
Selamat Membaca...
•••••
Bel istirahat berbunyi, para siswa keluar dari kelas masing-masing untuk pergi ke kantin.
Di jalan menuju kantin mereka banyak sekali mendengar gosip terbaru mengenai seorang murid baru yang masuk di kelas sebelas.
"Kau dengar! Ada siswi baru di kelas sepuluh MIPA A. Dia sangat cantik loh,"
"Ya, aku juga dengar, bahkan di forum sekolah ada fotonya,"
"Mana-mana,"
Mereka adalah para siswa laki-laki yang mengidolakan kecantikan.
Berbeda dengan kelompok Nadhira yang tak terlalu tertarik, akan tetapi mereka juga penasaran. "Coba lihat, dia benar-benar cantik, tapi sayang wajahnya datar, persis sama seperti bos dulu, sangat jutek," ucap Bagas keceplosan.
Nadhira menatap tajam Bagas dan nyali Bagas langsung menciut. Nadhira bukannya tersinggung atau apa, akan tetapi dia kurang suka di sama-samakan.
Mereka terus berbicara tentang murid baru itu dan tak terasa mereka sampai di kantin.
Di kantin para anak orang kaya, tak di sangka siswi baru juga berada di sana. Dia menjadi pusat perhatian para siswa lainnya.
Berbeda dengan siswi yang merasa iri dengannya, tapi dia terlihat acuh dengan tatapan tak suka siswi lainnya.
Nadhira menatapnya datar, bukan iri sama seperti siswi lainnya, akan tetapi dia merasa penasaran dengan sosok tak tersentuh itu.
Tanpa di duga, gadis itu menatap balik Nadhira dan membuat Nadhira terkejut karena dia memberikan senyum tipis kepadanya. Tidak ingin di anggap sombong Nadhira pun membalas senyumannya.
"Bos, duduk sini," panggil Bagas.
Nadhira memutuskan pandangannya terhadap siswi baru itu dan duduk di tempat duduk kelompoknya.
¤¤¤¤¤
Tepat pukul 5 sore jam pulang telah berlaku bagi para siswa. Mereka berbondong-bondong untuk pulang, baik itu menuju asrama maupun rumah mereka masing-masing.
Tak terkecuali Nadhira yang tertinggal sendiri karena semua temannya telah di jemput mobil pribadi masing-masing.
Nadhira berjalan santai di trotoar sesekali menendang krikil.
Citttt...
Sebuah mobil mewah berhenti di sampingnya, dan Nadhira tetap berjalan tanpa menoleh karena dia pikir itu hanya seseorang yang ingin berhenti.
Grep...
Nadhira menarik tangan seseorang dan akan membantingnya tapi karena suara pencegahan dia berhenti dan menatapnya.
"Kau?" Nadhira merasa tidak akrab maupun kenal dengan gadis ini mengapa dia menghentikannya.
"Ah ah, maaf membuatmu terkejut, tapi bisakah kau melepaskan cengkeramanmu ini," wajah gadis itu menahan sakit dan Nadhira langsung tersadar dan melepaskannya.
"Maaf!" Ucap Nadhira datar. Toh bukan salahnya juga, kenapa dia tidak memanggilnya dan malah akan memegangnya.
"Ya tidak apa, aku yang salah kok," ucapnya cengengesan.
Nadhira terkejut sejenak. "Dimana wajah datarnya di sekolah tadi?" Batin Nadhira.
Gadis ini adalah siswi baru yang menjadi trending topik seluruh sekolah.
Bukan hanya di gedung kelas sepuluh, akan tetapi di gedung kelas sebelas dan dua belas.
"Ada apa?" Tanya Nadhira.
"Tidak! Aku hanya ingin berkenalan denganmu. Pertama aku melihatmu saat di gerbang sekolah pagi tadi dan aku mulai penasaran tentangmu," ucapnya jujur.
Nadhira mengeryit bingung. Dia normal, dia tidak menyukai sesama jenis dia sedikit memundurkan langkahnya dan itu tak luput dari penglihatan sang gadis.
"Eh oh, bukan maksudku aku menyukaimu, aku hanya ingin berteman!" Ucap nya langsung takut Nadhira salah paham, akan tetapi memang Nadhira telah salah paham.
