Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Penyerangan tak Terduga


Selamat Membaca...


•••


Hoammm


Nadhira baru saja bangun dari tidurnya, dan baru teringat kalau isi kulkasnya akan kosong dan kebetulan bi Lastri tidak masuk kerja hari ini.


Bi Lastri merupakan pembantu senior yang sudah lama bekerja dengan Ganendra dan beliau lah yang bertugas mengisi kulkas, tapi karena beliau tidak akan masuk sampai tiga hari kedepan otomatis keperluannya tidak ada yang membelikan.


Dengan alasan ingin berbelanja Nadhira pun berusaha membujuk Ganendra agar memperbolehkannya keluar.


"Aku akan menghubungi Ganendra," gumam Nadhira.


Setelah segala macam bujuk rayu yang dikeluarkannya akhirnya dia mendapatkan ijin dari Ganendra untuk pergi keluar dengan syarat harus di antar oleh supir pribadi dan di kawal beberapa pengawal.


Ganendra tak dapat menemaninya karena memang pekerjaannya sangat menumpuk karena sudah lama dia tak masuk. Padahal sebagian telah di Kerjakan oleh Kevin, tapi tetap saja masih banyak dan dia harus segera menyelesaikannya.


Mau tak mau Nadhira pun menyetujui syarat dari Ganendra dan sekarang dia sudah berada di dalam mobil dan dibelakang mobilnya ada satu mobil lagi, yaitu 4 orang pengawalnya.


"Huh, tidak perlu seperti ini juga kali! Seperti presiden saja," gerutu Nadhira.


Dor


Nadhira lumayan terkejut saat mendengar suara tembakan. Dia melihat kebelakang, ternyata mobil pengawalnya di kepung oleh 3 buah mobil. Mobil pengawalnya di keeping karena berusaha menghalangi ke 3 mobil itu medekati mobil yang Nadhira dekati.


Satu mobil lolos dari halangan mobil pengawal Nadhira dan melaju ke arah mobil Nadhira.


"Nona, pengangan dengan erat! Saya akan menambahkan kecepatan mobil ini," pinta sang supir dan diangguki Nadhira.


Saat ini dia tidak bisa melakukan apa-apa, selain dia tidak membawa senjata apa-apa ditambah pergerakannya yang terbatas karena besarnya perutnya.


Mobil melaju dengan cepat dan Nadhira meminta sang supir membawa mobil ke tempat sunyi, karena dapat dia lihat banyak orang terluka karena mobil yang mengejarnya tidak pandang bulu menabrak orang.


"Ke tempat yang lebih sunyi!" Arahan Nadhira.


Mereka telah berada di lokasi pinggiran hutan dan tanpa mereka kira dua buah mobil menghadang di depan mobil mereka.


"Bagaimana ini? Aku tidak takut kalau memang harus mati sekarang, tapi anakku?" Nadhira menatap perutnya yang besar kemudian mengusapnya.


"Tenang saja nak, ibu akan memastikan kalian akan melihat indahnya dunia ini," ucap Nadhira sambil mengusap perutnya.


"Nona, saat saya menghadapi mereka, saya minta nona berlarilah kedalam hutan," pinta supir.


"Tapi kau bagaimana?" Supir ini memiliki usia yang tidak jauh dari Nadhira, ditambah dia adalah orang terlatih yang di rekrut bahkan dilatih sendiri oleh Ganendra. Meskipun hanya 10 persen kemungkinan dia dapat mengalahkan banyaknya orang yang mengepung mereka, tak membuat dia takut, karena dia telah bersumpah hidup mati demi melindungi istri tuannya.


"Tidak apa! Saya akan bisa mengalahkan mereka," ucapnya dengan tersenyum, agar Nadhira yakin dengan perkataan nya.


"Baiklah! Aku mendo'akanmu," Nadhira tahu kalau dia tetap disini maka hanya akan menjadi beban.


Supir itu keluar dan langsung di kepung oleh 15 orang, dan sisanya hanya menonton tanpa ada niat memasuki atau menangkap Nadhira yang ada di dalam mobil. Pikir mereka Nadhira tidak akan bisa pergi dengan menanggung beban di perutnya.


Beralih kepada Nadhira yang saat ini berusaha keluar dari dalam mobil dengan setenang mungkin agar tak di ketahui oleh musuh.


Dengan perlahan Nadhira membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Berlari sekencag yang dia mampu ke arah hutan.


