Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Pertolongan Pertama


Selamat Membaca...


•••••


Mereka berdua memasuki butik itu dan langsung di sambut seorang pegawai pria yang berpenampilan seperti perempuan.


"Selamat datang di butik KANAYA, ada yang bisa saya bantu?" ucap pegawai itu.


"Carikan dress simpel yang cocok untuknya dan topengnya!" Ucap White Snake kepada pegawai itu.


"Ok!" Pegawai itu mempersilahkan mereka duduk sebelum masuk untuk mengambilkan beberapa dress rekomendasinya.


Pilihan jatuh pada dress di bawah lutut sedikit mekar berlengan setengah perempat berwarna biru malam.


Setelah mengenakan dress nya, tatanan rambut Nadhira di perbaiki dengan menggalungkan nya sedikit tinggi menyisakan poni kanan kiri menutupi sedikit topengnya.


Setelah semuanya beres jam sudah menunjukkan jam 8 malam lewat. Mereka pun langsung pergi ke tempat pesta.


¤¤¤¤¤


Walikota Zang adalah walikota Kota A. Posisinya adalah salah satu pangkat tertinggi di antara pejabat Kota A dan status politiknya di kota juga luar biasa.


Sama sekali tidak aneh bagi White Snake untuk berhubungan dengan pejabat pemerintah sebagai salah tahu orang yang terkenal di dunia bawah.


Setelah mereka sampai tadi mereka langsung d sambut, karena status White Snake tidaklah aneh jika mereka akan menjadi pusat perhatian pada mereka, lebih tepatnya kepada White Snake.


Nadhira memperhatikan White Snake dan Walikota Zang bersapa-sapa dan terlihat oleh mata Nadhira Walikota Zang melirik padanya dan meminta White Snake untuk menjelaskan mengapa dia membawa seorang gadis muda bersamanya.


"Perkenalkan dia Redback Spider, orang yang ku maksud," jelas White Snake. Dan sangat terlihat kalau Walikota Zang terkejut.


"Jangan remehkan dia, anda akan tahu setelah hasilnya nanti," ucap White Snake seperti paham maksud tatapan tak percaya Walikota Zang.


Walikota Zang masih ragu akan tetapi dia tahu White Snake tidak akan mengecewakannya.


White Snake sangat di sambut di sana, dia di berikan tempat duduk istimewa di pesta itu dan Nadhira sebagai petarungnya yang masih di rahasiakan pun ikut menikmati keistimewaan itu karena semua itu memang permintaan White Snake.


Tiba-tiba terjadi kegaduhan ketika Walikota Zang dan White Snake dengan pejabat lainnya berbincang.


Prang...


Gelas pecah mengalihkan perhatian semua orang ke sumber suara.


Salah satu dari tamu tak sengaja menjatuhkan gelas yang dia pegang sambil memegang bagian dadanya.


Nadhira melihat itu ingin menolong karena dia melihat tidak ada seorang pun yang mengerti tentang pertolongan pertama. Terlihat mereka hanya melihat dan menyuruh yang lain untuk memanggil ambulan. Tapi Nadhira tahu kalau tidak segera di tolong nyawa pria paruh baya itu tak akan tertolong.


Nadhira menerobos kerumunan membuat White Snake berdiri di ikuti yang lain. Mereka mengikuti Nadhira.


Nadhira duduk di samping pria paruh baya yang tergeletak sesak nafas itu dia menekan bagian dada pria paruh baya itu dan menekan dengan berulang kali.


Huft huft huft huft...


Satu dua satu dua...


"Kontrol nafas anda dengan tenang," ucap Nadhira dengan tenang.


Orang-orang hanya memperhatikan apa yang di lakukan seorang gadis kecil di depan mereka tanpa berniat membantu, pasalnya mereka juga tidak mengetahui bagaimana cara menolongnya.


Setelah kesekian kali menekan bagian dada pria paruh baya itu akhirnya pria paruh baya itu...


Uhuk uhuk Uhuk uhuk


Setelah batuk pria paruh baya itu mengatur nafasnya dengan tergesa-gesa menarik, mengambil oksigen yang beberapa saat tadi sulit di dapatnya.


"Pelan-pelan pak," ucap Nadhira.


Akhirnya nafas pria paruh baya itu perlahan me normal dan pada saat itu beberapa ahli medis akhirnya datang.


