
Selamat Membaca...
•••••
Pria paruh baya itu menetralkan keterkejutannya dengan berdehem beberapa kali. "Ekhem ekhem, kalau begitu baiklah! Oh ini siapa?" Tanyanya lagi seraya menatap ke arah Andara.
"Perkenalkan nama saya Andara, kakaknya Nadhira," ucap Andara memperkenalkan dirinya.
"Oh iya iya, perkenalkan juga nama bapak adalah Wibowo, panggil saja pak Bowo,"
Mereka saling jabat tangan dan langsung ke tujuan utama yaitu serah terima gedung kepemilikan yang akan menjadi kepunyaan Nadhira.
Proses telah selesai dan pak Bowo berkata. "Senang bisa bekerja sama dengan kaliam berdua. Meski saya yakin kalian masih sangat muda, tapi kalau di lihat dari keseriusan kalian, kalian aka sukses di masa muda ini,"
"Terimakasih atas pujiannya," ucap Andara.
"Kalau ada keperluan jangan sungkan untuk meminta bantuan pada bapak ya, kalau begitu bapak permisi dulu," pak Bowo pun pergi setelah mendapat anggukan dari Andara dan Nadhira.
Andara menatap ke arah Nadhira meminta penjelasan. Nadhira mengerti dan dia mengajak Andara untuk duduk terlebih dahulu.
Setelah mendapat posisi yang nyaman untuk menjelaskan Andara membuka suara. "Sekarang, jelaskan!" Nada yang tak bisa di bantah.
"Huft, baiklah aku akan mulai dari cerita selanjutnya setelah mendapat kan uang itu. Aku sudah mengatakan kepada ibu bahwa aku dan temanku akan membuka usaha, tapi dari faktanya hanya aku sendiri yang membuka usaha ini. Tujuanku mengajak kakak ke sini karena aku perlu bantuan kakak. Kakak sendiri tahu aku baru enam belas tahun, sulit untukku untuk mengelolanya sendiri. Jadi aku perlu kakak untuk mengaturnya demi kehidupan yang lebih baik di masa depan kita bersama ibu," jelas Nadhira.
Andara masih diam, dia terharu dengan semua yang di lakukan Nadhira untuk keluarga. Dirinya merasa bukan dirinya yang seorang kakak, akan tetapi Nadhira lah kakaknya sekarang.
Seperti mengerti apa yang di pikirkan Andar, Nadhira berkata. "Jangan menganggap diri kakak rendah dan tidak berguna. Kakak adalah kakak terbaikku. Jadi jangan bersalah akan semua hal yang memang bukanlah kemampuan kita untuk mencapainya,"
Setitik air mata lolos dari mata indah Andara. Dia benar-benar tak terharu dan merasa bangga dengan adiknya ini. Dia pikir dia sudah memahami karakter sang adik, akan tetapi ternyata tidak. Dia merasa rendah, akan tetapi setelah mendengar perkataan dari Nadhira dia menjadi sadar, bahwa dia tidak seharusnya pesimis, dia harus optimis.
"Baik! Kakak akan membantu sebisa kakak, tapi bisakah kakak mengajak Glen?" Tanya Andara.
"Itu terserah kakak, akan tetapi ini akan menjadi rahasia kita saja, jangan dulu sampai ibu tau, sampai usaha kita ini berkembang dan dapat mebeli rumah untuknya. Aku juga berniat untuk membelikan rumah untuk paman Aryo dan bibi Mayang. Mereka kan sudah banyak membantu kita, jadi ku rasa kita harus balas budi,"
"Sungguh bagus! Aku setuju,"
Setelah penjelasan dan rencana yang telah mereka buat, Nadhira mengajak kakaknya untuk ke toko ponsel untuk membelikannya ponsel baru. Sangat sulit untuk berurusan kalau masih dengan ponsel jadul.
Mulanya Andara menolak, akan tetapi dengan penjelasan Nadhira yang logis, dia pun mengiyakannya.
Mereka masuk ke sebuah toko ponsel di pinggiran jalan. Mereka memilih-milih dan pilihan Andara jatuh pada ponsel yang cukup sederhana, tapi Nadhira menolaknya, karena di berkata.
"Kakak tidak perlu khawatir dengan uangnya. Beli lah ponsel yang lebih canggih, karena ponsel itu akan sangat berguna bagi jalannya usaha kita,"
Andara tak dapat menolak lagi, dia pasrah di belikan Nadhira ponsel seharga delapan juta rupiah.
Setelah di rasa cukup, dia pun kembali pulang ke rumah. Di rumah tidak ada siapa pun karena ibu mereka belum kembali.
Nadhira kembali ke kamarnya untuk berselancar di internet, mencari informasi yang dapat dia gunakan untuk mencari uang tambahan.
