Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Mencuri Uang Sendiri


~Selalu ingatlah jasa-jasa orang tua kita~


Selamat Membaca


•••••


Malam hari kemarin Nadhira telah meminta ijin pada ibunya pulang terlambat, dia beralasan memiliki tugas kerja kelompok di rumah temannya, tapi sebenarnya dia akan pergi ke Kota B. Karena Hanya di Kota-Kita besar seperti Kota A dan B yang mempunyai apa yang di ingin kan Nadhira. Di Kota terdekat seperti Kota C ada, tetapi masih tidak sanggup menampung apa yang dibutuhkan Nadhira, jadi dia memilih Kota B, yang paling terdekat.


Dia melakukan perjalanan ke kota karena keluarganya sangat membutuhkan uang. Meski setelah mendapatkannya Nadhira tak menunjukkannya, tapi dia akan memulai usaha dengan itu tanpa sepengetahuan keluarga maupun orang terdekatnya. Hanya jika semua sudah beres dan berhasil dia akan mengungkap semuanya. Tapi meski begitu dia akan pelan-pelan menggunakan uang yang di perlukan agar tak menimbulkan kecurigaan.


Menggunakan uang saku yang ada membawa Nadhira ke sebuah halte bus.


Satu jam kemudian saat matahari hampir tenggelam sepenuhnya, akhirnya bus berhenti di halte pemberhentian, Nadhira yang mengenakan seragam mulanya sekarang telah memakai pakaian santai dan di kuncir tinggi setelah sebelumnya dia menggantinya sebelum naik bus untuk berangkat.


Di sini, kalian dapat menemukan apa pun yang ingin kalian beli atau perlukan tanpa repot-repot berjalan ke sana kemari untuk mencari.


Tak membuang waktu, Nadhira langsung pergi ke satu tempat yang di tuju dari awal yaitu warnet (warung internet) yang untungnya buka 24 jam.


Nadhira hanya memiliki uang lima puluh ribu tersisa dan itu juga untuk biaya bus pulang jadi dia hanya memiliki waktu satu jam untuk melancarkan aksinya. Tapi bukan masalah bagi Nadhira sekarang, karena dia ahlinya.


Seperti yang disebutkan, dia bukan hanya agen pembunuh rahasia, dia juga ahli peretas. Untuk saat ini, dia belum bisa menemukan cara untuk menghasilkan uang dengan cepat, jadi dia berencana untuk mencuri uang dengan meretas sistem, yang mana itu kepunyaan dia sendiri.


Ini memang pada dasarnya perbuatan ilegal di seluruh Kota maupun dunia, tapi bukan hal menakutkan bagi Nadhira yang sudah dianggap jahat bagi masyarakat yang tidak tahu apa yang dia pikirkan.


Jari-jari Nadhira mulai mengetik keyboard dengan bebas, memasukkan kode yang mudah baginya dengan kecepatan yang luar biasa. Matanya tertuju pada layar komputer. Setelah memastikan alamat IP dan melalui serangkaian langkah nya benar, dia memilih "Yes" dari opsi "Yes" dan "No" yang muncul dari layar komputer. Seluruh proses hanya memakan waktu puluhan detik, dan proses pengambilan pun berhasil. Dia mentransfer uang itu ke dalam rekening ibunya dan membawa kartu ATM untuk penarikan nantinya.


Adapun pengetikan cepat yang di lakukan Nadhira barusan, sempat menarik perhatian beberapa anak muda yang bermain game di warung internet.


Setelah dirasa cukup dan selesai Nadhira berniat pulang tapi sebelum itu dia membayar karena telah menggunakan komputer di sana. Tapi belum sempat benar-benar menuju kasir pembayaran seseorang menyapanya dengan semangat.


"Luar biasa! Kalau kau memainkan sebuah game, ku pastikan kau akan menang," ucapnya bersemangat. Seorang pemuda tinggi, tampan, putih mengatakan dengan semangat di hadapan Nadhira.


Bingung, Nadhira bertanya-tanya, bagaimana dia bisa bertemu dengan seseorang yang mengenalnya? Atau apakah pemuda ini hanya sok kenal dengannya?


Nadhira tidak dapat mengingat orang itu. Anak laki-laki itu terlihat masih berusia tujuh belas tahunan.


