Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Hari yang Melelahkan


Selamat Membaca...


•••


Ganendra tidak sengaja melihat Calvin yang akan menghampiri Nadhira itu disebabkan karena suara kagum para perempuan kepada Calvin yang saat ini masih menggunakan baju basket yang basah karena keringat dan mencetak bentuk tubunnya yang membuat kaum hawa menjerit, jadi dengan cepat dia mencegah Calvin yang berniat ikut campur, kalau dia tidak melihat kemungkinannya Calvin akan semakin memperburuk keadaan dengan persepsi orang-oranh bahwa Calvin melindungi Nadhira dan pastinya akan membuat hari-hari Nadhira dikampus tidak tenang dengan hujatan para fans Calvin.


Calvin mengangkat sebelah alisnya. "Siapa dia?" Batin Calvin seraya menatap bingung seseorang yang menahannya ini, tapi setelah mendengar suara orang tersebut, seketika itu juga dia ingat dengan kengerian aura orang di dekatnya ini.


Kembali kepada Nadhira.


"******? Aku sih tidak merasa ******, tapi ku rasa orang yang meneriakkan ****** lah yang ******! Ucap Nadhira dini tenang tapi mampu membuat Marsya dan kedua dayangnya naik pitam.


"Kau menyebut kami ******?!" Tanya Marsya ngegas.


Nadhira terkekeh dan tersenyum remeh. "Kamu merasa atau ngaku?" Tanya Nadhira dengan senyum remehnya.


"Sialan kau!" Marsya yang sudah sangat terpancing emosinya hendak menampar Nadhira, akan tetapi dengan cepat Nadhira menghindar. Seketika semua orang diam menyaksikan kejadian kesekian kalinya yang tokoh utamanya Nadhira.


"Ah maaf gak kena," ujar Nadhira dengan tampang sok sedih yang membuat Marsya dan kedua dayangnya semakin emosi dan tatapan kagum dari para penonton.


"****** sialan!" Wajah Marsya dan kedua dayangnya sudah memerah marag dan hendak menjambak rambut Nadhira tapi malah menarik ikat rambut Nadhira, membuat rambutnya tergerai dan di tiup angin dengan indahnya.


Semua murid bersorak heboh melihatnya, karena kegesitan dan juga kecantikan Nadhira yang semakin bertambah dimata semua orang.


Banyak yang mendukung dan banyak juga yang menyindir. Banyak pula tatapan memuja dari kaum adam membuat dua pria terdekatnya satu cemburu satunya marah karena tatapan mesum dari para bajingan


Nadhira yang sudah sangat muak dengan tingkah Marsya serta kedua dayangnya, apalagi tatapan orang-orang membuatnya tak nyaman, Nadhira pun menjambak rambut Marsya dan Tary kemudian Nadhira membenturkan kepala mereka berdua yang membuat banyak orang berteriak histeris karena hal tersebut.


"Arghh," teriak Marsya dan Tary karena merasakan sakit tak terkira dari jambakan Nadhira.


Apalagi benturan yang mereka duga hanya sedikit tenaga yang Nadhira gunakan, tapi rasa sakitnya Sam hal nya dengan menggunakan tenaga penuh.


Setelah puas membuat kepala Marsya dan Tary berdarah, Nadhira beralih menatap ke endang yang sedang menutup mulutnya dengan tangan karena syok dengan yang Nadhira lakukan. Dia tahu kalau Nadhira itu tak dapat diganggu, tapi apakah daya waktu tak bisa di ulang dan dia hanya bersiap-siap merasakan apa yang Marsya dan Tary sudah rasakan.


Nadhira mendekatinya dan menendang perut Endang yang membuat ia jatuh tersungkur kemudian mencengkram rahang nya dengan keras yang membuat ia meringis kesakitan.


"Sekali lagi kalian nyari masalah, Ku pastikan kalian bukan hanya masuk rumah sakit, akan tetapi kalian akan bertemu dengan malaikat dalam kubur!" Ucap Nadhira sambil menyeringai.


Endang yang sudah gemetar ketakutan mengangguk dengan cepat. Nadhira tersenyum puas dan melepaskan cengkramannya.


"Bagus!" Ucap Nadhira sambil menepuk pipi Endang. Kemudian dia menegakkan badannya dan melenggang pergi ke arah dua pria.


"Kau sudah selesai?" Tanya Nadhira kepada Calvin dan melirik pria di sebelah Calvin.


"Ngapain disini?" Tanya Nadhira, dia tahu pria bermasker itu adalah Ganendra.


"Sudah!" Jawab Calvin.


"Menjemputmu!" Jawab Ganendra.


"Hm, maaf tapi aku sudah ada janji dengan Calvin untuk pergi," ucap Nadhira.