¤¤¤¤¤
Lain Andara, lain lagi Nadhira yang setelah kepergian kakaknya dan ibunya bekerja, dia sedang bersiap-siap untuk keluar.
Dia tidak mengatakan dia akan kemana kepada ibunya maupun kakaknya. Karena dirinya akan menemui seseorang tanpa sepengetahuan siapa pun.
Nadhira menaiki bus menuju sebuah hotel. Setelah sampai di tujuan dia mencari, menyusuri ke setiap sudut depan gedung hotel.
Dengan kilatan matanya yang dingin, dia melihat seorang wanita duduk di sudut. Dari belakang, wanita itu terlihat biasa saja, dia juga memakai topi. Namun tidak ada yang tahu identitas sebenarnya. Terlihat biasa, berusia berkisar dua puluhan.
Seorang pria setengah baya duduk di seberangnya. Mereka terlihat mengobrol, akan tetapi lebih pada pria itu memohon kepada perempuan itu.
Nadhira berjalan ke arah mereka sambil menatap mereka dengan tatapan tajam.
Sangat terlihat bahwa perempuan itu ahli dalam menyamar. Karena saat dia berkomunikasi sebelumnya, dia mengatakan kalau dirinya berhasil menemukannya, maka yang menemukan aka di akui nya hebat.
Dia hanya menyebutkan ciri-ciri tentang dirinya saja, tidak secara khusus, seperti dia akan memakai pakaian berwarna apa, modelnya apa dan sebagainya. Tapi bukan hal sulit untuk Nadhira yang memang sudah mengenalnya. Nadhira mengenalnya belum tentu perempuan itu mengenal Nadhira, karena pada dasarnya Nadhira ahli retas, dan jika dia ingin mencari info tentang seseorang adalah hal mudah baginya untuk menemukannya, akan tetapi tidak semua Info yang di cari benar adanya.
Ada orang-orang yang tidak dapat di cari identitas nya oleh Nadhira. Contohnya pria misterius yang sempat di bantu Nadhira.
Saat itu Nadhira sangat penasaran dengan identitas pria itu sampai pada saat dia membeli ponsel, dia langsung mencari informasi mengenai pria itu, akan tetapi nihil. informasinya sangat sulit untuk di dapat. Hanya ada dua kemungkinan orang-orang seperti itu. Pertama dari organisasi, seperti maria tingkat tinggi. Kedua anggota militer yang memiliki pangkat yang tinggi.
Perempuan yang sedang berbicara kepada pria paruh baya itu mengalihkan pandangannya, saat seorang gadis remaja terlihat mendekati tempat mereka.
Perempuan itu terlihat kesal dengan seorang gadis dengan santainya berjalan ke arah mereka. Akan tetapi dia harus tahu terlebih dulu apa tujuan gadis remaja itu mendekatinya.
Siapa gadis ini?
Siapa pun mengira bahwa Nadhira saat ini hanyalah seorang gadis remaja yang naif. Akan tetapi semua itu tidaklah benar, karena di balik wajah remaja polosnya itu ada jiwa seorang pembunuh berdarah dingin.
"Ada apa?" Pria paruh baya yang tidak menyadari kehadiran seorang gadis remaja bertanya kepada perempuan itu.
Pria itu terkejut saat baru sadar jika ada seorang gadis remaja di samping meja mereka saat ini.
Seketika itu juga pria paruh baya itu melambaikan tangan untuk mengusir Nadhira. "Gadis kecil, pergilah dari sini. Aku punya sesuatu yang penting untuk dibicarakan dengan kakak perempuan ini di sini!" Saat berbicara, pria paruh baya itu menunjuk ke pintu masuk, jelas berpikir bahwa Nadhira telah datang ke tempat yang salah.
Mengabaikan perkataan pria paruh baya itu, Nadhira menatap perempuan itu dengan tatapan dingin dan dia berucap. "Cari diriku jika kau mampu," sebuah kalimat yang membuat perempuan itu terkejut.
Mendengar perkataan Nadhira yang tak berdasar menurut pria paruh baya itu, membuatnya berkata. "Apa yang kau ocehkan gadis kecil, apakah kau tidak mendengar apa yang barusan ku katakan. Pergilah! Cari tempat bermain lainnya. Jangan di sini. Mengganggu saja!"
Setelah mengatakan itu di bangkit dan berniat mengusir Nadhira, akan tetapi perempuan itu tiba-tiba berdiri dengan tergesa-gesa sampai cangkir berisi teh panah di meja hampir tumpah karena mengenai ujung bajunya.
Lagi-lagi perempuan itu di buat terkejut dengan gerakan cepat Nadhira yang langsung menangkapnya dengan refleksnya yang cepat. "Kau...," perempuan itu akan bicara, akan tetapi Nadhira dengan cepat meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.
¤
¤
¤
Semoga Suka...