
~Jangan mengurusi urusan orang lain, kalau tidak ingin mendapat masalah bagi diri sendiri~
Selamat Membaca...
•••••
Kepala sekolah lebih dari kecewa sekarang, kemudian dia menoleh ke arah Yunita. "Apakah itu benar?"
"Aku..," Yunita ingin mengelak akan tetapi dia takut dengan kepala sekolah, dan dia akhirnya tidak mengatakan apa pun dan hanya menunduk kan kepalanya.
Kepala sekolah memang bukan orang yang suka dengan orang miskin, tapi melihat sedikit prestasi yabg dimiliki Nadhira, dia tidak akan berbuat tidak adil dengan itu. Karena kalau memihak orang kaya dia akan mendapat bantuan dari uang orang tua sang murid akan tetapi dengan kecerdasan murid yang tidak kaya, maka akan mengharumkan nama sekolah.
Sekarang kepala sekolah tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Itu adalah kesalahan Yunita untuk menghina Nadhira pada awalnya, tetapi Nadhira juga bersalah karena menampar Yunita kembali. Jadi karena kalian berdua melakukan kesalahan jadi kalian berdua harus menerima hukuman atau saling meminta maaf. kalian berdua dapat memilih," kepala sekolah memutuskan untuk membiarkan mereka untuk membuat pilihan sendiri.
Hukuman tidak akan bisa menyelesaikan masalah akan tetapi sikap saling memaafkan lah yang paling penting.
Kepala sekolah tidak akan peduli jika mereka berkelahi kembali, yang penting baginya mereka tidak berkepahi ketika mereka berada di sekolah.
Nadhira menyetujui saling meminta maaf, itulah yang dia inginkan karena dia tidak ingin memiliki masalah, karena dirinya juga baru masuk di sekolah ini.
Oleh karena itu dia berkata kepada Yunita. "Yunita kau bisa kau bisa memilih, aku memilih kita saling minta maaf, tapi itu tergantung padamu mau apa," Yunita merasa itu adalah sebuah tantangan, dia merasa sangat marah dan juga menatap ke arah Nadhira.
Yusnita tidak akan pernah memaafkan Nadhira karena dia yang menerima luka yang telak akan tetapi dia juga tidak ingin mendapatkan hukuman. Jadi walaupun Yunita merasa sangat kesal, dia tidak akan mau melanjutkan nya untuk saat ini.
"Baik, aku juga memilih saling minta maaf," mereka pun saling meminta maaf, akan tetapi orang lain pasti tahu masalah ini tidak berakhir secepat ini.
"Baiklah karena Yunita terluka saat ini, dia harus pergi ke UKS untuk mengobati lukanya," Kata kepala sekolah.
Yunita pun pergi ke UKS dengan di temani oleh Mega. Sedangkan Herman memelototi Nadhira sebelum dia kembali ke kursinya, dan pelajaran di mulai.
Kepala sekolah mengajar pelajaran matematika, dia guru yang sangat tegas dan tidak akan ada yang berani untuk pergi keluar.
Nadhira fokus pada pelajaran, meskipun dia memiliki kejeniusan luar biasa, dia juga masih perlu untuk belajar untuk menambah wawasannya, karena meskipun dia telah mempelajari dan menghapal semua mata pelajaran, akan tetapi dia perlu berprilaku layaknya anak muda biasa.
Ada pun Clara dan Bagas, mereka masih khawatir. Mereka lebih khawatir kalau Yunita akan membalas dendam kepada Nadhira.
Akhirnya kelas berakhir, Clara dan Bagas mendekati kursi Nadhira dan duduk di depannya. "Ira, kau harus berhati-hati terhadap Yunita, dia memiliki pengaruh di sekolah ini, apakah kau tidak takut?" Sebelum Clara selesai berbicara, Nadhira langsung memotong nya.
