Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Pria Misterius


Selamat Membaca...


•••••


Di sisi lain, Nadhira merasa sangat kesal dan marah, merasa Yunita telah benar-benar telah melewati batas toleransinya. Dia sudah berpikir untuk melepaskan Yunita, tapi mungkin dia memang terlalu percaya diri bahwa tidak ada yang akan berani melawannya karena pengaruh keluarga nya, akan tetapi bukan Nadhira di kehidupan dulu kalau dia tidak membalas semua perbuatan orang yang telah mengganggunya.


"Ingin melakukan itu? Hanya dalam mimpi kalian bodoh!" Nadhira menjadi kesal, dia langsung menendang penjahat yang berada paling depan di titik yang paling mudah dia capai.


Pria itu tidak akan menyangka kalau Nadhira akan menyerangnya tiba-tiba, dan bahkan bergerak secepat itu. Sebelum pria itu bisa menghindar, dia langsung di pukuli sampai terjungkal kebelakang.


Argh!!!


Jeritan terdengar keras di sore menjelang malam yang dingin, terasa benar-benar mencekam dan menakutkan. Pria yang terkena pukulan telak itu langsung bangun tapi hanya pada berlutut di tanah dengan sangat kesakitan, dia menutup tempat vitalnya dengan kedua tangan, butir-butir keringat keluar dari dahinya.


Dua pria lain terkejut dan merasa ketakutan, dan bahkan mereka ingin melarikan diri. Tapi mereka berusaha tenang dan menganggap Nadhira hanya beruntung dan dia masihlah hanya seorang gadis kecil.


Kemudian keduanya maju menghadang Nadhira dari kanan dan kiri, mencoba menangkap Nadhira menggunakan lengan besar mereka, akan tetapi tak mereka sangka Nadhira melemparkan tasnya ke wajah pria pertama dan berputar lagi ke pria kedua dengan kekuatan penuhnya. Mereka berdua terjungkal kebelakang secara bergantian dan salah satu dari mereka menabrak pinggir mobil yang mereka kendarai sebelumnya.


Tanpa menunggu mereka bangkit, Nadhira mengangkat kakinya kemudian menendang pria pertama itu sesaat dia akan bangun. Dan kembali melemparkan tasnya ke pria satunya lagi membuat pria itu menangkap tas Nadhira dan karena kejadian itu tiba-tiba, lagi-lagi dia terjungkal ke belakang.


Pada saat yang sama, pria pertama mengambil balok kayu yang berada di sekitaran. Dia berlari ke arah Nadhira, mengarahkan balok kayu itu ke arah Nadhira. Melihat itu Nadhira langsung mundur dengan langkah besar kebelakang.


Tapi sebelum Nadhira melawan kembali se kelibat bayangan hitam keluar dari gang yang gelap. Dia dengan cepat memukul ketiga pria itu tanpa jeda hingga ketiga pria penjahat itu tak sadarkan diri.


Kejadian semua itu terjadi terlalu cepat, meskipun Nadhira telah melihat semua itu dengan jelas, dia masih terkejut dan tidak tahu bagaimana pria itu melakukan semua itu.


Seketika hidung Nadhira mencium bau amis darah, dan dia mengerutkan keningnya.


Apakah pria itu sedang terluka? Nadhira tidak yakin akan itu, karena pria itu menggunakan pakaian serba hitam dan tidak terlihat adanya luka pada tubuhnya.


Saat pria itu berjalan ke depan tepat di bawah cahaya lampu, Nadhira terkagum-kagum dengan keelokan rupa pria itu. Pria ini mungkin merupakan pria yang paling tampan yang pernah di temui oleh Nadhira baik di kehidupan sebelumnya atau pun sekarang.


Tingginya kurang lebih 180 cm dan berusia sekitar 20 tahun, wajahnya tampak cantik dan lembut, hanya saja kulitnya tampak sedikit pucat.


Mungkin benar pria itu sedang terluka dan dia sudah kehilangan banyak darah karena luka-lukanya, jadi dia tampak sangat pucat sekarang.


Meskipun laki-laki itu sudah terluka, dia masih saja terlihat sangat berbahaya bagi Nadhira, terutama matanya yang hitam pekat, bahkan Nadhira yang memang pada dasar jiwanya adalah seorang pembunuh akan tetapi dirinya sendiri masih saja terasa terancam ketika melihat mata pria berpakaian hitam itu.


