
Selamat Membaca...
•••
Gadis kecil? Ya! Menurut Cerry, Nadhira masilah kecil, kalau masih SMA. Tapi meskipun begitu dia terlihat dewasa di matanya, tidak seperti gadis seumurannya.
"Hmm, bagus, jadi aku tidak perlu menjelaskannya bukan," ucap Cerry.
"Ya, lanjutkan," pinta Nadhira.
"Aku merupakan orang kepercayaan bosku dan dia memintaku untuk mendekatimu dan mencari informasi mengenai identitas mu, karena sangat sulit menemukan identitasmu lebih banyak jadi dia memintaku turun langsung mencari informasi tentangmu. Bos ku bernama Stiven. Di khalayak umum dia di kenal sebagai seorang pengusan muda yang berhasil membangun usahanya menjadi nomor satu di Kota A bahkan merambat ke Kota B, C, dan D,...," Cerry.
Nadhira merasa jengah dengan Cerry. Bukan ini yang ingin dia dengar, dia juga tahu mengenai iti semua. Tahu sendiri apa yang tidak diketahui oleh seorang Nadhira?!
"Bisakah di ringkas? Aku tidak ingin mendengar ketenarannya atau apa pun itu. Aku hanya ingin mendengar alasan dia memberikanku ini. Untuk kau yang berniat mendekatiku untuk mencari informasi mengenaiku, jangan terlalu berharap mendapat informasi lebih," ucap Nadhira datar.
"Oh baiklah! Alasannya adalah dia tertarik denganmu," jawab Cerry langsung. Menurutnya Nadhira bukanlah seseorang yang bertele-tele. Satu tambahan sifat Nadhira yang dia ketahui. Dia harus mencatat ini, karena besar kemungkinan bos nya itu akan menanyakannya.
Jantung Nadhira berdetak sejenak. "Tertarik?" Nadhira bertanya untuk memastikan pendengarannya yang mendapat anggukan dari Cerry.
"Ku rasa aku tidak semenarik itu, hinggal seorang bos besar dan pengusaha terkenal sampai tertarik padaku, bahkan dia seorang ketua mafia yang di takuti!" Batin Nadhira yang memikirkan apa yang menarik dari dirinya. Dirinya hanyalah gadis remaja SMA yang keluarga nya miskin, meski sekarang sudah tidak, akan tetapi hanya dirinya dan kakaknya yang tahu.
"Hei hei," Nadhira sadar dari lamunannya saat Cerry melambai-lambaikan tangannya di hadapan nya. "Kau tidak apa?"
"Tidak apa! Aku hanya bingung kenapa bos mu tertarik padaku, seingatku aku tidak pernah bertemu dengan nya secara khusus?" Semakin banyak pertanyaan di kepala Nadhira tapi dia tidak ingin melontarkannya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Jadi terima ini ya," mohon Cerry.
"Tunggu, kau tahu siapa yang mengirimiku sebuah buket bunga mawar merah hampir setiap hari ke rumahku? Bahkan ke sekolahan juga!" Nadhira tidak yakin, tapi hanya Stiven lah yang memungkinkan pengirimnya. Bukan sok percaya diri, tapi tidak ada kemungkinan lainnya. Sedangkan Reyhan dan Reno pasti langsung datang atau bisa dengan dikirimkan tetapi dengan nama, tidak dengan yang satu ini hanya terdapat surat yang berisikan puisi setiap kali buket itu ada dan terdapat inisial S dalam surat itu.
"Aku tidak tahu itu, mungkin benar itu bos ku. Tapi apakah kau merasa itu orang lain?" Cerry.
Nadhira menggeleng. "Tidak! Ku rasa memang bos mu,"
Setelah pembicaraan yang panjang dan Cerry telah mengaku, akhirnya mau tak mau Nadhira menerima pemberian itu.
Tanpa terasa sudah jam satu siang, lumayan lama berbincangnya. Nadhira pun memilih pulang dan mempersiapkan diri untuk ujian besok lagi.
•••
"Akhhhh, bagaimana ini. Apakah dengan ku yang seperti ini, aku dapat memasuki sebuah universitas?" Bagas begitu frustasi menerima nilai hasil ujiannya. Lulus sih lulus, tapi sudah di katakan kalau kelulusan tak menjamin seorang murid dapat masuk sebuah universitas yang mereka inginkan.
"Kau kan kaya, bisa tuh masuk jalur lain," ucap Rima tanpa perasaan.
