Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Teman Baru


Selamat Membaca...


•••••


Nadhira tahu paham betapa panik dan khawatirnya perempuan di depan nya ini melihat keadaan laki-laki di dalam ruang operasi itu.


"Jadi, terimakasih atas bantuan mu. Entah akan bagaimana nasibku dan orang yang di dalam. Dia ayahku,"


Ternyata ayahnya!


"Tidak masalah! Meskipun anda membiarkan saya pergi saat itu, saya tidak akan meminta anda untuk berterimakasih. Karena menolong anda itu adalah niat saya pribadi," ucap Nadhira.


Perempuan itu kagum dengan nadhura. Dia pun memperkenalkan dirinya. "Namaku Maria Prayoga, dan di dalam adalah ayahku nama beliau Cahyo Prayoga, namamu?"


Cahyo Prayoga?


Nadhira tahu nama itu. Itu nama seorang pengusaha terkenal di kota A. Keluarga Prayoga, keluarga paling berpengaruh nomor 3 di Kota A.


Untuk apa mereka berada di Kota B?


Nadhira terkejut, tapi tidak di tunjukkannya, dia tenang dan berpura-pura tidak tahu dengan nama keluarga itu.


"Namaku Nadhira,"


"Baiklah! Pasti kau memiliki kesibukan lain bukan, aku tidak akan menahanmu lagi. Ini cek sebesar seratus juta dan kartu namaku. Kau bisa menghubungiku jika perlu bantuan," ucap Maria seraya menyerahkan dua kertas beda isi tersebut.


Nadhira hanya mengambil kartu namanya, tidak dengan ceknya. Perempuan itu bingung. "Ada apa? Apakah jumlahnya kurang" batinnya.


Dia kemudian menambahkan jumlahnya menjadi dua ratus juta dan menyerahkannya kepada Nadhira lagi, dan itu membuat Nadhira bingung. Nadhira menatap Maria dan berkata. "Aku menolong tidak untuk mendapatkan uang, simpan kembali dan untuk pertemanan aku hanya ingin itu," ucap Nadhira.


Maria tertegun menatap Nadhira. Dia semakin kagum dengan Nadhira yang bersikap dewasa dan bijaksana.


Mungkin umurnya tak terlalu jauh darinya, dia berumur dua puluh tahun sedangkan Nadhira dia menebak enam belas atau tujuh belas tahun. Akan tetapi dia begitu menakjubkan.


"Baiklah! Aku akan mengambilnya kembali dan gantinya kau harus berteman denganku, seperti katamu. Hubungi aku ya, coba lakukan panggilan ke nomor ku," ucap Maria.


Tanpa bantahan Nadhira melakukannya. Dia melakukan panggilan dengan ponsel lamanya. Dia tidak menunjukkan ponsel canggihnya.


Lagi-lagi menatap Nadhira terkejut. Hanya ponsel jadul yang dimilikinya? Maria tidak tahu harus berkata apa. Dia menolak cek darinya, sedangkan dia sangat membutuhkan uang untuk sekedar membeli ponsel baru.


Panggilan masuk membuat ponsel Maria berdering dan mengalikan pikirannya. "Sudah ku save," ucap Maria dan diangguki Nadhira.


"Aku juga!" Ucap Nadhira. "Kalau begitu aku pamit! Semoga proses operasi om Cahyo berhasil dan dia lekas sembuh," ucap Nadhira. Dia tidak mengatakan kalau Cahyo Prayoga memang masih selamat karena peluru tidak mengenai jantungnya, akan tetapi dia diam saja, dia tidak ingin kemampuannya tersebar lagi seperti kejadian menyembuhkan ibunya. Untungnya tidak ada yang menyebarkannya waktu itu dengan bantuan ayah dari dokter Anna.


"Terimakasih dan hati-hati di jalan. Oh ya akan ku carikan taxi untukmu," ucap Maria baru teringat dan akn bangun dari duduknya akan tetapi di tahan Nadhira.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kau jagalah om Cahyo," ucap Nadhira. Maria pun mengangguk dengan tersenyum.


Nadhira pergi dan menaiki taxi agar cepat sampai rumah. Karena jam sudah menunjukkan jam 4:30 sore. Memerlukan setengah jam untuk sampai di depan gang rumahnya.


Jam 5 tepat Nadhira memasuki gang rumahnya dan langsung saja masuk dan memasak untuk dirinya dan ibunya.


Tak lama ibunya datang dan mereka makan bersama, seperti keluarga lainnya.