Mereka memeriksa keadaan pria paruh baya itu dan berkata. "Untunglah penanganan nya cepat, kalau tidak akan membahayakan nyawanya!" Perkataan ahli medis membuat semua orang menatap takjub Nadhira. Mereka merasa malu dengan gadis muda di depan mereka yang sigap dan mengetahui cara pertolongan pertama untuk situasi darurat.


"Siapa yang melakukannya?" Tanya ahli medis itu. Semua orang menunjuk Nadhira dan ahli medis itu menatapnya dan berdiri di hadapannya. "Bagus! Kerja bagus, terimakasih sudah membantu!" ucapnya.


"Sama-sama," jawab Nadhira.


Nadhira pun pergi menuju tempat duduk nya kembali dengan tenang. Pria paruh baya tadi juga sudah di tangani oleh para ahli medis.


Walikota Zang sebagai tuan rumah pun berkata. "Maaf dengan ketidaknyamanan yang mungkin para tamu alami. Pesta masih dilanjutkan mari nikmati pestanya,"


Nadhira menikmati makan malamnya yang melewati batas makan malam karena saat ini jam sudah menunjukkan jam 10 malam.


Grrrrr


Suara sendawa Nadhira menarik perhatian semua orang, tapi yang di tatap hanya acuh dan membersihkan sudut mulutnya yang terdapat sisa makanan.


"Hahhh, aku kenyang," Nadhira mengelus perutnya dan tersenyum manis pada dirinya sendiri tanpa memperhatikan tatapan orang-orang.


"Masih lama?" Tanya Nadhira kepada White Snake.


White Snake yang di tanya pun menjawab. "Mau pulang?" Bukannya menjawab dia malam balik nanya.


Nadhira mengangguk mengiyakan, perutnya sudah kenyang dan saatnya tidur.


Walikota Zang was was karena White Snake akan pulang. Apakah dia akan menuruti gadis muda yang di bawanya. Pesta masih lama akan berlangsung, setidaknya sampai jam 12 malam. Mengapa juga White Snake membawa gadis kecil ikut ke pesta jadinya dia ingin pulang cepat kan.


"Kau bisa pulang nanti jika kau mau! Aku bisa kembali naik taxi," ucap Nadhira membuat Walikota Zang bernafas lega.


"Baikan! Kau pulang lah lebih dulu, aku akan menyusul!" Ucap White Snake.


"Ok!" Dengan tanda ok dari tangannya Nadhira mengiyakan kehendak White Snake.


Nadhira keluar sendirian dari gedung pesta dia berjalan ke jalan raya untuk mencari taxi. Tapi dia tidak langsung menghentikan taxi yang melewatinya karena dia memilih berjalan kaki sebentar untuk membakar lemak sehabis dia makan.


Sangat berbeda dari Kota B, di Kota A hampir semua bangunan di pinggir jalan adalah gedung yang bertingkat. Tingkat paling sedikit selama Nadhira berjalan adalah sepuluh tingkat. Seperti gedung butik yang sebelumnya Nadhira datangi saja berlantai sepuluh itu yang di katakan sederhana.


Nadhira tidak sabar untuk pergi keluar negara, karena di Kota A yang mana Kota terbesar di negaranya saja sudah selaku ini, apalagi di luar negara. Tapi tak menutup kemungkinan kalau negara lain akan lebih maju atau tidak. Karena negaranya ini sudah termasuk negara maju dan sudah terlihat kesejahteraan para penduduknya yang tinggal di kota besar seperti Kota A, B dan C.


Jam pada ponsel nya menunjukkan jam 11 malam, dia pun menghentikan salah satu taxi dan meminta di antar kan ke hotel 'ANDALAS' hotel di mana dia menginap.


Supir taxi melajukan mobilnya menuju hotel ANDALAS. Tidak lama hanya lima belas menit taxi berhenti tepat di depan pintu gedung hotel. Nadhira membayar ongkosnya dan naik ke lantai dua puluh dengan lift menuju kamarnya.


Saat pintu lift akan tertutup seseorang menghentikannya dengan kakinya. Dua orang pria tinggi menggunakan jaket kulit hitam, menggunakan topi memasuki lift. Hanya mereka bertiga di dalam lift tersebut. Kalau itu gadis lain, mungkin dia akan sedikit takut dengan perawakan dua pria itu. Karena wajah mereka berdua sedikit sangar, menakutkan. Tapi berbeda dengan Nadhira, dia terlihat biasa saja dan tenang. Mungkin dia pria itu yang merasa aneh dengan Nadhira yang menggunakan topeng.


¤


¤


¤


Semoga Suka...