganya yang tinggi, hanya ahli yang tahu gelang itu lebih berharga daripada yang ada di pasaran. Sebuah gelang yang terdiri dari mutiara karang asli dan langka, bahkan jika itu putus itu masih sangat mahal dan berharga.
Dia membutuhkan uang sekarang, dan tidak punya waktu untuk menunggu pembeli yang menawar lebih tinggi.
Seratus dua puluh juta langsung saja di transfer ke rekening Nadhira.
Biaya layanan penilaian juga langsung saja Nadhira bayar dengan harga yang telah di tetapkan.
Ketika dia meninggal kan tempat penilaian atau tempat lelang, Nadhira merasa ada yang menjadikan dia sasaran untuk perampokan. Mungkin si pengikut itu merasa Nadhira hanyalah gadis remaja biasa yang dengan mudahnya dapat mereka rampas uang miliknya. Tapi mereka tidak tahu berhadapan dengan siapa.
Jalanan pasar barang antik bukan lah tempat yang aman. Sangat normal bahwa ada orang yang menargetkan seseorang yang membawa barang berharga atau uang yang banyak.
Nadhira tetap tenang dan berpura-pura tidak mengetahuinya, dia meninggalkan jalan antik dengan segera. Begitu Nadhira mulai keluar dari jalan pasaran barang antik, beberapa pria yang telah mengikuti nya langsung keluar dari tempat persembunyian mereka untuk menghentikan Nadhira. Empat preman yang berusia sekitar dua puluh tahun langsung mengelilingi Nadhira.
¤
¤
¤
Semoga Suka...