
Selamat Membaca...
•••••
Pemuda itu masuk dengan semua tingkah aneh nya menurut Nadhira. Tidak seperti tampang nya yang lumayan tapi kepercayaan diri nya yang kelewat batas membuat Nadhira jengah.
"Eh apa ini? Bukan kah ini alamat yang benar? Tapi mengapa gelap dan sepi? Apakah tidak ada seorang pun yang akan melihat berkas yang kita bawa dan menilai siapa kah dari kita berdua yang pantas di terima?" Pemuda itu sangat berisik.
"Banyak omong!" Sindir Nadhira.
Pemuda itu merasa tersinggung dan akan berkata lebih banyak lagi, tapi niat nya di urungkan nya setelah langkah kaki beberapa orang mulai terdengar mendekat dan lagi pintu di mana mereka masuk tertutup dengan sendirinya.
Brakk
Pemuda itu sampai melompat kebelakang saking kagetnya dengan pintu yang tertutup dengan keras.
"Astaga! Apa itu? Siapa yang menutup pintu? Aku akan membukanya lagi," ucap nya dengan nada sedikit gugup karena orang-orang yang sudah berada di hadapan mereka berdua memiliki wajah yang sangar dan menyeramkan dan lagi jumlah mereka tak main-main, sepuluh orang. Jika itu bertubuh seperti mereka masih lah tak apa, akan tetapi sudah wajah nya menyeramkan dan lagi tubuh mereka hampir semua dua kali lipat dari Nadhira.
"Hehehe, kalian ini siapa ya? Apakah kalian juga berminat melamar pekerjaan ini? Kalau begitu sebaiknya aku menyerah dan keluar dari sini. Bukan kah begitu gadis kecil?" Dimana yang tadi sangat percaya diri.
"Kalau mau pergi, pergi saja sendiri jangan ajak aku," ucap datas Nadhira.
"Heh? Terserah padamu kalau begitu, aku pergi," dia melangkah pergi ke arah pintu tapi berulang kali dia berbalik menatap punggung gadis kecil yang tidak kenal takut, menurutnya.
"Haishh, menyusahkan!"
"Kenapa kembali?" Tanya Nadhira.
"Tidak apa! Hanya saja akan di sebut apa aku jika meninggalkan seorang gadis kecil yang kemungkinan dalam bahaya?"
Memutar mata jengah, Nadhira tidak lagi meladeni ocehan pemuda itu, yang penting sekarang sepuluh orang di depan mereka seperti nya sudah tidak sabar menghajar mereka. Sangat terlihat dari wajah mereka yang kesal karena mungkin merasa di abaikan oleh dua anak muda di depan mereka.
"Berhentilah mengoceh! Lihat! Para paman di depan sudah terlihat kesal," ucap Nadhira menghentikan ocehan yang tidam berfaedah dari pemuda di sampingnya itu.
Seketika itu pula pemuda itu berhenti bicara yang tidak jelas dan memandang ke depan. Wajah tiba-tiba berubah menjadi serius.
"Bisa serius juga tu wajah," batin Nadhira merasa itu cukup lucu.
"Hei kalian! Biarkan gadis kecil ini menonton saja dan kalian bisa melawan aku, bagaimana?" ucap nya dengan tegas. Wahh hilang tuh mulut cerewetnya. Kalau kaya gini kan lebih keren.
Tapi tidak seperti yang di harapkan dari semua orang itu, mereka mengabaikan pemuda itu dan segera satu persatu mulai berjalan ke arah dua pemuda berlainan gender itu.
"E e e," pemuda mulai kembali ke sifat aslinya.
"Hei hei bro tenang!" Pemuda semakin mundur ke arah Nadhira setelah sebelumnya dia maju ke hadapan Nadhira.
"Hei kau bisa berkelahi?" Bisiknya pada Nadhira setelah sudah dekat atau di samping Nadhira.
Nadhira bukan menjawab tapi dia menunjukkan smirk meremehkan membuat mata pemuda itu sedikit melebar dan semakin melebar saat Nadhira dengan santainya melewati dirinya dan maju ke depan nya.