"Namaku Kaila Puteri Adijaya, namamu Nadhira Maharani kan? Maafkan aku telah mencari informasi tentang mu tanpa persetujuanmu, tapi aku sungguh penasaran, jadi maafkan aku," ucap Kaila.
"Hmm, tak masalah! Lalu sekarang apa?" Tanya Nadhira. Ya tentu Nadhira bertanya itu, mengapa Kaila menghentikannya di pinggir jalan.
"Boleh aku mengantarkanmu pulang?"
Hah? Apakah otaknya tak bermasalah?
Tapi demi menghormati dan sopan santun Nadhira pun mengiyakannya dan ikut mobil Kaila.
Di sepanjang jalan mereka hanya diam. Entah apa yang di pikirkan Kaila, akan tetapi dia terlihat gelisah.
"Ada apa? Kau terlihat gelisah?" Tanya Nadhira tak tahan lagi.
"Emm, boleh aku minta nomor teleponmu?"
Tanpa menjawab Nadhira langsung menyerahkan ponselnya dan meminta Kaila memasukkan nomornya di ponsel Nadhira dan setelah itu memanggilnya.
Nomor baru masuk ke ponsel Kaila dan langsung di save nya dan Nadhira pun juga telah men save nomor Kaila.
Merasa sangat singkat, Kaila mengeluh karena perjalanan mereka terasa begitu singkat. Dia ingin lebih banyak mengenal Nadhira, tapi bagaimanapun Nadhira harus pulang.
"Besok boleh ku jemput?" Tanya Kaila.
"Tidak perlu! Aku selalu berlari dari rumah menuju sekolah," tolak Nadhir dengan sopan.
Mata Kaila membulat lebar, sangat lucu. "Benarkah? Itu luar biasa. Boleh aku ikut?" Tanyanya memohon.
"Boleh kalau kau sanggup," ucap Nadhira sambil tersenyum, kemudian pergi.
Hari ini lebih awal sampai di rumah karena Nadhira naik mobil bersama Kaila.
Untuk menghabiskan waktu dia seperti biasa memasak untuk dirinya dan ibunya yang akan sampai pada jam 6 sore.
¤¤¤¤¤
Pagi hari Nadhira mendapat pesan dari Kaila dia tidak jadi ikut lari ke sekolah pagi ini, karena mendadak ada urusan di pagi itu. Tapi kapan-kapan dia akan. usahakan untuk ikut lari.
Semua itu tak masalah buat Nadhira, karena dia telah terbiasa lari ke sekolah sendirian.
"Bos apakah kau sudah dengar...,"
"Belum...,"
"Bossss...," rajuk Bagas kepada Nadhira.
Hahahahaha.....
Yang lainnya menertawakan Bagas, sampai meja dimana mereka duduk menjadi pusat perhatian.
"Ya, apa?"
"Akan ada murid baru lagi yang akan masuk sekolah baru ini. Kemarin kan yang namanya Kaila, dia pindahan dari sekolahan di Kota A dan sekarang murid baru ini dari Kota A juga,"
Kota A? Nadhira sedikit tertarik dengan arah pembicaraan Bagas, dia memasang telinga mendengarkan kelanjutan perkataan Bagas.
Dia baru tahu kalau Kaila berasal dari sekolah di Kota A. Entah apa tujuannya masuk sekolah di Kota B. Karena sepengetahuan Nadhira di sistem sekolah di Kota A sangat bagus, bahkan tak ada tandingannya dengan sekolah di Kota B atau kebawahnya.
"Kabarnya dia siswa laki-laki. Dia akan sekelas dengan kita," lanjut Bagas.
Di kelas IPS C?
Benarkah?
Apakah siswa pindahan ini bodoh? Kenapa harus di kelas IPS C. Kan kelas A dan B rata-rata siswa cerdas.
Dugaan Nadhira semakin yakin kalau tidak memang siswa pindahan itu bodoh, atau memiliki niat terselubung.
Padahal di dari salah satu sekolahan di Kota A, yang rata-ratanya siswa-siswa berprestasi.
Mungkin karena dia bodoh jadi dia pindah! Itulah yang di pikirkan Nadhira.
"Oh! Dari mana kau tahu bahwa dia akan sekelas dengan kita?" Tanya Clara.
Ya itu juga yang ingin di tanyakan yang lain kepada Bagas. Darimana dia tahu tentang informasi se detail itu?
¤
¤
¤
Semoga Suka...