"Kau kira aku mau masuk dengan cara begituan?! Bisa-bisa di babat habis oleh kedua orang tuaku aku," meski keluarga nya kaya, tapi mereka tidak akan berbuat hal yang tidak baik seperti hal nya menyuap. Keluarga Bagas terkenal dengan kejujuran nya. Dapat di lihat dari perusahaan yang maju akibat keadilan dalam kepemimpinan keluarganya.
Nadhira hanya tersenyum tanpa menanggapinya. Dia juga bingung, meski dia mampu masuk Universitas manapun dia mau termasuk universitas dimana kakaknya berkuliah, tapi dia ragu apakah dirinya memang benar-benar ingin kuliah atau tidak.
Hari ini adalah hari kelulusan mereka atau hari dimana hasil ujian di serahkan kepada para murid.
Dan setelah satu minggu kedepan akan di adakan acara perpisahan bagi murid kelas XII yang akan dihadiri oleh para orang tua murid.
"Jangan pikirkan itu lagi, toh sudah tidak dapat di ubah, mending kita pikirkan kita akan mengambil tema apa untuk acara perpisahan nanti," Clara tidak dapat membantu Bagas memikirkan cara untuk masa depan pemuda itu, tetapi dia mulai merencanakan untuk acara perpisahan nanti, ya setidaknya mengalihkan perhatian Bagas agar tidak meratapi nasibnya melulu.
"Oh iya, apa ya yang cocok," Kaila ikut gabung dalam pembicaraan setelah sekian lama diam.
"Bagaimana kalau peri?" Saran Rima.
"Peri?" Mereka semua menatap Rima.
"Ada apa? Bagus kan. Peri perempuan dapat memakai kostum seperti Tinkerbell?" Rima.
"Ya ya ya, terserahlah. Yang penting tidak sulit mendapatkan kostumnya," Rangga menyahut. Yah tidak ada salahnya mencoba hal baru.
Akhirnya disepakati mereka akan mengambil tema peri untuk acara kelulusan mereka.
•••
Satu minggu kemudian. Acara perpisahan pun di gelar dengan megah oleh OSIS.
Panggung yang besar serta dekorasi yang indah membuat siapa saja melihat akan kagum dan terpesona dengan segala kemewahan dan keeleganannya.
Apakah ini acara perpisahan atau kah pernikahan? Sungguh terlalu berlebihan menurut Nadhira.
Di panggung besar itu lah para murid kelas dua belas yang akan lulus menerima Ijazah mereka yang akan di serahkan oleh kepala sekolah.
Setengah jam kemudian semua kursi telah di penuhi oleh orang tua murid, murid nya sendiri, hingga tamu penting yang secara khusus di undang.
MC pun mulai membuka acara tersebut. Dapat di pastikan acara akan berlangsung lama.
"Rangga, apakah kau akan memakai pakaian peri setelah acara ini selesai?" Tanya Bagas.
"Ya tentu saja, akan sangat memalukan jika memakainya sekarang, kau ini ada-ada saja," Rangga.
Ya mereka tidak langsung memakai kostum mereka. Karena sekarang mereka di harus kan memakai seragam lengkap.
Acara terus berlanjut dengan sambutan dari kepala sekolah dan lainnya kemudian di lanjutkan dengan hiburan-hiburan dan sampai lah saat penyerahan ijazah kepada murid.
Satu persatu murid kelas dua belas di panggil. Tidak di beritahu kan peringkat mereka. Alasannya takut malu kalau di umumkan. Kalau peringkat sepuluh teratas sih tak apa, tapi kalau sepuluh terbawah akan sangat memalukan bagi penyandangnya.
Sampai dimana nama Nadhira Maharani di panggil.
Nadhira menaiki panggung dan berdiri tepat di depan kepala sekolah.
"Kau sangat hebat!" Satu kalimat dapat dipastikan kalau Nadhira lah yang menjadi juara satu dengan nilai tertinggi. Sangat terlihat dari raut wajah kepala sekolah yang sumringah menatap Nadhira berbeda dengan menatap murid lainnya.
Nadhira hanya memberikan senyuman untuk menanggapi itu dan kemudian menerima ijazahnya.
Acara perpisahan hari itu berjalan dengan khidmat. Ada yang menangis karena akan berpisah dengan teman sejawat dan ada yang senang karena telah berhasil lulus dan tidak akan lagi kembali ke tempat yang mengerikan bagi murid yang selalu di cemooh.
¤
¤
¤
Semoga Suka...