
Selamat Membaca...
•••••
Sesampainya di tempat tujuan, Nadhira memasuki gedung cafe yang sedang di renovasi oleh beberapa orang. Dan ternyata di sana ada Andara dan Glen.
"Kak? Kakak di sini?" Tanya Nadhira. Di tidak tahu kalau kakaknya juga akan ke sini. Dia tidak memberitahu Andara untuk datang karena setelah ini dia akan pergi ke tempat lain.
"Oh Ira, iya aku datang ke sini karena kabarnya renovasi akan segera selesai dan aku datang. Awalnya ingin mengajakmu, tapi ku urungkan. Ku pikir kau lagi bersantai di rumah," ucap Andara.
"Hei yo, Nadhira...senang bertemu denganmu!" Sapa Glen.
"Ya, senang bertemu denganmu juga!" jawab Nadhira menghadap Glen. "Oh iya, sebenarnya aku juga datang kesini karena ada tempat yang akan ku tuju, dan kebetulan lewat sini, jadi sekalian saja," ucap Nadhira beralasan. Padahal memang niat nya ke sini untuk mengecek proses renovasi, tapi dia tidak mengatakannya, nanti di tanyain macam-macam.
"Oh memang nya mau kemana?" Tanya Andara.
"Rumah teman! Kebetulan rumahnya agak jauh dari sekolah. Aku ke rumahnya karena ada kerja kelompok yang harus di kerjakan di rumahnya," sangat lancar kebohongan yang dilontarkan Nadhira.
Sebenarnya dia akan pergi ke pasar barang antik dan tempat lainnya untuk menghasilkan uang secara cepat dan tidak mungkin kan memberitahukan kepada Andara.
"Oh, kalau begitu hati-hati ya!" Ucap Andara.
"Ya! Dah..., aku pergi!" Ucap Nadhira.
Memang Nadhira telah melimpahkan semua tanggung jawab kepada Andara untuk mengurus semua keperluan di cafe dan terutama proses renovasi. Nadhira datang hanya untuk melihat apakah ada yang tidak beres atau tidak. Kalau ada dia harus mengurusnya tanpa sepengetahuan Andara.
Mengapa? Karena dia tidak ingin berlarut-larut. Satu masalah jika di biarkan maka akan semakin menjadi, dia tidak ingin itu terjadi, karena akan membuat repot kedepannya.
Nadhira menaiki taxi agar lebih cepat sampai di pasar barang antik. Mobil taxi berhenti di depan gang jalan menuju pasar barang antik.
Dia berjalan menuju pasar dan sesampai nya di tempat keramaian pasar dia pun memasuki toko-toko barang antik, tapi sekarang tidak di toko-toko yang sudah pernah dia masuki. Dia langsung pergi ke toko barang antik ter besar di di pasar itu.
Nadhira memasuki toko tersebut dan sudah di suguhkan beberapa barang antik asli, tapi di letakkan di perkumpulan barang antik palsu, mungkin. Karena barang antik tersebut di letakkan tercampur dengan barang antik palsu lainnya. Sedangkan yang memang di pastikan barang antik asli di letakkan di dalam lemari kaca.
Nadhira berpura-pura melihat-lihat kumpulan barang antik itu agak lama, agar tidak di curigai bahwa dia tahu bahwa itu barang antik asli.
Dua buah! Jumlah barang antik asli yang Nadhira lihat ada dua. Pertama mangkuk keramik, mangkuk keramik yang amat kusam karena terdapat sedikit retakan pada pinggiran nya, memiliki corak bungan pohon sakura.
Kedua piringan keramik yang memiliki motif pemandangan, ada sedikit goresan pada tengah piring.
"Berapa harga piringan dan mangkuk keramik ini paman?" Tanya Nadhira nampak menilai antara berminat dan tidak.
Paman penjual itu menatap Nadhira dari atas hingga bawah menilai sosok gadis remaja di depannya itu. Kemungkinan dia menganggap Nadhira hanya gadis kecil yang ingin membeli barang sembarangan, karena di matanya terlihat seperti hanya bertanya saja.
"Kau serius ingin membeli itu, gadis kecil?" Bukannya menjawab penjual itu malah menanyakan keseriusan Nadhira membeli? Apa yang di pikirkan penjual itu, pikir Nadhira.
