
Selamat Membaca...
•••
Saat ini mereka berdua menjadi pusat perhatian, tidak! Lebih tepatnya Stiven yang jadi pusat perhatian. Bagaimana tidak! Sudah berkali-kali Nadhira ingatan pada dirinya, bahwa hampir setiap orang yang kenal dengannya pastinya orang yang terkenal. Bukan sombong! Tapi itu kenyataannya! Dan dia seharusnya ingat, kalau ingin bertemu lebih baik di tempat yang jarang di datangi orang, atau tempat privat.
"Ada apa mengajak ku bertemu?" Tanya Nadhira langsung. Dia tidak ingin berlama-lama dipandangi iri, sinis dari orang-orang, telinganya rasanya berdengung, tangannya mulai gatal, tapi apalah dayanya kalau mulut-mulut mereka terserah mereka mau bicara apa.
Stiven mengeluarkan sesuatu dari saku jaznya dan meletakkannya di atas meja. Benda kotak kecil berwarna merah.
"Menikahlah denganku?!" Bukan seperti pertanyaan lebih ke pernyataan yang kalau di perhatian tidak bisa di tolak.
Aksi Stiven menjadi sorotan semua orang, bahkan banyak diantara mereka yang me video mem foto nya.
"Heh?" Tentunya Nadhira terkejut, dia melihat kesekeliling dirinya dan. Stiven pasti akan jadi bahan perbincangan di publik "Seorang gadis biasa di lamar oleh seorang pengusaha muda sukses' Mungkin akan banyak artikel seperti itu.
Bagaimana tidak membuat orang terkejut, kali ini bukan hanya pernyataan cinta semata, akan tetapi lamaran! Untuk hidup bersama selamanya.
"Mau?" Nah sekarang itu baru pertanyaan.
Nadhira berdiri dan mendekatkan wajahnya kembali telinga Stiven. "Kita cari tempat lain!" Nadhira menegakkan tubunnya sambil menatap mata Stiven.
Stiven mengangguk dan keluar diikuti Nadhira. Mereka memasuki mobil Stiven. Terjadi keheningan di sepanjang jalan dan beberapa saat kemudian mobil berhenti di sebuah taman.
Mereka duduk di salah satu bangku taman dan disana juga hanya ada beberapa orang tua yang sedang bersantai.
"Aku tidak bisa memberi harapan padamu, tapi maaf aku tidak bisa menerimamu!" Ucap Nadhira.
"Kenapa?" Tanya Stiven.
"Aku juga bingung alasan nya apa? Tapi hatiku berkata, aku belum siap memiliki hubungan asmara dengan siapa pun untuk sekarang," ucap Nadhira.
"Bolehkah aku menunggu?" Tanya Stiven.
"Itu terserah padamu, tapi kusarankan lebih baik kau mencari seseorang yang lebih baik daripada aku! Aku masih banyak kekurangan dan kau tahu bagaimana kehidupan ku. Meski sama sepertimu, tapi aku perempuan, kalau dari pandangan mansyarakat, aku tidak lah baik. Aku merasa yang kau rasakan padaku bukanlah perasaan suka atau cinta, akan tetapi hanya perasaan penasaran," ucap Nadhira.
"Aku tidak bisa janji untuk tidak menaruh harapan padamu, tapi aku akan berusaha, kalau memang yang kau katakan benar mengenai perasaanku padamu maka aku akan menyadarinya nanti setelah aku lebih sering bertemu dengan mu," ucap Stiven.
"Dan jika kita berjodoh maka kita akan bersama, kalaupun tidak, mungkin yang di atas telah menakdirkan kita dengan pasangan kita masing-masing," lanjut Stiven.
Dia begitu dewasa sesuai dengan umurnya yang dewasa, bukan seperti remaja yang baru dewasa yang akan memaksakan kehendaknya terhadap orang lain.
"Kau benar! Biarkan waktu berjalan dan takdir yang menentukan kehidupan kita selanjutnya!"
Nadhira menolak sekarang, karena dia benar-benar tidak memiliki perasaan apapun kepada Stiven, tapi bukan berarti ada seseorang dihatinya, entahlah! Dia bingung. Dia hanya belum siap memiliki hubungan apapun dengan siapapun. Prioritas pertamanya untuk sekarang adalah keluarganya dan orang-orang terdekatnya.
"Kalau begitu bolehkah kita berteman?" Tanya Stiven seraya mengulurkan tangannya.
Nadhira menyambutnya dengan senang hati. Kalau masalah berteman dia akan selalu sambut dengan tangan terbuka.
"Tentu!"
...••¤•••¤••...
Penolakan Nadhira tidak membuat Stiven marah, dan dendam kepada Nadhira. Justru dia dapat lebih dekat dengan Nadhira dengan status berteman ini.
