
Selamat Membaca...
•••
Alvin mendengus kesal dan berkata. "Kau kira mudah! Ku aku dia lebih hebat! Memangnya dia siap bos?" Tanya Alvin penasaran. Dia kurang percaya kalau lawannya itu hanya gadis beranjak dewasa.
Tapi bukannya menjawab, Stiven malahan tersenyum, senyum yang sangat jarang dia tunjukkan sambil menatap layar laptop Alvin.
"Ketemu kau!" Batin Stiven.
Kembali kepada Nadhira yang masih berkutat dengan komputernya, memperbaiki sistem keamanannya dan mencari tahu siapa yang ingin mengetahui identitas dirinya.
"Lumayan! Tapi maaf kau tidak akan mendapatkan apa yang kau mau!" Gumam Nadhira menyeringai.
Jari-jari Nadhira terus menari-nari di atas keyboard nya dan satu pencetan di atas tombol enter semua kembali ke semula bahkan lebih ketat lagi keamanannya.
"Selesai," Nadhira meregangkan kedua tangannya ke atas dan beranjak dari sana menuju kamarnya mandi.
Setelah beberapa menit kemudian Nadhira selesai dengan mandi nya dan bersiap-siap ingin ke apartment ibunya. Dia ingin menginap di sana, dan kebetulan juga dia ingin mengadakan pesta kejutan untuk Sinta yang beruang tahun pada hari Senin.
Dia berencana ingin membuat kejutan untuknya dan mengajak yang lain untuk melakukan itu.
Nadhira telah selesai bersiap dan menuju ke bagasi rumahnya, mengambil motor sportnya.
Bruummm
Bruummm
Motor Nadhira pun keluar dari pekarangan rumahnya dan pergi dengan kecepatan normal.
Tak terlalu lama Nadhira pun sampai di depan gedung apartemen, kemudian Nadhira memarkirkan motornya dan memasuki gedung itu.
Nadhira memasukkan digit-digit angkat membentuk PIN untuk masuk ke apartment, dan kebetulan Puspa sedang melewati pintu.
"Ira? Masuk-masuk," ucap Puspa menyuruh Nadhira masuk.
Nadhira disambut dengan hangat oleh semuanya. Paman, bibi, Sinta dan Andara berada disana.
"Ah Ira! Bagaimana kuliah mu?" Tanya bibi Mayang.
"Lancar bi! Sedang apa nih kumpul?" Jawab Nadhira seraya bertanya.
"Tidak ada! Hanya kumpul biasa sambil nonton TV," jawab Paman Aryo.
Mereka pun berbincang-bincang dan makan siang bersama. Tak terasa malam pun tiba, mereka makan malam kemudian istirahat.
Jam menunjukkan pukul 5 pagi, Nadhira pun keluar dari kamarnya dan berolahraga pagi dengan lari.
Saat jam sudah menunjukkan angka 7, dia pun kembali ke apartment.
"Pagi!" Sapa Nadhira baru turun. Saat ini mereka sedang sarapan pagi, karena setelah ini mereka akan melakukan kegiatan masing-masing, tapi sebelum sarapan selesai, Nadhira meminta mereka untuk tidak beranjak dulu, kecuali Sinta yang boleh berangkat sekolah, karena takut telat kata Nadhira.
"Ada apa?" Tanya Puspa penasaran. Saat ini mereka sedang berada di ruang kumpul.
Mereka menatap Nadhira menunggu jawabannya.
"Begini! Besok kan ulang tahun Sinta," semua mengangguk. Mereka ingat dan tahu, tapi memang kebiasaan mereka, setiap ulang tahun tidak pernah dirinya rayakan, kalaupun iya hanya sekedarnya, dengan kue misalnya?
"Iya, lalu?" Andara tidak konek kali ini, biasanya dia langsung ngeh, tapi sekarang tidak, karena dia orangnya kurang peka kalau berhubungan beginian, dia peka dan cekatan kalau masalah belajar dan mengatur.
"Aduh, apa kalian tidak berniat membuat pesta kejutan gitu?" Kesal Nadhira.
"Hmm, boleh juga!" Sahut Puspa.
"Kan? Sinta tidak pernah minta macam-macam, dia selalu sederhana, jadi tidak ada salahnya kalau kita yang berinisiatif!" Ucap Nadhira.
Menurutnya, Sinta ini gadis yang terlalu sederhana, bahkan sekarang saja dia pergi sekolah masih naik bus.
Saat itu paman Aryo ingin membelikan motor matic, tapi "Lebih enak naik bus", katanya.
