
Selamat Membaca...
•••••
Nadhira di buat bingung olehnya, dia tidak tahu bahwa mereka akan satu sekolah, karena selama berada di sekolah dia tidak pernah bertemu dengan Rangga.
"Nadhira, Ira, kebetulan sekali, kau bersekolah disini juga, biar kali ini aku yang traktir kalian makan, bagaimana?" Ucap Rangga.
"Oh iya, kau juga bersekolah di sini? Tapi kenapa kau ingin mentraktir kami?" Tanya Nadhira karena dia merasa sebelumnya dia tidak terlalu akrab dengan Rangga, tetapi saat melihat Rangga yang begitu sopan kepadanya, dia tahu bahwa ada sesuatu yang ingin di bicarakan oleh Rangga. Karena terakhir kali dia bergegas pergi padahal saat itu sangat terlihat bahwa Rangga ingin mengatakan banyak hal padanya.
Rangga menggaruk belakang kepalanya dengan malu-malu, lalu dia menjawab dengan langsung. "Yah, aku melihat apa yang kamu lakukan kemarin di jalan pasar barang antik, dan aku ingin kamu mengajari ku," meskipun Rangga tidak suka berkelahi secara berlebihan, akan tetapi dia suka menonton pertunjukan aksi. Clara, Bagas dan Roma menjadi bingung, mereka tidak mengerti apa yang Nadhira dan Rangga bicarakan.
"Yah... Sebenarnya itu hanya keberuntungan dan tidak sengaja memenangkan perkelahian kemarin, jadi apakah kau tidak takut kalau aku hanya berpura-pura hebat dan itu tidak di sengaja?" Nadhira tidak langsung menjawab keinginan Rangga, tetapi mengajukan pertanyaan kembali kepada Rangga.
"Meskipun aku salah duga akan kau, tapi aku tetap yakin dengan penglihatanku. Karena tidak dapat disangkal bahwa kau lebih baik dariku dalam hal bela diri, jadi jika kamu bersedia menjadikan ku sebagai murid mu, itu adalah suatu hal yang paling aku inginkan dan aku akan merasa sangat senang," Rangga menatap Nadhira dengan tulus dan penuh harap.
Jika saat itu Nadhira hanya beruntung, bagaimana bisa dia dapat mengalahkan dua pria yang jauh lebih besar darinya dengan cepat? Jadi Rangga merasa Nadhira pastilah hebat dalam bela diri.
Rangga khawatir kalau Nadhira akan menolak permintaannya jadi dia menambahkan. "Tolong lah, aku tidak akan mengganggu pelajaranmu, kau bisa mengajari ku ketika kau memiliki waktu luang, dan aku akan membayar untuk apa yang kau ajarkan kepadaku, atau aku bisa melakukan apa pun yang kau minta, maka akan aku lakukan," Rangga berkata dengan tulus untuk menunjukkan tekadnya.
Nadhira sempat ragu sebekumnya, tapi sekarang dia yakin keada Rangga yang benar-benar tulus dan bertekad. Saat dia berpikir dia kemudian teringat dengan dokter Anna.
Nadhira pada dasarnya kekuarangan pendukung yang kuat saat ini, sementara Rangga berasal dari keluarga berpengaruh di Kota B ini. Dia merupakan anak dari pengusaha perhiasa terbesar di Kota B ini, selain itu dia juga anak yang cerdas pada bidang akademik.
Nadhira mengakui bahwa Rangga adalah anak yang baik dan dia melakukan ini untuk kebaikannya sendiri. Melihat dari sikap Rangga yang baik kepadanya dan lainnya, Nadhira yakin bahwa Rangga akan menjadi teman yang baik kedepannya.
Dengan demikian, Nadhira langsung menjawab. "Aku bisa mengajari mu jika kau mau, akan tetapi kau tidak perlu untuk menjadi murid ku, karena kita teman, dan aku juga tidak perlu bayaran darimu, yang aku inginkan adalah bantuan dan kesetianan,"
Betapa senang nya Rangga. "Beneran? Ini sungguhan kan?" Rangga bertanya dengan sangat senang dan memastikan sekali lagi bahwa Nadhira setuju.
