
Selamat Membaca...
•••••
Mendengar perkataan Nadhira, Rima merasa tersindir, karena setiap kali dia berkelahi, maka dia akan membayar biaya perawatan orang yang di pukul nya. Tapi meskipun demikian pasti ada saja yang membuat masalah dengannya. Tapi dia tak mempermasalahkan ucapan Nadhira, karena dia tahu Nadhira bukan mengatakan itu dengan sengaja untuk menyindirnya, tapi karena keadaannya sendiri.
Saat ini makanan sudah terhidang di atas meja, Rima tidak mau lagi membahas topik itu dan mulai menikmati makanannya dan yang lainnya juga demikian.
Setelah makan, mereka pun kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran mereka. Waktu istirahat belum berakhir tetapi mereka kembali ke kelas terlebih dahulu.
Rima tidak sekelas dengan mereka bertiga, akan tetapi dia berada di kelas sepuluh IPS A.
Waktu istirahat segera berlalu dan ketiga orang tersebut memfokuskan diri untuk pelajaran selanjutnya.
Banyak teman kelasnya yang sudah menyaksikan apa yang telah di lakukan oleh Nadhira kepada Yunita tadi pagi, dan juga mereka mendengar tentang drama yang terjadi di kantin tadi di saat istirahat, jadi mereka semua tahu bahwa Nadhira bukanlah seorang gadis remaja yang bisa di ganggu sembarangan. Meski begitu, banyak siswa yang percaya bahwa Nadhira akan mendapatkan banyak masalah nantinya, karena dia telah berani melawan seseorang yang berpengaruh di sekolah ini.
Sebenarnya Nadhira tidak peduli dengan hal itu, dia hanya perlu waktu yang tenang untuk dirinya sendiri. Dia hanya akan melawan seseorang yang mengganggu ketenangannya, kalau orang tidak mengganggunya buat apa dia mengganggu juga, tidak ada untungnya buat Nadhira.
Yunita dan Mega tidak masuk kelas pada jam ini, karena mereka masih berada di UKS, dan itu menjadi hal baik bagi Nadhira, karena dia bisa tenang untuk sementara.
Kelas sore telah selesai dalam waktu yang singkat, Nadhira pun pulang ke rumahnya. Tidak ada orang di rumah selain Nadhira, karena Andara tidak tinggal di rumah sedangkan ibunya masih bekerja.
Dia memilih untuk memasak untuk ibunya, karena ibunya pulang pada jam 6 sore dan sekarang sudah hampir jam 6 sore. Sudah lama dia tidak merasakan kehangatan keluarga, jadi dia berusaha membuat keluarga barunya ini menjadi tenteram dan hangat.
¤¤¤¤¤
Tak terasa hari Jumat telah tiba kembali, dimana hari yang di tunggu-tunggu seluruh siswa.
Andara tidak pulang untuk minggu ini, jadi Nadhira menjadi bosan kalau tinggal sendiri di rumah, jadi pada hari Sabtu besok dia meminta ijin kepada Puspa untuk pergi keluar dan ibunya mengijinkannya.
¤¤¤¤¤
Pagi Sabtu jam lima pagi seperti sebelumnya Nadhira pasti lari pagi terlebih dulu sampai jam 6:30 pagi, setelah itu dia bersiap-siap untuk pergi.
Nadhira langsung pergi ke pasar barang antik yang ada di Kota B.
Pasar barang antik hanya ada di kota-kota besar seperti kota A, B dan C, selebihnya tidak ada.
Butuh setengah jam untuk sampai ke pasar barang antik dari pusat kota dengan menaiki bus.
Ketika dia tiba di pasar barang antik sudah jam 8 pagi. Pasar barang antik itu sendiri biasanya juga di kenal dengan sebutan pasar bawah, dan hanya benda kuno yang sudah lama yang di sebut barang antik.
Pasar barang antik populer di kalangan orang kaya, karena kebanyakan mereka suka mengoleksi barang-barang antik.
Tapi tidak dapat di pungkiri bahwa di pasar ini banyak juga barang antik palsu. Tapi meski begitu tak menurunkan minat para orang-orang kaya untuk datang ke sana.
