
~Jangan lihat seseorang dari luarnya saja, tapi cari tahu juga apa yang di pikirkannya~
Selamat Membaca...
•••••
Andara melangkahkan kakinya yang panjang, berencana untuk mematuhi bibinya menggantikan adiknya bekerja di bar bibinya.
Andara juga pemuda yang sangat tampan. Rahang kokoh, hidung mancung dan badan yang tinggi. Juga akan sangat menguntungkan jika dia bekerja di bar bibinya.
Nadhira meraih tangan Andara, mencegah dia ikut bibinya. Matanya menatap tajam kepada bibi Mawar serta para preman. Bibirnya melengkung menjadi seringai licik dan menakutkan. "Apakah kalian ingin mencoba untuk masuk rumah sakit?" Nadhira berpikir bagaimana Andara atau dirinya akan mendapatkan uang kalau bekerja di sana tidak di bayar dan hanya menyerah kan tenaga secara gratis, karena keinginan bibinya itu saat Nadhira bekerja pada barnya itu hanya untuk menambahkan waktu tidak untuk membayar hutang.
Sejak Maya memasuki tubuh Nadhira dan telah menjadi Nadhira seutuhnya, dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan melindungi kakak dan ibu dari tubuh ini karena dia adalah Nadhira sekarang. Ini tidak mudah di dapatkan baginya, karena dia sudah lama mendamba-dambakan memiliki keluarga sesungguhnya.
Pria dengan bekas luka di wajah bersiul dan mengamati Nadhira dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Gadis yang menarik. Hohohoo! Tapi aku suka itu!" Ketiga preman lainnya ikut tertawa.
Tatapan tajam dari Nadhira hanyalah lelucon bagi mereka, terkecuali bibi Mawar yang merasa terancam.
Menyadari bagaimana orang-orang itu menatap lapar Nadhira, Andara langsung menahan punggung adiknya itu.
Nadhira menoleh dan tersenyum meyakinkan bahwa dia tidak apa-apa.
Semua orang terkejut ketika melihat Nadhira hanya melewati mereka dan keluar dari rumah. Mereka mengira Nadhira mau ikut dan siap bekerja di bar bibinya. Oleh sebab itu mereka pun keluar mengikuti Nadhira.
Setelah di luar mereka pun akan pergi tapi Nadhira tidak mengikuti mereka, dia hanya diam berdiri di depan rumah sambil menggulung lengan bajunya yang panjang mempersiapkan tinjunya,
Apa yang akan dia lakukan? Lihatlah, Nadhira berjalan menuju keempat preman itu. Bibi Mawar sudah menyingkir karena merasa ancaman mendekat padanya saat Nadhira mulai mendekat.
"Hei, Bos, apakah gadis cantik ini mengajukan diri sebagai mainan kita terlebih dulu sebelum bekerja di bar nyonya Mawar? Hahahahaha," Seorang pria yang memiliki bekas luka di wajah itu mengejek Nadhira.
Adapun yang di panggil bos itu bernama Romi, dia melihat dari sisi dia berdiri sekarang. Dia menganggap dirinya hebat dan kuat. Dia memiliki wawasan yang luas mengenai karakter-karakter seseorang, namun, dia belum pernah bertemu seseorang seperti Nadhira.
Nadhira tampak polos dengan wajah cantik tapi kenyataannya dia memasang tampang pembunuh yang mengerikan.
Romy menampik semua yang ada di pikirannya. Tidak peduli seberapa mengerikannya tatapan Nadhira, dia hanyalah gadis di bawah umur yang masih dalam masa pertumbuhan!.
Haruskah sekelompok pria takut pada seorang gadis kecil?
Saat Romy memutuskan untuk mengabaikan tatapan Nadhira dan akan berjalan ke arahnya untuk menariknya, betapa terkejut dia dengan apa yang di lakukan Nadhira selanjutnya.
Sambil menggulung lengan baju nya lebih tinggi Nadhira sedikit tersenyum. Dia mengambil dua langkah ke depan dan tangan nya dengan lincah melingkarkan lengannya ke leher pria yang memiliki bekas luka itu. Dia menarik pria itu dan melemparkannya ke tanah dengan Kecepatan dan kekuatan yang luar biasa cepat dan kuat.
