Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Berkenalan


Selamat Membaca...


•••


Dor


Satu bawahan Erik tumbang. "Mau yang mana?" Tanya Nadhira dengan seringaian dibalik penutup syal nya sambil menunjukkan pistol di tangan kanannya dan belati di tangan kirinya. Memang kebiasaan Nadhira membawa dua benda tersebut untuk keselamatan dirinya. Meskipun pistol illegal bagi gadis sepertinya, tapi bukan Nadhira jika mematuhinya. Dia saja berani ikut petarungan bebas. Kalau hanya menggunakan pistol apalagi susahnya.


"Tangkap dia!" Perintah Erik. Dia sungguh marah karena kecolongan karena menganggap gadis di depannya ini seperti gadis pada umumnya, tapi dia salah, gadis di depannya ini tidak bisa di remehkan. Kedua benda berbahaya itu saja ada padanya.


Untungnya semua bawahan Erik tidak membawa senjata api seperti Nadhira, kalau iya, bakalan repot.


Dor


Arkgh


Sreettt


Arkgh


Tembakan, sayatan yang dibuat oleh Nadhira terus berulang sampai bawahan Erik hanya tinggal setengah dan darah mereka terciprat ke wajah Nadhira yang tak tertutupi. Untuk baju yang dia gunakan juga sudah terkena darah.


Bawahan Erik mundur, mereka tak mengira dapat dikalahkan oleh seorang gadis kecil yang kalau diperhatikan melawan salah satu dari mereka saja tidak mampu, tapi kalau mereka tak melihat langsung mereka pun tak akan percaya.


"Jangan maju! Kalau kau maju dan menembak lagi, kedua orang ini terutama bocah ini akan mati," ancam Erik.


"Bagaimana paman?" Tanya Nadhira kepada kedua pria datar yang berdiri di sampingnya


Belum dengar kedua pria datar itu menjawab.


Dor


Dor


Dor


Dor


Empat tembakan tepat mengenai lengan pria yang mengangkat anak laki-laki dan pria pingsan itu membuat keduanya terjatuh ke jalan dan Erik yang awalnya dekat dengan keduanya refleks mundur dan tanpa mereka sadari Nadhira sudah berada di dekat anak laki-laki dan pria pingsan tersebut.


'Kapan? Bagaimana?' batin mereka.


"Adik kecil tenang ya, ayah nya gak papa tuh disana," ucap Nadhira menenangkan si anak kecil yang di panggil Arlan oleh pria datar seraya menunjuk pria datar berdiri di dekat nya sebelumnya.


Arlan mengangguk lucu. 'Gemasnya' batin Nadhira, tapi sekarang bukan waktunya untuk itu, tapi sekarang waktunya untuk menghabisi penjahat yang sudah membuat menangis adek menggemaskan ini.


Salah satu bawahan Erik ingin bermain curang akan tetapi


Buagh


Tendangan tepat mengenai pinggang dari bawahan Erik yang ingin menyerang Nadhira dari belakang, yang mana dia ingin menusuk belakang Nadhira dengan pisau.


"Ingin main curang? Jangan harap bisa!" Ucap Pria datar.


"Emm?" Nadhira berbalik dan pura-pura tak mengetahuinya, padahal mah dia tahu akan tetapi dia membiarkannya karena dia yakin kalau salah satu dari pria datar itu akan menolongnya.


"Jangan lengah!" Perintahnya.


Nadhira hanya membulatkan jari-jarinya mengatakan 'OK'


Nadhira menyerahkan Arlan ke ayahnya dan di sambut langsung oleh ayahnya.


"Om temanin Arlan saja ya, biar saya dan om datar satu itu yang menghabisi mereka," ucap Nadhira.


Tanpa menunggu jawaban Nadhira langsung berlari ke segerombolan bawahan Erik. Nadhira ingin cepat menyelesaikan nya, dia lelah secara mental dan juga fisik. Lelah mental karena ingatan tentang percakapan Jesica dan Aldo masih terngiang di kepalanya. Sedangkan lelah fisik, akibat terlalu lama di luar rumah, yah meski itu hanya dalih, yang mana sebenarnya dia ingin rebahan.


Dor


Dor


"Eh dah habis pelurunya?" Gumam Nadhira. Tak peduli dia memasukkan pistolnya kedalam tas dan melawan mereka hanya mengandalkan belatinya.


Srett


Srett


Pria datar juga tak tinggal diam. Dia melawan dengan tangan kosong.


Mengapa tidak ada senjata apapun yang mereka bawa? Entahlah, mungkin mereka sangat percaya diri bisa menang tanpa adanya persiapan apa pun.