Kebanyakan dari mereka adalah pria paruh baya, jarang terdapat gadis remaja seperti Nadhira, kecuali mereka di dampingi oleh orang tua mereka.
Jika kalian ingin mendapatkan yang asli maka kalian perlu datang ke pelelangan pasar tersebut.
Tapi tak dapat di pungkiri bahwa di antara banyaknya toko barang antik palsu terdapat juga barang antik asli yang pemilik toko sendiri tidak menyadarinya.
Nadhira berjalan perlahan sambil melihat-lihat barang antik dari satu toko ke toko lainnya, mencari keberadaan barang antik asli menggunakan mata ajaibnya.
Karena dia merasa lelah setelah dia menggunakan mata ajaib nya untuk waktu yang lama. Dia perlu istirahat sebelum melanjutkan.
Nadhira merasa dia bodoh untuk mencoba mendapatkan uang dengan barang antik. Tapi dia tidak putus asa, karena selain menggunakan cara ini tidak ada cara lain lagi untuk mendapatkan uang secara cepat.
Merasa sia-sia mencari barang antik yang asli, Nadhira ingin pergi dari toko yang dia datangi, tapi saat dia bersiap untuk pergi, sebuah benda di salah satu koleksi barang antik toko tersebut terlihat sangat menarik dan berbeda jika di perhatikan dengan menggunakan mata ajaibnya.
Itu adalah sebuah gelang yang terdiri dari dua belas biji berbentuk bulat. Di setiap bukannya terdapat banyak noda dan kotoran yang menutupi keindahan nya.
Gelang itu memiliki penampilan yang sangat jelek, tetapi Nadhira melihat lapisan kabut putih muda yang menyelimuti gelang tersebut. Nadhira tebak itu barang antik yang asli.
Nadhira berjalan menuju sang pemilik toko setelah sebelumnya mengambil gelang tersebut dari tempat perkumpulan nya. Tetapi pemilik toko itu mengabaikan nya karena dia melihat seorang gadis remaja dengan pakaian yang biasa dan tampak seperti orang miskin.
Nadhira tidak memperdulikan sikap pemilik toko terhadapnya seperti itu, dia kemudian menunjukan gelang yang berada di tangannya. "Berapa harga gelang ini?"
Pemilik toko itu melirik ke arah gelang yang di tunjuk oleh Nadhira, lalu dia mengerutkan keningnya. Mengapa? Karena di matanya, gelang itu adalah palsu, dia bahkan pernah berniat untuk membuang nya. Tetapi karena ada yang berniat membelinya dia pun berkata. "50 ribu rupiah!"
Lima puluh ribu bukanlah harga yang terlalu mahal, tapi bagi Nadhira itu harga yang lumayan mahal. Namun, Nadhira tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan uang.
Dia tidak ingin membuat sang pemilik toko curiga dan menunjukkan niat sebenarnya, jadi dia pun menawarnya. "Bisakah kau menjualnya dengan harga yang lebih murah? Aku hanya seseorang yang hanya memiliki sedikit uang,"
"Yasudah empat puluh ribu rupiah saja," pemilik toko itu setuju dan dia masih berpikir bahwa itu hanya barang yang tidak berharga.
Nadhira pura-pura berpikir sejenak, lalu dia berkata, "Bisakah di turunkan sedikit lagi? Tiga puluh lima ribu gitu?"
"Baiklah! Ambillah kalau begitu," pemilik toko menyetujui tawaran Nadhira.
Setelah mendapatkan persetujuan Nadhira kemudian memberikan uang nya kepada pemilik toko dan pemilik toko mengambil uang itu.
Nadhira langsung pergi ke pusat penilaian dengan gelang itu di tangannya. Tetapi sebelum itu dia mencari toilet umum untuk membersihkan noda dari gelang tersebut baru dia pergi ke pusat penilaian, tetapi bukan untuk menilai keasliannya akan tetapi untuk di lelang, karena dia yakin kalau itu barang antik asli.
¤
¤
¤
Semoga Suka...