
Selamat Membaca...
•••••
Nadhira berdehem sejenak sebelum mengajukan pertanyaan. "Ku dengar kalian berdua pindahan dari salah satu SMA di kota A. Apakah kalian satu sekolah sebelumnya? Sebenarnya aku juga siswi baru di sini, tapi aku dari kota D dan kalau di lihat kalian juga baru masuk kan di sekolah kalian dulu dan pindah di tengah semester sepertiku,"
Pertanyaan Nadhira membuat yang lain menatap mereka berdua. Tepat nya Nadhira, Damian dan Kaila.
Mereka juga ingin mengetahui alasannya, tapi tidak berani bertanya karena kadang-kadang Damian bersikap dingin dan mengerikan. Mereka takut bukan karena apa, tapi mereka tahu kalau Damian memiliki latar belakang yang kuat, salah bicara nanti keluarga mereka bisa kena imbasnya.
Tapi melihat keberanian Nadhira yang tak memiliki latar belakang apa pun mereka menjadi malu dengan diri mereka sendiri, dan sekarang mereka mulai menanamkan keberanian yang sama seperti Nadhira kepada diri mereka.
Sejenak mulut Damian berhenti mengunyah makanannya, sang pemuda diam beberapa detik seperti memikirkan sesuatu lalu kembali mengunyah makanannya sampai menelan sepenuhnya. Barulah dia membuka suara. "Tahu dari mana?" tanya Damian dingin.
"Dari gosip yang tidak sengaja kudengar," ucap Nadhira berusaha tidak dicurigai maksud dari pertanyaan.
"Hm...benar, memang seharusnya aku tidak pindah. Akan tetapi aku harus menyelesaikan pekerjaan ku di kota B ini sebagai seorang penyanyi, dan untuk satu sekolah kurasa tidak," ucap Damian.
"Ya, kami tidak satu sekolah. Aku dari SMA NUANSA. Tidak tahu dia!" Sambung Kaila langsung terkesan tergesa-gesa, tapi berusaha setenang mungkin.
Mereka yang mendengar penjelasan Damian begitu kagum. Dirinya hanya remaja berusia enam belas tahun, tapi sudah bekerja dan sukses, luar biasa!
Mereka semua memberikan dua jempol masing-masing mereka kepada Damian. Dan masih penasaran alasan Kaila pindah karena dia tidak menjelaskannya, mereka menatap memohon penjelasan.
Kaila merasa tertekan dan akhirnya menjelasnkan. "Aku pindah kesini karena ingin berdekatan dengan ayahku. Di kota A aku tinggal di asrama dan aku tidak terbiasa, jadi aku kembali ke kota B dan bersekolah di sini,"
Hanya itu? Nadhira tidak berpikir sesederhana itu pasalnya dia pernah melihat Damian dan Kaila saling lirik seperti mengkode akan sesuatu.
Tapi tidak ingin membuat mereka berdua curiga Nadhira pun pura-pura mengerti dengan semua penjelasan mereka berdua.
¤¤¤¤¤
Hari ini adalah hari Selasa, di kalender menunjukkan tanggal merah dan semua aktivitas sekolah tidak berjalan seperti biasanya.
Hampir semua siswa memilih untuk pulang ke rumah mereka. Baik yang asrama atau bertermpat tinggal sendiri.
Begitu juga Andara yang sekarang berada di rumah mereka.
Pekerjaan ibunya tidak lah libur, memang pada dasarnya sebuah restoran tidak ada waktu libur, kecuali memang ada acara tertentu yang akan meliburkan para kariawannya.
"Hari ini ada rencana?" Tanya Nadhira kepada Andara yang duduk di depannya saat ini. Mereka sedang sarapan pagi bersama, ibunya masih berkutat dengan masakannya.
Nadhira ingin membantu tapi di larang oleh Puspa.
"Rencananya ingin mengunjungi cafe kita. Semua renovasi sudah selesai dan tinggal mencari para pekerjanya saja lagi. Setelah itu baru acara pembukaannya. Oh ya aku lupa kita juga harus mendaftarkan cafe kita ke pemimpin daerah sana dan aku telah menuliskan namaku di suratnya," ucap Andara berbisik.
Nadhira mengangguk mengerti. "Sebenarnya sih tidak perlu dengan namaku juga. Nama kakak sudah cukup, aku percaya pada kakak,"
"Tidak! Itu semua kan memang milikmu, jadi biarkan begitu saja!" Ucap Andara.