Apakah ini kecepatan manusia? Apakah seorang gadis kecil benar-benar memiliki kekuatan seperti itu?
Arrgghh!
Puspa menatap putrinya dengan tidak percaya, sementara Andara juga merasa terkejut oleh tindakan yang di lakukan oleh adik perempuannya.
"Kau-kau," Romy benar - benar kehilangan ketenangannya, begitu juga yang lain. Apalagi kalau melihat bibi Mawar sudah gemetar hebat.
Mereka telah meremehkan Nadhira sebelumnya, berpikir bahwa Nadhira hanyalah seorang anak kecil.
Bibi Mawar juga sangat terkejut, berfikir Nadhira masih seperti dulu, gadis lemah, bodoh dan penakut.
Namun, sekarang, dengan salah satu preman yang telah di sewanya pingsan, bibi Mawar serta preman lainnya langsung diam dan semakin gemetar ketakutan.
Mereka melihat dengan jelas bagaimana pria itu berakhir di atas tanah dalam keadaan pingsan, mengingat dia salah satu anak buahnya yang paling hebat. Namun kecepatan Nadhira beberapa kali lebih cepat dari pria itu! Jika mereka tidak bisa melihat kecepatan Nadhira dengan mata, bagaimana mereka bisa melawannya?
Saat Nadhira mendekati Romy, bibi Mawar semakin menjauh, dia berhenti dan menatapnya. Matanya yang cantik memiliki tatapan yang tajam yang tidak menunjukan sedikitpun rasa takut.
Nadhira beralih menatap bibi Mawar kemudian berkata. "Aku akan membayar hutang keluargaku, tapi tidak bekerja di bar mu, bibi. Aku yang akan mencari uang sendiri,"
Romy dan anak buahnya itu tanpa sadar menghela nafas lega. Mereka takut pada Nadhira, tapi mereka juga merasa bahwa dia adalah seorang yang akan mengingkari janjinya, sedangkan mereka harus melakukan tugasnya sebagai preman yang sudah di bayar.
Ketika Romy berpikir semuanya sudah berakhir, suara dingin Nadhira terdengar lagi."Tapi jangan berpikir untuk pergi dari sini begitu saja. Jika kau tidak meminta maaf, maka aku akan melumpuhkan satu persatu dari kalian di tempat ini!"
"Kalian tidak akan jera kalau hanya sekedar di gertak atau di buat pingsan seperti teman kalian itu! Apakah aku harus membuat satu persatu lengan kalian patah sebelah? Atau kaki kalian?"
Romy dan antek-anteknya serta bibi Mawar sangat terkejut dan membelalakan mata mereka sampai hampir keluar pada tempatnya.
"Na-Nadhira, k-kau jangan macam-macam," suara gemetar yang dipaksakan di lontarkan oleh bibi Mawar.
Nadhira ingin mematahkan lengan mereka atau kaki mereka jika mereka tidak meminta maaf hanya karena saudara laki- laki dan ibunya merasa tidak senang?
Setelah apa yang terjadi barusan, mereka sepenuhnya percaya bahwa Nadhira akan mampu melakukan ancamannya. Namun, mereka tidak tahu bahwa ketika Nadhira masih menjadi agen pembunuh rahasia, dia tidak akan melepaskan orang-orang yang telah di anggapnya berbuat salah.
"Ira, sudahlah! Aku dan kakak mu baik-baik saja, kami tidak merasa tidak senang," Puspa berucap dengan lembut. Dia khawatir kalau Romy akan membalas dendam dengan kawan - kawannya dengan meminta bantuan dan membahayakan puteri nya jika dia terus berdebat.
"Karena ibuku berbicara begitu, kalian bisa pergi dengan aman tanpa cacat sedikit pun. Dia menatap para preman itu. Kemudian, dia terkekeh melihat mereka.
"Ingat, ku sarankan kalian jangan mengambil setiap uang yang di tawarkan oleh si penyewa jasa preman kalian, karena kalian tidak akan tahu siapa saja yang akan kalian temui kedepannya," gadis itu memiliki mulut yang berani dan tajam. Tidak peduli semenyebalkan nya mereka, tapi mereka hanya mematuhi perintah orang yang membayar mereka.
¤
¤
¤
Semoga Suka...