
Selamat Membaca...
•••
TOK... TOK... TOK...
Untuk pertama kalinya seumur hidup Kai, ada yang mengetuk pintu kamarnya begitu kerasnya, bahkan terdengar seperti gedoran yang mana ajakan seseorang ingin baku hantam.
Pelayan di mension itu tak pernah berani mengetuk pintu itu bahkan kakek nya sendiri tak pernah melakukan itu.
"SEBENTAR! GAK BISA SABAR APA?"
Dengan wajah kesal karena masih ngantuk Kai membukakan pintu kamarnya dengan kasar.
Hal pertama yang dia lihat adalah wajah gadis yang kemarin malam membuatnya kesal.
"Apa?" Tanya Kai dengan wajah marah dan kesal.
Nadhira tidak menjawab, akan tetapi dia melangkah pergi.
Dia hanya di minta untuk membangunkan Kai, jadi tugasnya selesai dia pun pergi membuat Kai melongo dan setelah sadar dia semakin kesal karena Nadhira hanya membangunkannya yang masih ngantuk.
Saat Kai akan menutup pintu kembali dan melanjutkan tidurnya, akan tetapi...
Brakk...
"Astaga naga," Kai begitu kaget saat Nahdira menahan pintu dengan keras sampai terdengar bunyi yang cukup nyaring.
"Kenapa lagi...," Kai begitu kesal. Tadi dirinya di tinggal, dan kenapa kembali lagi?
"Tuan Ling sudah menunggu untuk sarapan di bawah," sekarang Nahdira tidak langsung pergi, dia menunggu respon dari Kai terlebih dulu.
"Katakan pada kakek, aku akan makan nanti," Kai akan menutup pintu dan lagi-lagi di tahan oleh Nahdira.
Kai mendorong kuat pintu agar tertutup, tapi bergeser pun tidak.
"Heh lepas! Aku mau menutup pintu nya," bukan apa-apa tapi tenaga Nadhira yang seorang gadis yang tubuh nya lebih kecil darinya mampu menahan pintu tanpa bergeser sedikit pun, itu terlalu kuat untuk ukuran perempuan.
"Kata tuan Ling tuan muda harus ikut makan bersama nya sekarang," sebenarnya Nadhira malas untuk lebih banyak bicara dengan pemuda yang begitu menguras kesabaran ini, tapi apa boleh buat ini juga merupakan perintah dari orang yang membayarnya. Padahal dirinya tak sadar juga membuat orang darah tinggi kalau berbicara dengan nya.
"Iya iya, tapi lepas dulu! Aku mau cuci muka dan ganti baju dulu!" Nadhira masih diam menahan pintu.
"Oh apakah kau ingin ikut ke kamar mandi bersamaku?" Ucap Kai dengan wajah pengen di tampol, tapi bukan sifat Nahdira yang akan meladeninya, dia melepas pintu membuat pintu langsung tertutup. Sedangkan yang di dalam kamar mengelus dadanya karena kalau dia tidak cepat menarik tangannya, dapat di pastikan jari-jari tangan nya akan putus.
"Sial!" Umpat Kai.
Dia pun mulai melakukan yang di katakan nya tadi. Dia yakin kalau dia tidak keluar pasti gadis menyebalkan itu akan menerobos masuk ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian Kai keluar dan...
"Astaga!" Dia mengelus dadanya lagi. Kai rasa dia akan serangan jantung jika seperti ini terus kedepannya. Karena apa? Karena sosok gadis menyebalkan itu selalu membuat nya terkejut. Bagaimana tidak, dia muncul seperti hantu, tanpa suara, tanpa pemberitahuan dan sebagai nya, yang pasti dia akan benar-benar mati karena serangan jantung jika selalu bersama dengan gadis menyebalkan ini.
"Kau masih di sini? Gila!" Kai pun melewati Nadhira menuju arah tangga.
Nadhira mengikuti dalam diam di belakang Kai. Sesekali Kai menoleh ke belakang, sedangkan Nadhira masih memasang wajah datarnya.
Sesampainya di meja makan, tanpa di duga tuan Ling mengangkat dua jempolnya ke arah Nahdira dengan tersenyum puas. Entah kenapa? Nadhira tidak memahami nya dan tidak ingin memahaminya, jadi dia hanya mengangguk mengiyakan apa pun itu maksud dari tuan Ling.
...PoV Kai On...
Tepat di depan gang besar yang mengarah ke tepi pantai, aku menginterupsi pak sopir untuk berhenti.
"Bang, stop di sini aja!" Mobil taxi pun berhenti, tepat di depan seorang perempuan yang sedang berdiri menunggu sambil bermain ponselnya.
Setelah aku turun dan membayar, perempuan yang bermain ponsel tadi segera masuk.