Mendengar penuturan Nadhira Clara dan Bagas begitu terkejut. Memang mereka menganggap Nadhira sedari awal sudah menjadi teman mereka, akan tetapi mereka tidak berharap bahwa Nadhira baru bersekolah di sini sudah mendapat masalah, akan tetapi jika Nadhira telah menganggap mereka teman, maka mereka juga telah sepenuhnya menganggap Nadhira teman dan akan terus mendukungnya dalam suka maupun duka, meski itu akan membuat mereka kesulitan nantinya.
Meskipun mereka masih takut kepada Yunita, akan tetapi mereka tidak mau menjadi lemah. Nadhira yang notabennya saja tidak memiliki pengaruh atau pendukung saja berani, bagaimana mereka takut hanya karena satu tingkat di bawah keluarga Yunita.
Clara dan Bagas dengan tegas berkata. "Ira kau benar, menjadi lemah tidak akan membantu kita dalam hal apapun. Aku benci di pandang rendah hanya karena satu tingkat di bawah keluarganya, jadi bisakah kami melakukan itu juga?"
"Selama kalian mau, kalian benar-benar bisa berdiri sendiri tanpa adanya pengaruh keluarga kalian,"
"Ya kami pasti akan berubah," sahut mereka berdua penuh keyakinan.
"Clara, Bagas, kalian sudah ku anggap temanku saat kalian mengobrol denganku, aku berjanji akan membantu kalian semampuku saat kalian memerlukan bantuan. Dan tolong beritahu aku secara langsung jika kalian tidak ingin lagi menjadi teman ku, alih-alih menyakiti ku dengan mengkhianati ku," ucap Nadhira, memperingatkan Clara dan Bagas.
"Nadhira aku sangat menghargai pertemanan kita saat ini, karena aku tidak memiliki teman yang benar-benar tulus berteman denganku, jadi jangan khawatir tentang itu. Kami berjanji tidak akan pernah berkhianat kepadamu dan kau juga jangan berkhianat dengan kami," ucap Clara sambil menatap penuh tekat ke arah Bagas yang di angguki Bagas kemudian mereka berdua menatap kembali ke arah Nadhira.
"Tentu!" Nadhira tersenyum ringan, mulai saat itu Nadhira telah dengan tulus menjadi kan Clara dan Bagas sebagai temannya. Bukan hal yang mudah untuk memutuskan bahwa kita berteman dengan seseorang dengan tulus, akan tetapi sekarang dia sudah memutuskan nya jadi dia sangat menghargai dan juga menganggapnya serius. Nadhira tentu saja tidak akan memberitahu temannya tentang segala hal, tapi dia juga tidak akan pernah menyakiti teman nya dan dia juga akan selalu bersedia untuk membantu temannya.
Ketika mereka selesai di kelas pagi, Nadhira, Clara dan Bagas, meninggalkan kelas, mereka langsung menuju ke kantin, untungnya Yunita tidak mencari masalah lagi dengan mereka, tetapi tidak tahu kedepannya.
"Eh gadis miskin makan di kantin ini juga? Buat aku gak selera makan aja. Kita lihat apa yang akan dia pesan," kan, baru juga di bilang entah kedepannya akan berbuat masalah atau tidak dengan Nadhira.
Yunita berdiri dari kursinya dan berjalan menuju ke arah Nadhira, dia menganggap Nadhira terlalu miskin untuk hanya sekedar makan di kantin yang di tujukan memang untuk para anak orang kaya di sekolah itu, sedangkan kantin untuk orang miskin berada di tempat lain, akan tetapi Nadhira hanya mengikuti kedua temannya sekarang yang notabennya juga berasal dari kalangan atas.
Nadhira membayar tagihannya sendiri tanpa bantuan Clara dan Bagas, karena meskipun penampilannya miskin, tapi dia juga memiliki uang, dan kemungkinan besar Yunita tak akan memiliki uang sebanyak Nadhira.
Nadhira berbalik dan mengabaikan ocehan Yunita membuat sang empu marah dan kesal.
¤
¤
¤
Semoga Suka...