Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Ke Bioskop


Selamat Membaca...


•••••


Para tamu undangan satu-persatu meninggalkan cafe. Sebelum pulang mereka tak lupa menyapa Nadhira.


Mulai dari dokter Anna, pak Hadi, kakek Hendra, tuan Niko dan lainnya. Bahkan Rayhan saja datang, meski terlambat.


"Lama tidak bertemu ya!" Mata Rayhan tak lepas menatap Nadhira.


Dia berani membuka masker wajahnya karena hampir semua tamu telah pulang tinggal dia seorang yang belum selain teman-temannya Nadhira.


"Hmm, terimakasih sudah datang, tapi ku pikir aku tidak memberitahumu tentang acara ini!" Nadhira tahu kalau Rayhan bukanlah orang biasa, dia mampu menyewa orang untuk mencari info atau apa pun yang dia inginkan, tapi apakah acaranya penting untuk orang seterkenal Rayhan?


"Hehe, akan disayangkan kalau aku tidak datang!" Rayhan seperti tak menyadari kalau mereka tidak hanya berdua tapi banyak orang di sekitar mereka.


Nadhira tak nyaman di tatap oleh teman-temannya yang minta penjelasan mengenai dirinya yang dekat dengan Rayhan, tapi dia pikir itu tidak perlu di jelaskan, karena dia merasa semua itu tidaklah penting.


Setelah berbicara banyak kepada Nadhira seorang, akhirnya Rayhan pun pergi, itu pun karena ada panggilan yang mengharuskan dia pergi, kalau tidak mungkin dia akan bertahan di sana selama Nadhira juga di sana.


Acara pembukaan hari itu berjalan lancar, tinggal membersihkan sisa-sisa sampah pesta. Nadhira menyewa beberapa orang untuk melakukan itu, karena dia tahu semua orang sudah sangat kelelahan menyiapkan semuanya.


¤¤¤¤¤


Hari-hari terus berjalan seperti biasanya, begitu menyenangkan bagi Nadhira yang belum pernah merasakan kehidupan sekolah normal di kehidupan sebelumnya.


"Ira!" Panggil Clara.


Nadhira berbalik menghadap kebelakang di mana Clara berada. "Hmm, ya ada apa?"


"Mau tidak nemenin aku nonton?" Tanya Clara.


"Kapan?" Tanya Nadhira. Dia juga tidak bisa pada waktu yang kalau memang dia sudan ada janji, jadi dia harus memastikan lebih dahulu.


"Malam Sabtu, bisa?" Ucap Clara.


"Bisa! Jam berapa?" Tanya Nadhira lagi.


"Jam 7 malam!" Jawab Clara.


"Ok!" Setuju Nadhira dengan satu jempol teracung.


Kelas pun di mulai mereka belajar dengan rajin dan tekun, tak ada yang bersuara semu fokus pada buku mereka masing-masing.


Alasan Clara mengajak Nadhira adalah, karena hanya Nadhira yang memiliki waktu luang. Sedangkan yang lain memiliki acara keluarga dan sebagainya, dia sudah mencoba mengajak mereka dan itulah jawaban mereka.


Nadhira juga bisanya pada malam Sabtu tepat sekali malam itu dia memiliki waktu luang, karena hari-hari sebelumnya dia sibuk dengan cafe yang baru di buka minggu lalu.


¤¤¤¤¤


Hari Jum'at jam 6:30 Nadhira telah berada di bioskop yang telah di janjikan. Nadhira datang lebih awal, dia duduk di kursi tunggu untuk menunggu Clara datang. Memang kebiasaan Nadhira untuk datang lebih awal atau pasti lebih dulu dari pada orang yang akan bertemu dengannya, kecuali mendadak atau memang ada hambatan dan suatu hal lainnya.


Clara terlihat melambaikan tangan kepada Nadhira dari jauh, dia berlari-lari dan tanpa di sangka.


Brakkk...


Nadhira langsung berdiri dari duduknya dan berlari kepada Clara.


"Maaf! Maafkan saya, saya tidak sengaja," ucap Clara seraya menunduk-nunduk meminta maaf. Padahal kakinya terdapat luka sedangkan orang yang di tabrak tak mengalami luka sama sekali. Malahan dia tak bergerak sama


Dan minuman yang di pegang Clara tumpah mengenai Jas hitam milik orang itu. Karena tidak memperhatikan jalan dan malah menoleh padaku, Clara jadi menabrak orang lain.


Seketika Nadhira diam mematung, dia yakin sebentar lagi kami pasti dalam masalah. Sebelumnya dia tak memperhatikan siapa orang yang di tabrak Clara dan sesampai nya di sana setelah menolong Clara berdiri Nadhira baru menyadarinya saat mendongak menatap orangnya.


Dia Stiven! Orang yang sangat di hindari Nadhira.


