
Selamat Membaca...
•••••
Mega sangat mengenal Yunita, dia langsung mengerti bahwa Yunita pasti telah melakukan sesuatu terhadap Nadhira secara diam-diam, dia mungkin mengira kalau rencana yang telah dia susun dengan sangat rapi telah berhasil, itulah mengapa dia terlihat sangat bahagia pagi hari ini. Akan tetapi saat dia Nadhira muncul seperti biasanya, dan terlihat kalau dia baik-baik saja, Yunita merasa sangat terkejut dan ketakutan.
Untuk saat ini Nadhira masih bersabar atas perbuatan Yunita terhadapnya, dan bertepatan juga pelajaran pertama akan di mulai, Nadhira pun menuju ke kursinya.
¤¤¤¤¤
Jam pelajaran terakhir akhirnya selesai, Nadhira tidak langsung pulang, dia memilih untuk pergi ke pusat kota B. Tapi sebelum itu dia sudah menelepon ibunya meminta ijin.
Di sana dia berencana untuk membeli ponsel baru yang lebih canggih, karena saat ini dia hanya memiliki ponsel jadul.
Dia memasuki pusat perbelanjaan menuju sebuah toko ponsel.
"Ada yang bisa di bantu?" Tanya seorang pelayan dengan sopan, berbeda dengan pelayan satu nya yang nampak jijik menatap Nadhira.
Nadhira tak mempermasalahkannya, dia terus mencari ponsel yang dia inginkan.
"Jangan lihat, kalau tak mampu membelinya," ucap pelayan sombong itu.
Pelayan ramah menyenggol lengan pelayan sombong itu. "Apaan sih! Benar kan jangan lihat kalau tak mampu membelinya, nanti ada yang akan salah sangka dan mengira hanya ingin mencuri," ucap pelayan sombong itu.
Nadhira tetap tak menggubrisnya, dia terus mencari dan seketika matanya jatuh di salah satu ponsel yang harganya hampir sepuluh juta.
"Bisa bungkus yang ini," pinta Nadhira kepada pelayan yang ramah sambil menyerahkan kartu ATM nya.
Mata pelayan sombong menatap kartu ATM itu, tapi Nadhira menyerahkannya kepada pelayan ramah itu, jadi dia tidak bisa mengetahui berapa jumlah uang yang berada di karti ATM itu.
"Baik, tunggi sebentar," ucap pelayan ramah itu, kemudian dia menggesek kartu ATM itu ke alat pembayaran dan seketika matanya terbelalak tak percaya, tangannya gemetar, semua itu tak luput dari pandangan pelayan sombong.
Setelah proses pembayaran selesai dan pengemasan juga selesai, pelayan ramah itu menyerahkan paper bag dan kartu ATM kepada Nadhira dengan masih gemetar.
"Terimakasih sudah membeli di toko kami," ucap pelayan ramah itu.
Nadhira hanya membalasnya dengan anggukan dan senyuman, kemudian dia keluar dari toko tersebut.
Sepeninggalan Nadhira pelayan sombong itu menyenggol pelayan ramah dan bertanya. "Kau kenapa gemetaran begitu?"
"Itu, isi dari ATM nya sungguh mengejutkan, lebih dari satu milyar rupiah,"
Setelah mendengar pernyataan temannya pelayan sombong itu tak dapat bicara lagi. Mungkin dalam hatinya dia meruntuki kebodohannya karena hanya menilai dari penampilan luar seseorang.
Setelah sebelumnya sudah membeli yang dia inginkan Nadhira memilih pulang cepat, karena dia hanya meminta ijin sebentar kepada ibunya.
Sesampainya dia rumah, dia di sambut oleh ibunya. Malam itu mereka makan bersama seperti biasa kemudian beristirahat.
Keesokan paginya Nadhira tetap berolahraga pagi. Setelah itu dia mandi, makan dan pamit untuk berangkat, akan tetapi tiba-tiba Puspa menghentikannya.
"Ira, tunggu,"
"Ya, bu?"
"Ira, hari ini apakah kau bisa mengantarkan selimut untuk kakakmu? Dia tidak membawa selimut saat pergi terakhir kali, ibu takut dia akan kedinginan nanti," jelas Puspa sambil menyerahkan paper bag coklat kepada Nadhira.
