
Selamat Membaca...
•••
°°°Lokasi Club Malam°°°
Dentuman musik DJ memenuhi ruangan. Memeriahkan malam hari yang selalu di isi oleh para manusia pencari kesenangan dunia.
Sebuah kamar khusus yang sengaja di sewa untuk sebuah pesta. Tapi khusus hari ini ruangan tersebut bukannya untuk pesta akan tetapi karena rasa frustasi seorang pemuda menyewanya dengan beberapa orang temannya di dalam.
"Satu lagi!" Teriak pemuda itu memanggil pelayanan untuk memesan minuman keras. Kondisi nya saat ini sudah lah teramat mabuk, tapi masih mengangkat gelasnya yang kosong dan berteriak memanggil pelayan di luar kamar.
Teman-teman nya yang melihat itu hanya menggeleng, tidak bisa melarang karena tidak punya hak untuk itu.
"Kai, kamu udah mabuk berat. Berhentilah minum," Pemuda yang merupakan salah satu temannya yang masih tidak terlalu mabuk memperingatkan nya, menyentuh pundak Kai tapi langsung di tepis.
"Gak perlu ikut campur dan sok tau! Urus urusan mu sendiri,"
Ling Kai, pemuda berusia dua puluh tahun. Hampir semua orang tahu akan dirinya siapa.
Bukan hanya Kai merupakan pemuda yang tampan dan penuh pesona, akan tetapi juga karena dia juga merupakan cucu dari pemilik perusahaan besar dengan marga Ling.
Selain itu sering nya membuat masalah dan kekacauan membuatnya di kenal dengan kenakalan nya.
"Kai, kalau kau mabuk berat kau akan membuat masalah. Kamu sendiri tahu minggu lalu baru kejadian itu, apakah kau tidak jera?"
Kai menoleh kepada teman yang menasehati nya itu. Mengangkat gelas berisi minuman beralkohol ke arah temannya itu.
Dia Zidan, teman kecil, sahabat sekaligus orang yang selalu berada di samping Kai saat-saat sulit maupun senang.
"Gak usah terlalu banyak omong, lebih baik kau minum ini. Nikmati semua yang bisa kau nikmati bersamaku sebelum kau gak bisa minum bersama ku lagi. Karena saat itu mungkin aku sudah mati," senyum penuh beban terpancar dari wajah Kai yang mabuk.
Sebelum Zidan dapat merespon Kai sudah menarik seorang wanita malam yang duduk dengan teman lainnya ke arah dirinya. Mencumbunya tanpa malu di hadapan Zidan.
Memang pada dasarnya itu hal yang biasa Zidan saksikan, dia tahu kalau itu hanyalah topeng yang di buat Kai untuk menutupi kerapuhan hatinya. Agar orang-orang mengira dia itu berandalan yang suka berfoya-foya, menghabiskan uang kakeknya.
Tapi ada yang aneh, wanita itu bertingkah aneh dari awal dia di panggil masuk. Dia selalu duduk di dekat Kai meski tidak di panggil mendekat.
Tepat pada saat Kai lengah yang mana dia sudah mabuk berat dan sedang mencumbu wanita itu, tak sengaja Zidan melihat dia mengeluarkan sebilah belati.
Saat itu Zidan masih mengawasi dari dekat dan mungkin wanita itu tidak menyadari kalau dirinya sedang di awasi.
Dia mulai mengangkat tangan nya yang di sana ada sebilah belati, dan saat dia mulai mengarahkan belati ke arah Kai dengan cepat tangan Zidan menarik tangan wanita itu agar menjauh dari Kai yang sudah hampir tak sadarkan diri akibat terlalu mabuk.
"Heh beraninya kau ikut campur!" Ucap wanita itu marah.
Dia melotot menatap tajam Zidan yang menggagalkan rencananya.
Zidan menatap Kai yang sudah terbaring di sofa panjang dengan meracau tidak karuan lalu kembali menatap wanita di depannya yang sedang menatap nya tajam dengan belati di tangannya.
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Zidan. Selain menjadi sahabat, dia juga merupakan orang yang di tugaskan kakeknya untuk melindungi Kai.
