Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Gagal Total


Selamat Membaca...


•••••


Rangga dan Bagas terlihat tersengal-sengal akan tetapi mereka masih bersemangat, sama halnya dengan Rima, dia juga masih semangat berlari.


Sedangkan Clara terlihat sangat ngos-ngosan dan lemah. "Pagi juga! Berapa banyak putaran yang sudah kalian selesaikan?" Tanya Nadhira.


"Tiga," jawab mereka serempak .


Nadhira puas dengan tekad mereka yang bersungguh-sungguh.


Lapangan sekolah ini luasnya sebesar lapangan sepak bola yaitu 400 meter. Clara telah melakukan nya dengan sangat baik, mengingat dia kemungkinan tidak pernah melakukan latihan keras ini. "Bagus Clara. Jika memungkinkan kau bisa berlari dua putaran lagi, akan tetapi jika kau sudah tidak sanggup itu tidak masalah juga dan kau bisa berhenti sekarang," Clara terlihat sangat kelelahan sekarang, dua putaran lain merupakan tantangan besar baginya, jadi Nadhira tidak memberi banyak tekanan pada nya.


Adapun untuk Rangga dan Bagas, Nadhira tidak akan ragu untuk menyiksa mereka. Rima mungkin tidak dia tekankan juga semampunya saja.


"Kalian bertiga kejar aku dengan kecepatan yang sama sekarang," perintah Nadhira kemudian dia berlalu lari mendahului mereka bertiga.


Mereka bertiga segera meresponnya. Mereka berlari menghampiri Nadhira dengan kekuatan yang tersisa.


Mereka bertiga sengaja memperlambat langkah mereka bertiga ketika berlari dengan Clara, sekarang dengan Nadhira mereka bisa menikmati berlari seperti kuda liar.


Mereka berlari beriringan tidak saling mendahului, karena mereka tahu ini bukanlah balapan akan tetapi latihan.


Setelah menyelesaikan lari lima putaran, Rangga dan Bagas mulai kehabisan nafas, bahkan Rima sudah lari dengan sangat pelan, sedangkan Clara berhenti di putaran ke empat.


Tetapi mereka tetap melanjutkan lari mereka, akan tetapi Rima tidak, kemungkinan dia tidak sanggup lagi.


Setelah putaran ke enam dan ke tujuh Rangga dan Bagas yang kelelahan, secara bertahap di tinggalkan oleh Nadhira .


Seketika itu juga mereka berdua melihat kalau larinya Nadhira konsisten tidak mengalami perubahan yang signifikan.


Rangga merasa yakin, kalau Nadhira telah menjalani pelatihan profesional selama bertahun-tahun. Dia merasa lebih segan dan juga sangat ingin tahu lebih tentang Nadhira.


Lima putaran kemudian Rangga dan Bagas tidak sanggup lagi untuk berlari, mereka membiarkan Nadhira menyelesaikan putaran ke tujuh nya.


"Ira... Nadhira kau....kau luar biasa! Kau dapat mempertahankan kecepatan yang sama sampai lari terakhirmu," ucap Rangga.


"Benar itu sangat luar biasa," sambung Bagas.


Nadhira terus berjalan sebentar, karena dia tahu dia tidak bisa langsung duduk setelah berlari. "Kalian akan terbiasa dengan itu, kalau berlari terus menerus secara konsisten," jawab Nadhira sambil menarik nafas.


Nadhira berjalan dan menghentikan langkahnya tepat di depan Clara. "Tidak apa-apa, kau telah melakukan dengan sangat baik hari ini, ayo jalan-jalan dulu baru setelah itu istirahat. Kau juga Rim, berjalan beberapa saat dulu baru duduk," Kepala Clara langsung dia sandarkan ke bahu Nadhira, dia merasa pusing dan tidak bisa berjalan lagi sendiri, begitu juga yang di lakukan Rima, dia menyenderkan kepalanya ke bahu sebelah kiri Nadhira.


Setelah beberapa saat, mereka berdua akhirnya pulih, dan mereka duduk di rerumputan, kemudian Nadhira mengeluarkan lima botol air minuman dari dalam ranselnya yang sebelumnya dia beli saat berlari ke sekolah.


Menyerahkan kepada keempat temannya, lalu satu botol yang tersisa untuk dirinya sendiri.


