
Selamat Membaca...
•••••
Maya tak sempat sembunyi, pasalnya dia tak menyadari kehadiran orang tersebut. Dia menyadari setelah suara berat mengagetkannya.
"Ternyata ada yang berani juga memasuki ruangan ku ya!?" Suara berat itu sangat dingin dan penuh tekanan. Membuat Maya tanpa sadar membasahi punggungnya dengan keringat dingin.
Maya langsung berpaling menghadap orang itu. Dia adalah seorang pria tampan yang tak lain adalah Stiven.
Saat itu Maya menggunakan penutup wajah, jadi Stiven tak mengenali wajahnya sampai saat dia dengan kecepatan tak terduga menyerang Maya.
Maya sempat menghindar, akan tetapi penutup wajahnya terlepas. Dia tak sadar, kapan? Sungguh pria yang mengerikan.
"Oh ternyata kau? Agen Pembunuh nomor satu yang sedang dalam pencarian," ucapnya mengejek.
Maya tetap diam. Dia waspada, pasalnya Stiven merupakan orang yang tidak biasa. Dia seorang bos mafia, itu yang di ketahui Maya.
"Apakah aku harus memanggil polisi untuk menangkap mu? Atau kau sendiri yang akan menyerahkan diri. Oh ya, apakah kau mencari ini?" Stiven mengangkat sebuah Flashdisk dan sebuah dokumen pada kedua tangannya menunjukkannya kepada Maya yang membulatkan matanya.
"Aku berpikir siapa yang berani memasuki kantorku dan untuk apa? Tapi ternyata kau? Sungguh luar biasa kau dapat menembus keamanan ku, tapi...siapa pun yang masuk tidak dapat keluar dengan mudah," ucapnya dengan seringaian yang membuat siapa saja yang melihatnya bergidik ngeri.
Maya diam bukan berarti hanya diam karena takut, tapi dia mencari kesempatan untuk kabur. Sekarang tujuannya hanya terbebas dari pria mengerikan di depannya itu.
Jarak mereka saat ini yaitu, Stiven berada di pintu masuk seraya perlahan berjalan kearah mejanya. Sedangkan Maya berada di dekat rak buku yang jarak antar rak buku dan meja berjarak sepuluh meter.
Rak buku terletak di dekat jendela kaca. Ingin memecahkannya dan melompat, otomatis Maya akan mengalami patah tulang atau lebih parahnya akan mati. Karena lantai kantor Stiven berada pada lantai dua puluh.
Tapi Maya tak kehabisan akal. Dia dengan cepat berlari ke arah pintu balkon yang tak jauh darinya saat Stiven lengah. Sebenarnya Stiven bukan lengah, akan tetapi dia sengaja membebaskan Maya. Toh tak ada yang diambil olehnya dan juga Stiven sedikit memiliki ketertarikan dengan Maya saat itu, yang mana dia pernah mencari tahu tentang kehidupan Maya tanpa sepengetahuan Maya.
Story Off
"Ugh sial, tak sempat belanja kan!" Umpat Nadhira.
"Apa aku ke pusat perbelanjaan lain saja ya? Boleh juga!" Nadhira pun pergi ke pusat perbelanjaan lainnya.
Dia membeli banyak barang, mulai dari baju yang sederhana dan tidak mahal tentunya agar tidak di curigai oleh sang ibu, untuk kakaknya dia tak masalah karena Andara sendiri sudah tahu kalau dirinya memiliki banyak uang untuk kalangan mereka.
Dia membeli baju untuk dirinya, ibunya, kakaknya, bibi Mayang, paman Aryo dan Sinta.
Setelah cukup berbelanja, dia pun mencari tempat makan untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
Nadhira memesan makanan yang dia inginkan dan setelahnya memilih memainkan ponselnya.
Sampai pada saat sebuh pecahan gelas terdengar membuat seluruh perhatian pengunjung terfokus satu arah yaitu pada seorang pelayan yang tak sengaja menabrak seorang perempuan berpakaian mewah.
"Kau tak memiliki mata apa, sampai -sampai menabrak?" Marah perempuan itu. Dia memakan dress selutut berwarna cream yang mana gelas yang tumpah ke pakaiannya itu adalah jus jeruk dan membuat pakaian nya kotor.
"Jadi kotor kan! Sayang lihat jadi kotor," adu nya kepada pria yang berdiri di sampingnya.
