
Selamat Membaca...
•••
Malvin pun tersadar dengan apa yang di perbuatnya ini salah. Malvin merenungi kesalahannya, mungkin setelah di pukul kuat oleh Ganendra akal sehat nya kembali ditambah raut wajah sedih istrinya membuatnya sadar.
"Maafkan aku, maafkan aku," gumam Malvin dengan tatapan kosong serta cucuran air tak henti-hentinya.
Ganendra melangkah mendekati pintu coklat itu, tapi berhenti setelah mendengar suara yang di rindukannya.
"Nendra," dia Nadhira. Dia telah berhasil menemukan pintu utama setelah beberapa kali nyungsep ke semak-semak.
Ganendra berbalik dan mendapati sosok yang jadi fokus utamanya. Dengan langkah lebar Ganendra mendatangi dimana Nadhira berdiri tegak.
Tanpa di duga Nadhira berlari kencang ke arah Ganendra membuat Ganendra khawatir, dia berulang kali meminta Nadhira berhenti berlari, tapi seperti ada hal yang di cemaskan Nadhira membuat Ganendra ikut cemas dan dia ikut berlari ke arah Nadhira.
Beralih kepada Nadhira terus berlari sekuat tenaga dengan membawa beban berat di perutnya.
Hap...
Ganendra menyambut Nadhira yang sedikit melompat saat sudah dekat dengan nya membuat mereka sedikit berputar dan...
Dor
Suara tembakan terdengar...
Itu berasal dari belakang Ganendra sebelumnya dan yang sekarang di belakang Nadhira.
Ganendra menatap syok ke arah satu orang dengan posisi telah menembak
Dor
Suara tembakan terdengar lagi, dan mengenai penembak sebelumnya membuat nya menjatuhkan senjatanya.
Dan berlanjut tembakan-tembakan setelahnya yang mengarah ke atas. Puluhan pasukan bersenjata memasuki rumah dan mengelilingi ruang tengah membuat musuh yang masih memegang pistol menjatuhkan senjata mereka.
"Uhuk...," Nadhira terbatuk, darah?
"S-sayang?!" Panggil terbata Ganendra setelah menahan tubuh Nadhira yang hampir jatuh dan mendapati punggung Nadhira berdarah dan dia menyadari kalau tembakan pertama seharusnya mengenai dirinya, tapi... Kenapa...kenapa Nadhira harus menggantikan dirinya.
"Ha...ha... Jangan... M-menangis...K-kau terlihat lebay," masih saja Nadhira sempat bercanda dalam keadaan sekarat.
"Diamlah! Kau harus bertahan, kita ke rumah sakit!" Ganendra langsung menggendong Nadhira dan mengabaikan Giandra dan Andara yang sibuk mengurusi para musuh.
Perlahan mata Nadhira tertutup, dia tidak sanggup menahan sakitnya, selain ada rasa ketakutan kalau terjadi sesuatu kepada kandungannya, dirinya juga lemah, karena dari awal di bawa dia tidak diberi minum apalagi makan.
"J-jangan tutup matamu, kumohon hiks," gumam Ganendra menatap Nadhira yang di gendongannya sambil berlari ke arah sebuah mobil yang memang khusus bisa dikendari di dalam hutan karena ukurannya yang kecil. Mungkin memang sudah di persiapkan oleh pasukan yang di bawa oleh Giandra dan Andara.
Dengan pelan Ganendra meletakkan Nadhira ke kursi sampingnya, memasangkan sabuk pengaman dan langsung saja tancap gas.
...•••...
Satu jam kemudian Ganendra tiba di rumah sakit terdekat. Suaranya menggelegar memanggil perawat yang tentu di selingi umpatan.
Didalam gendongannya Nadhira terbangun dari tidurnya karena suara nyaring dari Ganendra dan menatap sayu Ganendra, menyaksikan bagaimana ekspresi khawatir itu tergambar jelas di wajah suaminya.
Para perawat berbondong-bondong menghampiri Ganendra yang sudah marah-marah.
"Sangat lambat, kemana saja kalian!? Apabila sesuatu terjadi pada istri dan anakku maka akan ku pastikan rumah sakit ini hancur!" Ucapnya seraya menaruh pelan Nadhira di atas brankar yang di bawa oleh perawat.
Orang-orang yang sedari tadi memperhatikan, merinding sendiri mendengar perkataan Ganendra apalagi aura yang di keluarkan Ganendra tak main-main, sungguh sangat menekan.