"Baiklah, apakah kakak bisa mengurus semuanya? Kalau ada yang perlu ku bantu katakan saja," ucap Nadhira.
"Tidak perlu! Semua beres, karena ada Glen yang membantuku. Kita hanya perlu memasang poster pencarian karyawannya, setelah itu sudah beres,"
Puspa tidak mendengar percakapan dua beradik itu, karena mereka berbicara sangat pelan, hanya diantara mereka yang mendengar.
Masakan Puspa selesai, Nadhira dengan cepat membantu menatanya di atas meja makan.
Beberapa saat kemudian Puspa berankat bekerja meninggalkan kedua anaknya.
Sedangkan anaknya, yaitu Andara dam Nadhira bersiap-siap untuk pergi ke gedung cafe mereka.
Mereka menunggu di depan gang rumah mereka. Glen akan menjemput mereka berdua.
Lima menit kemudian mobil merah berhenti di depan mereka.
"Sudah lama?" Tanya Glen.
"Tidak juga," jawab Andara.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Andara duduk di samping Glen, sedangkan Nadhira di belakang.
Di sepanjang jalan mereka berbicara rencana perekrutan karyawan cafe. Mereka menargetkan untuk umur dua puluh ke atas yang pasti dapat di percaya.
Untuk manajernya yaitu Andara, tapi untuk sekarang dia tidak bisa sepenuhnya berperan sebagai manajer karena ujian akan segera di mulai. Minggi depan pun simulasi ujian akan di laksanakan. Pada msa itu semu siswa kelas dua belas akan melakasanakan ujian simulasi dan untuk kelas sepuluh dan sebelas di liburkan selama empat hari.
Mereka sampai di depan gedung cafe dan memarkirkan mobil Glen di tempat parkiran yang sudah di desain semenarik mungkin untuk menarik pelanggan nantinya.
Glen mengeluarkan laptop dan membawanya ke dalam.
"Untuk apa itu?" Tanya Nadhira.
"Ini," tunjuk Glen pada laptopnya. Nadhira mengangguk. "Di dalamnya ada desain untuk poster promosi cafe ini dan lembaran untuk menarik para pekerja," jelas Glen.
"Wah, mantap...Kak Glen sudah menyiapkan semuanya," ucap Nadhira memberikan dua jempol.
"Hahahaha, bisa saja kau. Oh ya, apakah kau tidak ada rencana memberi tahu teman-temanmu mengenai cafe ini. Jujur ya, aku sangat sulit mencari alasan untuk pergi, karena Rima selalu bertanya kemana aku pergi. Dia kan tahu kalau aku ini akrab dengan kakakmu saja," ucap Glen.
Nadhira sesaat berpikir, ada sih niatan memberi tahu mereka, tapi ada juga ragunya. Karena dia masih merintis usaha dari nol. "Hmmm... Bagaimana kalau saat pesta pembukaan cafe ini saja memberitahu mereka, bagaimana? Bagaimana kak?" Tanya Nadhira kepada Andara.
"Itu terserah padamu, kakak ngikut aja," ucap Andara sambil mengacak rambut Nadhira seraya duduk di sampingnya.
Glen terlihat sedikit cemburu, bukan suka sama Nadhira akan tetapi cemburu dengan keakraban antara adik dan kakak nya Andara dan Nadhira. Karena meskipun Glen dan Rima itu akrab, tapi bukan akrab seperti hal bercanda. Mereka akrab dengan sedikit ke formalan diantara mereka.
"Ekhem, baiklah sekarang mari lihat, apakah kalian menyukai desain ku ini," ucap Glen sambil membuak laptopnya, mencari letak folder yang berisikan file gambar poster dan selembaran.
Satu persatu Glen tunjukkan, semua hasil desainnya sangat bagus. Andara dam Nadhira tidak bisa memutuskan nya.
"Sangat susah di pilih, semuanya bagus!" ucap Nadhira.
"Ya semuanya bagus. Kalau begitu kau saja yang putuskan, kami oke saja," ucap Andara di setujui Nadhira.
Glen mengangguk mengerti dan memilih desain yang menurutnya sederhana tapi menunjukkan ke eleganan pada desainnya dan menonjolkan cafe mereka.
Setelah pemilihan selesai, mereka pun pergi mencetak nya.
¤
¤
¤
Semoga Suka...