Calvin sudah panas dingin dengan aura yang di keluarkan Ganendra yang mengisyaratkan untuk Calvin perginya lain kali.


Ganendra masih tersenyum menatap Nadhira tapi menurut Calvin itu senyum ancaman untuknya.


"Oh Nad, kita pergi lain kali saja ya, toh masih ada beberapa hari lagi, bisalah besok saja, dan lagipula aku lupa ada yang harus aku kerjakan segera!" Ucap Calvin dengan tersenyum paksa dan sebenarnya Nadhira paham, tapi biarlah begini, pikirnya.


"Baiklah! Bagaimana kalau besok?" Ucap Nadhira.


"Oke, besok saja, kebetulan besok juga aku tidak ada kelas," Calvin.


"Ok! Kalau begitu aku pergi dulu," Nadhira.


"Ya hati-hati!" Calvin.


Nadhira mengangguk dan berlalu pergi kemudian diikuti oleh Ganendra, tapi sebelum itu Ganendra sempat kan menepuk lumayan keras bahu Calvin.


Di dalam mobil dengan suasana sepi, tak ada yang memulai pembicaraan karena mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.


...•••...


Hari Jumat, kebetulan tanggal merah, jadi Nadhira bisa menginap dan berkumpul di apartmen keluarganya cukup lama.


Dan saat ini Nadhira sedang rebahan di kasurnya.


...Ting...


Sebuah pesan masuk ke ponsel Nadhira.


Isi pesan:


'Sekarang kau ada di mana?' Tanya Ganendra.


Read


^^^'Di apartment,' jawab Nadhira, dan Ganendra tahu maksudnya di mension mana.^^^


^^^Read^^^


'Oh. Lalu pada malam Minggu apakah ada rencana keluar?' Ganendra.


Read


^^^'Tidak ada! Kenapa?' Nadhira.^^^


^^^Read^^^


'Tidak ada! Hanya saja bisakah malam Minggu itu kau tetap di apartment? Maksudku kau tahu pasti ada hal yang tak terduga membuatmu keluar apartmen, jadi bisakah kau tetap di sana, meskipun ada suatu hal yang mengharuskan kau keluar?' Ganendra.


Read


^^^'Um, baiklah!'^^^


^^^Read^^^


Sebenarnya Nadhira merasa aneh dengan permintaan Ganendra, tapi dia tidak dapat menebak maksud Ganendra apa, jadi dia iya iya saja.


"Apa maksudnya ya? Entahlah! Nanti juga tahu,"


Nadhira pun kembali merebahkan tubunnya Setelah sebelum nya di bersandar di kepala kasur dan memasuki alam mimpi.


...•••...


Hari Sabtu. Semua orang terlihat sibuk, tapi Nadhira tidak tahu karena apa.


"Sin, ini ada acara apa? Kok pada sibuk?" Tanya Nadhira kepada Sinta.


"Emmm, entahlah kak! Aku juga tidak tahu! Nanti juga tahu saat acara berlangsung!" Ucap Sinta.


Dia bukannya tidak tahu, akan tetapi memang semua penghuni apartmen tidak diperbolehkan memberitahukan acara apa apa yang akan berlangsung kepada Nadhira, jadi hanya Nadhira yang tidak tahu.


"Sudah ya kak, aku juga ingin bantu yang lain,"ucap Sinta.


"Oh baiklah! Silahkan!" Nadhira jadi penasaran, dan untuk menghilangkan rasa penasarannya dia bertanya kepada semua orang, akan tetapi tidak ada yang mau memberitahunya jadi dia kesal sendiri dan memilih masuk ke kamar.


...•••...


Malam hari tiba, dan seorang gadis masih asik bergelut dengan selimutnya, dan tidurnya terusik saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.


Tok


Tok


Tok


"Ra, kau masih tidur? Ayo bangun!" Nadhira kenal suara itu. Itu suara Puspa, ibunya.


"Hmm, ya bu, ini Ira bangun kok! Ada apa?" Nadhira turun dari kasurnya dan berjalan kearah pintu dan membukanya.


"Ya bu, ada apa?" Tanya Nadhira setelah berhadapan dengan Puspa.


"Turun gih, kita makan malam sama-sama dan jangan lupa pakai pakaian yang rapi ya, jangan seperti itu!" Ucap Puspa.


"Hmm? Memangnya kenapa? Biasanya juga begini bu! Oh ya memangnya ada acara apaan sih bu, dari siang tadi sibuk?" Nadhira.


"Turun saja dulu, nanti juga kamu tahu. Oh jangan lupa berpakaian yang sopan ya! Ibu kebawah dulu," Puspa pun pergi meninggalkan Nadhira yang masih penasaran.


¤


¤


¤


Semoga Suka...