"Kau benar! Anak ini tidak menuntut dan terlalu penurut. Bibi juga kadang khawatir bagaimana kesehariannya di sekolah. Apakah sama seperti dulu? Dan pernah bibi bertanya padanya bagaimana sekolahnya, katanya baik-baik saja dan dia juga pinta banyak teman," ucap bibi Mayang mengenang pembicaraannya bersama Sinta.
Semua mengangguk mengiyakan bibi Mayang. Mereka setuju kalau Sinta ini terlalu penurut Dan kalem, jadi mereka juga khawatir, kalau-kalau dia di bully do sekolah nya sekarang.
"Bisa-bisa! Kalau begitu bagaimana pengaturannya?" Tanya bibi Mayang bersemangat.
"Begini....,"
Andara pun baru mengerti dan mulai mengatur, apa saja yang perlu dilakukan? Dibeli? Disiapkan? Dan sebagainya.
Beralih pada Nadhira yang saat ini sedang beristirahat setelah dia selesai ikut pengaturan untuk pesta ulang tahun Sinta.
Sekolah Sinta berakhir pada jam 3 sore dan sekarang sudah hampir jam 2. Nadhira bersiap-siap untuk menjemput Sinta, tapi dia tidak memberitahukan Sinta bahwa dia akan menjemput. Dia ingin melihat bagaimana sikap teman-teman sekolahnya terhadap Sinta disekolah dan sedikit memberi kejutan atau lebih tepatnya prank.
"Semuanya aku berangkat menjemput Sinta dulu. Kalian siap-siap saja saat kami sudah di depan gedung, nanti kau kabar kalau kami sudah di depan!" Ucap Nadhira memberitahukan.
"OK!" Sahut semuanya. Saat ini mereka semua meliburkan diri dari pekerjaan mereka. Andara tidak ada kuliah hari ini dan Nadhira memang meliburkan diri.
Nadhira pun berangkat dan menyusuri jalan menggunakan motor sportnya. Hampir semua pengendara meliriknya, bagaimana tidak? Style Nadhira itu loh! Keren! Clean jins hitam, baju kaos merah di lapisi jaket kulit hitam, dan sepatu sneakers putih.
Jam menunjukkan pukul 3 kurang Nadhira sampai di depan gerbang SMA CENDRAWASIH.
Masih belum ada murid yang keluar karena memang belum waktunya pulang.
Hampir sama hal nya dengan tukang ojek yang mangkal menunggu penumpang, Nadhira memarkirkan motor sportnya bersisian dengan para tukang ojek asli.
Para tukang ojek menatap Nadhira bingung. Tukang ojek atau bukan? Kalau iya, bisa kalah pamor mereka.
Perhatian mereka teralihkan oleh suara-suara motor gede, sports dan jenis lainnya dengan suara kenalpot yang berisik.
Pang
Pang
Pang
Salah satu dari mereka turun dan memukul mukul pagar besi seraya berteriak. "Keluar kau Aziel!" Teriaknya.
Terus berteriak memanggil-manggil nama dan terakhir setelah para murid bahkan guru SMA CENDRAWASIH mulai berkeluaran. "Hei geng Xavier, dimana ketua kalian?"
Berpuluh-puluh siswa menghadap para pemuda yang datang tadi. Dan dari kumpulan murid itu keluarlah Aziel.
"Ferdi, kenapa geng kalian menyerang sekolah kami?" Tanya Aziel.
"Kenapa? Harus nya kami yang bertanya, kenapa kalian menghancurkan markas kami?" Ucap Ferdi.
"Menyerang? Kami tidak pernah menyerang markas kalian, jangan bohong!" Ucap Aldo, geng Xavier.
"Halah, mengaku saja! Jangan mengelak kalian!" Ucap Ferdi tak percaya.
Kalau saja tidak ada pembatas yaitu gerbang sekolah, sudah di pastikan dua kelompok itu akan berkelahi sekarang.
Sudah jam 3 lewat, tapi tak ada satupun murid yang di perboleh kan pulang, takutnya kena perkelahian.
Geng yang di luar menerjang gerbang, sampai-sampai kunci pagar rusak dan akhirnya mereka bebas memukul satu sama lain.
Sudah 15 menit berlalu, tak ada tanda-tanda perkelahian akan berhenti atau bisa di bilang tawuran?
Jengah menonton, Nadhira pun menghidupkan mesin motornya.
Bruummm
Bruummm
Nadhira kepal gas motornya yang menghasilkan suara berisik, tapi masih kalah dengan suara ribut perkelahian dan karena jarak antara dirinya dan tempat perkelahian itu lumayan jauh.
¤
¤
¤
Semoga Suka...