"Bukan urusan mu! Siapa pun yang menyuruhku, itu hanya untuk menghabisinya," ucap wanita itu dengan marah sambil menunjuk Kai.
"Selama itu menyangkut Kai, berarti itu menjadi urusan ku,"
Wanita itu menarik sudut bibirnya saat matanya menuju sudut kamar yang di sana sudah berdiri tiga pria berbadan kekar. Mereka berjalan mendekat ke arah wanita itu.
Zidan melihat kalau tiga pria itu semakin mendekat ke mereka berdiri, lalu dia menoleh menatap Kai dan juga teman-temannya yang lain yang masih asik minum dan bersenang-senang.
"Sial!" Dia terjebak sekarang. "Ini sudah di rencanakan," gumam Zidan.
Tiga pria itu semakin mendekat dan lagi wanita tadi entah telah hilang kemana.
"Toni! Bawa Kai pergi dari sini sekarang!" Zidan berusaha tenang.
"Apa?" Toni.
"Pergi sekarang!" Teriak Zidan lagi sampai dia tidak menyadari kalau tiga pria tersebut sudah berada di belakangnya dan saat itu juga salah satu dari mereka memberikan serangan tiba-tiba.
BUGH!!!
Prang!
Zidan melayang ketika satu pukulan mendarat di wajahnya, membuat dia menghantam meja kaca dan membuatnya pecah.
Semua orang di kamar itu menjadi panik, termasuk semua temannya dan juga Kai yang langsung membuka matanya meski masih lah tidak dapat menyadari hal yang terjadi saat itu.
"Ton, cepat bawa Kai sekarang kalau kalian masih mau hidup. Cepat!"
Zidan dengan cepat bangkit, dan mencoba melindungi Toni yang sedang membawa Kai untuk menuju pintu masuk kamar.
"Bocah, minggir! Kami tidak memiliki urusan dengan mu,"
Zidan tersenyum miring. Dia menyeka darah di sudut bibirnya, kemudian menatap darah segar di jempol nya kemudian dia meludah. Dia menatap remeh ketiga pria kekar di depannya itu.
"Main keroyokan, ayo coba satu lawan satu," tantang Zidan.
Ketiga pria itu marah, mereka tidak mendengarkan tantangan Zidan, jadi mereka bertiga langsung menyerang secara bersamaan.
Tapi dia terkesiap saat satu dari ketiga pria kekar itu terjatuh tersungkur di hadapannya.
Dia mendongak, menatap seorang perempuan muda dengan pakaian santai dan tak lupa tas kecil hitam nya. Dia berdiri dengan gagahnya dengan tangan terkepal.
"Maaf paman, tapi kalau berkelahi itu harus imbang, jangan main keroyokan," ucap nya dengan senyum miring yang membuat satu pria kekar lainnya menatap ke arahnya. Sedangkan yang satunya juga tersungkur akibat tendangan yang di lakukan oleh satu pemuda lagi.
"Hei gadis kecil, kami tidak ada urusan nya denganmu. Jadi jika kau masih sayang dengan wajah cantikmu itu, lebih baik kau segera pergi, teman mu itu juga ajak dia," ucap pria kekar yang masih berdiri tegak tanpa luka sedangkan kedua temannya sudah berdiri juga dengan marah sambil menyapu sakit yang mereka terima.
Bukannya takut dan segera pergi, gadis dan pemuda itu tersenyum meremehkan kemudian mengangguk ke arah pemuda di sampingnya di balas anggukan oleh Pemuda itu kemudian kedua mengangguk ke arah pria kekar itu.
"Coba kita buktikan, siapa yang pulang dari sini yang akan masuk rumah sakit," ucap gadis itu tenang, kedua tangannya sudah terlibat di depan dada nya, membuat ketiga pria kekar itu kesal, tangan mereka terkepal kuat, siap menyerang gadis sok hebat di hadapan mereka.
"Banyak omong! Kenapa kalian diam? Cepat serang mereka berdua," perintah pria kekar dengan rambut gondrong.
Dua pria kekar yang tadi terjatuh bersiap menyerang Gadis dan pemuda itu, membuat Zidan panik.
¤
¤
¤
Semoga Suka...