
Selamat Membaca...
•••••
Lelang terus berlanjut, semua orang sangat antusias dengan barang-barang antik. Tapi para tamu VIP masih tidak menawar satu barang pun, Nadhira pun juga. Dia kesini untuk melihat hasil barangnya bukan untuk menawar, tapi kalau memang ada barang yang dia suka, bisa saja dia menawarnya, tapi sampai sekarang tidak ada satu barang pun yang membuatnya tertarik.
Saat ini telah memasuki lima barang teratas. Yaitu terdiri dari dua barang kepunyaan Nadhira yang berada di urutan ke tiga dan ke empat dan tiga lainnya berupa urutan ke kelima adalah lukisan kuno, urutan ke dua gading gajah yang gunanya untuk terompet perang yang memiliki ukiran unik para setiap sudutnya dengan lapisan emas murni. Urutan pertama yaitu bejana emas yang terbuat dari emas berasal dari beberapa abad yang lalu.
Itulah lima barang teratas pada pelelangan kali ini. Nadhira juga tidak menyangka kalau dua barang antiknya berada pada urutan ketiga dan keempat. Dia mengira hanya urutan sepuluh kebawah.
Saat ini barang yang di lelang yaitu kepunyaan Nadhira yaitu gelang giok berwarna warni.
Tania menjelaskan asal usul gelang giok dan para tamu VIP mulai tertarik. Mereka saling menawarkan harga tertinggi mereka sampai barang itu jatuh kepada tamu VIP ruang nomor dua.
Entah siapa, Nadhira tidak peduli yang terpenting saat ini dia telah mengantongi uang sebanyak satu milyar untuk gelang giok itu saja, belum guci.
Lelang di lanjutkan lagi, yaitu barang milik Nadhira lagi, yaitu guci yang sangat cantik.
Lagi! Para tamu VIP mulai beraksi. Kalau tamu VIP beraksi bagi para tamu biasa tak lagi memiliki kesempatan untuk menawar. Karena mereka tahu, mereka tidak akan sanggup melawan mereka dengan uang mereka yang tak seberapa.
Dua koma lima milyar guci Nadhira terjual. Nadhira tidak menyangka akan mendapat uang sebanyak itu. Dia senang, tapi tidak di tunjukkan nya.
Barang terakhir yang terjual seharga lima milyar dan berakhir pula acara lelang pada malam itu. Nadhira mengurus serah terima sebelum kembali ke hotel.
Malam menunjukkan jam 10. Nadhira telah sampai di hotel dan langsung beristirahat.
¤¤¤¤¤
Pagi hari Rabu, Nadhira memilih untuk jalan-jalan sebelum keesokan harinya pulang ke Kota B.
Dia memilih untuk pergi ke pusat perbelanjaan terbesar di Kota A.
Saat ini Nadhira telah berada sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Kota A yang menawarkan berbagai macam barang. Entah itu mudah atau pun sulit di dapat sekalipun.
Banyak orang yang menghabiskan uang mereka hanya untuk membeli satu potong pakaian, karena pada dasarnya hampir semua toko di pusat perbelanjaan ini menawarkan produk berskala internasional berasal dari desainer-desainer ternama.
Saat ini Nadhira berjalan sendiri melihat-lihat barang yang menurutnya bagus, akan tetapi tidak ada yang menarik matanya.
Satu baju pun tidak ada, tapi satu yang membuatnya tertarik, sebuah kamera. Saat ini dia membutuhkan itu, untuk mengambil foto-foto pemandangan selama dia berada di kota A.
Dia menyukai fotografi, dia suka mengabadikan fotonya bersama dengan teman-temannya di kehidupan dulu, dan sekarang dia juga ingin mengabadikannya bersama teman-teman barunya dan untuk permulaan dia akan mengabadikan foto dirinya saat di Kota A.
Nadhira mengambil kamera itu dan akan membayarnya di kasir akan tetapi dia terlalu fokus akan kamera yang di pegang nya menyebabkan dirinya tak sengaja menabrak seseorang.
Bruk!!!
Alhasil karena dia tak siap, dia hampir menjatuhkan kamera dan dirinya, tapi dengan kegesitannya dia mampu menyeimbangkan dirinya dan menggenggam erat kamera di tangannya.
Seseorang yang di tabrak tak bergerak sama sekali dia tetap berdiri kokoh di depan Nadhira.
Nadhira mendongak dan menatap orang itu dengan merasa bersalah. Dia tahu bahwa dirinya lah yang salah.