Rangga mengulangi kata-kata nya beberapa kali untuk menunjukkan kebahagiaan nya, dan dia ingin melompat tinggi jika saja Nadhira tidak menghentikannya.
Kemudian Nadhira mempersilahkan Rangga untuk bergabung bersama mereka.
Clara, Bagas dan Rima sangat ingin bertanya tentang apa yang mereka berdua bicarakan akan tetapi dia tidak tahu bagaimana cara nya menanyakannya. Setelah beberapa saat makanan telah terhidang di meja mereka dan mereka bersiap untuk makan.
Saat makan Rangga tak habis-habisnya memanggil Nadhira dengan sebutan Bos, itu membuat Bagas tak suka, karena memang pada dasarnya dia telah memanggil Nadhira dengan sebutan itu pertama kali, jadi dia berkata dengan kesal.
"Bos, mengapa kau mengijinkannya untuk memanggil mu dengan sebutan bos dan kau meneri mengajarinya bela diri, sedangkan aku...," Tanya Bagas dengan kalimat terakhir wajahnya berubah memelas.
"Ya, kau boleh ikut juga, tidak ada yang melarang. Kalian semua pun boleh," ucap Nadhira santai sambil memasukkan makanan kemulutnya.
Bagas sangat senang sampai dia berteriak-teriak dan teriakannya itu mengundang perhatian di seluruh kantin.
Nadhira sebenarnya enggan dan merasa aneh ketika mendengar panggilan dari Bagas, akan tetapi seiring berjalan nya waktu dia mulai terbiasa dan membiarkannya.
Selama makan, Rangga dan Bagas memanggil Nadhira dengan panggilan bos sepanjang waktu, dan mereka terus melayani Nadhira tanpa ada keluhan. Itu membuat banyak nya perhatian dari siswa di sekitar mereka.
Nadhira merasa malu dan risih di tatap banyak orang dan segera dia menghentikan kelakuan mereka berdua.
Rima dan Clara tidak mengerti dengan sikap kedua anak laki-laki di depan mereka ini, mereka pikir Bagas dan Rangga berusaha menarik perhatian Nadhira dan berusaha menjadi terbaik di mata Nadhira.
Tetapi ketika Rangga memberitahukan kenyataan bahwa Nadhira bisa menjatuhkan dua pria dengan cepat, Rima dan Clara terkejut dan tidak percaya, begitu pula Bagas yang sudah tahu kalau Nadhira bisa bela diri tapi dia tidak berharap Nadhira sehebat itu juga tak percaya.
Akan tetapi saat mereka mengingat apa yang terjadi terakhir kali, mereka jadi yakin apalagi Clara dan Bagas mereka sungguh meyakini kehebatan Nadhira.
"Ira, mau kah kau juga mengajari ku?" Tanya Rima dan Clara bersamaan.
"Tentu!" Jawab Nadhira dengan cepat.
Nadhira sebenarnya memang berharap kalau teman-temannya mau belajar beberapa gerakan dalam hak bela diri, agar mereka bisa menjaga diri mereka sendiri.
Kalau Rima sendiri, Nadhira yakin dia bukanlah gadis lemah, akan tetapi Clara berbeda, mungkin dia tidak pernah melakulan kekerasan.
Setelah makan mereka tidak kembali ke kelas, akan tetapi menuju taman di belakang sekolah yang jarang di datangi oleh para siswa. Mereka bolos untuk mata pelajaran ini dan itu tidak masalah bagi mereka yang notabennya memang sudah cerdas dan juga memiliki keluarga yang berpengaruh di sekolah, jadi bukan hal besar kalau mereka bolos, karena pada dasarnya mereka sering bolos, akan tetapi semua orang bingung karena meskipun mereka jarang masuk kelas akan tetapi nilai mereka bagus. Seperti halnya Rima yang suka bolos dan berkelahi, Rangga yang juga suka bolos, mereka berdua berada di kelas sepuluh IPS A.
Karena Nadhira telah setuju untuk mengajari mereka, jadi dia harus menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya, dia harus membuat mereka berempat percaya kalau dia memang hebat dalam hal bela diri. Dengan demikian mereka tidak merasa ragu sama sekali.
¤
¤
¤
Semoga Suka...