Ganendra duduk di bangku tunggu di luar ruangan UGD, membungkam mulut nya untuk waktu yang lama.
Ganendra menatap kosong kedepan, jika saja ia waspada dan peka terhadap maksud Nadhira, mungkin saat ini Nadhira dan anaknya tidak akan berada disituasi sulit seperti ini.
Pintu UGD terbuka mengalihkan atensi Ganendra yang sedari tadi di rundung kecemasan.
Ganendra berdiri menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Bagaimana keadaan istri saya?" Tanyanya dengan cemas.
"Suaminya?" Tanya dokter. Ganendra mengangguk.
"Ya!" Dokter ini membuatnya kesal, dia kan sudah mengatakan kalau perempuan yang di rawat di dalam istrinya. Tapi kekesalannya dia kesampingkan, karena yang terpenting sekarang bagaimana keadaan Nadhira.
"Tuan, istri anda saat ini dalam kondisi sangat mengkhawatirkan!" Ucap dokter yang sudah berkeringat dingin menghadapi tekanan dari Ganendra. Siapa yang tidak tahu Ganendra, dia juga tahu berapa berpengaruhnya pria di depannya ini di dunia.
"Apa maksudmu?! Jangan bilang kau tidak mampu menolongnya?! Begitu?!" ucap Ganendra memotong ucapan dokter sambil mencekram erat kerah jaz putih sang dokter.
Pria paruh baya itu berusaha tenang walau berbanding dengan jantungnya yang sudah tak karuan serta keringat yang tak henti-hentinya mengalir membasahi pelipis serta wajahnya.
"Kalau begitu persiapkan keperluan untuk memindahkan istriku ke rumah sakit terbaik!" Perintah Ganendra.
Tapi dokter mencegahnya. "Jangan tuan, itu akan membahayakan pasien jika berpindah, karena kondisinya sangat kritis sekarang! Istri anda mengalami luka tembak, yang mana pelurunya sekarang tertanam di tengah punggung dan jika tidak cepat di operasi akan membahayakan ketiganya. Operasi ini pun kami para pihak dokter tidak bisa menjamin berhasil seratus persen dan yang paling mungkin kami hanya bisa menyelamatkan antara mereka dan itupun tergantung saat operasi, siapa yang akan dapat di selamatkan itu tergantung bagaimana kondisi pasien saat proses operasi berlangsung," jelas dokter panjang lebar.
Membuat Ganendra semakin kalut. Dan mau tak mau dia harus mengambil keputusan untuk nyawa ketiga orang yang di sayanginya.
"Lakukan yang terbaik dokter!" Putus Ganendra.
Membuat Nadhira melahirkan sebelum waktunya, menjelaskan bahwa kondisinya memang sangat kritis.
Dokter pun masuk dan lampu merah di atas pintu ruang UGD menandakan operasi sedang berlangsung.
"Bagaimana keadaan Ira?" Tanya Andara.
Tanpa menjawab Ganendra menatap pintu dan atas pintu dan itu sudah menjelaskan bahwa keadaan Nadhira sedang tidak baik-baik saja.
Mereka semua duduk di satu bangku panjang setelah sebelumnya sudah menghubungi kedua belah keluarga.
Entah sudah berapa lama mereka menunggu, dan sampai saat itu pintu ruangan dimana Nadhira sedang di operasi belum menunjukkan akan terbuka.
"Andara/Ganendra!" Panggil dua orang wanita paruh baya berbarengan menuju anak masing-masing.
Kedua orang yang namanya dipanggil menoleh. Di depan mereka masing-masing ada wanita yang telah melahirkan mereka, mengingat itu pandangan Ganendra kembali ke pintu ruang operasi, dimana di dalamnya ada istrinya yang berjuang hidup.
Pintu ruangan operasi Nadhira terbuka membuat semua orang memfokuskan ke arah sana.
Disana seorang dokter berdiri, namun ada yang lebih menyita perhatian mereka, yaitu tangisan bayi dan terdengar dua tangisan.
Ganendra terpaku, apakah barusan itu suara anak-anak nya? "Tuan Ganendra!" Mendengar panggilan itu, Ganendra berdiri dari posisi duduknya. Ditatapnya dokter ber name tag Cello dengan ekspresi yang sulit di artikan.
Cello tersenyum, namun yang Ganendra lihat senyum itu mengandung berbagai arti.