Nadhira menengok ke belakang dan berkata. "Jangan khawatirkan diriku, khawatirkan saja dirimu sendiri," setelah mengatakan itu tak sempat berkata lagi satu dari sepuluh orang di depan menyerang Nadhira.
Tepat saat mereka saling berhadapan, Nadhira tiba-tiba saja menghindar dengan gesit ke samping kemudian mengarahkan satu tangannya yang terkepal ke arah wajah sebelah kiri orang itu dan.
Bugh
Satu pukulan mengenai wajah orang itu dan membuatnya jatuh beberapa meter ke samping.
Beralih kepada si pemuda yang masih diam di tempat karena terkagum-kagum melihat aksi gadis itu tersadar setelah teriakan dari Nadhira.
"Hei kau! Apakah kau hanya berdiri di situ tanpa bertindak? Membiarkan seorang gadis melawan sepuluh laki-laki berbadan besar ini?" teriakan Nadhira itu menggema di ruangan yang tidak kecil dan tidka besar.
"O-oh tunggu!" Setelah mengatakan itu dia langsung maju menghadapi satu-persatu dan kadang langsung melawan dua orang sekaligus, begitu juga Nadhira.
Nadhira menghindar, kepalanya ia tarik kebelakang dan tubuh yang sedikit terdorong kebawah tapi masih tetap berdiri walau sedikit rendah.
Dengan cepat pula kaki laki-laki dewasa itu Nadhira tendang menyebabkan suara...
Buaghh
Terjatuh menhantam lantai membuat suara yang amat nyaring.
Satu lagi laki-laki berbadan besar berwajah sangar menyerang Nadhira. Nadhira dengan cepat menghindar kemudian berbalik memutari tubuh laki-laki itu kemudian menarik dan memelintir satu tangan kebelakang tubuh laki-laki itu dan satu tangannya lagi ada di leher laki-laki itu, memiting leher laki-laki dewasa itu dengan kuat hingga membuat nya menyerah dengan cara memberi tanda dengan menepuk lengan Nadhira, tapi bukan Nadhira yang melepaskan mangsanya. Dia membantingnya hingga laki-laki dewasa itu pingsan.
Prok prok prok....
Perkelahian terhenti saat suara tepuk tangan terdengar nyaring yang berasal dari lantai ke dua dari gedung tersebut.
Pemuda yang bersama Nadhira tadi mendekati Nadhira berdiri di sampingnya.
Laki-laki dewasa berbadan besar berwajah sangar pun mundur seraya mengangkat teman-teman mereka yang sudah pingsan.
"Selamat... Selamat! Kalian berdua di terima!" Ucap suara seorang pria dengan suara langkah laki menuruni tangga.
Saat dia benar-benar turun, ruangan langsung terang saat lampu telah di nyalakan.
Pria dengan setelan jaz berwarna hitam dan dua orang lainnya berpakaian jas berwarna senada mengikuti nya di belakang, mendekat ke arah Nadhira dan pemuda.
"Oh maaf kan aku yang lupa memperkenalkan diriku pada kalian para anak muda! Namaku Ling Bao, pemilik perusahaan Ling dan siapakah nama kedua anak muda ini?" Tuan Ling bertanya dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajah keriput nya. Yah bisa dikatakan dia sudah sangat berumur.
"Namaku Marcel," pemuda yang bersama Nadhira barusan bernama Marcel.
"Namaku Nadhira," Nadhira juga mengikuti pemuda bernama Marcel dengan tidak menyebutkan nama lengkap mereka, pasalnya kan ada tuh di CV mereka.
"Baik-baik! Karena kalian sudah di terima menjadi bodyguard, maka persiapkan lah diri kalian bertemu dengan cucu bengal ku itu," Wah ini kakek kandung lah, kok ngatain cucu sendiri.
Yah emang wajar sih, di ingat dari cerita Marcel cucu beliau ini memang bengal dan pengacau, jadi pantas saja kakeknya sampai kewalahan menjaganya, tapi meski begitu, di lihat dari kerja keras sang kakek yang mencarikan bodyguard untuk cucunya menandakan bahwa dia menyayangi cucunya tersebut.
"Tunggu!"
¤
¤
¤
Semoga Suka...