Stiven hanya diam di tempat, netra segelap malam itu melirik noda di jas nya tanpa ekspresi kemudian melirik ke arah Clara kemudian Nadhira.


Seperti sebelumnya saat Nadhira menabrak Stiven saat di pusat perbelanjaan di Kota A, Stiven tak memiliki ekspresi apa pun, dia hanya menatap Nadhira dalam diam.


"Bos tidak apa-apa?" Tanya pria berambut coklat yang sama saat di pusat perbelanjaan di Kota A.


Sedangkan dua orang lainnya berjas hitam diam di belakang mereka yaitu bodyguard Stiven. Wajar dia memiliki bodyguard, karena dia orang yang sangat terkenal, baik di publik maupun dunia bawah. Banyak yang mengincar nyawanya. Meski dia bos mafia, jika dia sendiri melawan puluhan orang pun pasti kalah, dia pun hanya manusia biasa yang bisa mati.


Nadhira tidak menyangka orang yang harusnya dia hindari tiba-tiba muncul di hadapannya.


Mata Nadhira semakin terbelalak saat Stiven membuka suara. "Nadhira Maharani?"


"Kok dia tahu namaku?" Batin Nadhira. Tanpa sadar kakinya mundur selangkah, tapi wajahnya dingin.


Nadhira mengangguk dengan kaku. Dia tak bisa bertindak sembarangan di depan orang ini.


"Senang bisa bertemu lagi dengan mu!" Ucap Stiven lagi membuat wajah datar Nadhira menjadi dingin.


Apakah dia mengenalinya waktu itu? Itu yang di pikirkan Nadhira.


Dia mengira dia sudah menutupi wajahnya serta menunduk waktu itu mengapa dia bisa mengenalinya.


Clara diam setelah Stiven membuka suara, dia secara bergantian menatap Nadhira dan Stiven. Dia merasa kalau Nadhira selalu mengenal orang terkenal, pikirnya.


"Maaf, tapi apakah kita saling kenal? Saya merasa tidak mengenal anda selain, kenal anda di televisi, majalah dan korang!" Ucap Nadhira seformal mungkin.


"Haha, memang kau tak mengenalku tapi...," Nadhira sudah tidak tahan berlama-lama dekat dengan Stiven. Dia merasa ada tekanan kuat jika dekat dengannya, jadi dia memotong perkataan Stiven.


"Maaf, film yang akan kami tonton akan segera mulai, jadi kami permisi!"


Membuat pria berambut coklat, entah siapa namanya memicingkan matanya ke arah Nadhira dan was was menatap ke arah Stiven.


Nadhira menarik tangan Clara membuat Clara tersentak karena tadi dia melamun.


"Hei!" Teriak pria berambut coklat memanggil Nadhira dan menyuruh para bodyguard untuk menghentikan Nadhira, tapi...


"Tidak perlu, biarkan dia bebas untuk sekarang, terus awasi dia," perintah Stiven kemudian dia pergi mendahului para bawahannya.


Kembali kepada Nadhira yang menarik tangan Clara untuk masuk ke dalam bioskop.


"Ugh, Ira, bisa lepaskan, ini sakit," keluh Clara, membuat Nadhira berhenti dan menatap tangannya menggenggam kencang tangan Clara. Dia langsung melepaskannya.


"Maafkan aku!" Sesal Nadhira. "Tunggu sebentar!" Tanpa menunggu jawaban Clara, Nadhira pergi entah kemana.


Nadhira kembali dengan terengah-engah dengan membawa sesuatu di tangannya.


Tanpa bicara, Nadhira langsung meraih tangan Clara yang memerah akibat ulahnya itu. Dia mengolesinya dengan salep, kemudian dia perban.


Setelah selesai. "Sekali lagi maafkan aku, aku terbawa suasana tadi dan tak sengaja melampiaskan nya ke tanganmu," sesal Nadhira. Dia sungguh merasa bersalah. Dia sangat kesal dan tanpa ingat kalau yang di pegang nya tangan Clara dia meremasnya dengan kuat seperti halnya kaleng atau semacamnya.


"Tidak apa-apa! Ini tidak terlalu sakit kok," Nadhira tahu itu bohong.


"Sudah-sudah, film nya sudah mulai beberapa saat yang lalu, apakah masih mau nonton?" Clara begitu baik, dia tidak mempermasalahkan ulah Nadhira malah mengalihkan pembicaraan, meski itu faktanya.


"Kurasa tidak akan seru, jika nonton tidak dari awal! Mungkin lain kali kita akan nonton lagi, kita bisa nonton yang lain untuk sekarang," Nadhira bukan orang yang suka nonton, akan tetapi dia hanya menghilangkan rasa bosannya.


Akhirnya mereka menonton film yang lainnya. Setelah film berakhir, jam telah menunjukkan jam 9 malam. Mereka pun memilih pulang. Nadhira pulang menggunakan taxi agar lebih cepat sampai.


¤


¤


¤


Semoga Suka...