Setelah beberapa waktu berlalu dengan seringnya mereka bertemu, baik itu memang di rencanakan atau hanya kebetulan bertemu, dia menyadari bahwa dirinya hanya kagum dan penasaran terhadap Nadhira, tapi bukan berarti tidak ada ketertarikan di dalamnya.
Ada ketertarikan, akan tetapi lebih besar ke arah kagum dengan kehidupan dan kepribadian Nadhira.
...•••...
Saat ini Nadhira sedang berada di kampusnya. Dan saat ini dia sedang bersama Alena dan Alisya.
"Ngapain setelah dari sini?" Tanya Alisya. Saat ini mereka sedang berjalan menuju arah parkiran, karena jam mata kuliah telah usai dan tidak ada lagi untuk di masuki.
"Aku sih langsung pulang! Mau rebahan," Ucap Alena.
"Oh Ok! Tidak ada gitu yang mau ikut aku ke mall?" Tanya Alisya.
"Kalau ngajak sih ikut!" Ucap Nadhira. "Sekalian apa mau aku kenalkan dengan kakak ku?" Goda Nadhira.
Pipi Alisya memerah malu-malu. Dia pernah melihat Andara itupun dari jauh karena dia malu. Dia juga mulai suka dengan Andara tapi tidak berani mengungkapkannya, dengan Nadhira pun dia tidak berani mengatakannya, meski begitu Nadhira tahu itu.
"B-boleh!" Ucapnya. Dia bertekad tidak akan malu lagi.
Setelah sampai di parkiran Nadhira, Alisya pun berpisah dengan Alena yang memang kaum rumahan.
Nadhira menaiki motornya Dan diikuti oleh Alisya menggunakan mobilnya.
Saat ini mereka sedang menuju apartemen Andara. Beberapa saat kemudian mereka sampai.
Jantung Alisya berdetak dengan cepat sekuat apapun dia menekan kegugupannya tapi tetap tak bisa.
Coba kalian tebak bagaimana perasaan kita di saat orang yang kita suka tidak tahu apakah juga menyukai kita atau tidak. Bagi. seseorang yang tidak pedulian, akan biasa saja, dia akan menganggap bahwa itu situasi dimana dia akan bebas memandang pujaan.
Sedangkan bagi orang seperti Alisya yang tak bisa menyembunyikan perasaannya pastinya kalau berdekatan akan sangat ketahuan dan akan semakin membuatnya merasa malu dan gugup.
Dengan ragu-ragu Alisya keluar dari mobilnya.
"Lama! Mau ketemu tidak?!" Kesal Nadhira, dia sudah lumayan lama berdiri menunggu Alisya yang tak kunjung turun dari mobilnya.
"Hehehe, maaf, aku gugup!" Ucap Alisya.
"Hahh, bagaimana bisa maju, kalau masih malu-malu kucing begitu. Buang sejenak rasa malu mu demi masa depan!" Ucap Nadhira menyemangati.
"Bicara sih gampang, tapi melakukannya yang berat!" Kesal Alisya kepada Nadhira yang tidak tahu saja kalau saat ini jantungnya dag dig dug.
"Ra?!" Panggil seseorang.
Nadhira dan Alisya langsung menoleh ke samping dan mendapati orang yang lagi dimabuk debatkan.
"Kak?! Dari mana?" Tanya Nadhira basa-basi.
Lain dengan Alisya yang nampak sangat gugup dengan pipi memerah dan keringatan di dahinya.
"Tadi habis dari supermarket beli tepung di suruh ibu!" Jawab Andara. Kemudian dia menatap seseorang yang sedang bersembunyi dibalik punggung Nadhira.
"Siapa?" Tanya Andara pada Nadhira.
Nadhira bukannya menjawab malahan dia bergeser dan tampaklah Alisya yang nampak terkejut dan dengan kaku dia menyapa Andara. "H-hai kak Andara!" Ucapnya sambil melambaikan tangan kaku.
"Hmm, kau yang biasanya berdiri sangat jauh kalau aku bicara sama Nadhira kan?" Tanya Andara memastikan. Dia sering melihat gadis ini datang bersama adiknya, tapi dia tidak pernah mendekat kalau dirinya dan Nadhira sedang berbicara.
"Hahaha, iya!" Jawabnya dengan tawa kakunya.
"Masuk!" Ucap Nadhira berjalan meninggalkan Andara dan Alisya.
Alisya akan meminta untuk menunggu nya, tapi suara nya tak dapat keluar, dia masih berdiri dengan kaku.
"Ayo masuk!" Ajak Andara.
Alisya mengangguk dan mengikuti Andara dari belakang.
¤
¤
¤
Semoga Suka...