Tapi untuk meyakinkan dia tertarik dan tidak nya Nadhira nampak berpikir. "Umm, tergantung harganya paman. Kalau mahal aku juga tidak punya uang untuk membelinya," ucap Nadhira sambil menaruh jari telunjuknya di dagunya.
"Hanya dua ratus ribu!" Jawab Nadhira berbohong, tapi tidak sepenuhnya bohong, karena hanya segitu yang berada di tangannya. Dia tidak menarik uang di tabungannya.
"Baiklah, aku jual satu nya lima puluh ribu, dan kalau keduanya seratus ribu, bagaimana?" Tawar paman penjual.
Nadhira nampak menimbang-nimbang dan kemudian mengangguk. "Baiklah! Aku ambil keduanya," ucap Nadhira kemudian.
Menurut paman penjual Nadhira hanya bersenang-senang dengan membeli barang-barang secara sembarangan, dia tidak tahu kalau itu memang cara Nadhira membeli sesuatu yang akan bernilai ratusan juta bahkan milyaran. Jika paman penjual itu tahu dapat di pastikan dia akan menangis.
Paman penjual membungkus kan barang yang di beli Nadhira kemudian Nadhira membayarnya.
Tersisa seratus ribu rupiah di tangan. Nadhira memilih menuju tempat penilaian barang antik. Dia tidak perlu membersihkannya seperti yang gelang sebelumnya. Dia hanya perlu membawa nya langsung ke tempat penilaian karena barang antik tersebut tidak kotor akan tetapi hanya sedikit terdapat retakan dan goresan di masing-masing barang antik.
Saat Nadhira mengantri dia membuka piringan keramik yang dia bawa dan menilainya sendiri dengan mata ajaibnya. Lama memandang.... Tiba-tiba sebuah kabut putih menyelimuti piringan tersebut sampai tertelan penuh tak terlihat sampai setelah terlihat kembali piringan itu menjadi sangat cantik dan bersih, tak ada goresan lagi di tengahnya.
Nadhira tersadar dan melihat sekeliling, untungnya tidak ada yang menyadari perubahan dari piringan keramik tersebut. Dan dapat di tebak bahwa tidak ada yang melihat kabut putih itu, hanya Nadhira yang melihatnya.
"Fyuh, untung saja," lega Nadhira sambil mengusap dadanya. Dia keluar dari barisan antrian dan mencari tempat sepi.
Sesampainya di tempat sepi dia mengeluarkan piringan keramik tadi dan melihatnya kembali. Sungguh seperti baru. Merasa ada yang aneh dia kembali mengeluarkan mangkuk keramiknya yang terdapat retakan di pinggirannya.
Dia menatap, memfokuskan matanya ke arah mangkuk dan lagi kabut putih menyelimuti mangkuk itu hingga tak terlihat dan saat kabut putih hilang, lagi Nadhira terkejut. Mangkuk itu seperti baru dan semakin bersinar.
"Wah, mata ajaib ini bukan hanya untuk menilai keaslian dan tembus pandang, akan tetapi bisa memperbaiki barang antik yang rusak," gumam Nadhira kesenangan.
Setelah yakin dengan itu, Nadhira kembali menuju antrian untuk menilai barang antik yang dia bawa.
Mungkin rencananya hanya satu yang akan dia nilai, kalau satunya bisa mencapai seratus juta lebih.
Sekarang giliran Nadhira untuk menilai barang yang dia bawa. Dia membuka bungkusan piringan keramik yang sangat cantik.
Semua orang yang berada di sana tak bisa mengalihkan pandangannya ke arah piringan itu.
Bagaimana tidak, piringan itu putih bersih dengan corak pemandangan alam yang asri, elegan nampak baru, tapi tak menutupi ke misteriusannya.
"Aku ingin melelang ini!" Ucap Nadhira yang sangat yakin kalau barang antik yang dia bawa adalah asli.
Tapi pandangan orang melihat bahwa gadis kecil ini terlalu percaya diri kalau itu asli. Bisa saja itu barang tiruan kan! Tapi semua itu tak menurunkan ke antusias an orang-orang yang tertarik dengan piringan itu, baik itu asli maupun palsu. Pasalnya piringan itu sangat cantik dan indah di pandang.
¤
¤
¤
Semoga Suka...