Sekitar 15 menit akhirnya semuanya dapat di lumpuhkan termasuk Erik yang sudah tak sadarkan diri begitu juga para bawahannya.


"Selesai!" Gumam Nadhira sambil menepuk tangannya, berniat menghilangkan kotoran yang menempel di kedua telapak tangannya.


Nadhira hendak pergi, tapi berhenti saat suara imut memanggilnya?


"Kakak cantik!?" Dia adalah Arlan, bocah menggemaskan menurut Nadhira.


Nadhira berpaling dan berjalan mendekati Arlan. "Hmm ya ada apa adik manis?" Tanya Nadhira sesaat setelah sampai di hadapan Arlan.


"Kakak mau kemana? Arlan belum berterimakasih dan tahu nama kakak! Jadi terimakasih sudah membantu kami dan nama kakak siapa?" Tanyanya.


Wahh dia sudah tidak cadel lagi? Batin Nadhira gemas.


"Maaf ya, kakak tadi mau pulang. Kakak kira Arlan juga akan pulang? Dan nama kakak itu, Nadhira. Arlan bisa panggil kakak, kak Ira," ucap Nadhira.


"Emm kak Ira boleh Arlan lihat wajah kakak?" Tanyanya malu-malu. Dia masih berada digendongan ayahnya.


"Ekhem, maafkan anak saya. Kalau kau tidak ingin jangan lakukan," deheman membuat pikiran Nadhira teralihkan.


"Oh tak masalah, tapi jangan disini. Bukannya apa, akan tetapi saya ingin tenang. Kalian sendiri tahu kalau salah satu dari mereka melihat wajahku maka aku akan jadi incaran balas dendam mereka dan hidup saya tidak akan tenang. Kalian paham kan maksud saya?" Mereka mengangguk.


Oh ya pria yang tadinya pingsan sekarang sudah bangun. Dia terlihat lebih muda dari pada kedua pria datar.


"Kami paham! Kalau begitu apakah nona mau ikut dengan kami? Oh bukan kami bermaksud macam-macam, tapi untuk menghindari orang lain melihat wajah anda, lebih baik kita pergi dari sini, karena kemungkinan besar mereka akan segera sadar," ucap pria datar yang bertarung bersama Nadhira tadi.


"Baiklah!" Setuju Nadhira. Toh Nadhira merasa tak ada niat jahat dari mereka. Kalaupun ada, dia akan kabur meskipun dilihat akan sulit karena kalau diingat mereka ahli dalam bela diri.


...•••...


Bangunan mewah, megah, luar biasa, tak dapat lagi Nadhira deskripsikan bagaimana sempurnanya tempat yang sekarang dia tapaki.


Tak pernah dia lihat baik di kehidupan dulu mampun sekarang, eh sekarang sudah, karena sekaranglah dia berdiri di tempat itu.


"Tutuplah mulutmu nona! Saya tidak akan bertanggung jawab jika lalat memasukinya," ucap pria di samping Nadhira seraya terkekeh. Dia adalah pria yang pingsan.


'Ah malunya!' Batin Nadhira, meruntuki keudikannya.


"Ah ya!" Sahut Nadhira, bersiap sesantai mungkin.


"Masuk!" Perintah ayah nya Arlan.


Mereka semua masuk setelah sebelumnya terdiam sejenak di depan mension bak istana karena keterbengongan Nadhira.


Para pelayan dan bodyguard berbaris membentuk barusan di masing-masing kanan dan kiri. Mereka menyambut tuan rumah, pemilik mension? Mungkin.


"Langsung saja, saya berterimakasih kepada nona yang membantu kami tadi. Jadi adakah permintaan bakalan? Oh sebelum itu perkenalkan nama saya Ganendra, ayahnya Arlan. Perkenalkan diri kalian!" Ucapnya memperkenalka dirinya Setelah nya memerintah yang lain.


"Nama saya Giandra, paman Arlan sekaligus adik dari abang Ganendra," ucap pria yang tadinya pingsan.


"Nama saya Kevin, asisten tuan Ganendra," ucap pria yang datang bersama Ganendra, ayahnya Arlan saat aksi penyelamatan.


"Sekarang giliranmu memperkenalkan dirimu. Oh iya namamu Nadhira bukan, tadi aku sudah memperkenalkan diri. Dan sekarang kalau bisa bukalah penutup wajahmu itu," pinta Giandra.


Tanpa menjawab Nadhira langsung membuka penutup wajahnya. Semua pasang mata tak berkedip menantikan rupa gadis yang dengan gagah beraninya menolong orang yang tidak dikenal tanpa rasa takut.


¤


¤


¤


Semoga Suka...