Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Dijemput Ganendra dan Arlan


Selamat Membaca...


•••


Calvin diam dengan pemikirannya sendiri. Dia tidak ingin repot, tapi entah kenapa dia terus-terusan teringat dengan perkataan dan wajah mahasiswi baru yang dia tahu namanya adalah Nadhira. Dia tahu karena mencari tahu di data para mahasiswa dan semakin yakin setelah pria bernama Stiven tadi memanggilnya dengan nama itu.


Semenjak kejadian terakhir kali, dia tidak masuk karena harus merawat tangannya, karena tulang jari-jari tangannya tergeser akibat cengkraman just dari Nadhira. Dia tidak mengira ada gadis yang begitu kuat di dunia ini.


Berpindah kepada dua orang yang saat ini sedang berada di sebuah ruangan, tepatnya ruangan kantor?


Ya, Stiven mengajak Nadhira mendatangi kantor Rektor kampus, tapi bukan ayah dari Calvin melainkan hanya seseorang yang memang di letakkan pada tempatnya.


"Jadi ada apa gerangan tuan Stiven berkunjung kemari?" Tanya pak Burhan, Rektor Universitas GALAKSI.


"Saya hanya ingin menjadi investor di kampus ini dan menjadi penyokong mahasiswi ini!" Ucap Stiven menatap Nadhira.


Pak Burhan menatap Nadhira, menilai penampilan Nadhira yang terkesan sederhana, akan tetapi memiliki dukungan kuat dibelakangnya.


"Atas ijin siapa anda ingin menjadi penyokong saya?" Kalau sudah dengan kalimat formal Nadhira berbicara, maka dia sedang tidak senang.


"Tidak ada! Aku hanya ingin!" Ucapan Stiven semakin membuat Nadhira geram. Dia pikir Nadhira tidak mampu membayar uang kuliah nya sendiri?


Stiven berbisik kepada Nadhira. "Jangan menolak! Red Spider?!"


Nadhira sempat terkejut, tapi dia sudah dapat menebak dari mana Stiven tahu julukannya pada dunia tarung.


"Tidak mempan! Aku tidak takut jika kau berniat menyebarkannya!" Tantang Nadhira. Sebenarnya dalam hati Nadhira, dia takut. Bukan takut untuk dirinya, tapi takut kalau keluarga nya terseret dan dalam bahaya, karena para musuhnya tahu keluarganya lah kelemahan dirinya.


Stiven tersenyum tipis, ini yang dia sukai dari Nadhira, tidak menunjukkan ketakutannya kepada orang lain terkhusus musuhnya.


"Baiklah pak Burhan, saya tidak akan menjadi penyokong gadis ini, saya hanya berdonasi membantu para mahasiswa/i beasiswa disini!" Putus Stiven. Dia tidak memaksakan kehendaknya, karena dia sedikit paham kalau Nadhira bukanlah orang yang suka dipaksa.


Setelah selesai urusan Stiven dengan pak Burhan, Stiven pun keluar dari kantor mendatangi Nadhira yang menunggu di luar kantor.


"Sudah?" Tanya Nadhira.


"Ya, sudah!" Jawab Stiven.


"Kalau begitu aku pergi!" Ucap Nadhira akan pergi.


"Kemana?" Tanya Stiven menghentikan langkah Nadhira.


"Ada kelas!" Jawab Nadhira.


"Oh baiklah! Silahkan!" Stiven.


Nadhira pun pergi menuju kelas sorenya.


...•••...


Dua jam telah berlalu, kelas juga sudah selesai, keadaan kelas sangat sunyi karena hanya ada satu orang di dalamnya, terlebih lagi seseorang itu sedang menelungkupkan kepalanya di antara kedua lipatan tangannya.


Sudah 20 menit Nadhira seperti itu, mungkin tidur? Tidak juga, karena dia masih sadar kalau ada seseorang yang berjalan mendekat kearahnya.


Tuk


Tuk


Tuk


Orang tersebut mengetuk meja dimana kepala Nadhira berada. Nadhira masih tak merespon, dia terlihat malas dan lelah. Dia sempat mendengar suara tak asing, tapi pikirnya itu akibat dia ngantuk, jadi dia mengabaikannya.


Tuk


Tuk


Tuk


Sekali lagi, orang tersebut mengetuk meja. Nadhira pun bangun dan mengangkat kepalanya menatap orang tersebut.


Seketika mata Nadhira melebar dan bibirnya melengkungkan senyum manis.


"Kakak!" Panggil Arlan.


Ternyata bukan seseorang, tapi dua orang yang mana mereka adalah Arlan dan Ganendra yang mengetuk meja barusan.


"Kenapa kemari?" Tanya Nadhira.