"Baiklah! Kalau begitu aku berangkat," ucap Nadhira segera bangkit saat dia selesai mengikat tali sepatunya. Tapi dia belum pergi dia berkata kepada ibunya. "Bu, ibu jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja. Aku akan mencari jalan agar kita bisa hidup enak. Usaha yang aku dan temanku kembangkan akan mulai dirintis jadi ibu jangan terlalu lelah dan khawatir," lanjut Nadhira sambil memasang senyum manis agar ibunya percaya dan tidak khawatir.
"Baik... Baik ibu tidak akan bekerja terlalu keras,"
Tiga puluh menit kemudian dia sampai dan langsung berlari bersama teman-temannya yang sudah berlari di lapangan sekolah.
Jam istirahat seperti biasa mereka makan bersama di kantin dan mereka masih saja menjadi pusat perhatian, akan tetapi itu sedikit membuat Nadhira risih.
Jam pelajaran ke tiga ternyata di liburkan dan para siswa boleh pulang cepat.
"Bos, apakah kau memiliki jadwal setelah ini?" Tanya Rangga dan di angguki yang lain.
"Tidak! Hanya saja ibuku memintaku untuk memberikan selimut untuk kakakku," jawab Nadhira.
"Kakak? Bos punya kakak? Sekolah dimana?" Pertanyaan beruntun di lontarkan oleh keempat temannya yang terlampau syok dan penasaran.
"Ya, aku punya. Kakakku sekolah di SMA ini juga, dan dia berada di kelas dua belas," jawab Nadhira.
"Ohhh, boleh kami ikut mengantarkannya?" Tanya mereka penuh harap.
"Terserah kalian,"
"Yeayy,"
Karena hari ini para siswa di pulangkan cepat, jadi semua siswa dari kelas sepuluh sampai dua belas tidak memiliki jadwal belajar. Mereka yang masih berada di kelas kemungkinan hanya mengobrol atau menghabiskan waktu dengan belajar mandiri. Sungguh rajin.
Mereka berlima langsung pergi ke ruang kelas dua belas yang terletak di gedung yang berbeda dari mereka.
Gedung kelas sepuluh berada di Barat, kelas sebelas di Selatan, sedangkan kelas dua belas di Timur.
Jadi untuk menuju ke sana dengan jalan kaki memerlukan sepuluh menit lebih.
Ketika Nadhira tiba di ruang kelas Andara, dia melihat kakaknya sedang memegang buku pelajaran. Dia memang siswa berprestasi dan mendapat beasiswa berkat kecerdasannya itu.
Banyak siswa yang juga masih berada di kelas itu sedang bercengkrama sesama mereka.
"Hai teman-teman, lihat! Ada siswi cantik di depan pintu kita!" Tak ada yang menghina penampilan Nadhira yang menggunakan seragam lusuh, mungkin benar adanya semakin tua umur semakin dewasa pemikiran. Tapi mengingat kelakuan keluarganya yang sangat tak bermoral kepada ibunya pepatah itu menjadi diragukan.
"Eh, ada yang lainnya juga!" Teriakan anak laki-laki itu menyebabkan semua orang di kelas menatap ke arah pintu masuk kelas. Tak lain Andara juga.
Melihat bahwa itu adalah adik perempuannya, Andara berdiri dengan cepat dan berlari ke arah Nadhira.
"Ira! Kenapa kau kemari?" Kegembiraan terlihat jelas dalam nada bicara Andara saat dia bertanya pada Nadhira.
"Ibu memintaku untuk memberikanmu selimut. Cuaca akan sangat dingin di musim hujan. Ibu khawatir kau akan kedinginan," jawab Nadhira sambil menyerahkan paper bag itu ke tangan Andara.
Andara mengangguk. "Oh, terimakasih! Oh ya, bagaimana kabar ibu? Apakah ibu masih bersikeras untuk bekerja?"
"Ibu baik-baik saja, dia masih bekerja, tapi sudah ku sarankan untuk berhenti bekerja setelah aku usahaku dan temanku berkembang. Itu tak akan lama lagi kok," jelas Nadhira.
Mendengar itu mata Andara berkaca-kaca. Adik perempuannya dewasa sebelum waktunya, pikirnya.
"Baiklah! Aku juga akan berusaha cepat lulus dan mencari pekerjaan nanti setelah lulus," ucap Andara sambil mengusap lembut kepala Nadhira.
¤
¤
¤
Semoga Suka...