"Terima kasih," ucap mereka berempat.


Mereka segera membuka tutup botol, dan langsung menegak nya ke mulut mereka, seolah-olah mereka sudah tidak minum selama berhari-hari.


Mereka berencana untuk melakukan latihan lagi ketika mereka memiliki waktu luang, tapi untuk lari pagi akan mereka lakukan setiap hari.


¤¤¤¤¤


Di sisi lain, yaitu tepatnya di dalam kelas sepuluh IPS C, Yunita dalam suasana hati yang berbunga-bunga, dia berasumsi bahwa penjahat yang dia sewa telah menyelesaikan tugas yang dia berikan kepada mereka dengan lancar, meskipun dia belum menerima laporan dari mereka.


Yunita sangat percaya kalau Nadhira tidak mungkin bisa melawan dan lolos diri dari beberapa pria berbadan besar sekaligus.


Mungkin mereka (para penjahat) sedang bersantai sekarang, jadi Yunita berpikir tak apa mereka tak menelponnya untuk memberi kabar kepadanya, karena Yunita yakin mereka berhasil.


"Yunita apa yang telah terjadi? Kau terlihat sangat senang hari ini?" Tanya Mega penasaran melihat Yunita yang terus-terusan tersenyum sendiri.


"Ini adalah berita yang sangat-sangat bagus, tapi bukan waktu yang tepat untuk memberi tahu mu saat ini. Aku akan memberi tahu mu setelah jam pelajaran pertama ini selesai," jawab Yunita.


Meskipun Mega sangat penasaran, akan tetapi dia tidak berani untuk memaksa Yunita untuk memberitahukannya.


Lima menit sebelum jam pertama pertama di mulai, semua orang sudah berada di ruang kelas kecuali Nadhira, Bagas dan Clara.


Melihat bahwa Nadhira belum nampak, dia menjadi semakin yakin bahwa Nadhira sekarang memang sedang berada dalam masalah, memikirkan hal itu membuat dia merasa sangat senang dan tersenyum lebar.


Tapi selanjutnya, senyum di wajah Yunita memudar, dia bahkan terlihat ketakutan sekarang.


Dia melihat Nadhira yang muncul dari balik pintu ruang kelas. Nadhira tidak tahu apakah Yunita sudah tahu atau tidak bahwa dia tak mengalami apa yang dia inginkan, tapi dia langsung mengerti ketika melihat wajah Yunita.


Nadhira berjalan dengan santai melewati meja Yunita dan menatap tajam ke arahnya.


Melihat Yunita terkejut, Nadhira yakin bahwa Yunita belum mengetahui kalau rencana nya telah gagal. "Nadhira, mengapa kau di sini?" Yusnita langsung berteriak histeris seraya menggebrak meja di depannya.


Semua orang di sekitar nya langsung merasa bingung, ini adalah ruang kelas sepuluh IPS C, dan Nadhira sudah sewajarnya berada di kelas ini, karena dia memang anggota kelas ini, lalu mengapa Yunita bertanya seperti itu?


"Oh, jika aku tidak berada di sini di mana seharusnya aku berada?" Nadhira bertanya yang tujuannya untuk memprovokasi Yunita untuk mengatakan apa maksud dari pertanyaannya.


"Bukankah kau..." Yunita langsung menutup mulut dengan kedua tangannya, dia menyadari kalau seharusnya dia tidak mengatakan hal tak boleh diketahui oleh siapa pun.


Nadhira tidak membiarkan itu, dia terus memprovokasi dan mendesak untuk mengatakan apa yang dia maksud. "Apa?"


"Tidak.... Tidak apa-apa," meskipun Yunita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kemarin malam, tapi sekarang dia sungguh kesal dan marah karena rencana nya gagal dan masalah ini tidak seharusnya di ketahui oleh siapa pun.


"Begitu Kah?" Nadhira terus mendesak Yunita. "Lalu, mengapa kau bertanya padaku, kenapa aku berada di sini? dan di mana seharusnya aku berada?" Nadhira terus mendesak Yunita agar mengatakan apa yang dia sembunyikan.


Yunita panik dia menjadi tergagap. "A-aku...aku.." Yunita tidak tahu bagaimana cara untuk menghadapi pertanyaan Nadhira.


¤


¤


¤


Semoga Suka...