Pria itu terlihat acuh, setelah mendengar aduan perempuan itu pria itu langsung pergi menuju meja mereka tanpa menghiraukan panggilan perempuan itu.
Perempuan itu tampak sangat malu, akan terapi dia tetap memarahi pelayan perempuan itu dan memanggil manajer rumah makan itu.
Pelayan itu di suruh menuju kantor manajer setelah aduan pelanggan.
Para pelanggan memakan dan melakukan aktifitas mereka masing-masing begitu juga Nadhira yang sedang memakan hidangan yang telah datang.
Yang tidak di sadari Nadhira adalah ada orang yang selalu mengawasinya sedari dia masuk ke rumah makan itu. Meski Nadhira peka terhadap awasan atau perhatian orang terhadap dirinya, akan tetapi entah kenapa untuk orang ini dia tak menyadarinya.
Orang seperti apakah dia?
Saat ini Nadhira berdiri di trotoar untuk menunggu taxi pesanannya. Dan saat itu juga dia melihat perempuan atau pelayan yang di marahi saat di rumah makan dimana dia makan barusan.
Matanya terlihat bengkak dan merah, dapat di pastikan dia habis dimarahi dan lebih parahnya di pecat.
Dia terlihat linglung, berjalan tak tentu arah dan tak memperhatikan langkahnya sampai.
"Hei awas!!!" Teriak Nadhira seraya menarik perempuan itu.
Perempuan itu akan menyeberang jalan akan tetapi pikirannya di lain tempat jadi dia tak memperhatikan kalau ada sebuah mobil hitam yang melaju ke arahnya dan dia hampir tertabrak kalau saja Nadhira tidak menariknya.
Kebetulan saat itu Nadhira dekat dengan penyeberangan jalan kaki dan langsung saja dia menariknya membuat perempuan itu terkejut dan terduduk di aspal, sedangkan Nadhira masih tegap berdiri di samping perempuan itu.
"Huhuhuhu," tanpa di duga perempuan itu menangis tersedu-sedu membuat nya menjadi perhatian. Nadhira yang di sampingnya juga menjadi perhatian karena sebelumnya dia menarik perempuan itu dan pastinya orang akan mengira kalau Nadhira lah yang membuatnya menangis.
Nadhira sedikit panik. "Hei kenapa menangis? Karena tidak jadi tertabrak mobil tadi?" Ucapan Nadhira bukannya menenangkan perempuan itu, malah membuat nya menangis semakin keras.
Ucapan Nadhira sangatlah tajam, dia tak memiliki kata-kata penenang di kepala nya saat ini, karena rasanya dia ingin sekali menyumpal mulut perempuan itu.
"Menyesal aku menolong mu tadi! Kalau jadi nya begini," ucap Nadhira lagi.
Tangisan perempuan itu sedikit mereda dan hanya menyisakan sesegukan nya.
Nadhira berjongkok dan menepuk pundak perempuan itu. "Jika ada masalah kau bisa bercerita kepada siapa pun. Boleh dengan ku juga!"
Perempuan itu menatap Nadhira dan mengangguk. Entah mengapa hati perempuan itu yakin kalau sosok gadis di depan nya itu mampu memecahkan masalah dalam hidupnya.
Nadhira pun membatalkan taxi pesanannya akan tetapi dia tetap membayar, karena dia yang membatalkannya dan mengajak perempuan itu ke sebuah cafe terdekat di sana.
Saat ini mereka telah duduk berhadapan dan hanya di halangi oleh sebuah meja.
"Jadi ceritakan lah masalah mu, semisal aku bisa membantu aku akan membantu," ucap Nadhira seraya menatap perempuan itu.
Perempuan itu menatap malu ke arah Nadhira, dapat dia lihat kalau gadis di depannya ini lebih muda darinya, akan tetapi dia memiliki ketegasan pada setiap kata-katanya, akan tetapi dirinya? Malah seperti seseorang yang kehilangan arah tujuan hidup.
"Sebelumnya, terima kasih mau mendengarkan ceritaku. Meski kau tak mengenalku kau bersedia mendengarkannya dan perkenalkan namaku Jenifer. Sebelumnya aku ingin tahu namamu dulu, siapa namamu, kalau dilihat kau lebih muda dariku?" Ucap Jenifer.
"Namaku Nadhira, tak masalah! Aku senang bisa membantu!" Sahut Nadhira.
Setelah saling memperkenalkan diri Jenifer pun mulai bercerita.
¤
¤
¤
Semoga Suka...