Tapi saat dia mendongak dan melihat siapa yang di tabrak nya matanya membelalak kaget, ekspresi itu membuat orang yang di tabrak Nadhira dan juga di sampingnya mengernyit bingung.
Orang di samping pria itu menatap marah kepada Nadhira tapi tidak dengan yang satunya yang melihat Nadhira seperti tertarik akan sesuatu. Bukan macam-macam, akan tetapi dia penasaran apakah gadis di depan nya ini mengenalnya? Bukan sebagai seorang CEO di sebuah perusahaan besar bernama 'Express Group' akan tetapi sosok lain dari dirinya. Pasalnya dia melihat raut terkejut bukan kagum dengan seorang pria tampan nan sukses akan tetapi terkejut melihat seseorang yang ditakuti.
"Apa anda baik-baik saja tuan?" Tanya pria di sampingnya yang memiliki rambut coklat.
Pria berambut hitam segelap malam tidak merespon, dia terus menatap Nadhira.
Pria berambut coklat itu menatap ke arah Nadhira dan menyuruhnya pergi. "Sudahlah! Kau pergilah," ucap pria berambut coklat sambil mengibaskan tangannya.
Ingin sekali rasanya Nadhira mematahkan tangan itu, akan tetapi dia tahu bagaimana situasi saat ini
"Kalau begitu sekali lagi saya minta maaf," setelah mengucapkan kata maaf sekali lagi, Nadhira langsung pergi dan langsung membayar kamera yang di tangannya kemudian pergi sejauh-jauhnya dari sana.
"Hmm, cari tau siapa gadis itu secepat nya!" Ucapan pria berambut hitam itu membuat pria berambut coklat membelalak kaget, tapi si pria berambut hitam melangkah pergi tanpa menghiraukan keterkejutan pria berambut coklat.
"T-tuan tunggu!" Panggil nya dan setelah berada di belakang pria berambut hitam, pria berambut coklat berkata. "Baik tuan!" Ucap pria berambut coklat. Dia masih merasa heran dengan tuannya itu, karena ingin mengetahui siapa gadis tersebut, karena selama ini tuannya itu tidak pernah ingin tau wanita manapun baik itu sekedar mencari tahu nama atau pun lainnya, atau dia akan bermain-main pada gadis yang menabrak nya tersebut pikir pria berambut coklat itu, tapi semua pikiran itu di tepis nya, karena dia tahu bahwa tuannya itu bukanlah pria yang akan bermain wanita hanya untuk kesenangannya.
Kedua pria itu pun keluar dari pusat perbelanjaan dan segera masuk ke dalam mobil yang telah menunggu mereka tepat di depan gedung pusat perbelanjaan terbesar itu.
Melajukan mobilnya meninggalkan hiruk piruk orang-orang yang membelanjakan uang mereka.
Kembali ke sisi Nadhira yang sudah berada di sebuah bangku taman. Setelah membayar kamera yang di belinya dia buru-buru pergi, karena merasa was was dengan pria berambut hitam, segelap malam itu.
"Hampir saja! Untungnya dia tidak mengenali wajahku sekarang, kalau tidak tidak tahu nasibku bagaimana," gumam Nadhira.
Sedikit cerita mengenai pertemuan pria berambut hitam yang ternyata bernama Stiven Mark dengan Nadhira saat masih menjadi Maya si pembunuh berdarah dingin.
Hampir tengah malam, semua orang pastinya sudah tertidur dengan lelapnya, akan tetapi berbeda dengan Maya yang sedang menjalankan misi nya.
Misi nya yaitu mencuri sebuah dokumen yang berada di sebuah perusahaan yang bernama 'Express Group' sebuah perusahaan di bidang pusat perbelanjaan dan perhotelan.
Di Sana Maya mendapat misi atau bisa di katakan di bayar untuk mencuri sebuah dokumen mengenai rahasia produk terbaru dari perusahaan itu oleh pesaing dari perusahaan itu.
Awalnya misi Maya berjalan lancar, sampai suatu ketika ternyata seseorang masih berada di ruang kerja yang mana di letakkan dokumen itu.
Maya sudah terlanjur masuk jadi dia menunggu sedikit lama orang itu pergi. Akan tetapi hampir satu jam Maya menunggu orang itu tak kunjung pergi dan tiba saat nya orang itu bangkit dan pergi keluar ruangan.
Melihat kesempatan datang padanya Maya keluar dari tempat persembunyiannya dan mencari dokumen yang di maksud.
Ke sana kemari Maya mencari tapi tak kunjung mendapat kan hasilnya.
Sampai pada saat orang yang tadinya keluar kembali lagi memasuki ruangan.
¤
¤
¤
Semoga Suka...