"Selamat anak anda kembar, laki-laki dan perempuan, tampan dan cantik," ujarnya membuat semua orang tersenyum merasa bahagia bagi yang mendengarnya.
"Sedangkan istri anda...," sang dokter menarik nafas membuat semua orang melunturkan senyuman mereka.
"Kondisi anda semakin memburuk," lanjutnya yang mana membuat yang lain bagai tersambar petir. Yang paling terpukul yaitu Ganendra yang hatinya berdenyut sakit.
Dengan cepat Ganendra menerjang dokter Cello dan masuk kedalam.
Brak...
Ganendra membanting pintu membuat suara nyaring dan mengakibatkan tangisan kedua bayi semakin nyaring, memperjelas Ganendra kalau suara tangisan itu memang anaknya.
Lelaki dengan tampilan berantakan itu menghampiri dua perawat yang menggendong kedua anak kembarnya.
Mengerti maksud Ganendra, salah satu perawat pun menyerahkan satu bayi laki-laki kepada Ganendra dan perlahan tangisannya mereda setelah sedangkan yang satu masih menangis.
"Taruh di tanganku yang satunya!" Perintah Ganendra. Perawat itu pun menurutinya menaruh bayi perempuan itu ke tangan kiri Ganendra dan bayi perempuan itupun berhenti menangis.
Tanpa bisa di cegah, mata Ganendra berkaca-kaca sampai meneteskan air matanya.
Pandangan Ganendra beralih menatap sosok perempuan yang sangat dicintainya, ibu dari anak-anaknya, belahan jiwanya, melangkah mantap mendekati brangkar dimana dia berbaring.
Menaruh kedua bayi mereka di samping Nadhira, dan dengan lembut mengelus wajah pucatnya yang saat ini matanya terpejam erat.
"Lihatlah Nadhira, anak perempuan kita sangat mirip denganmu, dan yang kali-laki mirip denganku!" Ucapnya sambil tersenyum kecut.
Senyum Ganendra terus terukir, meski tak mendapat sahutan, dia tetap mengajak Nadhira berbicara.
"Oh ya! Cepatlah sadar, kita harus memberi nama untuk kedua anak kita! Apakah kau tidak ingin menamai mereka?" Ucap Ganendra seraya menatap bergantian tiga orang paling berharga dihidupnya.
Saat semua orang menatap sedih Ganendra yang terus mengajak bicara Nadhira yang tak sadar dari balik kaca tiba-tiba tubuh Nadhira mengejang...
Para dokter dengan cepat bertindak memeriksa, sedangkan Ganendra mundur dengan membawa salah satu bayinya, sedangkan bayi yang satunya diambil alih oleh perawat.
Semua yang melihat menjadi was was.
Tiitttttttt.....
Alat pendeteksi jantung yang di pasangkan kepada Nadhira menunjukkan orang yang terhubung sudah pergi, alias sudah meninggal.
Luruh sudah pertahanan Ganendra. Menangis tanpa suara, itulah yang terjadi kepada Ganendra saat ini.
Pukul 08:45 pagi, Nadhira Maharani dinyatakan meninggal di rumah sakit Sentosa.
...•••...
Brangkar telah di siapkan untuk membawa jasad Nadhira menuju mobil yang telah di siapkan untuk membawa nya ke mension. Melewati lorong-lorong rumah sakit dengan diiringi oleh orang-orang yang mencintainya, mengasihinya dengan kesedihan mendalam.
Mereka sampai di depan mobil yang telah di siapkan dan bersiap untuk memasukkan jasadnya, akan tetapi.
"Hahhhh, hah...hah...hah,"
Semua orang menjerit terkejut, bahkan orang yang kebetulan lewat sampai lari.
"R-ra?" Puspa memastikan kalau penglihatannya ini tidak salah.
Perempuan itu menoleh, dia Nadhira yang tadinya sudah dinyatakan meninggal.
Ganendra? Dia berdiri mematung dengan cucuran air mata yang terus mengalir. Dia perlahan mendekat dan tepat berada di samping Nadhira dia langsung memeluknya.
"Terimakasih... Terimakasih karena tidak meninggalkanku dan kedua anak kita!" Ucap Ganendra sambil memeluk erat Nadhira, yang dibalas pelukan oleh Nadhira pula.
"Aku minta maaf karena sempat membuat kalian bersedih dan menunggu," ucap Nadhira membalas pelukan Ganendra tak kalah erat.
...TAMAT...
¤
¤
¤
Semoga Suka...