Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Pembobolan


Selamat Membaca...


•••


Setelah keributan yang di lakukan oleh Nadhira di kantin Ospek pun berlanjut sampai jam 2 sore dan berlanjut besok sampai dua hari kedepan.


Dan hari ini adalah hari ketiga atau hari terakhir Ospek. Seperti hari kemarin-kemarin kedatangan Nadhira selalu menarik perhatian seluruh Warga kampus GALAKSI. Tak ada yang berani menatap langsung mata Nadhira setelah kejadian di kantin.


Mereka berpikir Nadhira bukalah gadis biasa sampai berani melawan Calvin bahkan tidak terjadi apapun pun dengan nya setelah mempermalukan serta mencederai tangan kanan Calvin.


Nadhira asik dengan dirinya sendiri, sampai dia melupakan sesuatu, yaitu mengganti bakso gadis yang duduk bersamanya dikantin di hari pertama Ospek.


Hari ini dia harus mencarinya dan menepati janjinya, Nadhira bukanlah orang yang suka mengingkari janjinya, kecuali seperti sekarang, lupa!


Seperti dua hari yang lalu, sekarang Nadhira juga berbaris di lapangan dan setelah ini mereka akan digiring menuju aula untuk mendengarkan Rektor Universitas GALAKSI untuk berpidato dan menutup Ospek.


"Selanjutnya kalian ikuti kakak-kakak di depan menuju aula. Disana kalian jangan ribut dan dengarkan apa yang di ucapkan Rektor kita," perintah ketua panitia Ospek, Eric namanya dan kakak yang di suruh untuk mereka ikuti bernama, Naura, Emilio dan Ervin.


"Baik kak!" Jawab semua mahasiswa baru.


Mereka pun mengikuti arahan ketiga senior si depan sambil melihat-lihat lingkungan kampus, karena mereka masih belum sempat berkeliling.


Tak lama mereka sampai di sebuah bangunan besar berwarna coklat muda dan memasukinya. Mereka pun duduk di kursi yang telah disediakan oleh pihak panitia Ospek.


Lima menit berlalu dan Rektor serta dekan-dekan kampus memasuki ruangan aula.


Satu persatu menyampaikan pidato mereka dan di akhiri oleh Rektor kembali yang menutup kegiatan Ospek.


"Selamat datang dan selamat bergabung untuk kalian semua, semoga kalian betah menjadi warga GALAKSI. Tak panjang-panjang pidato saya, maka saya tutup kegiatan Ospek tahun ini!"


Prok


Prok


Prok


Riuh tepuk tangan bergema di aula.


Berakhirnya kegiatan Ospek hari ini maka mereka diperbolehkan pulang cepat dan boleh juga kalau ada yang ingin berkeliling dan mengenal kampus, bahkan boleh bergabung ke Organisasi yang mereka minati.


Kalau Nadhira dia memilih pulang dan sekarang dia sudah berada di parkiran dan bersiap memasang helm nya.


"Tunggu!" Ucap Nadhira memanggil seorang gadis yang kebetulan lewat, dia adalah gadis yang di cari Nadhira.


Gadis itu menghampiri Nadhira takut-takut. "Y-ya? Kau m-memanggilku?" Tanyanya gagap.


Bukannya menjawab, tapi Nadhira menyodorkan tangan terkepal mengarah kehadapan gadis itu. Gadis itu mendongak dan menatap Nadhira bingung.


"Tadahkan tanganmu!" Pinta Nadhira dan dengan ragu-ragu gadis itu menurutinya.


Nadhira menaruh tangannya di atas tangan gadis itu dan menatap mata gadis itu. "Siapa namamu?" Tanya Nadhira.


"A-Alena," jawabnya.


"Hmm, aku Nadhira. Kita satu jurusan bukan?" Alena mengangguk. Tadi dia melihat nama Nadhira di jurusan yang dia ambil, yaitu jurusan komputer.


Meski Alena berpenampilan culun dan cupu, jangan salah dia itu ahli dalam hal meretas atau disebut juga hacker, tapi tidak ada yang tahu itu, tapi Nadhira tahu karena dia sudah mencari identitasnya juga, dia menanyakan namanya hanya untuk memastikan.


Nadhira mengajukan wajahnya kembali samping kanan Alena, tepatnya di dekat telinga. Dia berbisik "Wizard301!?" Membuat Alena menegang.


