
Selamat Membaca...
•••••
Perempuan itu ternyata telah di pecat dari pekerjaannya sebagai pelayan di sebuah rumah makan yang sebelumnya Nadhira sempat makan sebelumnya.
Dia bekerja untuk menghidupi adiknya yang masih bersekolah di tingkat SMA sama dengan Nadhira yang berada di bangku kelas sebelas.
Jenifer berusia 25 tahun. Awalnya hidupnya dengan adiknya serba berkecukupan sampai pada saat ayahnya meninggal karena kecelakaan.
Sedangkan ibunya sudah meninggal saat dia masih SMA dan ayahnya menikah lagi dengan seorang perempuan beranak satu.
Mereka berdua di usir setelah ayahnya di makamkan dan tak di beri sepeserpun uang. Sudah dua bulan dia di usir dan selam itu juga dia bekerja sebagai pelayan.
Dengan modal ijazah sarjana, sedikit mudah mendapat pekerjaan di derajat rendah seperti menjadi pelayan.
Biaya pendidikan adiknya sangat mahal, karena adiknya sekolah di sekolahan elit jadi dia berusaha keras untuk mencari uang.
Perempuan yang memarahinya di rumah makan barusan ternyata adalah saudari tirinya, atau anak dari ibu tirinya yaitu Mona. Dia sengaja membuatnya di pecat agar membuat kehidupan dirinya dan adiknya lebih menderita karena kemiskinan.
Hidup di Kota A tidak lah mudah, karena rata-rata biaya hidupnya tinggi.
Jenifer menceritakan semua kisahnya dengan berlinang air mata, sedangkan Nadhira menjadi pendengar yang baik.
"Apakah ayahmu memiliki wasiat kepadamu?" Tanya Nadhira. Saat mendengar cerita Jenifer, Nadhira menangkap sebuah konspirasi di dalamnya.
Kemungkinan ibu tiri dan saudari tiri Jenifer mengusir kedua adik kakak ini karena ayahnya Jenifer memiliki wasiat untuknya.
Dan kemungkinan paling besar adalah masalah warisan yang berupa sebuah perusahaan di bidang alat transfortasi yaitu sebuah Showroom Mobil yang maju, beberapa rumah, perkebunan, mobil, dan aset-aset lainnya.
Jenifer terlihat terlihat berpikir. "Oh ya! Saat itu aku dan adikku di larang oleh ibu tiri ku untuk menjenguk ayahku yang sadar dari koma, tapi anehnya setelah sadar, kabar ayahku meninggal terdengar, aku bersikeras melihat jasad ayahku kalau memang ayahku meninggal akan tetapi selalu di halangi oleh ibu tiri ku," Jenifer bercerita dengan menggebu-gebu dan ada kemarahan Di matanya.
"Pada suatu waktu pengacara ayahku datang padaku dan berkata, kalau ayahku memiliki wasiat untukku,"
"Ayahku memberikan semua hartanya kepadaku dan adikku. Sedangkan untuk ibu dan saudari tiri ku hanya sebuah rumah yang di tempati mereka,"
"Mendengar itu ibu dan saudari tiri ku marah dan tak terima. Dia bersikeras untuk mendapatkan semua harta ayahku, akan tetapi pengacara ayahku adalah orang yang jujur, dia tidak mau mengikuti kemauan ibu tiri ku,"
"Ibu tiri ku melakukan berbagai cara untuk dapat mengubah isi wasiat, akan tetapi tidak bisa,"
"Dia sering menyiksa kami berdua, memaksa menandatangani pengalihan semua harta ke tangan nya, tapi aku selalu menghindar,"
"Karena selalu tidak berhasil, dia mengusir kami berdua keluar dari rumah, tanpa memberikan sepeser uang pun. Semua kartu kredit punya ku di blokirnya, jadi kami tidak memiliki uang sedikitpun saat itu,"
"Mintra perusahaan ayahku juga lebih mengenal ibu dan saudari tiri ku dibandingkan aku, karena selama ayahku koma mereka berdua lah yang mengelola semua usaha ayahku, sedangkan aku di larang,"
"Aku ingin mengambilnya akan tetapi aku tidak memiliki satu pun pendukung, jadi akan sulit untuk mengambil semua itu. Meski dapat diambil, tapi mitra ayahku tidak setuju maka akan sulit,"
Jenifer bercerita dengan jelas tentang semua kejadian yang dia dan adiknya alami.
Nadhira memahami semua cerita Jenifer dan dia pun berkata. "Kau ingin mengambilnya dengan mudah?" Tanya Nadhira.
Apakah hak nya dan adiknya?
Sangat ingin! Tapi apakah bisa?