"Kangen!" Ucap Arlan.


"Ugh, kakak juga kangen!" Ucap Nadhira menciumi seluruh wajah Arlan, membuantnya tertawa geli.


"Ekhem!" Ganendra berdehem memberitahukan kepada kedua orang berbeda usia tersebut bahwa disana mereka tidak hanya berdua, masih ada satu orang yang terabaikan.


"Ekhem!" Sekali lagi Genandra berdehem karena deheman pertama tak mengusik atau menyadarkan kedua orang yang sedang melepas rindu.


Dan kali ini dia mendapat respon. "Ada apa? Sakit tenggorokan? Minum!" Ucap Nadhira. Bukan tidak tahu, dia hanya mengerjai Ganendra. Entah mengapa senang saja melihat perubahan ekspresi wajah Ganendra yang minim ekspresi itu.


"Iya, ayah sakit?" Arlan yang tidak tahu apa maksud Nadhira hanya memasang taut khawatir dan bertanya kepada ayahnya.


"Ck! Sudah selesai melepas rindunya? Kalau sudah cepat pulang!" Ganendra berdecak kesal dengan respon yang diberikan dua orang di depannya itu kemudian meninggalkan mereka berdua dan sepeninggalannya, Nadhira terkekeh merasa lucu dengan jelaskan Ganendra.


"Ayah kenapa kak? Sakit?" Tanya Arlan bingung.


"Tidak! Ayah Arlan tidak sakit kok! Mungkin banyak pikiran saja!" Ucap Nadhira asal.


Nadhira dan Arlan pun keluar kelas mencari keberadaan Ganendra.


Setelah sampai di parkiran kampus ternyata dia di sana, bersender di pintu mobil berwarna silver tersebut.


"Masuk!" Ucap Ganendra setelah Nadhira dan Arlan sudah berada di dekatnya.


"Tidak bisa!" Ucap Nadhira.


Ganendra yang tadinya sudah akan masuk mobil, berhenti, berbalik menatap Nadhira dengan raut bertanya.


Jari Nadhira menunjuk sebuah motor sport berwarna hitam seraya berkata. "Aku naik motor! Itu motor ku!"


Ganendra menatap motor besar itu tak suka kemudian beralih menatap Nadhira. "Naik!" Ucapan Ganendra dengan wajah datar.


"Motor ku bagaimana?" Tanya Nadhira kesal. Apakah Ganendra tak paham maksudnya, Nadhira rasa tidak! Lalu apa?


"Nanti ada orang yang akan datang untuk membawanya!"


"Baik!" Ucap Ganendra dan tanpa menjawab, Ganendra langsung menghubungi seseorang, ini sedikit membuat Nadhira bingung. Baik? Baik apa? Membolehkannya menaiki motor? Kakak iya dia akan pergi, tapi sebelum Nadhira melangkah...


"Nanti ada orang yang akan datang untuk membawanya!" Ucap Ganendra membuat meurungkan niatnya melangkah.


"Oh OK!"


Mereka pun masuk kedalam mobil, tapi tidak langsung pergi, karena menunggu seseorang untuk membawakan motor Nadhira.


Lima menit kemudian seseorang mengetuk kaca mobil, Ganendra menurunkan kaca mobil dan menyerahkan kunci motor yang sebelumnya sudah di berikan Nadhira. Sedangkan Nadhira sendiri, saat ini dia sedang asik bermain bersama Arlan tanpa menghiraukan interaksi Ganendra dengan orang tersebut.


Mobil melaju membelah jalan yang cukup ramai. Ganendra dengan sangat santai mengemudi sambil sesekali melihat kaca spion yang mengarah ke kursi belakangnya, dimana disana ada Nadhira dan Arlan yang tertidur pulas.


"Sangat menggemaskan!" Tanpa sadar Ganendra terkekeh sendiri sambil menatap kedua orang yang sangat berarti dihidupnya dan akan lebih berarti lagi setelah dia dapat mendapatkan nya sepenuhnya, baik jiwa dan raganya.


...•••...


Disebuah Cafe Nadhira sedang duduk berhadapan dengan Stiven. Awalnya Stiven mengajak Nadhira bertemu di sebuah restoran mewah, akan tetapi dengan kemalasan Nadhira bertemu dengan banyaknya orang ya kalian sendiri pasti tahu, dan karena malas berdandan ala orang kaya dia pun memutuskan akan menemui Stiven Di sebuah Cafe saja.


Tapi lagi-lagi dia meyesal mengajaknya ke Cafe yang pastinya juga banyak orang di dalamnya apalagi tempatnya tak ada penyekat sama sekali dan orang-orang bebas melihat ke arah mereka.


¤


¤


¤


Semoga Suka...