
Selamat Membaca...
•••
Puk
Nadhira mengacak rambut remaja itu greget. Dia bukan orang yang kalau menghajar orang langsung hajar, kecuali orang tersebut meyerangnya.
"Nathan Darmawangsa! SMA DARMA?!" Ucap Nadhira membaca name tag remaja tersebut.
"Jangan sombong hanya karena gelar dan uang ayahmu!" Lanjut nya. Dia tahu keluarga Darmawangsa siapa.
Keluarga Darmawangsa adalah keluarga yang cukup berpengaruh di Kota A. SMA dan SMP Darma adalah kepunyaan keluarga Darmawangsa. Sekolah elit yang banyak anak pejabat, pengusaha dan lainnya sekolah di sana.
Bukan hanya karena banyaknya orang berduit yang menyekolahkan anak mereka disana, akan tetapi karena fasilitas dan para murid yang berprestasi dan banyak meluluskan orang-orang berbakat dari sana.
"Y-ya?" Jawab Nathan.
"Hm? Aku tidak memanggilmu! Aku hanya membaca name tag mu," ucap Nadhira membuat Nathan memerah malu.
"K-kau!? Berhenti menyentuh kepalaku!" Kesal Nathan menepis tangan Nadhira.
"Haha, kau lucu juga! Dimana sikap sok kau tadi?" Sindir Nadhira.
"Hmmp," Nathan membuang muka malu.
Nadhira tak menghiraukan remaja labil itu lagi dan beralih kepada ketiga remaja yang sudah babak belur.
"Kau tidak apa? Ah ku rasa kau tidak baik-baik saja!" Ucap Nadhira menjawab sendiri pertanyaannya.
Yang di tanya Nadhira adalah remaja yang tergeletak lemah di pangkuan remaja yang masih cukup kuat untuk berdiri, tapi masih sadar.
"Kau siapa?" Tanya remaja yang memangku teman nya. "Apakah kau teman mereka?" Lanjutnya.
Jarak antara Nathan dan dirinya tadi berbicara cukup jauh dan kalau orang lain tidak mendengar percakapan mereka tadi, mereka kira Nadhira dan Nathan adalah adik kakak.
"Bukan?!" Jawab Nadhira.
"Lalu?" Tanyanya lagi.
"Aziel Abraham ya," gumam Nadhira.
Nadhira juga tahu siapa itu Abraham. Keluarga yang juga berpengaruh di Kota A dan merupakan pesing dari keluarga Darmawangsa.
Keluarga Abraham juga mempunyai sekolahan, yaitu SMA CENDRAWASIH. Saingan dari SMA DARMA. Baik dari segi akademik maupun non akademik, fasilitas dan kepopulerannya.
"Begini Aziel! Kau tahu siapa mereka?" Tanya Nadhira sok akrab sambil menunjuk para pejalan serta pengendara.
"Orang!" Jawab Aziel.
"Ya iya aku tahu kalau mereka orang! Yang ku tanya mengapa mereka berhenti dan menonton kalian tadi?" Nadhira.
"Hmm entahlah?" Dia tidak paham maksud Nadhira.
"Kau ini bodoh ya! Mereka itu orang-orang yang perjalanan nya terganggu. Nah begitu juga dengan ku, aku sama seperti mereka. Jadi jangan mentang-mentang anak orang hebat, jadi sok. Kalian juga jika aku tahu dan melihat salah satu dari kalian ada yang mengganggu jalan seperti ini lagi, lihat akibatnya. Aku tidak perduli kalian anak siapa, karena kalian juga tidak tahu aku siapa. Jadi jangan coba-coba memancingku untuk melakukan hal yang akan kalian sesali kedepannya," ucap Nadhira yang semakin nyaring agar kesepuluh remaja mendengar nya.
Dia bukan hanya sekedar mengancam, Nadhira pribadi yang selalu menepati segala ucapannya.
kesepuluh remaja tersebut menunduk termasuk yang tadinya pingsan sekarang sudah sadar. Aura Nadhira seperti seorang pemimpin yang tidak bisa diragukan lagi. kata-katanya bagaikan kata nasihat dari seorang ibu. Kata-kata Nadhira tidak membuat mereka marah, akan tetapi seperti siraman rohani yang menyadarkan diri mereka, bahwa selama ini yang mereka lakukan adalah salah.
"Baiklah! Kalau kalian sudah selesai, bubar!" Perintah Nadhira.
Tapi mereka tak bergerak satu langkah pun. "Kenapa? Kalian ingin menuntutku? Silahkan aku tidak takut tuh," tantang Nadhira.