Merasa ragu Jenifer berkata. "Emm, bukannya apa, tapi apakah maksudmu kau akan membantuku mengambil hak ku dan adikku? Bukan nya tak percaya, tapi kita kan baru kenal. Apa alasanmu ingin membantuku?" Jenifer tak bisa tidak waspada bukan. Pasalnya mereka memang baru kenal beberapa saat yang lalu.
Nadhira tersenyum kecil kemudian berkata. "Menolong seseorang tidak harus kenal dulu! Dalam diriku terdapat rasa simpati terhadap masalahmu, jadi tidak ada alasan khusus bagiku untuk membantumu,"
Jawaban Nadhira masihlah memberikan pertanyaan besar dari Jenifer, tapi dia berusaha percaya, karena dia memiliki kesan baik di awal dengan Nadhira.
"Baiklah, aku percaya padamu dan untuk tawaranmu, aku sangat-sangat menginginkannya. Bukan untukku, tapi untuk adikku yang masih sekolah," ucap Jenifer yakin.
Nadhira kembali tersenyum. Bukan tanpa tujuan Nadhira menolong Jenifer. Dia juga ada alasan di balik membantu Jenifer. Dia ingin menjalin koneksi dengan Jenifer jikalau dia telah berhasil merebut semua properti warisan yang di rebut ibu dan saudari tirinya.
Meski begitu dia tidak akan menunjukkan niatnya yang sebenarnya.
Meski bukan yang terbesar, akan tetapi Showroom mobil kepunyaan ayahnya itu merupakan salah satu Showroom terbesar ke lima di Kota A ini, jadi tidak ada ruginya untuk menjalin pertemanan dengan pemilik sah nya meski belum di pegang oleh sang pemilik sahnya.
Darimana Nadhira tahu?
Nadhira tahu dari cerita Jenifer dan itu membuatnya semakin yakin kalau dia harus menjalin pertemanan dengan Jenifer.
"Kapan kau akan membantuku?" Tanya Jenifer. Dia sudah sangat tak sabar, meski hanya sebulan dia menjalani kehidupan sulit akan tetapi karena tidak terbiasa membuatnya sulit dalam menjalani kesehariannya.
"Bersabarlah untuk masalah pengambilan hak mu. Karena sesuatu jika dilakukan tergesa-gesa maka hasilnya akan membuat kita menyesal, jadi kita perlu membuat rencana. Dan untuk masalah perekonomian atau masalah sekolah adikmu, aku bisa bantu," ucap Nadhira. Dia tidak akan melakukan sesuatu kalau ujung-ujungnya tidak menghasilkan seperti apa yang diharapkannya, jadi dia juga memerlukan perencanaan, dan lagi dia harus me observasi terlebih dahulu mengenai di perusahaan Showroom Jenifer. Bagaimana para pegawainya, mitranya dan sistemnya.
Karena dari sana kita bisa melihat apakah akan mudah dan sulit untuk mengambil alih, mengambil perhatian para pegawai dan mitra perusahaan itu.
Kita tahu meski kita pemilik tapi pegawai dan mitra lebih suka kepada yang menjalankan perusahaan, kita sebagai pemilik tidak bisa berbuat banyak untuk memenangkan kepemilikan itu. Malahan jika kita bersikeras, maka dapat di pastikan perusahaan tersebut akan bangkrut karena tidak adanya pendukung, penyokong dan pastinya pegawai yang setia.
"Tidak perlu untuk masalah itu! Aku masih bisa membiayai adikku dan diriku sendiri. Terima kasih atas tawarannya," dia bukan orang yang serakah. Di bantu saja dia sudah bersyukur. Kalau dia menerima bantuan berupa finansial lagi, mau dikata apa dirinya.
Serakah?
Tamak?
Jenifer tidak ingin menjadi seperti ibu dan saudari tirinya. Almarhum ibunya telah mengajarinya agar tak bersikap sombong meski mereka kaya, sederhana meski memiliki banyak uang dan hal-hal baik lainnya.
Dia tidak ingin mengecewakan ibunya yang telah berada di alam lain dan juga sekarang ayah nya juga telah menyusul. Dia berjanji akan menjaga dan mengurus semua peninggalan kedua orang tuanya.
Semakin lama mereka berbincang, semakin mereka memahami karakter masing-masing. Akan tetapi sulit untuk Jenifer untuk benar-benar memahami Nadhira yang sangat rapi menyembunyikan segala sesuatu, termasuk kepribadian, sifat, karakter. Dia akan menyesuaikan karakter lawan bicara, jadi tak akan yang tahu bagaimana kah karakter sebenarnya dari Nadhira.
¤
¤
¤
Semoga Suka...