
Selamat Membaca...
•••••
"Lumayan menarik! Tapi aku harus mengeluarkan semua kemampuanku, karena dapat di pastikan banyak yang menginginkan posisi ini, dilihat dari gaji nya saja sangat besar," gumam Nadhira.
Setelah di rasa tepat, dia pun langsung pulang untuk membuat resume dirinya untuk melamar pekerjaan sebagai bodyguard itu.
Masa liburnya hanyalah selama dua minggu. Dan dalam waktu dua minggu Nadhira akan bekerja sebagai bodyguard dan saat waktunya sekolah masuk kembali dia akan membicarakannya dengan si penyebar lembaran ini.
"Yah, meski nanti akan di gaji seperempat saja, tak apalah yang penting aku dapat wawasan baru dan pengalaman baru," gumam Nadhira kembali mengetik resume dirinya di laptop miliknya.
¤¤¤¤¤
Pagi yang cerah menghantarkan suasana baik. Begitu juga hari Nadhira yang sepertinya akan sangat baik hari ini. Ekspresinya tidak lagi datar seperti biasa, ada sedikit senyuman menyambut hari baru, pengalaman baru.
"Bu, aku berangkat!" Ucap Nadhira sambil mendatangi sang ibu yang berada di dapur.
"Mau kemana?" Ya pasalnya Nadhira belum memberitahu niat nya kepada ibunya.
"Oh ya aku lupa memberitahu ibu, kalau aku ingin mencari kerja dan mengisi waktu liburanku dengan bekerja, jadi Ira mohon ibu berhenti bekerja ya. Rawat diri ibu saja, istirahat di rumah," bujuk Nadhira.
Dia sangat ingin melihat ibunya berhenti bekerja dan beristirahat di rumah. Pasalnya di melihat ibu nya semakin hari semakin lelah dan itu sangat terlihat jelas di wajahnya.
"Apa? Bekerja? Lebih baik jangan Ira, kau fokus saja dengan pendidikan mu. Kamu kan akan berada di kelas dua belas tahun ini dan ujian kelulusan akan segera datang, itu tidak akan terasa di tahun ini. Jadi Ira tidak perlu bekerja, biar kan ibu saja yang bekerja, Ok?" Tolak Puspa. Bukan dia tidak ingin istirahat, tapi masa iya dirinya bersantai dan membiarkan puteri nya bekerja. Apakah dia masih seorang ibu kalau bersikap seperti itu?
"Ayolah bu, Ira ingin nya ibu berhenti. Ira tidak ingin melihat ibu selalu kelelahan setiap kali pulang bekerja. Dan Ira bekerja dengan keinginan Ira sendiri, tidak karena terpaksa. Jadi ibu harus berhenti, Ok! Tidak ada penolakan," Nadhira langsung mengangkat tangannya pertanda ibunya harus menuruti keinginannya dan tidak ingin di bantah.
Puspa jadi bingung apakah sikap Nadhira selama ini seperti ini? Dewasa sebelum umurnya!
"Baiklah! Ibu akan berhenti bekerja dan hari ini ibu akan menyerahkan surat pengunduran diri, tapi ingat kalau Ira merasa tidak sanggup bekerja katakan pada ibu ya, jadi ibu akan bekerja lagi," Puspa mengkhawatirkan puteri nya ini dan lagi di Kota besar seperti ini apakah ada yang menerima pegawai dengan latar pendidikan lulus SMA saja belum. Jadi dia mengiyakan saja dulu kehendak Nadhira, karena dia tidak yakin akan Nadhira benar-benar mendapat pekerjaan atau kah tidak.
"Bagus lah! Kalau begitu Ira berangkat ya," Nadhira pun pergi dari rumah menuju ke alamat yang tertera di selembaran yang dia ambil dari papan pengumuman di jalan.
"Apakah ini tempatnya?" Tanya Nadhira pada dirinya sendiri.
Saat sedang memperhatikan sebuah gedung sederhana yang sepertinya adalah tempat latihan karate atau apalah itu ada seseorang yang menepuk bahu Nadhira, sontak membuat Nadhira berbalik.
Nadhira menatap bertanya. "Apa? Siapa? Mau apa?" mungkin itulah pertanyaan yang tak tersampaikan dari Nadhira.