Tak sengaja dia menginjak ranting yang menghasilkan bunyi yang membuat para musuh sadar kalau dirinya akan kabur.


"Sial! Mengapa aku ceroboh sekali," tanpa pikir panjang Nadhira berlari sekuat tenaga ke arah hutan, tapi yang namanya wanita hamil, tidak bisa berlari terlalu lama apalagi kandungannya sudah memasuki 9 bulan dan akhirnya dia terkepung.


"Siapa yang menyuruh kalian?" Tanya Nadhira dengan tatapan tajam menatap satu persatu orang yang mengepungnya. Jikalau dia tak berbadan tiga, sudah dipastikan orang-orang ini akan mati paling ringan koma, tapi dia sadar kalau dia tak akan mampu menanggung jika terjadi kepada kandungannya.


"Tak perlu kau tahu siapa yang menyuruh kami, lebih baik kau ikut kami baik-baik sebelum kami berbuat kasar," ucap salah satu dari kelima orang pria tersebut.


Akhirnya Nadhira menyerah dan ikut dengan mereka tanpa perlawanan. Dia yakin kalau suaminya, Ganendra akan cepat tahu keberadaannya nanti, nikmati saja dulu keadaan sekarang, meskipun tak nyaman.


Tanpa Nadhira sadari karena banyaknya pikiran dikepalanya, salah satu dari kelima pria yang mengggiringnya memukul tengkuknya, membuat Nadhira takut sadarkan diri.


...•••...


Enghh...


Terdengar lenguhan yang berasal dari seorang perempuan yang baru saja terbangun.


Dia Nadhira.


Setelah kesadarannya hilang, dia tidak tahu kemana kelima pria itu membawanya.


Matanya mengerjap demi menyesuaikan cahaya dari ruangan oh bukan, sepertinya ini adalah sebuah kamar berwarna Gold dipadukan dengan silver di beberapa bagian.


Nadhira saat ini dalam posisi tiduran di atas kasur lumayan besar. "Wah apakah orang ini berniat menculiknya atau mengurungnya di kamar?" Bagaimana Nadhira tak berpikir seperti itu karena biasanya kalau penculik atau menyekap itu di tempat yang gelap, lembab dan yang pasti tempatnya tidak sebagus seperti kamar untuk beristirahat.


Ketika Nadhira sudah duduk, dia baru menyadari bahwa kedua tangannya telah di rantai. "Nah ini baru mirip penyekapan," gumam Nadhira. Tapi itu tidak membuat Nadhira panik, dia tidak memberontak atau berniat melepaskan dirinya, toh disini lumayan nyaman.


Mungkin penyandera dirinya ini masih kasihan melihat dirinya yang sedang mengandung besar. Dan mungkin juga dia teringat istrinya yang juga sedang mengandung di rumah, itulah pikiran positif Nadhira.


Tiba-tiba pintu terbuka membuat Nadhira yang tadinya bergumam dan terkekeh sendiri dengan pikirannya refleks mengalihkan pandangannya ke arah seseorang yang baru saja masuk, dia seorang pria yang masih muda, mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dari Ganendra, tebak Nadhira.


Setibanya di tepi kasur, pria itu menatap intens Nadhira.


"Kau terlihat sangat tenang nona, oh salah apakah aku harus memanggilmu nyonya Ganendra?" ujarnya dengan nada ejekan.


Nadhira diam, dia tidak mengenal pria di depannya ini.


"Siapa kau? Apakah kita saling kenal sebelumnya? Ku rasa aku tidak pernah berbuat salah padamu!" Daripada penasaran, lebih baik Nadhira mengutarakan semua isi pikirannya.


"Aku? Aku hanya tahu kau istrinya Ganendra dan memang kau tidak memiliki salah dengan ku, akan tetapi Ganendra yang memiliki salah padaku!" Jawabnya. Terlintas kebencian yang amat dalam saat dia menyebut nama Ganendra.


"Lalu kenapa kau menagkapku? Bukankah kau bermasalah dengan Ganendra?" Nadhira bertanya hanya mengulur waktu dan sedikit mencari tahu mengapa ada dendam dari pria ini kepada suaminya.


"Hemm, kau tahu sangat sulit menangkap langsung Ganendra bukan? Dan kalau aku tahu kelemahannya buat apa susah-susah mencari Cara lain yang aku tahu pasti akan sakit menjebaknya agar masuk perangkapku!" Jawabnya bangga pada rencana nya.


¤


¤


¤


Semoga Suka...