Pria itu terlihat sangat kuat. "Apakah kau bisa mengemudi?" Tiba-tiba pria itu bertanya dengan dingin akan tetapi masih memiliki kesan yang sopan.


"Ya aku bisa," jawab Nadhira.


"Ok, Baiklah!" Tanpa menunggu lebih lama Nadhira masuk ke mobil Van hitam itu dan mengemudikannya setelah pria asing itu telah duduk dengan nyaman di kursi penumpang.


Pria itu sedikit terkejut karena melihat gadis itu tidak terlihat ragu sama sekali, apakah dia tidak takut kalau dirinya adalah penjahat? Dan apakah dia tahu kalau isi dari kantung hitam itu adalah batu giok? Dia rasa tidak! Mana mungkin dia tahu kalau belum membukanya.


Bagaimana pun dia juga tidak berniat jahat kepada gadis remaja itu dan tak memikirkan lebih jauh lagi mengenai sikap santai gadis itu. Sedangkan untuk batu giok itu dia tidak mempermasalahkannya, toh dia tidak membutuhkannya, karena sekarang yang terpenting adalah mengobati luka-lukannya.


"Emmm, apakah kau baik-baik saja? Mau ku bantu mengobati lukamu?" Tawar Nadhira, bukan dia sok baik, tapi karena ini bentuk kesopanan dan basa-basinya agar tidak dianggap sombong oleh pria itu.


Pria itu tidak menjawab, mungkin karena dia tidak ingin dibantu jadi dia hanya diam.


Setelah beberapa saat kemudian Nadhira baru menyadari bahwa dia telah membuat keputusan yang salah, dia mengendarai mobil penjahat yang bisa di sebut mencurinya.


Jika mereka melaporkannya karena mencuri mobil, bagaimana nasibnya nanti? Dan parahnya lagi ada kamera cctv di sekitar jalan itu, jadi dia merasa tidak akan bisa menyangkalnya nanti.


Memikirkan hal itu, Nadhira langsung menginjak rem, pria yang duduk di kursi belakang langsung terhempas ke depan. "Ada apa denganmu?" Pria itu bertanya dengan kesal, akan tetapi suaranya terdengar lemah dari sebelumnya.


"Kita telah membawa mobil orang lain tanpa permisi, bagaimana jika aku di tuntut karena mencuri nanti? Ada kamera cctv di jalan itu, aku merasa tidak akan bisa menyangkalnya nanti." Nadhira tentunya merasa khawatir dan tidak ingin di tangkap dan di bawa ke kantor polisi.


"Tenang, kau tidak akan terlibat dalam masalah apa pun," ucap pria itu dengan tenang, membuat Nadhira sedikit lega.


Tak lama kemudian ponsel Nadhira berdering. Tanpa melihat nama si penelepon, Nadhira tahu siapa yang menelpon itu. Itu pasti Ibunya, Puspa.


Nadhira segera menjawab panggilan itu, sebelum dia bisa mengatakan sepatah kata pun, suara cemas dari Puspa langsung terdengar, "Ira,di mana kamu sekarang? Kenapa kamu belum pulang?" Biasanya Nadhira selalu pulang 20 menit lebih awal, tapi hari ini karena kejadian yang tak terduga membuatnya terlambat pulang dan ibunya lebih duluan sampai rumah.


Nadhira langsung menjelaskan. "Bu, dengarkan penjelasan Ira dulu ya, teman sekelas ku pergelangan kakinya terkilir, jadi aku mengantarkan dia pulang ke rumahnya, tolong jangan khawatir bu, aku akan segera pulang ke rumah setelah aku mengantarkannya ke rumahnya,"


Mendengar itu Puspa merasa lega, dia selalu mempercayai puteri nya. "Baiklah kalau begitu, kau harus berhati-hati, ok!" Ucap Puspa.


"Baik Bu, aku akan sangat berhati-hati, sampai jumpa di rumah bu!" Ucap Nadhira dan setelah hubungan telepon terputus Nadhira menghela nafas panjang.


¤


¤


¤


Semoga Suka...