¤¤¤¤¤


Pagi yang indah didampingi berbagai macam bunga yang bermekaran di pekarangan rumah-rumah mewah di tengah-tengah kota yang padat akan penduduknya.


Dahan-dahan pohon serta dedaunan yang melambai-lambai menandakan angin bersepoi-sepoi menciptakan udara sejuk.


Senangkan di jalan trotoar banyak orang yang juga berjalan. Ada yang menuju halte bus, sekedar jalan-jalan pagi dan sebagainya. Berbeda dengan Nadhira yang sedang berlari menuju sekolahnya, SMA JAYA, yang terletak dekat pusat kota B.


Setelah hampir setengah jam berlari, dia berhenti di minimarket untuk membeli minuman untuknya dan juga membeli beberapa untuk teman-temannya yang dapat dia tebak sekarang sedang berlari mengelilingi lapangan sekolah.


"Semuanya tiga puluh lima ribu," ucap kasir kepada Nadhira.


Nadhira mebayar sejumlah uang yang sudah di sebutkan oleh kasir, dan setelah pembayaran selesai, dia keluar sambil menjinting kantung kresek di satu tangannya dan menuju gerbang sekolah.


Dia melihat sebuah mobil menepi di pinggir jalan dan tak satu orang pun keluar dari padanya.


¤¤¤¤¤


Di sebuah mobil mewah terdapat seorang gadis bersurai cokelat panjang menutup mata nya. Pak sopir yang melihat nona nya tertidur hanya diam dan tidak berani membangun kan nya . Mobil mewah itu melaju dengan kecepatan normal menembus jalan yang ramai.


Mobil mewah itu berhenti tidak jauh dari gerbang Sekolah Menengah Pertama JAYA. Sopir itu dengan sopan membangun kan gadis bersurai cokelat panjang yang tertidur itu.


"Nona, kita sudah sampai di sekolah," ucap pak supir.


Bulu mata lentik gadis itu bergerak-gerak, dan matanya yang terpejam terbuka. Gadis itu menatap ke arah luar dari jendela dan tersenyum tipis.


"Hmm,"


Gadis itu turun dari mobil, tiba-tiba matanya menyipit memandang seseorang yang berada di tepi jalan yang sama dengannya dan gadis itu memakai seragam yang sama dengannya, dia adalah Nadhira. Nadhira penasaran dengan orang yang berada di dalam mobil itu, jadi dia berhenti sejenak, dan seorang gadis bersurai cokelat panjang keluar dari mobil itu.


Mereka saling tatap dan merasa sudah cukup untuk sekedar mengetahui orang yang keluar dari mobil Nadhira melanjutkan perjalanannya menuju lapangan sekolah.


Gadis bersurai cokelat panjang itu merasa penasaran akan sosok gadis yang menatap nya datar barusan. Dia semakin tak sabar mengetahuinya.


Gadis itu melenggang pergi, sementara pak supir itu masuk ke mobil dan meninggalkan area sekolah.


Dia menyusul langkah Nadhira, akan tetapi tidak ke lapangan, akan tetapi menuju kantor kepala sekolah.


¤¤¤¤¤


"Selamat pagi!" Sapa Nadhira kepada teman-temannya yang sedang berlari, dia juga ikut berlari.


"Pagi juga!" Sapa mereka pula.


Setelah beberapa saat, mereka telah berlari sebanyak sepuluh putaran. Semakin hari daya tahan tubuh mereka semakin berkembang. Putaran lari mereka semakin banyak dan teratur, itu membuat Nadhira senang sekaligus bangga.


"Bagus! Kalian semua telah berusaha keras sampai sekarang," ucap Nadhira mengapresiasi mereka yang sekarang sedang beristirahat sambil meminum minuman yang diberikan Nadhira.


"Tentu! Jadi kapan bos akan mengajari kami lagi?" Tanya Bagas.


"Umm, kalau hari jumat ini, bisa sih dan kalau ada jam kosong atau waktu luang lainnya juga bisa," ucap Nadhira dengan pasti. Karena dia tidak akan tahu sesibuk apa dia, karena dia memiliki banyak rencana bisnis yang akan di kelolanya di masa depan.


"Bagus!" Ucap senang Rima dan lainnya.


Setelah cukup beristirahat mereka pun kembali ke kelas mereka. Memasuki jam pertama pelajaran mereka nampak fokus pada pelajaran mereka.


¤


¤


¤


Semoga Suka...