Memang sifat Alena itu pemalu kalau berbicara langsung dengan orang, tapi kalau lewat pesan ketik, dia akan berubah menjadi orang lain yang ahli bernegosiasi.


"K-kau?!" Alena mengapalkan tangannya yang gemetar karena takut kalau Nadhira akan menyebarkan identitas aslinya. Darimana Nadhira tahu? Dia bahkan tidak pernah memberitahukan kepada siapa pun kalau Nadhira ahli dalam meretas tidak ada benda bahwa seseorang pernah memasuki keamanannya.


"B-bagaimana bisa?"


"Jangan tegang begitu, aku tidak akan memberitahukan kepada siapa pun!" Ucap Nadhira dengan senyum tipis.


"Kalau begitu aku pergi! Karena urusanku sudah selesai," Nadhira memasang helm nya dan menaiki motornya meninggalkan arah kampus.


Tinggallah Alena yang masih berdiri mematung disana. Dia menunduk dan menatap tangannya yang sepertinya terdapat sesuatu disana.


"Hah uang?" Dia bingung Mengapa Nadhira memberinya uang 50 ribu dan dia pun ingat kalau Nadhira sudah mengatakannya di hari dia meminta ijin mengambil baksonya.


"Hahh, padahal tidak perlu," gumamnya kemudian dia menuju satu bulan motor matic miliknya dan mengendarainya.


•••


Satu minggu telah berlalu semenjak berakhir nya masa Ospek dan hari ini hari minggu, hari libur kuliah dan karena Nadhira masih belum bergabung dengan satu pun organisasi di kampus jadi dia bisa istirahat di rumah.


Selama masa perkuliahan pun tidak ada hal spesial yang terjadi. Calvin, laki-laki itu serta kedua teman bahkan gadis bersama mereka waktu itu pun tak terlihat. Dan hal yang bagus yaitu Alena dan Alisya selalu duduk bersama di kantin kalau bertemu, kecuali Alena yang memang satu jurusan dan selalu bertemu.


Ting ting ting


Ting ting ting


Ting ting ting


Suara notifikasi terus berbunyi dari komputer yang hanya beberapa kali dalam satu tahun dia matikan.


Nadhira segera menaghampirinya dan mengeceknya. "Sial!" Umpat Nadhira.


Keamanannya ada yang ingin membobol dan kemungkinan identitasnya sebagian sudah orang itu ketahui dan untungnya Nadhira cepat, jadi identitas pentingnya tidak ada yang mengetahui, meskipun orang itu tahu, kemungkinannya kecil jika dia mampu mencocokkan identitas itu, kecuali orang itu sudah mengenali salah satu identitasnya.


Dilain tempat, tepatnya disebuah ruangan temarang dengan tiga orang pria yang sedang melakukan tugas nya masing-masing. Mereka adalah Stiven, Roy dan Alvin.


"Ah sial! Sangat sulit!" Umpat Alvin pelan, tapi masih dapat di dengar oleh dua orang lainnya yang sedang melakukan pekerjaan mereka.


"Ada apa? Bagaimana hasilnya?" Tanya Stiven.


Alvin mendekati meja kerja Stiven dengan membawa laptop ditangannya. Dia memperlihatkan layar laptopnya dan berkata. "Aku hanya bisa mendapatkan ini. Sangat sulit membobol keamanan nya! Kau yakin, dia hanya seorang gadis beranjak dewasa?" Alvin tak pernah merasa sefrustasi sekarang, pasalnya dia tidak pernah menemukan seseorang yang ahli dalam meretas melebihi dirinya.


"Hanya ini? Aku kira kau yang paling hebat dalam hal ini?" Ejek Leo.


Mereka cukup akrab sebagai bawahan Stiven. Alvin bekerja sebagai hacker di dunia mafia yang mana boss nya adalah Stiven. Tidak ada yang bisa menandinginya kalau masalah retas meretas, dan dia mendapatkan gelar 'Hacker Ghost' karena selalu dapat membobol dan pergi tanpa meninggalkan jejak, tapi ada satu lawan yang menurutnya lumayan kuat dalam meretas 'Wizard301' meski tak sampai bobol, tapi hampir saja keamanan perusahaan Stiven ketahuan dan dia tidak menemukan jejaknya dan sekarang? Ada lagi? Bahkan lebih hebat!


¤


¤


¤


Semoga Suka...