Nadhira berusaha mengingat apakah dia kenal dengan anak laki-laki itu atau tidak? Tapi nihil tidak ada ingatan mengenai anak laki-laki di depannya ini.


"Siapa ya?" Tanya Nadhira.


Dia terkekeh dan menggaruk bagian belakang kepalanya. "Oh, aku lupa. Kamu tidak mengenalku. Aku Rangga. Kita memang tidak saling kenal, tapi aku kagum dengan cara mengetik mu yang sangat cepat. Oh ya siapa namamu?"


Nadhira memiliki kesan baik terhadap pemuda bernama Rangga ini. Dia ramah dan sepertinya meskipun dia terlihat dari anak orang kaya tapi tidak ada kesombongan dimatanya melihat pakaian yang digunakan Nadhira saat ini menunjukkan dengan jelas bahwa Nadhira dari kalangan bawah.


"Mm!! Namaku Nadhira Maharani, kau bisa memanggilku Ira," Jawab Nadhira ramah.


Nadhira masih tidak tahu latar belakang dari Rangga tapi dia terlihat baik dan Nadhira memiliki kesan yang baik terhadapnya. Anak-anak kaya seperti Rangga, biasanya akan mengejek anak-anak yang lebih miskin seperti Nadhira. Namun, Rangga tidak melakukannya.


"Rangga, mengapa kau sangat lama ke toiletnya, cepatlah kembali ke tempat mu. Kamu satu-satunya pemain yang belum muncul!" Teman Rangga memanggilnya.


Rangga menggaruk kepalanya dan berkata pada Nadhira dengan nada meminta maaf. "Temanku memanggilku. Aku akan pergi sekarang. Sampai jumpa lagi! Semoga kita ketemu lagi," dia lalu berlari. Nadhira berpikir bahwa Rangga anak yang ramah dan sopan.


Tidak memikirkan apa-apa lagi, dia melangkah ke kasir untuk membayar tagihan dan segera keluar dari warnet (warung internet) dan berjalan ke bank dengan kartu bank di tangannya. Dia telah menarik sepuluh juta rupiah untuk pegangan dan menunggu besok hari untuk membuat rekening dia sendiri, tapi sebelum itu dia tidak akan mengembalikan kartu ATM ibunya, karena takut akan diketahui.


Saat itu waktu telah menunjukkan jam 7 malam, dia bergegas untuk pulang dengan menaiki bus seperti sebelumnya, bedanya sekarang dia menaiki bus yang mengarah ke Kota D.


Selama perjalanan dia hanya melihat-lihat ke luar jendela bus. Entah apa yang ada di pikirannya, hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.


Pada jam 8 dia telah sampai di halte bus dan berjalan pulang ke rumahnya yang tidak dapat di masuki oleh mobil hanya dapat dimasuki oleh sepeda atau pun sepeda motor.


¤¤¤¤¤


Hari jumat kembali datang. Hari yang paling di tunggu-tunggu oleh anak-anak yang bersekolah. Pulang lebih awal dari hari biasanya dan dua hari ke depan hari bebas mereka.


Nadhira meninggalkan kelasnya untuk pulang dan saat dia telah menuju gerbang dia sedikit terkejut, pasalnya ada yang memanggil namanya.


"Nadhira!"


Dia menoleh ke arah suara dan melihat seorang remaja, mengenakan pakaian santai, berdiri di gerbang sekolah. Remaja itu tidak lain adalah kakak Nadhira yaitu Andara.


Nadhira menatap Andara dengan kaget sebelum mengucapkan satu kata. "Kakak?"


"Hmm, Ira, aku datang menjemputmu pulang. Jangan lupa hari ini ulang tahun ibu!. Dia selau bekerja keras untuk kita sepanjang hidupnya, jadi kita harus berterimakasih akan hal itu!" Andara mengatakan itu, karena takut kalau Nadhira melupakan hari yang istimewa itu.


Nadhira terdiam sejenak dan saat ingatannya muncul akhirnya dia mengerti dan menjawab. "Aku tidak lupa, hari ini ulang tahun ibu kan,"


"Yups! Ayo kita pergi! Kita akan mampir ke toko kue dan memilih hadiah untuk ibu!" Ucap Andara dengan tepukan di bahu Nadhira


"Hmm," Nadhira mengangguk.


Mereka berdua pun mulai dari menuju toko kue selanjutnya ke toko hadiah.


¤


¤


¤


Semoga Suka...