Nathan dan Aziel berbarengan maju ke hadapan Nadhira. "Kau mau bergabung ke geng ku?" Tanya mereka berbarengan. Dan setelah mengatakan secara bersamaan mereka saling melempar tatapan tajam.
"Dia akan bergabung dengan Geng kami!" Tegas Aziel.
Mereka berdua pun tak ada yang mau mengalah.
'Apakah mereka tidak menanyakan pendapatnya,' batin Nadhira .
"Ahhhh, lebih baik aku pergi," gumam Nadhira kemudian kembali ke tempat di mana sepeda motor dan Arlan berada. Bocah itu masih pada posisinya, bedanya kepalanya bertelungkup di lututnya.
"Dia tidur?" Nadhira berjongkok dan mengusap lembut rambut Arlan dan...
Hap
Arlan akan terjatuh ke samping langsung Nadhira tangkap dan peluk.
"Eugh," lenguh Arlan saat tidur nya terganggu. "Kak Ira? Sudah selesai?" Tanyanya sambil mengusap matanya.
"Maaf ya, membuat Arlan menunggu lama, dan semua sudah beres! Mau lanjut jalan-jalan atau kita pulang saja? Arlan terlihat kelelahan," sesal Nadhira. Dia juga tidak menyangka kalau bakal selama itu mengurusi para remaja labil tersebut.
"Tidak! Tidak! Kita lanjut jalan-jalan saja, Arlan tidak lelah kok," tolak Arlan. Dia tidak mau menyia-nyiakan waktu kebersamaan nya dengan Nadhira. Hampir setiap hari dia menunggu agar pergi tanpa pengawasan dan hari ini adalah waktunya. Berkat Nadhira dia bisa bebas sebentar.
"Baiklah! Kalau begitu kita pergi," ucap Nadhira semangat.
Nadhira tidak menurunkan Arlan, karena dia tahu pasti kami Arlan kesemutan. Dia dengan pelan mendudukan Arlan di depan kemudian dia duduk di belakangnya.
Saat sepeda motor Nadhira akan melewati dua remaja yang sedang berdebat tiba-tiba kendaraan nya di hentikan secara mendadak oleh dua remaja yang tadinya sedang berdebat.
"Kau mau kemana?" Tanya Nathan.
"Kau tidak lihat kalau kami mau pergi?!" Jawab Nadhira jengah.
"Ya bukan begitu. Maksudku kau akan pergi kemana? Kau juga belum menjawab pertanyaan kami? Jadi kau mau bergabung di Geng mana?" Nathan.
"Tidak berminat! Minggir aku mau lewat!" Ucap Nadhira, tapi tidak ada yang mau minggir.
"Pilihlah!" Ucap Ariel.
"Sudah ku bilang, aku tidak minat! Mengerti tidak!" Nadhira mulai marah.
Sudah jelas kalau Nadhira marah, tapi seakan tak peka mereka tetap tidak mau minggir.
"Kalian jangan membuat ku berbuat kasar!" Peringat Nadhira, tapi yang dua remaja itu yang tak pernah diperintah kekeh menghalangi Nadhira.
Nadhira menepikan sepeda motornya kembali. "Arlan tutup mata!" Perintah Nadhira. Arlan tak berani berkata langsung menurutinya, dia sedikit takut dengan Nadhira, meskipun Nadhira tak menunjukkan kemarahannya.
Buagh!
Bagh!
Satu pukulan tak fatal Nadhira berikan kepada Nathan Dan satu tendangan dia berikan kepada kaki Aziel.
"Kalian mengerti apa yang ku katakan atau tidak? Sudah ku katakan aku tidak berminat! Apakah kalian berdua ketua dari kedua Geng itu?" Tanya Nadhira tenang, dia angguki Aziel dan Nathan yang meringis menahan hadiah dari Nadhira.
"Segitu saja sakit?! Ketua? Lemah!" Nadhira bukan berniat menghina, tapi dia menyadarkan dua remaja ini. Dengan kemampuan segitu sok sok an jadi ketua Geng. Ketuanya saja hanya segini? Bagaimana anggotanya?
"Minggir!" Ucap Nadhira menaiki motornya.
Sebelum benar-benar pergi, Nadhira berkata. "Lihat dalam diri kalian sendiri sebelum memimpin banyak orang! Tanyakan dalam hati kalian, apakah pantas kalian menjadi ketua mereka? Pantaskah kalian menjadi pemimpin banyak orang? Renungkan itu!" Nadhira pergi meninggalkan para remaja tersebut dan meninggalkan dua remaja yang terhanyut dalam pikiran masing-masing.
¤
¤
¤
Semoga Suka...