"Maaf mengganggumu menatapi gedung ini, tapi apakah kau juga mau melamar pekerjaan sebagai bodyguard dari selembaran ini?" Dia mengeluarkan selembaran yang sama seperti yang di dapatkan Nadhira.
"Iya!" Jawab singkat Nadhira.
"Oh baguslah! Ternyata aku punya teman atau saingan ya?" Ucapnya.
Nadhira merasa bingung dengan perkataan pemuda tersebut. Apa maksudnya? Apakah tidak ada yang berminat dengan pekerjaan ini?
"Apa maksud mu?" Tanya Nadhira.
"Kau tidak tahu?" Dia malah tanya balik.
Nadhira menggeleng, dia sungguh tidak tahu. Pasalnya dia tidak terlalu mengetahui kehidupan orang-orang karena dia hanya berfokus dengan sekolah dan teman-temannya.
"Masa kau tidak tahu dan dengan santai nya melamar pekerjaan sebagai bodyguard dan tidak tahu siapa yang akan di kawal? Sungguh kau terlalu polos, dan lagi kau terlihat masih sangat muda. Berapa umurmu?" Tanya nya.
"Tujuh belas mau delapan belas," jawab Nadhira seadanya.
"Nah itu, apakah ada pekerjaan yang gaji nya sangat tinggi seperti ini akan menerima seorang yang lulus SMA saja belum? Jadi kesimpulannya kalau di terima maka kita akan mengawal cucu dari pengusaha bermarga Ling," jelasnya.
"Jadi apa masalah nya?" Tanya Nadhira. Dia masih bingung dengan penjelasan pemuda di depannya ini, terlalu berbelit.
"Kau lihat apakah ada orang yang datang melamar pekerjaan ini selain kita?" Nadhira mengedarkan pandangannya ke segala arah, tapi hanya diri nya dan pemuda di depannya ini yang ada.
"Tidak ada kan? Karena tidak ada yang mau menjadi pengawal dari cucu pengusaha itu. Karena yang ku dengar cucu nya itu sangat bengal sulit di atur dan pengacau, jadi kakeknya mencarikan nya bodyguard untuk menjaganya. Karena setelah membuat masalah dia pasti babak belur saat pulang, mungkin di beri pelajaran oleh orang yang dia ganggu! Kakeknya mencarikan bodyguard juga karena cucu nya itu terakhir kali hampir mati dan tidak tahu siapa pelakunya jadi untuk berjaga-jaga dia menyebarkan selembaran, tapi siapa yang tidak tahu sifat cucu nya membuat tidak ada yang berminat melamar pekerjaan ini, meski gaji nya besar," jelasnya panjang lebar.
"Jadi kau mengapa ingin melamar pekerjaan ini? Sedang kan kau tahu itu. Kalau aku tidak tahu dan karena sudah terlanjur apa boleh buat untuk di coba," ucap Nadhira menantang membuat pemuda di depannya ini sedikit tersentak.
Apakah gadis di depannya ini tidak ada rasa takut? Pikir pemuda itu.
"Kalau bukan karena keterpaksaan untuk membayar uang kuliah aku tidak akan mengambil pekerjaan ini. Kalau pekerjaan lain gaji nya sedikit tidak cukup untuk bayar kuliah dan biaya hidup, jadi mau tak mau aku harus mendapatkan pekerjaan ini, jadi sekarang kita saingan karena hanya satu orang yang akan bekerja bukan," ucap pemuda itu percaya diri kalau dirinya akan mendapat kan pekerjaan itu dan meremehkan Nadhira yang hanya gadis remaja masih labil.
Nadhira tak menghiraukan kepercayaan diri pemuda itu dan langsung masuk meninggalkan pemuda yang masih membanggakan dirinya sendiri.
Merasa terabaikan dan di tinggal sendiri pemuda itu tidak bisa tidak kesal, dia pun menyusul Nadhira masuk.
Di dalam gedung keadaan sepi dan gelap hanya cahaya dari fentilasi udara di atas jendela yang menerangi dan membuat keadaan menjadi remang-remang.
Tapi jangan remehkan Nadhira yang telah menyadari adanya pergerakan dan dengan bantuan mata ajaibnya dia tahu bahwa ada sekitar sepuluh orang di balik kegelapan itu. Tapi dia masih bersikap santai.
¤
¤
¤
Semoga Suka...