Aku tidak mengurusi lagi, karena aku masih harus berjalan cukup jauh dari tempat pemberhentian. Tak masalah, aku sih senang-senang saja. Berjalan bebas tanpa ada orang yang melihatmu dengan aneh, mungkin kedengaran sederhana buat orang lain, tapi tidak denganku yang selalu di awasi setiap pergi ke mana pun.
Sebenarnya aku pemuda biasa saja. Itu menurutku! Tapi jika tidak seorang pun mengetahui kalau aku ini cucu dari keluarga Ling, mungkin hanya para musuh dari kakek ku yang mengetahuinya. Itupun karena mereka menyelidiki keluarga Ling.
Hari ini aku mencoba kembali aksi kabur ku. Sering ku coba akan tetapi selalu gagal.
Dalam sebulan ini terhitung sekitar 5 kali aku mencoba kabur yang berakhir selalu gagal. Entah itu mengandalkan diri sendiri maupun minta bantuan dari teman-temanku.
Seperti sekarang aku tengah menghubungi temanku.
"Dan, jemput di depan gang menuju pantai!"
"Hm,"
Sambungan telepon di putus secara sepihak dan yang memutus tentu saja Kai. Sedangkan orang di seberang hanya mengumpati Kai.
Tak lama sebuah mobil berwarna merah berhenti di depan Kai yang sedang duduk di kursi pinggir jalan.
"Masuk!" Perintah si pengemudi.
"Hm," Kai pun masuk dan mobil pun melaju meninggal kan tempat.
...PoV Kai End...
Terjadi keheningan di dalam mobil yang di isi oleh dua pemuda. Akan tetapi ketenangan itu tak berlangsung lama karena...
Tit tit tit
Seseorang dengan sengaja membunyikan klakson sepeda motor nya yang berapa di samping mobil merah itu.
Tit tit tit
Lagi, klakson di bunyikan lagi, karena orang yang di dalam mobil tak menggubris nya.
Dengan kesal Kai menyuruh Zidan untuk menepikan mobilnya dan meladeni si pembuat ulah.
Motor sport dengan satu penumpang dan satu pengemudi berhenti.
"Kenapa kalian mengganggu kami? Memang nya kami kenal kalian?" Marah Kai.
Dua orang pengendara sepeda motor itu pun melepas helm full face mereka dan terpampang lah wajah satu pemuda dan satu gadis.
"Kalian?" Ucap Kai tak percaya. Apakah acara kabur nya kali ini juga gagal?
Atensi Kai teralihkan dengan sebuah mobil hitam yang berhenti di belakang tak jauh dari mereka sekarang.
"Apakah mobil hitam di belakang suruhan kakek ku juga?" Tanya Kai. Dan dijawab gelengan oleh Nadhira dan Marcel.
Kai mengernyit. "Lalu?"
Nadhira mendekat ke arah Kai, bahkan sangat dekat, dia berhenti tepat mulutnya sejajar dengan telinga Kai meski di bawah karena perbedaan tinggi yang lumayan.
"Mereka sudah mengikutimu sedari kau keluar dari mension," bisik Nadhira. Membuat tubuh Kai meremang.
Kai terdiam. Dia tahu jika hidup nya tidak jauh dari yang namanya di ikuti, apalagi di ikuti oleh para musuh keluarga Ling terutama musuh kakek nya yang tahu jika dia adalah cucu kesayangan Tuan Ling.
Sial! Hampir saja!
"Bisakah kita pergi dari sini sebelum mereka beraksi?" Tanya pelan Nadhira kepada Kai dan Zidan yang di angguki oleh Zidan. Kai? Dia masih terdiam.
...•••...
"Kamu.... Haahhh. Sudah berapa kali kakek katakan turutilah kata kakek, itu juga semua untuk kebaikan mu Kai," ucap Tuan Ling tertahan. Dia juga tidak bisa menyalahkan Kai, karena semua itu memang salahmya yang terlalu di kenal orang dan berimbas kepada keturunannya yang meninggal dan hanya menyisakan cucu nya saja.
"Hahh sudahlah. Kau istirahatlah dan kau Zidan, temani Kai," perintah Tuan Ling.
"Baik," jawab Zidan.
"Nadhira, Marcel, kalian ikut ke ruang kerjaku,"
"Baik," jawab Nadhira dan Marcel kemudian mengikuti Tuan Ling meninggalkan Kai yang menatap mereka.
"Apa yang akan mereka terima? Hukuman?" Gumam Kai, akan tetapi di dengar oleh Zidan.
"Entahlah! Tapi ku harap bukan hukuman. Karena bagaimanapun di sini yang salah tuh kamu Kai," ucap Zidan blak-blakan.
Kai menatap sengit Zidan kemudian meredup. "Benar! Ini salahku," Kai pun beranjak menuju kamarnya.
"Ya, itu salahmu! Ku harap kau bisa bersikap lebih dewasa," gumam Zidan kemudian menyusul Kai.
¤
¤
¤
Semoga Suka...